
***
— 4.20 sore.
Yah, meskipun ada beberapa orang yang terlambat, setidaknya semua orang datang. Dengan Oliv, menjadikannya 12 orang.
Kami semua membentuk barisan lingkaran yang diameternya sekitar tujuh meter.
Seperti yang kami rencanakan, kami akan membahas masalah utamanya di sini. Menemukan si orang luar yang dikirim oleh si penipu kemari. Entah itu benar atau tidak.
“Kau menyuruh kami semua ke sini, itu artinya kau sudah tahu bukan siapa penipunya? Jika begitu, langsung saja sebutkan siapa orangnya dan semuanya akan selesai!” Seperti biasa, Daniel yang menggunakan jaket ungunya itu benar-benar tidak peduli dengan kasus ini.
“Tidak, masih belum ada seorang pun yang tahu siapa penipu itu,” ucapannya dengan serius, Grisella mencoba menjelaskan semuanya. “Semua orang terlibat, jadi kasus ini tidak akan terpecahkan jika kita tidak membicarakannya bersama-sama.”
“Ugh, boleh aku bertanya sesuatu?” Oliv yang tidak mengerti apa pun, mengangkat tangan. “Aku mengerti kalian ingin menyelesaikan masalah ini, tapi … kenapa aku harus ikut juga?”
“Semua orang harus dikumpulkan, itu artinya kau juga!” Sekali lagi, Grisella yang menjawabnya. Nada bicaranya sedikit berbeda dengan saat kami berdua berkeliling tadi. Kali ini, entah kenapa dia merasa sangat serius. Seperti punya dendam terhadap si penipu ini.
Oliv menunjukkan ekspresi takut karena jawaban yang diterimanya terasa sangat tajam.
“Pertama, aku akan menjelaskan beberapa hal kepada kalian. Ini bukan hanya pemikiranku saja, tapi beberapa orang lainnya.”
Grisella mengeluarkan catatan kecilnya dan segera menjelaskan. Tentang kemungkinan kalau ada dua pihak yang terlibat dalam masalah ini. Yang satunya tidak sengaja terseret ke dalam sini dan yang satunya bekerja di balik layar. Dia menjelaskannya dengan sangat percaya diri.
“Apa ada pertanyaan?” Grisella bertanya untuk memastikan semuanya mengerti.
Ada dua orang yang mengangkat tangannya. Steven dan Drian.
“Aku sempat mendengar cerita ini darinya.” Mata Steven menunjuk padaku. “Bukankah ini terdengar sedikit tidak masuk akal? Jika kita lihat dari sudut pandang si penipu ini yang bekerja di balik layar, apa keuntungan yang didapat olehnya karena sudah memasukkan orang luar ke dalam?”
Memang aneh, tapi saat berbicara tentang keuntungan atau alasan, hanya orang yang melakukannyalah yang akan mengerti.
“Mana kutahu!” Grisella mengangkat kedua bahunya, tak peduli. “Aku hanya berpikir untuk mencari buktinya, bukan motifnya. Jika kau ingin tahu, akan lebih baik jika kau bertanya langsung padanya setelah semuanya selesai.”
Aku merasa Grisella tiba-tiba saja menjadi orang yang berbeda. Apa ini karena dia tiba-tiba menjadi serius.
Tidak mendapat jawaban yang jelas, Steven terdiam menghela napas.
“Lagipula, karena si penipu ini bekerja di balik layar, akan sangat mustahil bagi kita bisa menemukannya. Akan lebih mudah kalau kita fokus menemukan si orang luar daripada memikirkan apa yang diinginkan oleh si penipu.” Grisella melanjutkan penjelasannya.
Grisella lalu melirik ke arah Drian, orang yang mengangkat tangannya.
“Hmm, aku sedikit memikirkan tentang ini. Tapi, jika si orang luar ini terseret masuk ke dalam tanpa sengaja, bukankah akan sangat sulit untuk mencarinya. Bagaimana cara kita menemukan si orang luar ini?” tanya Drian sambil memasang senyum kecut di wajahnya.
“Karena itulah kita membicarakannya sekarang.” Grisella menatap ke arah Rise yang sedang melipat kedua tangan di perutnya. “Menyeleksi satu-persatu sampai penipu itu menunjukkan dirinya.”
Itu adalah ide yang sempat disarankan Niki di awal-awal.
“Huh?” Rise sedikit terkejut dengan saran Grisella. “Kau yakin ingin melakukan sesuatu yang akan menghabiskan waktu dan belum tentu seratus persen mengeluarkan jalan keluar?” Nadanya sinis meminta pernyataan.
“Walaupun aku sendiri ragu, tapi tidak ada cara lain lagi. Jumlah kita terlalu banyak. Satu-satunya cara yang paling mudah adalah mengurangi jumlah orang yang ada di sini. Setelah itu, kita bisa mencari tahu siapa orang luarnya.”
Matanya melirik ke arah lain.
“Dan, karena itu juga, aku juga membawa Oliv ke sini!”
“Eh? Tu-tunggu sebentar.” Oliv menjeda dengan wajah bingung. “Aku tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus ini. Memangnya apa yang bisa kulakukan?”
“Menjawab pertanyaan tentu saja. Bukan hanya dariku, tapi dari semua orang yang ada di sini,” balas Grisella sambil memasang senyum santainya.
“Ya, aku tidak keberatan, tapi jangan terlalu berharap padaku.” Ekspresi wajahnya terlihat seperti orang yang sedang kerepotan. Kening Oliv pun terlihat titik keringat turun membasahi.
Walaupun begitu, semua orang mengabaikan pengawas itu.
“Aku akan mengatakan hal ini sebelumnya. Tapi, salah satu dari kita adalah orang luar yang tidak sengaja terseret ke dalam kasus ini. Siapa pun dirinya, aku hanya ingin bilang …” nada bicaranya rendah, “… maaf, tapi apa pun yang terjadi …” ada ekspresi keraguan yang muncul di wajahnya, “… kami harus menemukanmu.”
“Hmm … kenapa kau begitu yakin kalau orang luar ini benar-benar tidak tahu apa pun?” Mulutku berbicara begitu saja. Saat itu, aku tidak menghindari pandangan Grisella.
“Entahlah, mungkin insting.”
Setelah mengucapkan itu, ekspresi Grisella kembali menjadi serius.
“Baiklah, aku sudah memikirkan beberapa cara untuk menyeleksi beberapa orang dari kita. Aku ingin kalian semua menunjukkan surat dan amplop milik kalian semua!”
Tanpa banyak tanya, semua orang mengikuti arahan Grisella. Mungkin karena beberapa orang dari kami tidak peduli, tidak punya petunjuk, atau terlalu malas untuk berbicara, dan berpikir.
Kami semua memegang masing-masing amplop. Setiap orang memegang warna yang berbeda.
“Kita sudah melihat isi surat di dalamnya dan tidak ada satu pun yang berbeda. Jadi apa yang ingin kau buktikan?” tanya Kivan, orang yang sebelumnya sudah membandingkan masing-masing isi suratnya.
“Warnanya,” jawab Grisella singkat.
“Huh?” Beberapa orang tidak mengerti dengan jawaban Grisella.
“Hmm, aku mengerti.” Steven memberi anggukan kecil. “Kalau dipikir, cara ini jauh lebih mudah dicoba dari pada membandingkan isi suratnya.”
“Ugh, bagi kalian yang mengerti. Tidak bisakah kalian menjelaskannya lebih jelas kepada kami, orang-orang yang tidak mengerti?” Rise membuat ekspresi kesal karena tertinggal.
Karena setiap surat memiliki warna yang berbeda, ya bagaimana cara membandingkannya? Aku cukup mengerti.
Aku yang tidak terlalu pandai menyusun kata-kata terdiam membiarkan orang lain yang berbicara.
Erlin mengangkat tangannya. Dengan ekspresinya yang datar, entah kenapa aku merasa kalau dia ingin mengatakan sesuatu.
Erlin menarik baju Kivan beberapa kali untuk memanggilnya, setelah itu dia menyodorkan sebuah mesin kecil padanya.
“Hah? A-apa?” Kivan memandang gadis pendek di sebelahnya itu dengan bingung karena tidak berbicara sepatah kata pun.
“Baca saja apa yang tertulis di dalamnya,” perintahku sambil memandang mereka berdua.
Kivan mengambilnya dan membacanya sekilas di dalam hati. Setelah itu dia membacanya dengan suara keras agar semua orang bisa mendengarnya.
“Ehm, ehm …” Ia malah batuk sebelum berbicara keras. “Sekolah ini sudah berdiri selama tujuh tahun, dan setiap tiga tahun sekali ada sepuluh murid yang diundang untuk masuk ke sini. Sama seperti kita, sepuluh murid itu pastinya mendapat surat undangan yang warnanya masing-masing berbeda.” Kivan berhenti membacanya. “Aah … Sekarang aku mengerti,” lanjut Kivan sambil mengembalikan mesin ketiknya pada Erlin.
Dengan jumlah waktu selama itu artinya ada dua lulusan kelas elit yang berasal dari sekolah ini. Namun, dari mana Erlin tahu semua itu?
“Kau ingin membandingkan sepuluh amplop lama dengan sebelas amplop yang sekarang?” tanya Rise untuk memastikannya. “Dari mana kita bisa tahu warna amplop lama sama dengan yang sekarang?”
“Kenapa kalian terus bertanya seperti itu? Di sinilah Oliv akan berguna!” Dengan senyumnya yang percaya diri, Grisella menunjuk Oliv.
“Uuh, aku sudah menduga, pasti akan begini kejadiannya.!” Oliv menoleh, merasa tertekan. “Mana aku tahu hal seperti itu. Itu bukan urusanku.”
“Kau tidak tahu?” Grisella bertanya sekali lagi.
“Oliv tidak berbohong,” belaku. “Seandainya Oliv tahu, dia pasti sudah menyarankan cara ini dari awal kita berkumpul.”
Semua orang kembali terdiam, sampai seseorang membuka mulut.
“Kalau begitu, kenapa tidak bertanya pada seseorang yang tahu saja?” saran Kivan menempelkan jari pada dagu.
Oliv mulai menangis. “K-kalian semua ingin aku dipecat, ya?”
Aku ingat kalau ponsel Oliv tertinggal di rumah, tapi sejujurnya saja ini hanya masalah waktu sampai dia benar-benar dipecat.
Grisella menyodorkan ponselnya. “Siapa pun, tidak perlu orang yang berasal dari pemerinah. Guru, senior, atau pengawas seperti yang dulu.”
__ADS_1
Untuk sesaat, Oliv terlihat seperti sedang berpikir. “Uuh, kalian semua menyebalkan!” Ia mengambil ponsel Grisella dan segera menghubungi seseorang. “Jangan terlalu banyak berharap.”
Kami membiarkan Oliv waktu sampai dia menyelesaikannya. Entah siapa yang dihubunginya, tapi sepertinya tak ada kendala sedikit pun.
Setelah ia menutup panggilan, semua mati kami tertuju padanya.
“Jadi bagaimana?” tanya Steven.
“Umm, soal itu …” Wajahnya terlihat seperti orang panik. “Ternyata warna suratnya ada lebih dari sepuluh. Sebenarnya saja, ada sekitar lima belas warna yang berbeda,” jelas Oliv sambil memalingkan wajahnya.
“Kenapa bisa ada sebanyak itu?” teriak Rise menarik perhatian semuanya. “Jika hanya ada sepuluh murid, kenapa mereka membuat amplopnya sampai lima belas warna?!”
Aku sedikit mengerti rasa kesalnya.
Oliv menambahkan penjelesan. “Yah, aku tidak terlalu mengerti soal itu. Sepertinya masing-masing orang punya warna yang cocok dengan mereka sendiri. Karena itu, mereka mencetaknya lebih dari sepuluh.”
“Jadi maksudmu, aku mendapat amplop berwarna jingga, karena warna jingga itu cocok denganku?”
“Mungkin,” jawab Oliv tidak bertanggung jawab.
“Lalu, bagaimana dengan warnanya? Apa semua warnanya sama dengan yang ada di sini?” tanya Grisella dengan tenang.
Oliv mengangguk. “Ya, semuanya ada. Masing-masing dari kalian memegang warna yang sama dengan yang dicetak.”
“Begitu, ya.” Ekspresinya sedikit kecewa, mungkin karena rencananya gagal. “Sudah kuduga, ini tidak akan semudah itu,” gumam Grisella pelan, karena aku berdiri di sampingnya aku bisa mendengarnya dengan jelas.
“Jika gagal, kita hanya perlu mengulangnya dari awal. Ini juga bukan satu-satunya rencana yang kau punya, ‘kan?” Aku mencoba memberinya sedikit semangat.
“Yah, tentu saja.” Grisella mengangkat dagunya. “Jangan remehkan aku, karena ini baru awalnya saja!”
Bagus kalau semangatnya tidak serapuh itu.
Lagipula, bukankah rasanya aneh? Jika hanya dengan membandingkan warna suratnya bisa terselesaikan, kasus ini mungin tidak akan serumit ini.
“Ehmm, boleh aku mengatakan sesuatu juga?” Sambil mengacungkan tangan sampai dada, Liza berbicara dengan suara kecil.
“Tentu saja. Justru akan lebih baik kalau semua orang bisa punya pendapat masing-masing agar kasus ini bisa terus maju. Jadi, ada apa?”
“Aku punya pertanyaan yang sama dengannya?” Masih mengangkat tangannya, tatapan Liza menuju ke arah Steven.
“Sama denganku?” Steven membalas balik tatapannya. “Maksudmu motif si pelaku?”
“Aku sudah bilang, aku tidak tahu. Memangnya benar-benar penting untuk dibicarakan?”Grisella terlihat aneh.
“Itu yang aku maksudkan.” Nada bicaranya tiba-tiba berubah. “Ugh, aku merasa sedikit.” Liza menyentuh kepala.
“Tu-tunggu sebentar, jangan pingsan di saat seperti ini! Setidaknya lanjutkan kalimatmu sampai selesai!” Grisella menunjukkan wajah panik.
“Uh, ya. Kesampingkan motifnya, tapi setelah si penipu ini mengirimkan orang luar ke dalam sini, lalu apa?”
Pertanyaannya seperti terpotong di suatu tempat. Atau, dia berharap ada yang bisa melanjutkannya?
“Lalu apa?” Grisella bertanya balik. “Aku tidak mengerti maksudmu.”
Liza menggembung pipi. Gadis itu terlihat kesal, membuatnya semakin imut.
“Kau terlalu banyak bertanya,” ucapku pada Grisella.
“Maaf, aku tidak terlalu mengerti.” ucap Grisella menatap semua orang.
Dengan kalimat Liza yang terpotong, itu merupakan hal wajar.
Liza memasang ekspresi yang tak nyaman. Mungkin dia salah mengucapkan sesuatu atau dia benar-benar ingin pingsan? Aku harap, bukan pilihan yang kedua.
“Aku sedikit mengerti apa yang dia coba katakan,” ucap Kivan dengan nada santai. “Yang dia maksud adalah, untuk melanjutkan rencana si penipu, dia harus tetap memperhatikan orang yang dikirimnya. Jadi, si penipu itu juga pasti berada tak jauh dari sini.”
Apa mungkin seseorang bisa mengendalikan orang lain tanpa berkomunikasi? Bagaimana caranya?
Aku teringat akan suatu kejadian. Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika gadis berambut pirang itu di tuduh di depan semuanya saat ini? Terakhir kali, dia dituduh oleh Grisella, dia hampir menangis.
“Jika aku menjadi si penipu itu …” Kivan berandai-andai, “… satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah ikut masuk ke dalam sini.”
“Jangan bercanda!” teriak Rise. “Apa gunanya mengirim orang luar ke dalam jika sejak awal kau sudah menjadi bagian dalam?”
“Aku hanya menerjemahkan kalimatnya saja. Bukan berarti aku punya pikiran seperti itu.” Kivan menunjuk ke arah Liza. Karena tiba-tiba ditunjuk, langkah Liza mundur sedikit ke belakang. “Itu maksudmu, ‘kan?”
Liza mengangguk pelan.
“Aku keberatan.” Steven menolak.
“Uuh, aku juga.” Luna yang dari tadi diam ikut mengangkat tangan.
Pandangan Grisella bergantian menuju dua pihak.
“Hmm, apa ada yang aneh? Bagiku cukup masuk akal kalau sampai hal itu terjadi? Untuk mengendalikan si orang luar yang berada di sini, si penipu itu pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam sini.” Kivan membela Liza.
Steven mengatur posisi kacamata merahnya.
“Hanya sepuluh orang saja yang diundang secara resmi di sini. Jika kita beranggapan bahwa spekulasinya benar, maka si penipu merupakan murid yang sudah diundang. Kenapa murid yang sudah diundang sampai mau repot-repot memasukkan orang luar dan membuat drama seperti ini?” Steven membuat argumen.
“Yah, kalau dipikir tidak mungkin ada orang biasa yang bisa melakukan hal ini. Bukan hanya meretas saja, tapi juga berakting, dan merencanakan semuanya. Dia sudah pasti berbakat dalam hal ini, wajar saja jika dia di undang untuk masuk ke sekolah ini.”
“Tetap saja. Jika itu semua benar, ada kemungkinan kalau dirinya juga bisa tersingkir? Aku tidak melihat keuntungan dari ini semua.”
“Hmm, mungkin saja mereka berdua itu adalah sahabat yang tidak mau terpisah. Jadi untuk tetap bersama, salah satu dari mereka menolong yang satunya lagi secara diam-diam.” Niki berpendapat sambil menunjukkan senyum lebarnya yang polos.
Aku merasa ada rasa percaya diri yang luar biasa di dalam senyumnya itu.
Namun, tidak ada yang mengganggap ucapannya dengan serius.
Mungkin? Kesampingkan masalah mungkin atau tidaknya. Pikirkan perasaan si orang luar itu jika dia sudah ketahuan nantinya. Bukannya malah bersama, persahabatan mereka malah akan hancur. Jika seperti itu, situasinya akan berubah dari yang awalnya misteri, menjadi sebuah drama.
“Ooh, aku melupakan sesuatu,” Kivan teringat, “aku tidak pernah bilang kalau orang dalamnya adalah murid yang diterima di sini.”
Semua pandangan tertuju pada satu orang.
“A-apa yang kalian lihat? Berhenti melihatku seperti itu!” Oliv mundur beberapa langkah.
Satu-satunya orang dalam yang bukan murid di sini hanyalah Oliv saja. Tidak aneh jika dia dicurigai.
Erlin mengangkat tangannya.
Semuanya terdiam dan seketika hening menyerang.
Sekali lagi, dia menyodorkan mesin ketiknya itu ke orang yang berada di sebelahnya, Kivan.
“Ugh, aku tidak keberatan membacanya, tapi tidak bisakah kau mengucapakannya sendiri?” Kivan yang merasa sedikit terganggu mengungkapkannya.
“Gadis itu tidak bisa berbicara,” ucapku sedikit keras agar semua orang mendengarnya. “Jika kau tidak ingin membacakannya, berikan padaku!”
“Ah, m-maaf. Kalau begitu biar aku bacakan.” Kivan mengambil mesin ketiknya. Sebelum memberi tahu kami, ia membacanya terlebih dahulu. “Hmm, baiklah akan kubacakan. Si penipu dan orang luar, mereka berdua ada di dalam.”
“Aku ingat kau juga mengatakan hal yang sama saat di atap. Jika kau bisa seyakin itu, apa ada buktinya?” tanya Grisella.
Erlin mengangguk. Dia mengambil mesin ketik miliknya dan mulai mengetik kembali. Setelah itu memberikannya lagi ke orang yang ada di sampingnya, Kivan.
__ADS_1
“Buktinya ada pada surat salinannya. Untuk memasukkan orang luar ini, dia meretas halaman resmi sekolah dan mengubah daftar muridnya. Kemudian, orang itu juga harus mengirimkan surat kepada si orang luar. Untuk menyalin surat itu, kau harus melihatnya terlebih dahulu.”
Masuk akal. Itu bukti yang cukup kuat.
Meretas halaman yang ada di internet jauh lebih mudah. Tapi, kemungkinan besar berbeda dengan surat yang kita dapatkan. Ini hanyalah surat undangan, membuatnya tidaklah sesulit itu jadi tidak perlu sampai diback up di internet. Dengan kata lain, suratnya tersimpan di sebuah komputer yang entah ada di mana atau sudah dihapus.
Erlin menggelengkan kepalanya, dan Kivan yang melanjutkan ucapannya.
“Surat seperti ini hanya tiga tahun sekali digunakan. Orang yang membuatnya tidak mungkin mempunyai alasan yang cukup untuk menyebarkannya di internet. Bahkan kemungkinan besar data aslinya sudah dihapus,” komentar Kivan setelah membaca pendapat Erlin.
Yang dikatakannya itu benar. Sama seperti barang yang tidak digunakan. Dari pada menaruhnya di sudut dan membiarkannya berdebu, akan lebih baik dibuang.
Menghabisakan waktu sepuluh menit untuk membuat dokumen seperti ini jauh lebih mudah daripada mencari dokumen yang tidak pernah dibuka selama tiga tahun. Terutama jika datanya tercampur oleh data lain.
“Setelah dihapus, cukup sulit untuk mendapatkannya kembali. Hanya ada satu saja cara saja untuk menyalinnya,” Kivan melanjutkan seolah dia benar-benar mengerti tentang apa yang diucapkannya itu.
“Melihat suratnya secara langsung, ya?” Steven mengangguk.
Erlin ikut mengangguk.
“Oliv, apa kau pernah melihat isi suratnya?” Hanya untuk berjaga-jaga, aku bertanya.
“T-tidak pernah. Itu surat resmi, tidak mungkin aku diijinkan untuk melihatnya.”
Sangat jarang jawaban Oliv bisa memuaskanku.
Kembali ke awal, ada tiga kemungkinan. Si penulis surat yang mengirimkan surat pada sebelas orang yang ada. Sejujurnya saja, akan sangat aneh jika pekerjaannya tidak dipantau karena hal ini cukup penting.
Pemerintah atau pihak sekolah memang sengaja melakukan ini sebagai tes dan merahasiakkannya dari Oliv. Melibatkan orang yang tak tahu apa-apa, rasanya tidak benar.
Berikutnya, orang yang menerima surat, dengan kata lain murid yang diterimalah yang menyalin suratnya dan mengirimkannya pada si orang ke sebelas. Steven bilang, dia tidak melihat keuntungan dari tindakan ini dan justru karena kehadirannya orang yang asli bisa terancam keluar.
“Menyalin surat yang dicetak memanglah tidak sulit. Semua orang bisa melakukannya,” kata Grisella.
“Tapi tidak semua orang bisa melihat dengan detail,” sentak Rise. “Apa kau tidak sadar kondisi kita saat ini seperti apa? Selain itu ada stempel lilin dan tanda tangannya. Sebenarnya saja, menyalin semua itu dengan sempurna bukanlah hal yang mudah.”
“Stempel yang digunakan pun resmi milik pemerintah. Jadi, aku ragu ada tiruannya. Walaupun kau bisa memesannya secara khusus, butuh waktu lebih dari satu hari untuk membuatnya.” Oliv memberi informasi yang lumayan penting.
Semuanya kembali terdiam, memikirkan langkah berikutnya.
“Ooh, aku tahu.” Ekspresi Grisella terlihat seperti orang yang sedang mendapatkan ide. “Kita bisa mencari si orang luar dan si penipu ini menggunakan perbandingan waktu.”
Butuh waktu untuk mengerti ucapannya.
“Oliv!” Grisella memanggil namanya tegas. “Surat ini dikirim secara bersamaan, bukan?”
“Ya, seharusnya begitu,” ucap Oliv tak yakin.
“Kalau begitu, semua surat ini harusnya sampai di hari yang sama. Kecuali, satu. Surat milik si orang luar. Kita hanya perlu menyebutkan kapan masing-masing dari kita mendapatkan suratnya. Salah satu dari kita seharusnya mendapatkan suratnya di hari yang berbeda,” saran Grisella.
“Bagaimana jika ada yang berbohong saat mengucapkannya?” ucap Drian.
“Kita bisa menulisnya di kertas terlebih dahaulu. Setelah itu, kita bisa menunjukkannya bersama-sama,” saran Niki yang idenya terdengar cukup mudah untuk dilakukan.
“Ya, kita bisa menggunakan cara itu!” Grisella setuju.
Seperti saran Grisella dan Niki, semua orang menuliskan waktu kapan mereka mendapatkan surat. Begitu juga aku.
Setelah selesai kami menunjukkan kertasnya satu sama lain sesuai perjanjian.
“Huh! Tunggu, kenapa semuanya bisa sama? Tidak mungkin semuanya sama! Seharusnya salah satu dari kita ada yang jawabannya berbeda! Apa ada yang berbohong?” Grisella nampak kesal.
“Aku ragu kalau salah satu dari kita berbohong,” ucap Kivan. “Jika ada yang memalsukan tanggal, itu artinya dia memilih tanggal dengan acak? Justru semakin kecil kemungkinan kalau waktu yang dipilihnya bisa sama dengan kita semua.”
“Tapi punya jawaban yang sama akan jauh lebih aneh. Oliv sendiri yang mengatakan butuh waktu satu hari untuk menyalin suratnya dengan sempurna.”
Grisella mulai tak bisa berpikir jernih. Cukup merepotkan.
“Normalnya begitu, tapi … kau salah dengan berpikir pendek seperti itu. Jangan sampai terlalu berpacu hanya pada satu hal saja,” nasihat Oliv.
Tumben sekali dia mengucapkan sesuatu yang berguna.
Kivan mengangkat kedua bahunya. “Ya, aku setuju dengan. Coba tenangkan dirimu dulu.” Ia tersenyum santai.
Untuk meyakinkan Grisella, aku berbicara. “Justru bukankah ini bisa dijadikan petunjuk tambahan?” ucapku sambil menatap Grisella yang sudah sedikit lebih tenang.
Aku melanjutkan. “Di saat salah satu dari kita ini menerima suratnya. Di saat yang sama, surat palsunya sudah di terima oleh orang luar. Jika dilihat dari waktu, tidak ada kesempatan bagi si penipu untuk menyalin surat dan mengirimnya kepada si orang luar. Kita bisa memperkecil kemungkin tersangka dengan ini.”
“Uuh, yah … kau mungkin benar.” Grisella mengangguk.
“Jika kesebelas surat ini sampai di hari yang sama, bukankah akan lebih baik jika kita beranggapan kalau surat palsu ini dikirim di hari yang sama juga?” Drian mengangkat tangan.
Kami semua mengalihkan pandangan kami ke arah yang sama.
Dengan kata lain, si penipu sudah menyalin suratnya sebelum dikirim. Hanya orang dalam saja yang bisa melakukannya. Atau …
Sebelum ada yang memberi pendapat lanjut, Oliv mengangkat tangan terlihat ketakutan.
“Ehm, boleh aku bertanya sesuatu?” pinta Oliv dengan suara ragu. “Menurut cerita kalian, si penipu ini menyalin surat dengan melihat surat aslinya secara langsung.”
Tidak seorang pun menjawab.
“Jika semua suratnya dikirim di hari yang sama, bagaimana cara si penipu ini menyalin suratnya?”
“Yah, dia tidak perlu menyalinnya jika dia punya sudah suratnya sejak awal,” ucapku dengan nada santai. “Dengan begitu, semua surat bisa dikirim secara bersamaan.”
“Jadi benar, ya. Kalian semua menuduhku.” Oliv sedikit panik berteriak pada kami.
“Tapi, Oliv bilang dia tidak pernah melihat isi suratnya. Apa dia bohong?” Grisella bertanya padaku. Apa dia berniat membela Oliv?
“Entahlah …” Aku menarik dan mendekap.
“Kenapa jadi ragu-ragu seperti itu? Aku ingat siang ini kau dengan bangga mengatakan kalau kau ini ahli psikologi.”
Aku memang mengucapkan itu, tapi tidak dengan bangga. Selain itu, tahu seseorang berbohong atau tidak pun tidak semudah membalikkan tangan.
“Aku hanya ingin bilang kalau, Oliv memang tidak pernah melihat isi surat, tapi bukan berarti dia tidak pernah menyentuh atau memegang suratnya sama sekali.”
Dua pernyataan itu jelas memiliki beda arti.
“Tapi, tenang saja, aku tidak menuduhmu Oliv.” Aku menggelengkan kepala membuat senyum kecil.
“Kau bilang seperti itu, tapi semua orang sedang menatapku curiga saat ini.” Oliv kewalahan. “Bukankah aneh jika aku adalah orang yang kalian cari itu? Maksudku, apa untungnya aku melakukan ini semua?”
“Tidak ada yang tahu alasan kenapa si penipu melakukan ini, tapi justru lebih aneh jika salah satu dari kami adalah orang yang merencanakan ini. Bagimu yang soerang pengawas, cukup mudah untuk melakukan komunikasi dengan orang luar bahkan tanpa ia sadari.”
Steven berpegang teguh pada pemikirannya. Orang yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain, terkadang memang sulit dimengerti. Namun, Steven masih menyimpulkan itu semua dengan logika. Jadi, kurasa tak ada masalah.
Aku memerhatikan Grisella yang semenjak awal terobsesi untuk menyelesaikan kasus ini. Entah dia setuju dengan keputusan Steven atau tidak. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Tentu saja jika kau bisa membuktikan dirimu tidak bersalah, kami akan mendengarkannya dengan senang hati.” Steven menutup kalimat terakhirnya.
Seandainya benar, Oliv adalah penipunya, berikutnya kami masih harus mencari si orang luarnya.
***
__ADS_1