
***
Aku masih tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi Grisella bilang ia ingin mengelilingi seluruh sekolah. Kami berjalan mengarungi lorong demi lorong. Mengecek satu ruangan ke ruangan lain. Pindah dari satu satu gedung ke gedung lain.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, membandingkan sekolah ini dengan lapangan sepak bola memang tidak berlebihan. Karena luasnya ini, aku mulai malas berjalan.
Lapangan, aula, ruang kelas, dapur, asrama, kolam renang, laboratorium, kantin, ruang diskusi, ruang latihan, kelas komputer, dan masih banyak lagi. Berapa kali dipikir pun, aku masih takjub dengan ini semua.
Semuanya di bagi menjadi empat gedung yang lumayan besar. Gedung sekolah, asrama, hobi/latihan, dan acak.
Grisella masih menggunakan seragam sekolah, ia berdiri sambil memperhatikan peta seluruh gedung ini di papan. Sorot mata itu serius. Ia bahkan menggambarnya dalam sebuah catatan kecil untuk berjaga-jaga. Meskipun semua orang di sini berbakat, mereka juga pasti masih punya kekurangan.
Akan tetapi, dalam kasusku untuk hal ini. Aku hanya perlu melihatnya sekali saja dan cukup mudah mengingatnya. Bukan berarti aku punya ingatan yang kuat. Karena aku cukup cepat mempelajari sesuatu, aku hanya perlu membuat gambaran simpel tentang peta itu di kepala. Dengan begitu, aku bisa mengingatnya dengan mudah.
“Bagaimana?” tanyaku yang lelah menunggu. “Kau tidak perlu menggambarnya sebagus itu.”
“Sudah selesai,” jawabnya selagi menutup catatan. Ia mendesis kecil. “Tapi, apa tidak apa kau mengantarku untuk berkeliling?”
“Aku tidak akan menarik perkataanku, atau jangan-jangan …” aku melirik wajahnya yang menunjukkan ekspresi bersalah, “… kau tidak suka kalau aku ikut denganmu?”
“Ah, tidak. Bukan itu.” Grisella menggeleng cepat, wajahnya membuat ekspresi ragu. “Kau ini orang yang membosankan. Jadi ku kira kau tidak suka melakukan hal seperti ini.”
Untuk yang satu ini, aku yakin dia benar-benar menghinaku. Namun, aku ini tidak mudah termakan, jadi lebih baik memilih mengabaikannya.
“Justru karena aku sedang bosan, aku tidak keberatan melakukan hal ini.”
“Oh, masuk akal,” ucap Grisella sambil tersenyum dan tertawa kecil.
“Lagipula, aku tidak punya teman atau sesuatu yang harus dilakukan. Mungkin dengan berkeliling bersamamu aku bisa mendapat sesuatu.”
“Hmm, itu terjadi karena kau adalah orang yang membosankan.” Gadis menyebalkan ini membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan duluan. “Lebih cepat, lebih baik. Ayo!”
Mari kita coba hitung berapa kali dia memanggilku membosankan mulai dari titik ini.
****
“Dapur?” tanyaku setelah sampai di salah satu tujuan kami.
“Apa kau tidak lapar? Mungkin kita bisa menemukan makanan di sini. Mungkin juga kita bisa menemukan petunjuk tanpa sengaja.” Tanpa memerhatikanku, Grisella masuk ke dapur.
Kami masuk melalui pintu belakang. Di sisi lain dari dapur ada kantin yang jauh lebih luas lagi. Meja-meja dan kursi di atur. Mereka menyajikan makanan cepat saji dan rumahan di sini. Menakjubkan. Tidak ada jajanan sembarangan di sekitar sini, tapi aku melihat beberapa mesin minuman saat perjalanan kemari.
Grisella berjalan mengelilingi dapur. Melihat sekeliling betapa mewah dan bersihnya segala peratalan masak di sini. Wajah itu sangat antusias seakan tenggelam dalam lamunan.
Aku merasa dia terlalu santai saat ini. Lagipula, apa mengunjungi tempat seperti ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang digeluti? Isi otaknya itu apa saja?
Merasa terabaikan, aku mulai melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Peralatan memasak di sini juga lengkap dan modern. Aku berani bilang semuanya berharga sampai ratusan juta. Jika hanya dapur saja sampai seperti ini, bagaimana dengan ruangan lainnya? Sekali lagi, aku merasa takjub dengan sekolah ini.
“Kalian, apa yang kalian berdua lakukan di sini?”
Desir angin membuat suara, yakni gadis bergaun jingga tengah menatap kami berdua yang sedang berkeliling dapur. Bola mata itu seakan mengintimidasi, mencurigai apa yang sedang kami lakukan berdua di tempat ini.
Gaun jinggan yang dikenakan terlihat sangat khas. Daripada wajahnya, aku merasa jauh lebih mudah untuk mengingat gaunnya yang berwarna cerah itu. Apa dia membuatnya sendiri? Terlihat sangat cocok.
Sekali lagi aku mengambil daftar nama yang kutaruh di kantung celana. Karena dokumennya terlalu besar aku membuangnya dan hanya menyimpan kertas pentingnya saja. Aku harap Oliv tidak akan marah karena kertasnya terlipat saat kumasukkan kantung celana.
Risette Claudia. Risette terlalu sulit untuk diucpakan, dan Claudia rasanya tidak benar. Jadi, aku memutuskan untuk memanggilnya Rise. Namanya mengingatkanku akan matahari terbit. Sungguh terang, seperti gaun miliknya.
“Kau sendiri bagaimana? Untuk apa kau di sini?” Aku balas kembali sorot mata intimidasinya. Sejujurnya saja, mata miliknya jauh lebih menyeramkan.
“Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Aku sudah menjawabnya! Sekarang giliran kalian yang harus menjawab pertanyaanku!” Rise menaikkan nada suaranya.
Meski aku tidak yakin, jawabannya sedikit aneh. Aku bisa mengatakan hal itu karena salah satu keahlianku adalah psikologi. Karena alasan yang dikeluarkannya sama, kita sendiri tidak jauh lebih baik darinya.
“Kau ini …” Aku memberi jeda, “… suka memasak, ya?”
“Huh?” Ekspresi wajahnya berubah, tapi tidak membaik. “Untuk apa aku menjawabnya?! Lagipula, kalian bahkan belum menjawab pertanyaanku!”
Dengan melihat ekspresinya itu aku sudah tahu. Mungkin dia hanya ingin melihat dapur yang akan digunakannya nanti jika dia bersekolah di sini.
Sambil mendekap buku catatan di dada, Grisella mulai bertanya, “Uuh … apa kau marah padaku?”
Memberanikan diri untuk bertanya seperti itu, aku salut pada gadis ini. Normalnya, kau tidak mengatakan itu pada orang yang tidak dikenal.
“Hah, marah? Kenapa aku harus marah padamu?” ekspresinya tajam diliputi bingung meski tidak jelas.
Dia memang tidak berteriak, tapi nada bicara dan tatapan itu sudah menjelaskan secara panjang dan lebar. Wajar jika semua orang yang melihatnya berpikir kalau saat ini dia sedang marah.
“E-entahlah ... Aku juga tidak tahu.” Grisella memberikan jawabannya dengan sedikit rasa takut.
“Hmm … aku melakukannya lagi, ya?” Nadanya rendah, tapi tampangnya tetap menakutkan. “Aku tidak marah padamu, tapi jika kau menjawab seperti itu lain kali, aku akan benar-benar marah,” lanjut Rise dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
Melakukannya lagi? Apa maksudnya itu?
Gadis bergaun jingga itu berjalan ke arah lemari dan membukanya.
“Ini sudah sering terjadi. Maaf saja, jika aku terlihat marah. Ini sudah menjadi sifatku yang tidak bisa diubah. Banyak orang yang salah paham karena hal ini. Jadi …”
Rise menutup lemarinya dan memandang kami berdua.
“Jika kau mengira aku sedang marah padamu. Aku tidak akan menyalahkanmu!” Lagi-lagi nada bicara Rise dinaikkan kembali.
Grisella menarik napas lega. “S-syukurlah, a-aku kira kau benar-benar marah.” Dengan wajah polosnya, Grisella yang berada di sampingku tersenyum dengan harapan.
“…” Kepalanya berputar. Rise mengalihkan pandangan, membuat wajahnya tidak bisa dilihat.
“Tapi, kau sedang badmood, bukan?” tanyaku tanpa rasa peduli sama sekali.
“Hmm, ya. Itu benar! Aku memang sedang sedikit kesal sekarang! Kalian tahu kenapa? Karena kalian menggangguku saat ini! Akan lebih baik kalau kalian pergi sekarang!”
Mungkin seharusnya aku tidak bertanya.
“Tidak, tunggu sebentar,” seru Rise membuatku terheran.
Rise melupakan lemarinya dan berjalan ke arahku. Ia memandangku dengan tatapan yang sedikit aneh.
“Beberapa saat yang lalu, kau mengatakan kalau aku suka memasak. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” Suaranya tajam seperti biasa.
“Entahlah, hanya mene—”
“Katakan!”
Uwaa, menakutkan sekali gadis ini. Walaupun dia tidak marah … tidak. Dia bilang sedang badmood saat ini. Memangnya badmood dengan marah ada bedanya? Mungkin hanya perempuan yang mengerti.
Aku menghela napas. “T-tanganmu? Di tanga—”
“Cukup!”
Dia memutus kalimatku dua kali dengan mudahnya. Bu-bukan berarti aku takut dengannya.
Rise melihat tangan kanan, lalu diangat setinggi kepala. Ia membuka kepalan dan menunjukkan telapak tangannya padaku. “Katakan! Apa saja yang bisa kulakukan dengan tangan ini?!”
Aku terdiam sebentar. Haruskah aku menjawabnya? Apa ini sebuah tes? Orang seperti Rise tidak akan punya pikiran untuk mempersulit dirinya. Dia menanyakannya mungkin karena hanya ingin tahu. Tidak perlu berpikir bagiku sedetik saja untuk menjawab pertanyaannya itu.
“Memasak, menjahit, melukis, memperbaiki, memahat, bermain alat musik, mem—”
“Cukup,” ucap Rise sambil menutup kepalan. “Kalian boleh pergi.”
Aku bernapas lega. Sekarang aku mengerti perasaan Grisella. Rise bukanlah seorang gadis yang ingin kau buat marah. Berbicara dengannya sebentar dan aku cukup tahu, itu benar.
“Jam empat sore nanti, aku ingin kau datang ke aula. Aku ingin agar kita semua berkumpul dan membicarakan hal ini sekali lagi.” Grisella menjelaskan keinginannya.
__ADS_1
“Yah, jangan terlalu berharap banyak.”
Setelah Grisella berkata demikian, kami berdua setuju untuk pergi dan tidak menganggu kesenangan Rise.
****
Grisella yang sedang berjalan beberapa langkah di depan menggerutu di tiap langkahnya. “Ini hanya aku saja atau dia itu memang orang yang aneh?”
“Terkadang emosi seseorang bisa terpancing tanpa alasan yang jelas. Karenanya juga terkadang hal itu tidak bisa dijelaskan oleh psikologi sekalipun.”
Yang kumaksudkan adalah, saat seseorang sedang marah, jangan pernah menanyakan apa mereka sedang marah atau tidak. Terutama jika kau adalah penyebab utamanya.
Karena hal itu juga, aku tidak yakin dia itu sedang marah atau tidak sampai aku bertanya padanya. Berteriak dan memberikan tatapan tajam bukan berarti orang itu sedang marah, bisa saja orang itu sedang memperhatikan sesuatu dengan serius atau memang ada masalah dengan matanya.
Setiap hari kau bisa belajar sesuatu.
“Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan tadi?”
“Bukan apa-apa. Tidak terlalu penting.”
Seandainya aku menjelaskan pada Grisella, entah pikirannya bisa sampai atau tidak.
“Yah, jika kau berkata begitu, aku tidak akan memaksa.” Nada Grisella kecewa.
Kami pergi ke ruangan lainnya. Entah ke mana, aku hanya mengikuti. Sesampainya …
“Ruang latihan?” tanyaku menengadah pada papan nama di atas pintu.
Akan tetapi, setelah masuk rasanya sedikit berbeda. Luasnya hampir sama seperti ruang aula sebelumnya, hanya saja ruangannya di bagi menjadi beberapa bagian.
Masing-masing ruangannya berbentuk persegi dengan empat pintu di setiap arah mata angin yang menyambungkannya ke ruangan kecil lainnya.
Kami memeriksa satu-persatu dari semua ruangan. Setelah melihat beberapa, aku bisa menyimpulkan ruangan ini digunakan untuk latihan militer. Walaupun, tidak selengkap latihan militer yang sebenarnya.
Semenjak kami masuk ke sini, suara keras terdengar beberapa kali. Kenapa ada tempat latihan seperti ini di sekolah ini?
“Hmm?” Grisella memutar-mutar pensil di antara jarinya, membuatnya terlihat seperti orang yang pintar. Tidak, aku mungkin harus mengakui kepintarannya itu. Meski dia belum pernah mengalahkanku di SMP sebelumnya.
Saat menginjakkan kaki kami di salah satu ruangan, seorang pria menatap kami sedikit bingung.
Di tangannya ada sebuah pistol yang biasa digunakan oleh militer. Di kepalanya terdapat headphone yang gunanya untuk mengurangi daya keras suara. Yang paling penting, rambutnya yang diwarnai hijau memberikan kesan aneh dan unik di setiap kali aku melihatnya.
Pria itu melepaskan headphone yang digunakannya saat sadar kalau ada orang lain selain dirinya di sini.
“Oh, apa ini? Jangan bilang kalau seseorang ingin menontonku?” Nada pria itu bersahabat, juga senyum itu tersimpul di wajahnya. Tipe orang yang paling kubenci.
“Kau!” Grisella yang berdiri di sebelahku tiba-tiba berteriak menunjuk pria itu dengan telunjuk dan tatapan aneh. “Apa yang kau lakukan? Apa kau tahu benda itu sangat berbahaya?!”
“Eh?” Pria itu melirik pada pistol yang digenggamnya. “Ini maksudmu?”
Pada dinding, aku melihat sebuah papan lingkaran yang digunakan sebagai target. Meski tidak ada yang mengenai bagian titik tengahnya, bisa dibilang pria berambut hijau itu cukup hebat. Semua pulurunya bersarang hanya berbeda satu atau dua sentimeter dari target yang diberi tanda lingkaran merah.
“Kau tidak seharusnya memainkan benda itu sendirian. Lagi pula, kita tidak tahu apa benda itu boleh digunakan atau tidak!” Grisella marah.
Aku ingin mengucapkan sesuatu, tapi … lupakan. Aku memeriksa daftar murid dan mencari namanya. Drian Tirto?
“Yah, tapi tidak ada larangan untuk menggunakannya.” Drian berkilah.
“Tidak ada larangan bukan berarti diperbolehkan untuk menggunakannya!” bantah Grisella.
“Ugh!” Drian menggaruk rambutnya, ia tidak bisa mengelak dan menyerah. “Baiklah, baiklah. Aku akan mengembalikannya.”
Dengan malas Drian meletakkan kembali senjatanya di atas sebuah meja.
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian kemari? Apa kalian berdua tertarik dengan militer atau senjata?” Drian membuat bentuk tangan menjadi tembakan, lalu mengarahkannya pada lingkaran merah, tempat di mana pelurunya bersarang.
“Tidak. Kami hanya sedang berkeliling. Kau bertanya seperti itu, apa kau tertarik dengan militer?” tanya Grisella mengabaikanku.
“Tidak juga. Tapi, aku ini suka bermain video game. Jadi aku sedikit penasaran dengan yang namanya senjata asli. Ternyata terasa sedikit berat dan rasanya juga sulit saat menggunakan yang asli.”
Meski begitu, semua tembakannya hampir mengenai titik sasaran.
Drian mengangguk pasti, pandangannya lurus padaku. “Ya, ini pertama kalinya. Karena aku tidak tahu harus ke mana, aku jadi memutuskan untuk memeriksa tempat ini dan mencobanya. Bukan pilihan yang buruk untuk menghabiskan waktu, ‘kan?
Karena inilah aku benci orang yang suka basa-basi. Dia bahkan memberikan jawaban lebih di dalamnya. Namun, aku mendapat jawaban yang ingin aku dengar.
Orang yang suka basa basi sepertinya bisa menyesuaikan keadaan dengan lingkungan sekitar dalam waktu cepat. Karena itu, meski ini baru pertama kalinya, dia bisa cukup ahli saat menggunakan senjata. Berbeda dengan caraku.
Drian bisa mahir karena sudah terbiasa melakukan hal tersebut. Sedangkan aku bisa mahir karena berpikir dan menghitung. Dia pandai dalam berbicara dan berakting, sedangkan aku diam dan biasa saja. Dilihat dari perbandingan itu, kami seperti sebuah sisi koin yang berlawanan.
“Bagaimana denganmu?” Dengan senyum santai Drian bertanya padaku secara langsung.
Aku menelan ludah berat.
Perasaan macam apa ini? Sangat mengganggu. Ini pertama kalinya senyum seseorang sampai menyudutkanku seperti ini. Rasanya aku ingin muntah. Aku tahu Drian tidak berniat buruk, tapi tetap saja. Terlalu peka terhadap sesuatu terkadang bukanlah sesuatu yang bagus.
“Maaf. Di sini panas, aku akan ke luar untuk mencari udara segar.”
“Hah? Apa yang kau katakan? Aku menggigil karena AC, kenapa kau malah kepanasan?”
Grisella mencoba menghentikanku, tapi terlambat. Aku balik badan dan meninggalkan mereka berdua. Aku tidak akan bisa menikmati obrolan yang akan dia buat selanjutnya.
Sama seperti katanya, warna abu-abu memang cocok denganku.
Beberapa menit aku menunggu di luar, Grisella akhirnya keluar dari ruang pelatihan.
“Ada apa denganmu? Tiba-tiba keluar seperti itu.” Wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir.
Aku yang bersandar pada dinding mulai menatapnya. “Aku merasa tidak cocok berbicara dengannya. Hanya itu.”
“Hmm, kau ini benar-benar membosankan, ya?”
Aku berharap dia berhenti mengucapkan hal itu.
Kami berdua melangkahkan kaki dan pergi ke tempat berikutnya.
***
Di saat kami sedang berjalan di lorong yang panjang, wajah Grisella berpaling ke sisi kanan. Aku pun mengikutinya. Di balik kaca jendela itu, seorang pria sedang tidur siang sambil bersandar pada pohon rindang. Terlihat jelas dari rambut bahwa angin melintasi wajahnya.
Pria adalah orang yang pertama kali keluar dari aula. Karena dia, semua orang jadi berpencar entah ke mana.
“Oh, lihat. Bukankah dia orang yang terlihat menyeramkan tadi?” Grisella mendekati jendela. “Aku akan membangunkannya.”
“Hah? Kau ini bodoh atau apa?! Untuk apa membangunkannya?”
Walaupun berbicara begitu, Grisella tetap tidak mendengarkanku.
Gadis menyebalkan itu tetap menggeser kaca jendela. Karenanya, udara segar yang berada di luar masuk ke dalam dan mengibarkan rambut wanginya.
“Haloo … kau yang sedang tidur di sana!” Tanpa dosa Grisella meneriakinya.
Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini? Aku tidak akan mengikuti gadis bodoh ini.
“Hmm?” Pria dengan jaket ungu itu membuka matanya perlahan. “Diamlah! Aku sedang mencoba untuk tidur di sini. Pergi sana, dasar hama!” Dia terlihat sangat marah.
Terbayang memang betapa sejuknya jika aku tidur di sana, ditemani sayup-sayup desir angin yang menggelitik kulit. Damai, tak ada manusia yang mengganggu sampi gadis menyebalkan ini berteriak demikian.
Yup, kita adalah hama. Jadi, ayo kita pergi dari sini secepatnya!
Grisella melirik ke arahku dan membuka mulut, “Ayo, bantu aku!”
Dasar gadis tak tahu situasi!
“Huh? Untuk apa aku membantumu? Jika kau ingin berbicara dengannya, bicara saja sendiri.” Aku mendekap tak peduli.
__ADS_1
Bukan berarti aku takut. Namun, aku tak suka terlibat dengan masalah yang merepotkan. Aku kembali mengecek daftar namanya. Daniel Candrasaputra.
“Kami akan berdiskusi sekali lagi nanti. Aku datang hanya untuk memberitahumu. Itu saja.”
“…”
Daniel tidak memberikan jawaban.
“Heeey! Aku ini sedang berbicara padamu. Yang punya wajah menyeramkan dan terlihat menakutkan di sanaaa!”
Seperti yang sering orang-orang katakan. Orang berani dan bodoh itu tidak berbeda jauh, atau keduanya adalah satu yang tak terpisahkan.
“Itu semua tidak ada hubungannya denganku. Lagipula, tidak akan ada yang peduli jika aku dikeluarkan. Kenapa aku harus bekerja keras untuk ini? Buang-buang waktu saja! Menggunakan bakatku? Jangan bercanda! Semuanya merepotkan, jadi pergi saja dari sini!” jawab Daniel tetap memejamkan mata.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tahu, tidak semua orang mempunyai bakat. Jika kau tidak menggunakannya, itu artinya kau menyia-nyiakan apa yang telah diberikan padamu.” Grisella membalas dengan memberinya nasihat.
Nasihat adalah sesuatu yang bagus, tapi hanya akan bekerja pada beberapa orang saja.
Aku ingin melihat seperti apa ekspresi Grisella, tapi karena dia menengok ke arah berlawanan, aku jadi tidak bisa menatapnya.
“Aku ini hanya berandalan yang suka bolos sekolah dan berkelahi. Aku bahkan tidak butuh bakat seperti ini. Jadi untuk apa aku menggunakannya? Pergi saja dari sini!” balas Daniel menghentak. Setelah itu dia malah memutar posisi tubuhnya yang sedang terbaring 90 derajat ke arah berlawanan dari arah Grisella.
“Berandalan? Hmm, pantas saja kau punya wajah yang menyeramkan.” Merasa cukup lama diacuhkan, Grisella bergumam cukup keras sampai bisa didengar olehku atau Daniel.
Yang barusan itu tidak diragukan lagi, sebuah hinaan. Gadis yang ada di depanku ini sedang mencoba bunuh diri.
“Aku sudah pernah memukul perempuan sebelumnya, jadi akan lebih baik kalau kau jaga ucapanmu itu!”
“Hmm?” Tidak terlihat gemetar, Grisella masih tenang walau sudah diperingati demikian. “Ya, terserahlah. Kau kami tunggu jam empat sore di aula. Pastikan kau datang!”
Setelah berteriak demikian, dengan wajah sebal Grisella balik badan dan segera pergi, bahkan sebelum ia mendapat jawaban pasti dari Daniel.
Dia bahkan tidak menungguku. Yah, bukan berarti aku peduli.
“Pasti merepotkan jalan-jalan dengan gadis itu.” Setelah Grisella pergi, di antara angin yang berhembus Daniel berbicara padaku. Sorot mata itu tajam menerkam.
Dia …
Seharusnya saat ini aku mengejar Grisella, tapi …
“Hmm … kau tahu. Oliv bilang kita bisa memukul wajah orang luarnya jika kita berhasil menangkapnya,” ucapku tidak memandang Daniel, tapi pada arah ke mana Grisella pergi.
“Bagaimana jika kalian tidak berhasil menemukannya?”
“Kau boleh memukul wajahku.”
Untuk memastikan bahwa aku tidak bohong, mataku bertemu dengan mata Daniel melalui jendela untuk beberapa saat.
“Kalau begitu bersiap-siaplah!”
…
Lekas aku pun pergi meninggalkan tempat ini. Itu benar, aku tidak suka mencari masalah dengan orang yang merepotkan sepertinya. Pilihan yang paling mudah adalah membuat janji sederhana dengannya.
***
Kami keluar dari bangunan megah ini. Jika dipikir, kami sudah berbicara pada beberapa orang yang ada di dalam daftar untuk diajak kembali bertemu di aula. Sedikit menyesal karena aku menyutujui permintaan gadis ini untuk berkeliling bangunan sekolah.
Sungguh melelahkan.
Aku membeli minuman dingin dari mesin minuman untuk berjaga-jaga jika harus menggunakannya nanti. Mengingat cuaca panas, rasanya aku akan minum cukup banyak. Jadi aku memutuskan untuk membeli dua botol.
Di luar, pada taman yang sejuk dan asri ini, kami merehatkan pikiran sejenak. Jenuh, memang. Namun sedikit terbayar dengan pemandangan indahnya warna-warni bunga yang ditanam di tempat ini.
Di bawah terik matahari, kami berjalan-jalan melihat banyaknya variasi jenis tanaman. Indah dan menawan. Tak hanya memamerkan kecantikan bunga, mereka juga menunjukkan bagaimana penempatan tanaman yang baik sehingga terlihat mengagumkan saat dipandang. Butuh kemampuan khusus dalam berkebun seperti ini.
Sekarang aku mulai ragu kalau tempat ini adalah sebuah sekolah.
Langkah Grisella terhenti. “Bukankah itu Oliv?” Grisella menunjuk ke suatu tempat.
Lamunanku buyar, hingga membuat mataku mengikuti arah yang ditunjuknya.
Wanita yang menggunakan jas hitam itu sedang duduk di bangku panjang, tangan putihnya memegang minuman kaleng yang kemudian ditengguknya. Dari sini kulihat ekspresinya lelah, ia menghela napas panjang seperti orang yang putus asa dalam hidup.
Yah, semua orang punya masalah mereka masing-masing.
“Oliv!” Sambil melambaikan tangan, Grisella menghampirinya.
Aku baru menyadari, tapi sepertinya reaksi saat dia bertemu dengan orang lain dan bertemu denganku terlihat sangat berbeda. Aku ingat dia terlihat kecewa saat bertemu denganku.
Oliv yang sedang duduk santai mengalihkan pandangan ke orang yang memanggilnya.
“Apa kalian sudah menemukan siapa orang luarnya?” tanyanya dengan nada tidak peduli. “Jika belum, pergilah dan cari orang itu. Aku ini hanya orang biasa, tidak seperti kalian. Jadi, tolong jangan libatkan aku.”
“Kami belum menemukannya, tapi kami semua akan membicarakannya lagi nanti. Daripada itu, aku kira kau akan keluar dari sekolah ini?”
Aku yang berdiri di sini entah kenapa terasa seperti orang buangan yang terabaikan.
“Aku tidak diperbolehkan keluar sampai tugasku selesai. Jika aku ketahuan keluar, aku bisa dapat masalah. Karena itu, aku meminta kalian untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini.”
“Apa kau tidak mencoba untuk menghubungi seseorang dari pemerintahan untuk menyelesaikan masalah ini?” Grisella mencoba memberi saran.
Tiba-tiba Oliv mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Soal itu … entah kenapa, aku tidak bisa menghubungi mereka. Hahaha … ” Wajahhnya membuat ekspresi yang aneh. Tawa paksanya membuatku kesal.
Dia terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Seharusnya ini menjadi masalah yang cukup serius kalau dipikirkan dan dia bilang dia tidak bisa menghubungi mereka. Hanya ada satu saja yang masuk ke dalam kepalaku saat ini.
“Kau tidak bisa menghubungi mereka karena kesalahanmu sendiri, bukan?”
Grisella menunjukkan ekspresi bingung atas ucapanku.
“Ugh, yah … sejujurnya saja aku tidak membawa ponselku hari ini. Karena itu aku tidak bisa menghubungi mereka.”
Hmm, bukankah itu masalah yang sepele? Saat aku ingin menanyakannya, gadis periang yang berada di dekatku itu sudah membuka mulutnya duluan.
“Bagaimana jika kau menggunakan ponselku?”
Setelah Grisella repot-repot meminjamkan ponselnya, aku harap wanita tak bertanggung jawab itu tak lupa dengan nomor yang akan dihubunginya.
“Itulah masalahnya. Jika mereka tahu kalau aku lupa dan tidak membawa ponselku hari ini. Tidak kecil kemungkinannya kalau mereka akan memotong gajiku. Yang paling buruk, aku bisa saja dipecat.” Wajahnya ketakutan, tapi mulutnya masih bergerak. Dia kembali minum.
Dunia orang dewasa memanglah berat.
“Karena itu aku berharap kalian semua bisa menyelesaikan kasus ini sebelum pemerintah sadar tentang masalah ini. Jika mereka sadar sebelum kalian menyelesaikannya, dia pasti akan bertanya kepadaku ‘kenapa aku tidak menghubungi mereka?’ atau semacamnya. Mungkin saja saat ini sudah ada puluhan miscall dari atasan di ponselku. Oh, tuhan. Selamatkan aku.”
Sekarang aku mengerti kenapa dia terlihat seperti orang yang sudah menyerah dalam kehidupannya.
“Tidak bisakah kau mengatakan kalau ponselmu rusak atau semacamanya?” saran Grisella.
“Jika aku mengatakan itu, pemerintah akan menganggap kalau aku ini orang yang ceroboh dan pada akhirnya aku akan dipecat juga.”
Dunia orang dewasa memanglah membingungkan.
Lebih rumit dari yang kukira. Jadi apa pun jawabannya, dia akan berakhir dengan dirinya yang dipecat. Namun, itu adalah masalah miliknya. Sejak awal, dia memang tidak bertanggung jawab.
“Yah, seperti yang aku bilang. Kami akan membicarakannya lagi nanti. Tapi, ada beberapa yang ingin kutanyakan padamu—” Grisella memotong ucapannya, ia pun duduk di samping Oliv.
Ekspresi wajah Oliv merasa tidak yakin, matanya sayu menatap rumput hijau.
“Sebenarnya aku sedikit malas untuk berbicara saat ini, tapi demi menyelamatkan pekerjaanku … ”
Tolong jangan sampai menangis.
__ADS_1
Aku menghela.
***