Elite School

Elite School
03


__ADS_3

***


Seorang gadis mengenakan dress lengan panjang berdiri di ujung bagian atap gedung. Ia memegang penahan besi agar dirinya tidak terjatuh. Dengan wajahnya yang datar, ia melihat ke bawah. Apa yang ingin dilakukannya? Entah. Namun, jika dia ingin bunuh diri bisa dibilang kasusnya akan semakin merepotkan lagi.


Kami berada di bangunan utama, bangunan yang digunakan untuk belajar. Karena hampir semua ruangan hanyalah kelas kosong, Grisella memutuskan untuk melewatinya dan segera pergi ke atap.


“Hentikan!” Grisella, gadis yang dari tadi bepergian bersamaku berteriak cukup keras. “Ja-jangan lakukan itu. Meski kau punya masalah, bukan berarti kau harus bunuh diri!”


Untuk sesaat gadis yang berdiri di ujung atap itu mengalihkan pandangannya ke arah kami. Ekspresi yang datar berubah menjadi jijik, ia nampak marah.


Gadis itu merupakan salah satu dari dua gadis terpendek yang diterima di kelas elit.


Dia pun memanjat pagar besi dan menyebrang masuk ke dalam zona aman, lalu segera mengambil tas ranselnya yang berwarna pink dan mengabaikan kami berdua. Selagi langkah kakinya berjalan ke arah pintu keluar, Grisella menghentikkannya.


“Aah, t-tunggu sebentar! Kau ini …” Grisella ragu-ragu, “… tidak berencana bunuh diri, ‘kan?”


“…” Memberikan tatapan tajam seolah merasa terhina, gadis pendek itu diam saja.


Dari saat kami berkumpul di aula, dia selalu diam saja. Tipe yang pendiam atau pemalu. Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti.


“Kau tahu, jika kau diam saja seperti itu. Aku tidak bisa mengerti sama sekali. Jika kau punya masalah, kau bisa menceritakannya pada kami.” Grisella mencoba menenangkan dengan senyum di wajahnya.


Tolong jangan libatkan aku. Terutama kalau ini asli kasus bunuh diri.


Seperti biasa, aku mengambil daftar nama yang kusimpan di kantung celana. Erlin Talitha. Oh, bukankah itu nama yang unik? Cukup imut pula.


Erlin mengeluarkan suatu benda kecil dari tas pink. Sebuah mesin portable yang hanya berukuran setelapak tangan lengkap dengan layarnya. Benda itu terlihat seperti sebuah kamus modern.


Saat Erlin mengetik, suara ketikannya terdengar begitu jelas dengan cepat.


‘Aku bukanlah si penipu atau orang luar!’


Erlin menunjukkan hasil ketikan. Melihatnya, bukan hanya aku saja yang terkejut. Grisella yang ada di sebelahku juga memasang wajah bingung.


“Eeh, a-apa jangan-jangan kau ini tidak bisa bicara?” tanya Grisella dengan wajah aneh.


Jika itu benar, ini menjelaskan kenapa Erlin tidak berbicara sedikit pun saat semua orang berkumpul di aula tadi. Mereka yang punya bakat juga pasti punya kekurangan. Akan tetapi, dari pada membicarakan itu, ada sesuatu yang membuatku tertarik.


“Kau tahu kalau ada kemungkinan besar ada dua orang yang terlibat dalam masalah ini?” tanyaku memasktikan.


Erlin kembali mengetik di mesin itu.


‘Tidak sulit untuk mendapatkan jawaban seperti itu.’ Setelah kami membacanya, Erlin menghapus dan mengetik lagi. ‘Aku akan pergi, jangan mengikuti!’


Tidak sulit? Hebat sekali.


“Tu-tunggu sebentar! Barusan, kau tidak mencoba bunuh diri, ‘kan? Oh, iya. Jam empat nanti, kita akan membicarakan masalah ini sekali lagi. Jadi, aku mohon kalau kau bisa hadir juga di tempat yang sama seperti sebelumnya.”


Gadis tunawicara itu menghela napas. Meski dia tidak bilang, wajahnya seperti mengatakan ‘karena ini aku benci berbicara dengan manusia’. Itu menurut dugaanku. Namun, ekspresi jijik yang diberikan pada Grisella seharusnya tidak jauh berbeda dengan yang kucontohkan.


Erlin mengabaikan kami dan menjauh. Sebelum langkahnya mencapai pintu keluar, kali ini aku yang menghentikan.


“Tunggu sebentar!” Meski aku ragu, rasa penasaran ini tak tertahankan. “Yang ada di dalam tasmu itu, boleh aku melihatnya?” Suaraku pelan agar tidak terkesan memaksa.


Akan tetapi, kakinya kembali melangkah dan mengabaikanku. Sepertinya, Erlin benar-benar tidak suka diganggu.


“Menanyakan isi tas seorang gadis itu sungguh perbuatan yang tidak sopan.” Bukannya mendukung, Grisella kini menyindirku. “Karena itulah kau—”


“Membosankan?” Aku memotong cepat. “Serius, aku mohon berhenti menyebutkan kata itu.”


Setiap kali aku mendengar kata itu, telingaku mulai merasakan gema yang tidak enak. Rasnaya seperti mendengar lagu yang enak, tapi setelah lagunya dimatikan kau masih bisa mendengarnya.


“Kau …” Dengan wajah bingung aku memandang Grisella. “Kau bisa berteriak seperti itu, tapi kenapa suaramu sangat pelan saat di aula tadi?”


“Yah, itu …” Grisella memalingkan wajah. “Aku tidak terlalu suka berbicara di depan umum. Jadi, itu seperti reaksi malu yang tidak sengaja muncul.” Dia menjelaskan.


Hmm, aku ingin melihat ekspresi wajahnya karena sedikit mencurigakan, tapi tidak memikirkannya menjadi keputusan yang tepat.


Tak berlama-lama, setelah itu kami pun segera pergi meninggalkan tempat ini.  Perjalanan kami pun dilanjutkan ke tempat lain.


Aku baru menyadari kalau ini seperti sebuah petualangan di cerita-cerita hanya saja mengambil latar di sekolah sendiri.


***


Di depan pintu itu beberapa orang berkumpul. Lebih tepatnya tiga orang berdiri tepat di depan pintu dan terlihat saling berbincang satu sama lain. Mereka juga orang-orang yang terpilih. Si kacamata merah, rambut cokelat, dan gadis pendek lainnya yang mengenakan pakaian gothic dress hitam mencolok. Terutama boneka beruang yang dipeluknya.


Saat ini kami ada di depan gedung asrama. Mereka yang rumahnya jauh dari sekolah, bisa tinggal di asrama sekolah.


“Apa yang kalian bertiga lakukan di sini?” tanya Grisella sambil menghampiri mereka.


Ketiganya menoleh ke arah kami secara bersamaan.


“Oh, apa kalian berdua ke sini untuk mengecek asramanya? Jika iya, pintu asramanya dikunci,” ucap pria bermata cokelat.


“Dikunci, ya? Sayang sekali.” Grisella sedikit kecewa. “Lalu, bagaimana dengan kalian sendiri?”


Aku diam saja. Aku lebih suka menjadi pendengar yang baik. Daripada memperhatikan mereka bertiga, aku membuka lembaran daftar murid lagi. Karena suatu alasan ini sudah jadi kebiasaan yang aneh.


Pria berambut dan bermata cokelat. Kivan Yudhistira. Penampilannya terlalu bisa, entah kenapa aku tidak bisa merasakan aura apa pun darinya. Berikutnya …


“Kami sedang membicarakan tentang si orang luar.” Pria berkacamata merah itu menghela napas. “Aku tidak tahu dengan yang lainnya, tapi aku tidak ingin dikeluarkan dari sini hanya karena seorang pengacau yang tiba-tiba muncul karena ingin masuk ke dalam kelas elit.”


Yang berkacamata merah barusan adalah Steven William. Tunggu sebentar, nama orang luar? Tapi dari penampilannya tidak menjelaskan tentang hal tersebut. Mungkin half and half …


Yang terakhir adalah …


“A-Aku juga sama!” lanjut gadis lolita yang menghindari mata Grisella. “Aku tidak mau pulang ke rumah hanya karena orang itu mengganggu.” Sambil memeluk boneka beruang, ekspresi wajah itu terlihat sangat kesal dan malu-malu.


Luna Floristia. Florisitia? Aku penasaran dari mana orang-orang bisa punya pikiran untuk memberikan nama anak mereka seunik ini. Aku tidak berkata jelek, hanya saja … tidak pernah terpikirkan olehku.


“Lalu, bagaimana denganmu?” tanyaku sambil menatap Kivan yang ekspresi wajahnya terlihat normal-normal saja. Mimik wajah itu tidak menunjukkan rasa peduli atau pun rasa tertarik sama sekali.


“Aku? Aku tidak terlalu berharap sama sekali. Aku hanya ingin membantu mereka berdua saja. Lagipula, aku sedang punya waktu luang dan tidak ada kegiatan sama sekali.”


Rasanya tidak berbeda jauh denganku. Aku berkeliling dengan gadis dengan kebiasaan menyindir ini hanya karena tidak ada jadwal atau semacamnya.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Grisella sedikit penasaran.


“Kami sendiri tidak yakin,” ucap Steve dengan nada rendah. “Tidak ada satupun dari kami yang yakin bisa menemukannya. Terlebih lagi, mencoba menyelesaikan ini bertiga saja sepertinya mustahil. Aku berharap kita bisa mengumpulkan semua orang, dan mendiskusikannya bersama-sama.”


Sama persis seperti yang Grisella rencanakan.


“Hmm?” Grisella terlihat sedang berpikir. Ia menggaruk dagu dan memandang langit jauh di atas. “Kalau masalah itu, sebenarnya saja kami sedang mengumpulkan semua orang kembali ke aula. Sama seperti kalian bertiga, aku juga ingin menyelesaikan kasus ini.”


“Oh, dengan ini kita punya lima orang. Lebih banyak, lebih baik,” ucap Kivan dengan senyum di wajah. “Kapan semua orang akan berkumpul lagi?”


“Jam empat sore,” jawab Grisella singkat.


“Kita masih punya waktu. Apa kalian sudah memberitahu hal ini kepada semuanya?” tanya Steven.


“Belum, belum semuanya. Iya, ‘kan?” Grisella menatapku menunggu jawaban.


Aku hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


“Kalau begitu, kalian berdua bisa beritahukan ini kepada semua orang. Kami bertiga akan tetap di sini sambil memikirkannya lagi.” Kivan menatap ke arah dua orang yang sedang bersama dengannya, Luna dan Steven.


“Kalau begitu, kami pergi dulu.” Sambil menunjukkan punggungnya, Grisella melambaikan tangan perpisahan tanpa menengok ke belakang.


Dia mulai berjalan sendirian. Meski aku tidak mengikutinya, dia tidak menyadarinya dan benar-benar meninggalkanku.


Wajar saja jika dia tidak menyadarinya. Karena setiap kali aku mengikutinya, aku selalu berjalan beberapa di langkah di belakangnya tanpa mengeluarkan suara. Jadi, aku yakin dia pasti mengira kalau aku sedang mengikutinya sekarang.


Pandanganku kembali ke tiga orang yang sedang berkumpul di depan gedung asrama.


“Aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian.”


“Hmm, apa itu?” tanpa basa-basi, Steven balik bertanya padaku.


“Apa mungkin kalau pelakunya ada dua orang?”


“Huh?” Meski tidak menunjukkan ekspresi yang jelas, mereka bertiga terkejut secara bersamaan.


“Apa maksudmu?” Steven sambil memandangku dengan serius.


Aku tidak bisa menjawabnya dengan pasti karena ini hanyalah teori yang Grisella pikirkan. Bukan hanya itu saja, gadis yang ada di atap barusan, Erlin juga mengatakan hal yang sama dengan Grisella.


Aku menjelaskan tentang kemungkinan kenapa bisa ada dua orang yang terlibat. Pertama si penipu yang masuk ke dalam dan menyamar tanpa tahu apa-apa. Lalu, orang luar yang mengendalikkan si penipu yang berada di dalam, entah bagaimana caranya.


“Psikologi, lagi ya? Bukan berarti aku tidak percaya, tapi tidak ada bukti jelas dari ucapanmu itu. Akan tetapi, jika memang benar ada dua, mempertimbang semuanya dari awal adalah hal yang tepat,” ucap Steven dengan raut wajah yang makin serius. “Tapi, apa kau yakin?”


Sambil menelan ludah, aku mencoba jujur menjelaskan. “Justru sebaliknya, kami berdua tidak yakin. Karena itu aku membicarakannya dengan kalian bertiga.”


“Jadi maksudmu, orang luar ini tidak menyadari dirinya kalau dia adalah orang luar?”


Aku mengangguk. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Grisella.


“Lalu, penipu itu yang bekerja di balik layar dengan meretas dan mengirimkan suratnya ke orang luar ini?”


Aku mengangguk sekali lagi. Meski aku tidak pandai berbicara, Steven mengerti setiap kata yang aku ucapkan. Kacamata yang digunakan olehnya itu ternyata memang bukan hanya hiasan saja.


“Tapi, dua orang? Ini akan jadi semakin sulit rasanya.” Luna memeluk boneka erat, menunjukkan ekspresi lelah.


“Aku tidak akan menyanggah. Kami bertiga mengerti apa yang kau maksud, tapi di saat yang sama kita masih belum bisa yakin dengan hal ini, bukan? Selain itu, saat kau bilang ada dua pihak yang terlibat, terdengar seolah-olah—”


Aku memutus kalimat Kivan, “sebuah tes, ‘kan?”


Bagaimana jika pihak kedua ini berasal dari sekolah itu sendiri atau dari pemerintah. Tidak ada yang tahu.


“Baiklah, kami mengerti. Hanya untuk berjaga-jaga saja, kami juga akan memikirkan kemungkinan itu.” Ketiganya saling mengangguk satu sama lain. “Selain itu, kau yakin tidak ingin mengejar gadis itu?” Dengan wajah serius, Steven menghela napasnya.


Mengejarnya, ya? Akan sangat lucu kejadiannya kalau Grisella benar-benar tidak sadar bahwa aku tidak mengikutinya. Membiarkannya sendirian begitu saja hanya akan menambahkan alasan baginya untuk menyindirku jauh lebih dalam lagi.


“Kalau begitu aku pergi dulu.”


Melihat masih ada beberapa orang yang berniat menyelesaikan kasus ini membuatku sedikit lega.


***


“Jika ditambah Oliv, itu artinya kita semua jadi 12 orang, bukan?” Gadis yang sedang berjalan di depanku ini tiba-tiba membuka mulutnya. Bahkan saat dia menanyakan hal itu, dia tidak menengok ke arahku yang berada di belakang.


“Ya,  begitulah,” jawabku singkat.


“Jadi sisanya berapa orang lagi?”


Aku tidak percaya dia menanyakan itu kepadaku. Seharusnya dialah orang yang paling mengingatnya.


Aku mengumpulkan semua ingatanku dan mencoba menghitung semuanya. Sejauh ini, kita bertemu delapan orang.


“Si gadis berambut pirang, dan …”


Aku baru menyadari. Selain gadis dengan tas pink itu, orang yang memegang amplop biru, dia juga tidak berbicara sama sekali saat di aula. Jauh lebih buruk lagi, aku tidak ingat dia itu laki-laki atau perempuan.


Aku memutuskan untuk melihat daftar murid siapa gerangan yang memegang amplop biru. Meski tidak disebutkan, hanya tersisa dua orang saja yang belum kita ketahui.


“Huh?!” Aku sedikit terkejut.


Dia menggunakan hoodie berwarna biru yang menutup setengah wajahnya. Pantas saja aku tidak tahu dia ini perempuan atau laki-laki.


Tidak, tunggu sebentar. Kenapa wajahnya bisa tertutup? Memangnya foto seperti ini diperbolehkan? Normalnya, wajahmu harus terlihat jelas untuk foto pendaftaran sebagai murid baru. Aku tidak habis pikir.


“Rasanya kebetulan sekali, bukan?” Tiba-tiba Grisella berbicara.


“Kenapa?”


Di saat aku menyingkirkan kertas dan melihat ke depan, aku kehabisan kata-kata. Terkejut? Aku harap kata itu cocok untuk situasi saat ini. Namun, bukan hanya itu saja. Aku yakin wajahku memasang ekspresi yang aneh saat melihatnya.


Seseorang dengan hoodie biru itu terbaring di atas rumput hijau seperti orang yang sudah mati.


Grisella mendekati dan jongkok di sampingnya.


“Hallo … Apa kau baik-baik saja?” tanya Grisella datar.


Aku kembali mengecek daftar murid. Namanya Liza Adriel. Perempuan.


Liza terlihat tidak sadarkan diri. Aku penasaran, apa yang terjadi dengannya. Grisella terlihat khawatir.


“Eh, seorang gadis?” Sontak Grisella terkejut dan merasa bingung.


Aku menghampiri untuk melihat wajahnya.


Seperti katanya, hanya dari melihat wajahnya yang sangat imut itu, semua orang bisa mengatakan kalau dia itu adalah seorang gadis. Kulitnya putih pucat, dengan pipi yang berwarna merah muda. Liza bernapas tak karuan.


“Hmm, apa dia sakit?” tanyaku merasa sedikit aneh saat melihatnya.


“Mungkin,” jawab Grisella meragu sambil menatap gadis itu. “Apa menurutmu kita harus membawanya ke UKS atau tempat lain? Tapi, UKS itu di mana?”


Aku penasaran. Saat dia berkata ‘kita’ apa itu artinya kita berdua atau hanya aku saja yang akan menggendong gadis malang ini?


Mendengar percakapan kami, gadis yang sedang terbaring di tanah itu membuka kelopak mata perlahan. Aku bisa melihat mata birunya yang sejernih air.


“P… p… pa …” Mulutnya bergetar mencoba mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada satu pun dari kami berdua yang mengerti.


Kami berdua mendekatkan telinga kami ke mulutnya agar dapat bisa mendengarnya dengan jelas.


“Pa… pa… nas …” Dia kemudian memejamkan matanya lagi.


Ugh, jika dia kepanasan, seharusnya dia tidak menggunakan hoodie biru itu sejak awal. Apa pun itu, seperti dugaanku barusan. Akulah orang yang menggendongnya.


Kami semua berpindah mencari tempat yang lebih rindang dan sejuk. Aku meletakkan dan membiarkannya duduk bersandar pada sebuah tembok. Lalu memberikannya sebuah minuman kaleng soda dingin.


Ini pertama kalinya aku menggendong seorang perempuan dengan ala tuan putri.


Biasanya teman perempuan sekelasku hanya meminta bantuan untuk mengajari mereka saat ada pelajaran yang tidak mengerti. Selain itu, jarang dari mereka yang berbicara denganku meski hanya basa-basi.


“Kau baik-baik saja?” tanya Grisella dengan senyum di wajahnya. Dia masih nampak khawatir.


“Ugh, maaf karena sudah merepotkan kalian berdua. Terima kasih karena membantuku. Aku kira aku akan mati barusan,” ucap Liza dengan nada lemas dan ekspresi datar.

__ADS_1


“Jika kau kepanasan, seharusnya kau tidak menggunakan hoodie tebal seperti ini saat matahari sedang terik seperti ini.” Aku sedikit kesal menasehatinya setelah menengguk soda dingin.


“Soal itu, sebenarnya aku ini punya tubuh yang lemah, dan kulitku juga tidak bisa terpapas matahari terlalu lama. Karena itu, aku harus menggunakan pakaian tertutup seperti ini saat keluar.” Liza menghelas napas seperti ini akan jadi akhir hayatnya.



Tapi, dia menggunakan rok pendek. Aku tak tahu harus membalasnya bagaimana. Mereka yang punya kelebihan lebih, selalu punya kekurangan lebih juga. Entah kenapa, aku selalu mengatakan hal ini kepada diriku.


“Aku melihat ada dua orang yang lewat di dekatku beberapa menit lalu. Tapi mereka berdua mengabaikanku. Jadi, aku benar-benar mengucapkan terima kasih kepada kalian karena sudah membantuku menghindari kematian. Aku berhutang nyawa pada kalian,” ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


“Berhenti bilang mati!” Aku membuat wajah aneh.


Dua orang melewatinya begitu saja, kasihan sekali gadis ini. Kenapa banyak sekali orang jahat di sekolah ini?


Akan tetapi, jika saat ini aku tidak berjalan bersama Grisella, mungkin tidak berbeda. Aku juga pasti akan mengabaikan dan meninggalkannya begitu saja.


“Kau sudah baikan? Apa tidak apa berjalan sendirian seperti tadi?” tanya Grisella.


“Yah, biasanya segini saja tidak jadi masalah. Hanya saja, tadi saat aku berjalan, awan yang melindungi tiba-tiba menghilang entah ke mana. Sebelum aku berhasil ke save point, aku sudah tak kuat duluan.” Liza mencoba menstabilkan napasnya.


Ini hanya aku saja atau …


“A-awan? Eh …?” Grisella terhentak.


Bukan hanya aku saja yang otaknya berhenti bekerja, tapi Grisella juga.


Ratu jutek, berandalan, tunawicara, gadis lolita, dan kali ini … ada seseorang yang berjalan di bawah bayangan awan? Seberapa idiot gadis ini? Aku tidak sabar seperti apa orang terakhir yang akan kita temui nanti.


“Kenapa kau tidak ikut bersama kami saja?” Grisella menawarkan. “Kalau kejadian yang sama terulang, kau pun akan kesulitan nantinya.”


“Selain itu, jika kau terkapar lagi tidak semua orang di sini ingin repot-repot membantumu.” Aku menambahkan.


Karena hoodienya dilepas, aku bisa melihat ekspresi bingungnya dengan jelas. Pandangan Liza terpaku padaku. “Apa aku merepotkanmu?”


“Ya, begitulah,” jawabku singkat tanpa ragu.


Berikutnya, perutku didagu oleh gadis yang dari tadi kerjaannya hanya menyindirku.


“A-apa yang kau lakukan?” Aku memandang Grisella tajam sambil mengelus perutku yang tak bersalah. Namun, tak ada jawaban.


“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?” tanya Liza masih dengan ekspresi lemas.


“Kami sedang mengumpulkan semua orang kembali. Aku pikir akan lebih baik kalau kita semua membicarakan masalah ini sekali lagi.”


Gadis dengan jaket hoodie biru itu terdiam. Wajahnya tidak banyak berubah, tapi sepertinya dia sedang berpikir.


Aku menghela napas dan membuka mulut. “Kami sudah menyelamatkanmu, jadi sebagai ganti, aku ingin kau ikut dengan kami dan bantu kami menyelesaikan masalah ini.”


“Tapi …” Gadis itu memiringkan kepalanya, membuat pose bingung yang imut.


“Tidak ada penolakan. Lagipula, kami hanya perlu mencari satu orang lagi. Semakin cepat masalah ini selesai, semakin bagus!” kataku meyakinkan.


“Yah, sebenarnya saja aku tidak terlalu peduli dengan si penipu ini. Tapi, apa boleh buat,” balas Liza sambil mencoba bangkit. Kakinya yang sedikit bergetar. Grisella berada di dekatnya bersiap-siap menopang, tapi semuanya aman terkendali saat Liza berhasil berdiri tanpa bantuan.


“Siapa satu orang yang terakhir?” Liza bertanya.


“Gadis berambut pirang. Apa kau melihatnya?” jawab Grisella dengan pertanyaan lain.


“Oh, dia …” Wajah Liza memelas. “Dia salah satu orang yang mengabaikanku saat aku terbaring barusan. Aku melihatnya beberapa menit sebelum kalian menolongku.”


***


Sudah sepuluh menit kami berdua mengikuti arahan Liza. Kami berjalan di pinggir bangunan untuk mendapat bayangan agar Liza bisa berjalan santai. Sesekali gadis berhoodie itu bersenandung merdu lewat mulutnya. Entah ke mana angin membawa dirinya, seakan dia yakin bahwa orang yang sedang kami cari berjalan ke arah sini.


Akhirnya kami menemukannya.


Karena gedung sekolah ini cukup besar, bisa dibilang kami beruntung punya seorang navigator sepertinya. Walaupun awalnya aku sempat ragu.


“Eh, k-kau!” ucapnya terkejut sambil terbata-bata. “K-ke-kenapa kau ada di sini? Bu-bu bukankah … kau barusan tergelatak di tanah?”


Wajah gadis berambut pirang itu menunjukkan rasa takut yang amat sangat, padahal baru satu detik kami sampai di halaman belakang ini. Caranya gugup dan terbata-bata terlihat dibuat-buat. Aku benar-benar tidak bisa membaca gadis ini.


Liza dengan tatapan tajam dan penuh dendam membuka mulutnya, “Kenapa kau mengabaikanku barusan?” Liza membuat ekspresi menyeramkan.


“Aaah, bu-bukan itu. Ha-hanya saja … aku… ugh!”


Ekspresinya ketakutan, bola matanya bergetar, cara bicaranya berantakan.


“Ha-hanya saja … ugh! Ah, iya. Itu dia.” Seperti mendapatkan ide, gadis berambut pirang itu menaikkan nada bicaranya. “Aku kira kau itu laki-laki. Tidak mungkin bagiku untuk mengangkatmu, ‘kan? Karena itu aku pergi dan mencari bantuan. Ya, karena itu. A-alasanku masuk akal, ‘kan?”


Aku tidak tahu harus berkomentar apa tentang reaksi yang ditunjukkan olehnya.


“Ta-tapi, baguslah … hahaha.” Gadis berambut pirang itu mengeluarkan napas lega dengan keringat di wajah. Senyum terpaksa dengan mata yang berpaling. “Kau ternyata baik-baik saja,” lanjutnya sambil menaruh ponselnya di saku baju.


Aku tidak tahu apa dia sedang berakting atau tidak, tapi reaksinya seolah-olah ini pertama kali baginya berbicara dengan orang.


Selagi aku membuka lembaran daftar murid, Liza membuka mulut. “Nikita Karin. Namanya.”


Hmm … aku tetap mengeceknya. Mari kita gunakan Niki karena jauh lebih simpel.


“Kau!” teriak Grisella dengan nada tinggi, sambil menunjuk Niki dengan tatapan sinis.


“Eh, a-apa?” Niki tergagap dengan ekspresinya yang tidak mengerti. “A-ada apa?”


“Kau dituduh menjadi salah satu dari tersangka si penipu itu!” Matanya seperti sedang terbakar. Dengan nada seperti itu, semua orang akan mengaggap Grisella serius.


Untuk kali ini, membiarkannya bertindak sesuka hati mungkin bukan pilihan yang bagus.


Aku ingin menghentikkan Grisella, tapi tangan yang menarik potongan bajuku berkata lain. “Tunggu sebentar,” larang Liza dengan suara pelan.


“Eh? Ah! A-aku? Eh? Tu-tunggu sebentar! Ka-kau pasti bohong, ‘kan? A-aku tidak mungkin melakukan itu. A-aku bukanlah si penipu itu,” sangkal Niki dengan ekspresi ketakutan mencoba menjelaskan di mana posisinya berada.


“Aku sudah mendapatkan beberapa buktinya. Dan semuanya …” Masih dengan jarinya yang menunjuk Niki, Grisella melanjutkan, “… semuanya membuktikan kalau kaulah si penipu itu!”


Nadanya makin ditinggikan dan aku yakin itu menusuk dalam jantung Niki. Tangan Liza masih menempel di tempat yang sama. Dilihat dari betapa ketakutannya Niki, mungkin ini masuk ke dalam percobaan balas dendam.


“Tu-tunggu sebentar. A-aku bukan pelakunya. Ugh, Ka-kau, kau pasti salah orang. Ya, itu benar! Kau, kau pasti salah orang, ‘kan? Di-dilihat dari mana pun, a-aku ini tidak mungkin menjadi si pe-penipu itu!” Sekali lagi dengan susah payah Niki membela diri. Wajahnya pucat.


Dari ekspresinya yang ketakutan, sekarang berubah menjadi lebih mengerikan. Tenggorokannya bergetar saat ia berkata demikian, mencoba meyakinkan kami dengan ucapannya.


“Hmm.” Tatapan Grisella semakin tajam, ia menggaruk dagunya. “Kalau begitu, aku akan menyebutkan satu persatu buktinya!” Grisella tak ragu.


“Hah? I-itu …” Bingung. Tubuhnya bergetar tak menentu. Bola matanya berputar-putar. “Uwaa …”


Rasa takut membuatnya terdiam. Entah kenapa, aku melihat ada tetes air yang keluar dari ujung kedua matanya. Mungkin ini sudah batasnya. Akan lebih baik kalau aku menghentikkan drama ini.


“Bukankah menurutmu ini sudah cukup?” lirihku.


Merasa cukup, Liza akhirnya melepas cubitannya dari bajuku. Kali ini, aku menarik seragam putih si detektif itu.


“Hey, sudah cukup!” seruku sedikit keras pada Grisella. “Kau membuatnya menangis barusan.”


Grisella menatapku dengan wajah datar dan penuh rasa ketidakpuasan. “Karena inilah kau menjadi orang yang membosankan. Padahal aku sedang bersenang-senang.”

__ADS_1


Untuk kata bersenang-senang, ini sedikit berlebihan. Aku menghela.


***


__ADS_2