
***
Aku dan Rise keluar dari kelas. Lorong yang panjang kami lewati diisi murid baru. Ada tiga titik tempat mesin minuman disediakan. Yang paling dekat ada di pintu masuk sekolah.
Akan tetapi …
“Rise, mesin minumannya bukan di sana.”
“Aku ingin kita memutar.” Rise bahkan tidak melihat ke belakang. “Kita tidak ada kegiatan setelah ini. Tidak perlu buru-buru.”
Memutar itu artinya lewat halaman belakang. Satu arah menuju kantin dan asrama. Ada satu lagi mesin minuman di sekitar sana. Itu juga jadi tempat pertama aku berbicara dengan Liza. Kondisinya sangat tidak biasa waktu itu.
Melewati toilet kemudian juga ruangan kesehatan. Berikutnya keluar dari lorong utama ke halaman. Hampir seluruh halaman belakang diisi oleh rumput. Ada kolam ikan yang ukurannya tidak terlalu besar. Aku bertemu Grisella kemarin di kolam itu. Yang satu ini benar-benar kebetulan. Namun, karena itu semuanya jadi terasa menyenangkan.
Berikutnya ada pohon berbatang sedang yang rindang. Tingginya sekitar tujuh meter. Butuh lahan yang lumayan luas untuk bisa menanamnya karena tumbuhnya melebar. Aku dan Grisella bertemu dengan Daniel di sini. Tidak heran jika dia berada di tempat yang sama.
Daniel duduk bersandar pada pohon. Matanya terfokus pada layar ponsel. Tipe penyendiri? Aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan orang, kecuali terpaksa. Selain itu, meski sudah menahan diri, tinjunya tetap menyaktikan. Menghindarinya lebih baik.
“Apa yang sedang kau lakukan tuan penyendiri?” sapa Rise.
Jadi ini alasan utama kenapa Rise ingin memutar? Tidak perlu buru-buru? Gadis itu serius ingin menghabiskan waktu dengan berhadapan orang yang paling merepotkan.
“Bukan urusanmu.” Kepalanya tak bergerak. Matanya tetap pada layar ponsel. Tak ada tanda-tanda tertarik sedikit pun.
Bukan salah Daniel jika dia tidak menghiraukan Rise. Cara menyapa Rise seolah ingin mengajak berkelahi seseorang. Mungkin mereka berdua saling bertemu kemarin.
“Jangan bilang begitu. Berbicara denganmu sepertinya lumayan menyegarkan.” Rise mencoba memancing Daniel.
“Aku tidak punya urusan dengan kalian berdua. Lebih baik kalian menjauh.”
Mungkin … perkataan Daniel ada benarnya. Ingin sekali kukatakan itu, tapi Rise pasti tidak akan mendengarkan.
Rise mendagu perutku. Tidak sakit, tapi instingku berkata sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku diam saja. Rise menunjukkanku senyum kecil sinisnya.
Kedua bahu dan semangatku turun perlahan. Cara Rise mencari kesenangan sungguh merepotkan. Terserahlah. Daniel juga bagian dari kelas Elit, jadi aneh jika aku mengabaikannya. Cepat atau lambat, pasti akan ada saat kita berdua harus berkomunikasi.
“Daniel, aku sedang membelikan semua orang di kelas minuman. Kau mau? Anggap saja sebagai permintaan maaf karena menyebabkan masalah kemarin. Jadi tidak perlu bayar.”
“Kau sudah minta maaf pada gadis itu?” Daniel mengabaikan ponsel. Ia menatapku.
“Hmm …” Gadis itu? Maksudnya Grisella?
“Kalau sudah, itu cukup. Kalian berdua bisa pergi.”
Oh, dia bersikap sok keren seperti itu?
“Ray, kalau tidak salah, kemarin pipimu ditonjok oleh Daniel ‘kan?”
Tolong jangan bahas hal ini di depan pelaku dan korban dengan santai. Rasanya jadi sedikit sensitif.
“Bisa kau lakukan sekali lagi? Aku tak sempat melihatnya kemarin!”
“Oooi! Kau pikir ditonjok itu rasanya tidak sakit?!” Aku dalam posisi waspada. Mengetahui Rise yang berbicara, delapan puluh persen ucapannya pasti serius.
“Hmm, apa salahnya? Bukan berarti kau akan mati setelah dipukul satu atau dua kali ‘kan? Daniel, bagaimana menurutmu?”
Selama tidak mati, semuanya akan baik-baik saja? Logikanya menakutkan.
“Aku tidak punya alasan untuk melakukan itu.”
Setiap kali Rise berbicara, Daniel tidak pernah menunjukkan respon yang serius. Matanya sekali lagi tertempel pada layar ponsel. Dia benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan Rise. Mungkin aku harus meniru tindakannya.
“Tidak punya alasan?” Senyum Rise menghilang. Bukan pertanda baik. “Aku kira kau hanya bertindak sesuai insting. Dilihat dari caramu mengabaikanku, sepertinya kau lumayan membenciku. Tapi, kenapa? Aku yakin tidak pernah berbuat salah terhadapmu.”
“Mencari perhatian dengan cara menyindir orang. Caramu berkomunikasi buruk sekali.”
“Caraku berkomunikasi hah? Terlalu terang-terangan? Atau karena aku bisa mengatakan sesuatu dengan yakin? Yah, tapi jika masalahnya ada di sana, aku ragu bisa mengoreksi diri.”
Daniel memejamkan mata. “Ray, bagaimana rasanya dipukul olehku? Apa kau sekarang membenciku?”
“Huh? Kenapa jadi aku?” Aku berhenti sejenak. “Ugh, jelas rasanya sakit. Kalau diperhatikan dari dekat, bekasnya bisa dilihat. Tapi, harus kuakui.” Aku memalingkan pandangan. “Aku yang salah. Aneh kalau aku membencimu hanya karena itu. Aku jadi terlihat seperti anak-anak kalau begitu.”
Tapi, aku tidak bohong soal menghindari Daniel sebisa mungkin. Apalagi membuatnya marah.
“Masih ada bekasnya? Hmm … coba kulihat!” Rise mendekatkan wajahnya. Jari-jari kecilnya menyentuh pipiku.
“Uwaa?!” Aku reflek menjaga jarak.
“Huh?” Rise berwajah aneh. “Raya, reaksimu yang barusan itu seolah kau punya alergi terhadap sentuhan perempuan?”
Aku menarik napas. “Jelas bukan begitu. Yang barusan itu sedikit mengejutkan!”
Kalau tangan mungkin tidak apa-apa. Liza sebelumnya menarik tanganku. Tidak sesulit itu untuk mengatakan kalau Rise punya kepribadian yang kuat. Namun, tidak kusangka gadis ini benar-benar seberani itu.
“Yah, terserahlah,” gumam Rise. “Daniel, kehadiranku sepertinya sangat merepotkanmu. Namun, tetap saja. Aku tidak suka diabaikan. Aku juga tidak suka disebut sebagai anak-anak hanya karena kau tidak suka caraku berkomunikasi.”
Anak-anak? Itu ucapanku.
“Kalau sudah mengerti, aku minta kalian berdua meninggalkanku sendirian.”
“Sebelum itu, tawaran Raya masih berlaku.” Rise mengingatkan.
“Aku sudah bilang, tidak butuh,” jawab Daniel.
Oh, beruntung.
“Teh? Dingin atau panas?” paksa Rise.
Tunggu sebentar! Rise …?!
“Kalau sudah begini, aku yakin kau tidak akan mendengar apa pun yang ku katakan!” Daniel nampak tak masalah.
“Teh dingin? Ray, kau mendengarkan ‘kan? Daniel ingin teh dingin.”
Rise menatapku sesaat, kemudian mulai berjalan.
__ADS_1
Serius, percapakaan macam apa itu? Cara Rise mengabaikan Daniel dan pergi begitu saja membuatku sedikit terhentak. Apa semua perempuan serumit ini?
Daniel terlihat tidak peduli. Setelah memastikan semuanya aman, aku segera mengejar Rise.
Kami pergi mendekati gedung latihan. Aku dan Grisella bertemu Drian pertama kali di sini. Aku tidak terlalu nyaman bersama Drian, jadi hanya Grisella saja yang berbicara dengannya waktu itu. Yang lebih penting lagi, kenapa ada tempat pelatihan senjata api di sini? Meski sekolah mewah, ini sudah berlebihan.
Di bagian pintu gedung latihan, ada mesin minuman. Aku mulai mengeluarkan dompet.
“Rise, kau mau apa?”
Rise berdiri hening. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membuka mulut.
“Riz!”
“... “Aku benar-benar tak paham.
“Keluarga, teman-teman, dan mereka yang mengenalku. Mereka semua biasa memanggilku Riz.”
Tiba-tiba sekali. Riz jauh lebih mudah diucapkan dibandingkan Rise. Nama aslinya Risette Claudia. Terdengar seperti nama orang luar. Jadi saat menyebut Rise pasti akan jadi Rais atau Reis jika menggunakan alphabet inggris.
“Apa aku harus memanggilmu Riz juga?”
“Tidak, lakukan seperti biasanya. Panggil aku Rise. Rasanya lumayan menyegarkan.” Rise bersandar pada tembok. Satu tangan menempel pada dagunya yang lancip. Ia memasang senyum tajam. “Ray, kau tadi bertanya aku mau apa?”
“Tidak perlu dijawab.” Aku mengangkat tangan tanda berhenti.
Rasa percaya diri dari mana ini? Tebakanku pasti benar. Rise memberi tahu namanya bukan karena tanpa alasan. Ada beberapa pilihan, tapi memilih yang paling aman jauh lebih baik. Minuman rasa jeruk yang dingin.
“...” Rise melirikku dengan tatapan pertanyaan.
“Apa?”
“Kau sungguh mengecewakanku, Ray!”
Eh, salah? Padahal aku sudah yakin.
“Tidak perlu dijawab.” Rise tertawa kecil. “Aku tidak percaya kau mengatakannya dengan percaya diri.”
Meski begitu, Rise tetap merebut minuman kalengnya dari tanganku.
“Tidak mungkin ada orang yang bisa membaca seratus persen pikiran orang lain.”
Rise membuka botol minuman. Ia menahannya hanya dengan dua jari sambil digoyang-goyangkan pelan. “Kalau begitu, apa kau percaya jika aku bilang aku bisa membaca pikiran orang lain?”
Jelas, tidak mungkin.
“Membantah secepat itu, bukankah kau terlau percaya diri?”
“Serius, berhenti melakukan itu!”
Ini mirip seperti permainan, ‘aku tahu kau mau bilang apa.’ Lawan bicara pasti akan reflek bilang ‘apa’ untuk mencari tahu. Tentu saja kalau triknya belum diketahui.
“Salahmu sendiri karena punya pikiran yang mudah dibaca.” Rise membuka botol minuman.
Aku mulai memasukkan koin, lalu memencet tombol pada mesin minuman. Karena Rise sudah, total yang harus kubeli jadi sembilan, tanpa aku.
“Ngomong-ngomong, Rise kenapa kau ikut denganku?”
“Untuk mencuri start. Aku hanya ingin kita berteman sedikit lebih cepat. Selain itu, di kelas tidak ada kegiatan apa pun.”
Responnya sangat normal. Tumben.
“Mencuri start? Kenapa aku?”
“Apa salahnya? Kita akan sekelas, jadi tidak apa ‘kan?” Rise minum. “Selain itu, berteman langsung dengan banyak orang sekaligus itu bukan keahlianku. Berbicara berdua seperti ini memudahkanku untuk berinteraksi denganmu.”
Tingkahnya sedikit berbeda. Lebih positif.
“Memang tidak ada salahnya. Tapi, kita akan sekelas selama tiga tahun. Aku pikir tidak perlu buru-buru. Kau juga bilang begitu barusan.”
“Grisella sedikit menceritakkan padaku tentangmu. Ray, kau bisa sebutkan semua nama teman kelas perempuanmu waktu SMP?”
“Mustahil. Kenapa Grisella bisa tahu?”
“Sekarang aku khawatir, kalau besok kau sudah lupa namaku.”
“Aku ingat nama kalian semua. Kejadian murid tambahin yang kemarin bukan hanya untuk bermain-main saja bagiku.”
Salah satu janjiku. Masa-masa SMP-ku entah kenapa sedikit datar dan tak ada perkembangan. Aku baru sadar, semenjak hari perpisahan tak ada ada ingatan yang pantas dikenang ketika SMP. Jadi di SMA aku memutuskan untuk jauh lebih aktif lagi.
“Selain itu Rise, kesan buruk yang kau berikan terlalu kuat untuk dilupakan.”
“Kesan buruk? Aku tak mengerti apa yang kau katakan Ray.”
Benar-benar tak sadar diri.
Aku mengumpulkan semua minuman di atas lantai. Rise sudah, aku tidak butuh, jadi hanya sembilan. Yup, semuanya benar. Aku bisa membawa lima sampai enam, Rise sisanya.
Aku memeluk enam minuman sekaligus. Keseimbangan dan ketahanan. Dingin dan licin. Lumayan sulit, tapi masih bisa. Aku meilirik Rise.
“Oh, sudah saatnya kita pergi?” Rise membuang minuman miliknya di tempat sampah. “Gimana cara membawa semuanya ke kelas?” Rise mendekap.
“Rise, bisa minta tolong tiga lagi?” Aku tersenyum kaku.
“Huh …?” Rise bingung. “Kenapa harus aku?”
“Hah?!”
Apa ini miskomunikasi?
“T-tunggu sebentar. Aku kira, kau ikut karena ingin membantuku?”
“Ray, kenapa rasa percaya dirimu selalu setinggi itu? Aku tidak pernah bilang akan membantu membawakan.”
“Uhm …”
__ADS_1
“Ini hukumanmu sebagai permintaan maaf ‘kan? Tidak ada alasan bagiku untuk membantumu.”
Aku menurunkan semua minuman yang kupeluk kembali ke lantai. Saatnya ganti rencana. Sejak awal, mengandalkan Rise memang sebuah kesalahan. Pilihan terakhir, aku harus bolak-balik untuk membawa semua minumannya.
“Butuh bantuan?”
Hmm, siapa?
Aku menengok ke belakang.
“Kalian berdua … hmm,” Gadis itu melirik Rise, kemudian kembali menaruh fokus padaku. “Tidak. Sepertinya hanya kau saja yang kerepotan.” Ia menempelkan tangan pada dagu, kemudian mengangguk beberapa kali.
Asrama untuk kelas Elite berada di satu arah, tapi kantin berada di sisi lain dari sini. Tidak seharusnya ada murid lain di sini.
“Kami tidak butuh bantuan,” Rise menjawab pertanyaan gadis itu. “Kau bisa meninggalkan kami!”
“Oh, begitu ‘kah? Kalau begitu, bagaimana dengan saran? Mau mendengarkan saranku yang mungkin bisa membantu kalian ... ehm, yang mungkin bisa membantumu?”
Kenapa dia membenarkan kalimatnya dua kali seperti itu?
“Ngomong-ngomong, nama depan Aya. Nama belakang Naditya. Kelas 2-A,” jelas gadis yang baru saja mengenalkan dirinya dengan nada riang. “Kalian bagian dari kelas elit, ‘kan? Tidak biasanya ada murid baru yang jalan-jalan sampai ke sini.”
Harusnya itu yang ku katakan.
“Kelas dua?” ucap Rise bernada ragu.
“Eh, t-tunggu sebentar! Yang barusan itu salah. Maksudku, kelas tiga. 3-A. Aku lupa baru naik kelas!”
Aku paham betul rasa bingungnya. Hal yang sama terjadi ketika ganti tahun baru.
“Namaku Raya Aditya. Kalau dia Ri …”
Sebentar, Rise atau Risette? Membingungkan. Kenapa juga aku yang harus mengenalkan dia?
“Aditya?” Aya menepuk bahuku. “Ooh, nama kita mirip sekali. Tiba-tiba aku merasa jodohku ada di sini!”
Dia bertindak seolah kita sudah bersahabat. Rasanya mulai tidak nyaman. Ugh, karena dia kelas tiga, aku harus menahan diri.
Aya berjalan melewatiku dan Rise. “Kalau tidak salah …” Aya melihat sisi kanan mesin minuman. “Di sini ada … Ketemu!” Aya menarik sesuatu pada bagian bawah. Terdapat laci kecil. Isinya kantung plastik berwarna hitam. “Kalian bisa ... Ehm, ehm, kau bisa menggunakan ini.”
Aya tidak mencoba untuk menyinggung Rise ‘kan? Rise juga dari tadi tidak menanggapi. Aneh.
“Terima kasih.”
“Ngomong-ngomong, di kelas kalian ada yang namanya Steven dan Drian, kan?” Aya mengabaikan kalimat ucapanku. “Mungkin aku harus mengunjungi kelas kalian nanti.”
Untuk Drian, aku beberapa kali melihat di internet. Tidak jarang dia menang lomba tingkat nasional atau tingkat internasional. Yang menajubkan, bukan hanya dalam satu bidang, tapi ada banyak. Kalau Steven, salah satu pengusaha muda yang lumayan terkenal. Wajar kalau ada orang yang tahu keberadaan mereka di sini.
“Satu lagi yang perlu kalian berdua tahu. Aku dari klub relawan. Jika butuh bantuan, kau dan kau,” Aya menunjuk aku dan Rise bergantian, “bisa datang ke klub. Tak perlu sungkan. Kalau bisa, beri tahu juga pada teman-teman kalian. Aku pergi dulu.” Aya melambaikan tangan.
Promosi? Klub relawan? Berarti cara mendekatiku dilakukan pada orang lain juga. Agresif sekali gadis itu.
Aku memasukkan satu persatu kaleng ke dalam plastik. Sarannya benar-benar membantu. Terima kasih.
“Rise, kau sepertinya tidak menyukainya?”
“Harusnya aku yang bilang begitu. Kau sendiri sepertinya tidak menyukainya?”
“Dia terlalu dekat. Sedikit meresahkan. Aku jadi tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, aku tidak membencinya.”
“Kenapa? Karena akan terlihat seperti anak-anak?”
Sudah waktunya ganti topik.
“Ngomong-ngomong Rise, tadi di upacara penerimaan murid baru, ada informasi penting?”
“Aku … tidak mendengarkan. Tapi, tenang saja. Pengumuman seperti itu tidak pernah ada yang penting.”
Melegakan mendengar hal itu dari mulutnya.
“Aku harap Daniel tidak pergi.”
“Dia tidak akan pergi ke mana-mana.”
“Hmm, kenapa seperti itu?”
“Dia tahu kita akan datang lagi. Jadi, dia tidak akan pergi ke mana-mana.”
Alasan yang lemah. Namun, perkataan Rise benar. Daniel tidak berpindah sesenti pun dari tempatnya berada. Sesudah menyerahkan minuman pada Daniel, kami berdua kembali ke kelas. Semuanya saling mengobrol. Kelasnya hanya berisi sebelas orang, jadi aku ragu ada yang namanya kelompok-kelompok kecil.
Aku menyerahkan pesanan mereka satu persatu. Rise bergabung bersama para gadis.
Tiga puluh menit kemudian, Oliv kembali ke kelas. Lima menit setelah itu, Daniel ikut bergabung.
“Semuanya sudah berkumpul? Kalau begitu, langsung saja. Ini daftar pembagian kelasnya.” Oliv memegang selembar kertas. “Akan kusebutkan. Dengarkan baik-baik.”
Kelas 1-A, Erlin Talitha dan Steven William.
Kelas 1-B, Raya Aditya dan Risette Claudia.
Kelas 1-C, Daniel Candrasaputra, Grisella Yunia, dan Nikita Karin.
Kelas 1-D, Drian Tirto dan Luna Florisitia.
Kelas 1-E, Kivan Yudhistira dan Liza Adriel.
Mencuri start? Kita akan sekelas? Ini maksud ucapannya? Hmm, jelas sekali ini bukan kebetulan. Rise tahu aku dan dia akan berada di kelas yang sama. Sedikit mencurigakan. Akan ku tanyakan besok.
“Mulai besok, kalian bisa langsung masuk di kelas masing-masing. Keputusannya dibuat sedikit dadakan, jadi nama kalian mungkin belum ada di daftar murid. Ini berlaku sampai bulan depan, setelah itu kelas elit akan kembali seperti semula. Ada pertanyaan?”
Tak seorang pun mengangkat tangan.
“Tumben sekali. Baguslah kalau begitu. Setelah ini tidak ada kegiatan lain. Yang mau pulang ke rumah, silakan. Yang mau kembali ke asrama juga silakan.”
***
__ADS_1