Elite School

Elite School
26


__ADS_3

RUMAH SAKIT


setelah memarkir mobilnya dengan baik, Asha langsung berlari dengan cepat memasuki rumah sakit. ia menanyakan dimana Galen berada dengan paniknya dan air mata yang senantiasa jatuh membasahi kedua pipinya. Asha yang sudah mendapat dimana Galen berada langsung berlari menuju jalan yang susternya sudah arahkan. dan akhirnya disinilah dia, di depan ruang operasi yang lampunya masih menyala. tanda jika Galen belum juga keluar dari ruangan itu, didepannya sudah ada kedua orang tua Galen dan tante Metta.


cukup lama menunggu akhirnya lampu ruang operasi mati dan pintunya terbuka. semua yang sedang menunggu bersama Asha langsung mendekati dokter itu dan menanyakan keadaan Galen.


"dokter bagaimana keadaan anak saya?"-tanya tante Alina


"Uhm, keadaannya tidak terlalu buruk pasien memiliki luka sobek dikepalanya akibat benturan keras. tulang lengan sebelah kirinya sedikit retak karena pasien menahan stirnya supaya tidak terputar terus menerus. pasien juga Cedera yang mengenai jaringan lunak leher karena hentakan secara tiba-tiba. dan terakhir pasien kekurangan darah akibat luka di kepalanya. hanya luka ringan saja, jadi keadaan pasien tidak buruk, saya permisi"-jelas dokter itu lalu pergi meninggalkan keluarga itu


semua bernafas lega mengetahui Galen tidak mengalami cedera serius, tapi mereka tetap saja sangat khawatir dengan lelaki itu. kata suster pasien akan siuman besok jika keadaannya membaik, dan untuk sementara mereka tidak boleh mengganggu ketenangan pasien. mereka duduk di depan ruang inap milik Galen menunggu hingga besok, saat semua tertidur Asha belum bisa tidur. ia berjalan kearah pintu ruang inap Galen dan melihat keadaan Galen dari pintu transparan itu.


Asha tidak bisa melihat Galen terbaring lemah di ruangan itu sendirian. ingin rasanya ia masuk dan memegang tangan yang terinpus itu. Asha kembali mengeluarkan air bening dari matanya tanpa sadar. dengan cepat ia menghapusnya dan kembali meelihat Galen dari jauh. lelaki yang dicintainya hanya bisa tertidur di dalam ruang gelap dan dingin itu. dan tentu saja ditemani dengan alat-alat yang Asha tidak tau apa kegunaannya.


SKIP


PAGI


Asha terbangun karena terganggu dengan suara yang berisik. ternyata para orang tua sudah bangun, saat Asha bangun ia langsung disodori dengan sarapan yang telah dibeli oleh mereka. Asha izin ke toilet sebentar untuk mencuci wajahnya dan buang air kecil. setelahnya ia baru memakan sarapannya sambil menunggu suster atau dokter memberitahu mereka. ya, mereka menunggu supaya bisa menjenguk Galen dalam waktu dekat ini.


cukup lama, hari sudah siang tapi mereka belum mendapat kabar. tapi saat mereka sedang bosan menunggu akhirnya diperbolehkan menjenguknya. karena Galen sebentar lagi akan siuman kata dokternya. mereka semua langsung masuk satu persatu, saat sampai di dalam mereka benar-benar dibuat sangat khawatir dengan penampilan Galen yang parah. luka-luka hampir memenuhi wajahnya, tapi tidak terlalu banyak. ditangannya juga ada luka, Asha yang melihat itu ingin menangis tapi ia menahannya.


tante Alina sudah duduk di samping Galen sambil mengenggam tangan Galen yang dingin. tante Alina juga mengusap kepala Galen yang diperban karena luka sobeknya. dan benar saja, beberapa menit kemudian Galen siuman. benar-benar kabar gembira untuk mereka, Galen perlahan membuka matanya. dan setelah penglihatannya sudah baik, ia membuka suara.


"mah, Galen dimana?"-Galen


"kamu dirumah sakit sayang, ada yang sakit?"-tante Alina


"kepala Galen sakit mah, kenapa aku bisa masuk rumah sakit?"-Galen


"kamu kecelakaan semalam, mama benar-benar khawatir sama kamu. Asha juga begitu, saat datang dia sudah menumpahkan banyak air matanya"-tante Alina


Galen menoleh kearah Asha, dan saat itu Asha kembali menangis lagi. karena takut Galen marah, Asha langsung menghapus air matanya cepat. Galen marah jika Asha terus menangis, katanya Asha tidak boleh membuang air matanya sia-sia karena itu berharga.


"sudah, tidak usah menangis lagi. sekarang aku sudah siuman, aku baik-baik saja. jadi jangan menangis, air matamu itu terlalu berharga untuk dibuang sia-sia"-Galen lirih

__ADS_1


"aku menangis hanya karena tidak ingin kau meninggalkanku"-gumam Asha


"nak Asha, biasakah kamu menjaga Galen sampai kami pulang. aku dan papa Galen harus ke perusahaan, sda hal yang mendesak terjadi"-tante Alina


Asha hanya mnganggukkan kepalanya sebagai jawaban karena dia sibuk menghapus air matanya yang sedari tadi tidak bisa berhenti keluar.


"mohon bantuannya ya nak, kami berdua pergi dulu"-pamit tante Alina dan berlalu pergi


"Sha, mama kuga harus kerja. kamu aku tinggal di sini bersama Galen ya"-pamit tante Metta dan ikut pergi


sekarang hanya ada Asha dan Galen dalam ruangan itu, suasana langsung canggung. karena Asha takut Galen marah karena dia menangis jadi ia memilih untuk diam.


"kenapa kau berdiri disitu saja? sini duduk"-Galen


"kau baik-baik saja?"-tanya Asha setelah mendaratkan badannya di kursi


"sakit, ini sakit"-Galen menunjuk bibirnya sambil akting kesakitan


"benarkah? apa harus kuobati?"-Asha


"sebentar biar aku ambilkan obat dulu"-Asha bergerak ingin pergi tapi ditahan oleh Galen


"dasar tidak peka! obatnya itu kecupan!"-Galen


"hah? tidak! kau ini barus siuman sudah minta yang aneh-aneh"-tolak Asha


"yah, padahal itu adalah obatnya. yasudah kalau tidak bisa hari ini berikan aku kecupan jika sudah keluar dari rumah sakit"-minta Galen


"Uhm, baiklah akan kuberikan untuk yang pertama kalinya"-Asha


"benarkah?! kau sudah janji, jadi jangan di ingkari!"-Galen


SKIP


GALEN KELUAR DARI RUMAH SAKIT

__ADS_1


akhirnya yang ditunggu-tunggu Galen tiba, dimana dia sudah bisa pulang kerumah. dan yang paling penting adalah, dia akan mendapat kecupan dari Asha DIBIBIR. mereka berdua pulang bersama di satu mobil, Galen yang memintanya. dan saat ini mereka dalam perjalanan pulang, Galen tidak berhenti tersenyum membuat Asha merasa aneh.


"kau kenapa senyum terus sedari tadi?"-Asha


"kau tidak lupakan janjimu?"-Galen tersenyum


"janji? janji apa?"-Asha


"janji jika kau akan memberiku kecupan"-Galen


"ohh, nanti sajalah. jika kita sudah sah"-Asha tertawa


DIDEPAN RUMAH ASHA


Asha sudah melepas sabuk pengamannya, ia belum keluar karena ingin menanyakan sesuatu pada Galen.


"Galen, tidak ingin mampir?"-Asha


"tidak usah"-Galen ngambek


"kau marah?"-tanya Asha


"tidak, sudah kan?"-Galen


Asha mengangguk pelan, baru saja ingin membuka pintu mobil tangannya ditahan oleh Galen. dengan tiba-tiba Galen mendekatkan badannya pada Asha hingga badan Asha mentok.


"i-ingin apa?"-Asha gugup


tanpa menjawab Galen mencuri kecupan dari Asha dan setelahnya kembali duduk di posisi normal. sedangkan Asha, dia terdiam membeku berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak cepat.


"kenapa? masih ingin yang lebih?"-goda Galen


dengan cepat Asha menggeleng dan langsung terburu-buru keluar mobil. ia tidak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan. senang, salah tingkah dan kesal bersatu, hingga sampai di dalam kamarnya Asha kembali mengingat kejadian itu dan memengang bibirnya sambil tersenyum detik berikutnya Asha berteriak dan melempar dirinya ke ranjang salmbil memeluk bantal guling.


"kau membuatku gila Galen!"-gumam Asha tersenyum

__ADS_1


__ADS_2