Elite School

Elite School
12 : Masalah Baru


__ADS_3

Maaf, baru sempet update. :')


***


Ngantuk. Kalau dipikir, semenjak lulus SMP, aku tidak pernah keluar rumah sepagi ini. Bangun pagi sebenarnya tidak sesulit itu, tapi tidak tidur lagi itu yang mustahil.


Aku menguap lebar sambil berjalan.


Suasana sangat sepi. Dari pada menyegarkan, udara pagi justru menusuk kulit. Mungkin karena aku bukan orang pagi.


Selain dua orang satpam yang menjaga gerbang sekolah, aku tak melihat orang lain. Ini masih setengah tujuh, jadi wajar saja. Mengingat jadwal masuk sekolah adalah jam delapan, setidaknya aku punya waktu sekitar satu jam lagi untuk tidur setelah sampai di asrama.


Aku mengucek mata. Bernapas pelan. Sambil berhati-hati agar tidak tersandung atau menabrak.


Untuk asrama berisi dua belas orang, kamar dan ruangannya lumayan nyaman. Yang jadi masalah, kamar mandinya ada di luar kamar. Aku menantikan suasana rebutan kamar mandi.


Pintu asrama kubuka hingga menimbulkan suara. Beruntung tidak dikunci. Sebelumnya aku mengirim pesan ke Oliv kalau aku akan menaruh barang pagi-pagi. Oliv pasti sengaja membukanya.


Ngomong-ngomong, siapa saja yang sudah menginap di asrama mulai kemarin?


Aku masuk ke ruang utama. Hanya ada satu orang yang terlihat. Gadis itu sedang duduk di sofa sembari menonton televisi. Untuk seseorang yang punya tubuh lemah, aku kagum ia bisa bangun sepagi ini. Liza Adriel, meski di dalam asrama Liza masih menggunakan jaket birunya.


ACnya menyala. Aku sedikit menggigil.


Aku berjalan pelan di belakang Liza berniat untuk tidak mengganggunya.


“Raya, kau datang kepagian.”


Aku berhenti.


Liza tidak menoleh, tapi masih tahu kalau ini adalah aku. Perasaan yang sama seperti di saat aku pertama kali melihatnya. Gadis ini terlalu sensitif. Tidak mungkin dia tahu hanya dari langkah kakiku saja. Selain itu, aku juga membawa tas ransel saat ini.


“Mulai hari ini aku menginap juga di asrama. Jadi, pilihanku antara datang pagi-pagi atau setelah pulang sekolah.”


Yup, tujuan utamaku datang pagi-pagi hanya untuk menaruh barang-barang. Sejujurnya saja, hanya beberapa pakaian saja.


“Kau melihat Oliv saat berjalan kemari?”


“Tidak. Hanya satpam saja. Aku juga tidak melihat guru sama sekali.” Aku berniat pergi, tapi ini mengingatkanku sesuatu. “Liza, selain kau siapa lagi yang menginap di asrama dari kemarin?”


“Erlin, Luna, Drian. Hanya mereka bertiga.”


“Drian juga?”


Drian dan Kivan, kami bertiga pulang bersama kemarin. Daniel? Seperti biasa, sendirian lalu menghilang. Untuk Steven, dia dijemput menggunakan mobil. Anak orang kaya memang beda. Namun, masuk ke sekolah ini berarti aku akan berurusan dengan orang seperti Steven setiap hari.


“Drian datang kemarin malam sambil membawa koper. Dia terlihat seperti orang yang sedang liburan ke pantai.”


“Tidak sudah diceritain. Ngomong-ngomong, aku masih ngantuk. Mumpung masih ada waktu, aku mau tidur lagi. Selain itu, sebelumnya aku sudah mengirim pesan ke Oliv. Hanya untuk jaga-jaga saja, kalau dia datang, tolong kasih tahu aku sudah ada di kamar.”


“Aku mengerti. Kalau kau tidak bangun saat jam delapan nanti, aku akan membangunkanmu.”


Bukan jawaban yang ku harapkan, tapi aku yakin Liza menangkap bagian pentingnya.


Aku berjalan ke arah tangga. Sebelum menaiki tangga, aku mengintip Liza yang masih menonton telivisi sebentar. Selama berbicara Liza membelakangiku. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Nada bicaranya datar seperti biasa. Sangat sulit membaca pikirannya.


Lantai dua khusus untuk kamar laki-laki. Ada enam ruangan ditambah dengan dua kamar mandi, totalnya jadi delapan.


Dari ketentuan yang ada, kelas elit diperbolehkan untuk tidak tinggal di asrama. Kesannya tidak wajib, tapi ada beberapa acara di mana kita semua terkadang harus menginap. Dengan alasan itu, masing-masing orang sudah mendapatkan ruangannya masing-masing.


Aku memasukkan kunci ke lubang kunci, kemudian membukanya perlahan. Ruangannya gelap. Aku sudah pernah tidur di sini, tapi saat itu tidak sempat bersih-bersih.


“Hmm …”


Aku menoleh. Di ujung lorong, seorang gadis pendek sedang berdiri memperhatikanku. Mengenakan kaos putih dengan celana pendek hitam. Matanya setengah terbuka. Rambutnya berantakan. Dia benar-benar baru bangun tidur.


“Erlin, setidaknya cuci mukamu dulu!”


Aku pikir Liza itu aneh, tapi Erlin justru lebih aneh lagi. Sedikit sulit untuk dijelaskan. Seperti, gadis ini tidak malu sama sekali menunjukkan muka ngantuknya di depan seorang pria. Pakaiannya minim dan sedikit terbuka. Bahkan Liza berpakaian jauh lebih rapih dari Erlin. Namun, karena suatu alasan pikiranku masih berada dalam batas aman. Mungkin karena gadis ini terlihat seperti anak-anak.


Erlin menghampiriku. Dia menyodorkan sesuatu. Sebuah mesin kecil yang selalu dibawanya untuk komunikasi.


‘Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini?’ Itu yang tertulis di mesin ketiknya.


Matanya penuh penasaran. Berbeda dengan Liza yang bahkan tak menatapku ketika bicara.


“Cuma mampir untuk menaruh baju. Mulai hari ini, aku tinggal di asrama sekolah juga.”

__ADS_1


Ketika masih di SMP aku bukan tipe yang aktif, tapi di sisi lain aku juga bukan tipe yang pasif. Ikut mengobrol. Makan bareng. Pulang bareng. Main bareng. Kulakukan itu semua bersama teman sekelas.


Akan tetapi, tidak ada yang menarik sedikit pun. Tidak menimbulkan kesan. Hanya mengikuti arus saja. Membosankan. Dengan alasan itu, aku menciptakan kasus orang luar. Rasanya sangat menyenangkan dan menegangkan. Mungkin jika aku lebih berpatisipasi dengan kegiatan sekolah, semuanya bisa terasa lebih menyenangkan.


Dengan alasan itu aku memutuskan untuk tinggal di asrama juga.


“Ngomong-ngomong, aku serius. Cuci mukamu sebelum turun ke bawah! Menurutmu kenapa lantai laki-laki dan lantai perempuan sampai dipisah?!”


Erlin tidak membuka mulut, tapi jelas sekali ekspresi tidak mengertinya itu.


Aku bahkan tidak mau menjelaskannya.


“Aku mau bersih-bersih dulu. Jadi, jangan ganggu!”


Erlin mengangguk dan memberiku privasi. Kalau begitu, berarti memang benar-benar tidak ada yang penting lagi.


Aku masuk ke kamar.


Seragam sudah disediakan di dalam lemari. Selain pakaian, aku tidak membawa yang lain. Ruangannya sedikit berdebu. Terutama lantainya.


Bersih-bersih, aku memang bilang begitu. Mungkin ... aku bisa melakukannya lain kali. Rasanya ngantuk banget. Haah …


Aku beranjak ke kasur dan menutup mata.


***


Kalau tidak salah kelas 1-B.


Aku mengecek papan kelas untuk memastikan. 1-B. Tentu saja tidak mungkin salah. Sepuluh menit lagi tepat jam delapan. Entah jumlah muridnya ada berapa, tapi aku ragu akan ada yang telat di hari kedua. Mungkin.


Masih berdiri di depan pintu, aku melihat sekitar tanpa berharap apa pun. Tidak ada seorang pun yang ku kenal dari SMP. Meski ada, kemungkinan besar mereka hanya sebatas teman kelas atau sekolah saja. Yah, aku tidak punya teman yang benar-benar bisa disebut sahabat, jadi tidak ada yang kukenal mungkin jauh lebih bagus.


Banyak yang sudah punya teman bicara dan kelompok sendiri. Padahal ini baru hari kedua. Mendekati orang yang masih sendirian itu gampang. Namun, kalau yang sudah punya kelompok, sangat sulit untuk tiba-tiba masuk begitu saja.


Yang lebih penting lagi … aku harus duduk di mana? Tempat duduknya sudah diatur atau boleh duduk di tempat asal. Uhm, harusnya aku datang lebih pagi. Haruskah bertanya ke ketua kelas? Ketua kelasnya siapa?


“Ray, kemari!” Suara Rise. “Duduk di sebelahku.”


Rise ada di sudut ruangan dekat pintu. Saking dekatnya, aku jadi tidak menyadarinya.


“Makasih Rise,” ucapku setengah hati. Bagi Rise, aku yakin itu tidak akan membuatnya marah.


“Ray, ada orang yang kau kenal di sini?”


Aku menggelengkan kepala. Terlihat jelas Rise terganggu dari suaranya, tapi wajahnya berubah jadi lega.


“Oh, iya. Ada yang ingin kutanyakan.” Harusnya aku tanyakan kemarin. “Kau sepertinya tahu kita akan ada di kelas yang sama. Tahu dari mana? Oliv memberi tahumu?”


Ketika mengantarkanku membeli minuman, Rise bilang sesuatu soal ‘apa salahnya? Kita akan satu kelas.’ Awalnya aku kira kelas elit, tapi sepertinya hal ini sedikit berbeda.


“Tidak ada yang memberi tahuku. Lebih tepatnya, Oliv sendiri yang meminta tolong padaku untuk membantunya membagikan kelas.”


Eeeh, apa maksudnya itu?


“Bukan hanya aku. Liza juga.”


Sedikit mengejutkan. Rise mengatakannya dengan enteng. Apa tidak apa-apa? Yang dikatakannya bukan rahasia penting ‘kan?


“Jadi, kalian berdua membantu Oliv untuk menentukan siapa dan kelas mana yang mereka harus masuki?”


Rise menurunkan kedua bahu. Alisnya menajam. “Ray, telingamu itu dibuat untuk apa?”


Tajam seperti biasa. Karena itu sulit untuk membaca kalau suasana hatinya sedang buruk atau yang barusan termasuk ke dalam sarkas kesehariannya.


“Kenapa begitu?”


“Hah?! Kenapa? Kenapa, apa? Pertanyaanmu sangat tidak jelas. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.”


Kenapa hanya Rise dan Liza saja yang membantu? Itu yang ingin ku tanyakan, tapi lupakan. Tidak terlalu penting juga.


Seorang perempuan dewasa mengenakan kemeja dengan rok hitam masuk ke dalam. Wali kelas atau bukan? Ini hari pertama, jadi aku benar-benar tidak tahu.


Bagaimana dengan perkenalan? Sudah dilakukan kemarin atau …


Serius, kenapa aku sangat khawatir?


“Kita akan perkenalan terlebih dahulu,” ucap guru yang sedang berdiri di samping mejanya.

__ADS_1


Salah seorang murid perempuan yang duduk di meja terdepan mengangkat tangan. “Tapi Bu, kita sudah perkenalan kemarin?”


Aku melihat Rise sekilas. Perhatian Rise terlalu fokus ke depan kelas.


“Bukan untuk kalian. Ada dua murid baru yang akan belajar di kelas ini sementara. Dua-duanya dari kelas Elit.”


Aaah … sudah kuduga.


“Untuk murid dari kelas Elit, bisa kalian berdua maju ke depan kelas?”


Aku penasaran, kapan terakhir kali aku menyebut namaku sendiri di depan banyak orang?


Aku berdiri, berjalan ke depan kelas, dan sebisa mungkin bersikap natural. Semua orang memperhatikanku.


Ini mengingatkanku kejadian beberapa bulan lalu ketika hari kelulusan. Karena mendapat peringkat satu, seluruh angkatan menyaksikanku naik panggung dan mendapat penghargaan. Bukan perasaan yang buruk.


Aku berdiri di depan kelas, lalu berbalik melihat wajah-wajah asing yang belum pernah kulihat.


“Hmm … sebentar,” gumamku.


“Cuma sendiri? Mana temen kamu satu lagi yang dari kelas Elit?”


“Eeh?!”


Pandanganku menangkap sudut ruangan sambil berharap kalau aku salah, tapi sayangnya tidak. Rise masih duduk manis di kursi. Lebih parahnya lagi, ia seolah tidak tahu apa-apa.


Apa yang dia pikirkan? Aku tidak percaya, Rise bisa sesantai ini.


“Kenapa?”


“Ehm … bukan apa-apa.”


Aku mulai berkeringat.


Rise bilang dia tidak suka bicara dengan banyak orang sekaligus. Namun, ini sudah sedikit keterlaluan sebenarnya. Yah, terserahlah. Bukan urusanku. Kalau Rise tidak mau maju ke depan, itu urusannya.


Aku segera memperkenalkan diri. Setelah itu kembali ke kursiku. Beberapa mata masih terutuju padaku. Kelas Elit sangat spesial, jadi wajar jika banyak orang penasaran terutama jika berada di sekolah yang sama.


Untuk masalah Rise … mungkin lebih baik aku tidak berkata apa-apa.


“Ray!”


Aku menengok. “Hmm …”


“Huh? Kenapa dengan wajahmu? Jangan bilang kau kesal karena harus maju sendirian?”


“Aku tidak kesal.” Aku memalingkan pandangan. “Tapi, harus ku akui, yang barusan itu sangat mengejutkanku!”


“Ada yang lebih penting dari itu. Coba periksa ponselmu sekarang!”


Ponsel? Apa tidak apa? Guru di depan sedang membahas sesuatu yang sepertinya tidak penting. Mungkin memang tidak apa.


Dari cara Rise berbicara pun sepertinya lumayan urgen. Lebih tepatnya, Rise mungkin suka bercanda dengan membuat kesal orang, tapi berbohong? Tidak.


Aku mengambil ponsel dari dalam tas.


Satu pesan dari Grisella.


Isi pesannya bukan kabar yang baik. Kalau harus dikatakan, justru sangat buruk.


Gawaat! Gawat! Untuk semua murid kelas elit, tolong segera berkumpul di kelas kosong yang kemarin. Aku juga mengirim pesan ini untuk Oliv. Keadaannya sangat gawat. Daniel baru saja memukul seorang guru dan sekarang dia pergi entah ke mana.


Yup, benar-benar buruk. Sepertinya pesannya dikirim ke semua murid kelas Elit.


“Sudah selesai bacanya?”


Rise menungguku. Baik sekali gadis ini, aku harap memang benar begitu. Lekuk bibir Rise bisa terlihat jelas. Isi pikirannya terbaca jelas.


“Biar aku tebak. Kau ingin kita berdua minta izin untuk meninggalkan kelas?”


“Tidak mungkin aku melewatkan kejadian menyenang— uhm … maksudku segawat ini ‘kan?” Alisnya sangat tajam sampai aku tidak berani melawan.


Kejadian seperti ini menyenangkan? Dari mananya?


Walaupun begitu, aku harus setuju dengan Rise. Kejadian segawat ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku sudah berjanji sebelumnya, kalau aku tidak mau diam saja seperti sebelumnya. Setidaknya, untuk saat ini mengetahui apa yang terjadi bisa sangat membantu.


Akan tetapi ... memukul guru di hari kedua itu sudah di luar batas.

__ADS_1


__ADS_2