Elite School

Elite School
06


__ADS_3

***


Ketegangan semakin memanas. Semua mata tertuju pada Erlin. Penjelasan Drian baru saja seperti memukul telak jantung pertahanan yang sedari tadi dibangun oleh gadis itu. Logis, memang. Kini Erlin merasa terpojokkan. Walau sudah lelah, rasa penasaran selalu menang.


Di samping itu, Erlin menatap satu per satu dari kami. Dahi mengeluarkan sedikit keringat. Semua orang akan mengeluarkan reaksi yang sama jika disudutkan seperti ini.


“Jika kau diam seperti itu, apa itu artinya kau mengaku?” tanya Steven yang tiba-tiba memecah heningnya suasana.


“Kau tahu, jika kau diam saja seperti itu, kau jadi terlihat semakin mencurigakan. Kami semua bersabar untuk mendengarkan,” tambah Kivan.


Beberapa detik setelah ucapan Kivan, Erlin menegakkan kepala kembali dengan mimik wajah normal tanpa merasa tertekan. Seperti biasa, dia menyodorkan mesinnya ke arah Kivan, meminta tolong untuk dibacakan apa yang baru saja diketiknya.


Setidaknya, sekarang kami tahu kalau dia itu benar-benar tunawicara.


Seperti biasa, Kivan pun membacakan. “Itu hanya sebatas teori tanpa alasan yang kuat. Hanya karena aku berkomunikasi dengan cara yang berbeda, kalian tidak berhak menuduhku sebagai tersangka!”


Begitulah tanggapan Erlin atas penjelasan Drian.


“Kalau begitu, kau hanya perlu membela diri saja.” Drian memastikan. “Maaf kalau aku menyudutkanmu dengan cara yang sedikit kasar.”


Erlin diam, tak bisa menjawab.


Dia bisa saja menjawabnya dengan sebuah anggukan, atau menggelengkan kepala. Tapi jika dia diam seperti itu, tidak akan ada yang berubah sama sekali.


“Diam sama dengan iya,” ucap Rise. “Sama dengan Oliv, kau juga punya kesempatan untuk membela diri. Jika kau tidak menggunakannya—”


Erlin menggelengkan kepalanya, membuat ucapan Rise terhenti. Wajahnya membuat ekspresi yang bingung. Kemudian, Erlin mengambil mesinnya dari tangan Kivan dan sekali lagi mengetik sesuatu di dalamnya.


Kivan membacanya. “Aku tidak perlu membela diriku. Semua hal yang dikatakannya hanyalah teori dengan dasar yang tidak jelas.”


Kalimatnya tertuju pada Drian. Kemudian Kivan lanjut membaca, “Lagipula, jika kalian menuduhku hanya karena aku mampu menyalin suratnya dalam waktu satu hari. Aku yakin, ada orang lain selain diriku yang bisa melakukannya. Bukan hanya aku saja yang ahli dalam bagian mekanik di sini.”



“Aku akui itu hanyalah teori dengan dasar yang lemah. Tapi jika semuanya digabungkan, bukankah itu terdengar masuk akal?” Drian berasumsi, dan berhasil memancing semua mata hadirin, namun sayang tak ada dari mereka yang memahami.


Drian kemudian melanjutkan, “Maksudku, kau bisa meretas, menyalin suratnya dalam waktu satu hari, dan juga cara berkomunikasimu yang aneh. Yah, mungkin yang terakhir terdengar sangat lemah, tapi bukti yang kedua cukup masuk akal!”


Erlin menggigit bibir, berusaha membuat dirinya tetap tenang. Selagi itu, pandangan kami tetap tertuju padanya.


Tidak seorang pun membicarakan bukti lagi di sini. Maksudku, sejak awal kita menggunakan asumsi pribadi dengan logika dasar untuk membuat semuanya terlihat berjalan mulus. Akan kukatakan ini, tapi tidak seorang pun lagi mencoba mencari si penipu. Kenapa? Karena masalah ini akan selesai jika kita bisa meyakinkan Oliv untuk mencoret nama satu orang dari daftar murid.


“Setidaknya gunakan mesinmu itu untuk mengatakan sesuatu,” ujarku padanya.


Meski begitu, Erlin tetap terdiam.


Untuk beberapa saat, aku menyadari ada sesuatu yang aneh. Aku menengok pada Grisella yang berdiri di sebelahku.


Wajah Grisella membuat ekspresi yang aneh, entah mengintimidasi yakin, atau meragu pada semua bukti. Aku tidak bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya.


“Kenapa?” tanyaku untuk memastikannya secara langsung.


“Eh?!” Ia terkejut, aku memecah lamunannya. “Ah, tidak ada.”


Reaksinya berbeda. Dia terlihat seperti baru saja kembali dari dunia lain. Padahal sejak awal, dia adalah orang yang paling terobsesi untuk menyelesaikan kasus ini.


Yah, aku tidak akan terlalu peduli dengan hal itu sekarang, karena ada sesuatu yang lebih penting.


Grisella tiba-tiba mengangkat tangan. Karenanya, pandangan kami semua menjadi teralihkan untuk sesaat.


“Ada apa?” tanya Steven.


“Menurutku, dia bukanlah pelakunya,” kata Grisella. Ekspresinya itu bimbang, selaras dengan nada bicaranya. “Ehm …”


“Insting lagi? Tidak ada seorang pun yang keberatan jika kau ingin membelanya. Tapi, jangan gunakan kata ‘menurutku’ untuk membela seseorang hanya karena dia kelihatan tidak bersalah,” cetus Steven sedikit kesal.


“Ugh, yah, bukan berarti aku berniat mengandalkan instingku. Tapi, bagaimana jika aku bisa menemukan si penipu ini?”


Hmm? Kami semua terdiam mendengarnya.


Daripada menemukan bukti bahwa Erlin tidak bersalah, Grisella akan menemukan si penipu. Bukankah gadis yang ada di sampingku ini benar-benar pintar? Bahkan aku yang selalu berada satu ranking di atasnya sempat terkejut mendengarkan dia mengatakan itu dengan mudahnya.


“Jika kau bisa melakukan itu, tentu saja itu akan sangat membantu,” tutur Rise.


Orang yang pertama kali masuk dalam matanya adalah aku.


“Kau mengatakan kalau tidak ada seorang pun di sini yang menunjukkan reaksi berbohong, bukan?”


Aku tidak menjawabnya. Karena aku sudah mengatakan hal itu berkali-kali.


“Karena hal itu, kita jadi berpikir buruk padanya.” Grisella memandang Erlin dengan kasihan. “Sekarang kita berpatok Erlin sebagai tersangka. Akan tetapi, di saat yang sama, apa kau sadar kalau ucapanmu itu secara tidak langsung menunjuk dirimu juga?”


Hmm …


“Aku tidak akan membantahnya.”


Justru, akan lebih masuk akal jika aku pun dituduh sebagai si penipu. Namun, mereka yang mencurigaiku juga tidak bisa menuduhku begitu saja tanpa adanya bukti yang jelas, karena itu belum ada seorang pun yang berani menuduhku.


Aku mengangguk, lalu membuka mulut, “Tentu saja aku menyadarinya. Justru jika aku tidak sadar akan hal itu, aku akan jadi terlihat seperti orang bodoh. Apa dari ucapanku sendiri, kau akan menuduhku?”


“Ya, aku kini menuduhmu,” tegas Grisella dengan tatapan tajamnya.


Matanya yang tidak bergeming, benar-benar hebat sekali. Di tatapannya tidak ada keraguan sama sekali.


Tapi, karena aku sudah sadar kalau ada kemungkinan aku akan dituduh, aku hanya perlu memberikan bukti bahwa aku tidak bersalah.


“Yah, ini akan terasa lebih mudah. Jika aku bisa memberikan bukti bahwa aku tidak bersalah. Semua orang dicurigai di sini. Aku pun tidak keberatan jika ada yang ingin menuduhku.”


Grisella mengangguk. “Ya, tentu saja.”


Karena aku sudah menyiapkannya, aku bisa memperkuat posisiku untuk tidak panik begitu saja.


“Hmm …. Tunggu sebentar.” Grisella menghela.


Kami semua terdiam menunggu Grisella menyiapkan … mental? Entahlah.


“Tidak bisakah kau menuduhku setelah gadis itu berhasil membela diri?” tanyaku.

__ADS_1


Bukan berarti aku ingin menghindar, tapi menuduh dua orang sekaligus akan membuat situasi menjadi rumit.


“Tidak bisa,” tolak Grisella.


Terserah dia saja.


Setelah berpergian bersamanya seharian ini, aku cukup tahu sifatnya yang bertindak sesuka hati. Jika dengan ini aku akan aman, maka tidak jadi masalah.


“Saat kau bilang tidak seorang pun berbohong di sini, apa itu juga termasuk dirimu?”


“Tentu saja. Apa terdengar aneh?”


“Tidak aneh. Justru ini akan jadi lebih mudah.” Grisella mengangguk setuju. “Kalau begitu, langsung saja. Apa benar kau si penipu?”


Hah … ?! Dia …


Pertanyaan itu membuat otakku terhenti sebentar saja. Semua orang sama terkejutnya denganku. Itu bukan tuduhan berdasarkan bukti, tapi pertanyaan langsung.


“Ooi, tidak mungkin ada maling yang mengaku kalau dirinya maling. Pertanyaan macam apa itu?” Entah kenapa aku sedikit kesal.


Grisella tidak memalingkan pandangan. “Jika kau si penipu, kau tidak mungkin berkata jujur.”


Jawaban apa yang harus kuberikan. Jika aku si penipu, maka aku akan berbohong dengan mengatakan tidak. Jika aku bukan si penipu, maka aku tidak akan berbohong dan tetap menjawabnya dengan tidak. Keduanya sama saja.


“Bukankah pertanyaannya cukup mudah untuk dimengerti, bahkan bagi orang bodoh sekali pun?”


Sindiran lagi? Kenapa tak ada yang menengahi diskusi kami?


“Pertanyaanmu terlalu simpel, sampai aku tidak yakin kalau memberikan jawaban tidak padamu bisa benar-benar memuaskanmu rasa penasaran.”


Ada waktu sebelum Grisella menjawab. Kalimat berikutnya cukup meyakinkan agar aku benar-benar mernjawab pertanyaannya.


“Aku berjanji akan berhenti bertanya dan menuduhmu setelah kau menjawabnya.” Grisella sekali lagi menanyakan hal yang sama, “Apa benar kau si penipu  dan orang luar yang telah masuk ke sini diam-diam?”


Hmm …


Melihat matanya yang sangat memerhatikanku, mana bisa aku menghindari pertanyaan itu. Jika jawaban yang diinginkannya, maka akan ku berikan.


Aneh rasanya ku tidak pernah menyadari saat SMP kalau Grisella adalah orang yang menarik. Sungguh menyayangkan sekali.


Aku membuka mulut. “Tidak, bukan aku orang luarnya.”


Grisella tidak memberi respon. Ekspresinya tidak berubah. Ia menghadap arah lain.


“Sesuai janji, aku tidak akan bertanya lagi.” Grisella menghela. “Liza, bagaimana?”


Hmm … apa maksudnya itu? Grisella berhenti menuduh, berikutnya ia memojokkanku menggunakan orang lain?


Liza mengangguk pelan. Ia menghembuskan udara dari mulut.


“Kenapa kau mengumpulkan kami semua seperti ini?” Kali ini Liza yang bertanya.


“Bukan aku, tapi d—“


“Ku ubah pertanyaannya. Kenapa kau membantu dia untuk mengumpulkan semua orang?”


“Kenapa?” Aku berpikir. “Entahlah, mungkin karena tidak ada kerjaan lain? Rasanya sedikit membosankan berdiam diri seperti itu.”


Aku tidak mengerti.


“Boleh aku memulainya?”


Kenapa Liza baru berbicara sekarang? Seandainya dia membuka mulutnya semenjak kita berkumpul, mungkin permainan ini tidak akan sampai selama ini.


Liza menghadap Erlin yang kondisinya sudah jauh lebih membaik. “Kenapa menurutmu tidak ada yang aneh saat kau melakukan hacking?”


Erlin menggeleng kepala, mungkin maksudnya tidak tahu. Dia menyerahkan mesin ketik pada Kivan. “Aku bermaksud menyarankan agar semua orang mengeceknya bersama-sama dengan kemungkinan bisa saja aku melewatkan sesuatu yang terlihat.” Kivan menjadi wali mulu Erlin.


“Intinya sama saja, kita harus tetap menge—”


Kalimat Steven terhenti oleh aura seseorang.


“Jika memang tidak ada jejak yang ditinggalkan, mencoba mengeceknya hanya akan membuat-buang waktu saja,” kata Liza mengulang kalimatku dengan nada tiruan. “Kau mengatakan itu dengan asumsi kalau yang Erlin lihat benar-benar tidak penting dan mencoba untuk menahan semua orang agar kita tidak memeriksanya.”


“Aku tidak bermaksud seperti itu,” elakku.


“Atau … jangan-jangan kau memang sudah melihatnya?” Liza melanjutkan. “Itu semua tidak penting. Melihat baik-baik surat yang sedang kita pegang sudah cukup kuat sebagai buktinya.”


Semuanya mendengarkan. Aneh tidak ada yang berani menyela atau menengahi saat Liza sedang berbicara. Kalau dia sudah serius, Liza sungguh hebat. Karena itu, aku sedikit takut dengannya.


Liza melihat ke arah bawah, sepatuku? Tidak, sebuah botol di sampingku yang ku beli tadi siang dari mesin minuman. Merasa repot, aku memutuskan meletakkannya di lantai.


“Untuk apa itu?”


Aku benar-benar tidak bisa membaca pikirannya.


Disudutkan oleh seorang gadis bukan hobiku, menyerahkan diri mungkin bukan pilihan yang buruk.


Aku mengambil botol dan membukanya, kemudian kukeluarkan surat dari saku celana.


“Apa kalian pernah mencobanya, membasahi surat kalian dengan air?” Yang kumaksudkan adalah amplop berwarna yang membungkus suratnya.


Aku membasahi amplop milikku. Tidak perlu kujelaskan apa yang terjadi. Semua orang memperhatikan.


Steven menunjukkan surat miliknya. “Kertas anti air, ya?”


“Kalian terlalu fokus pada isi suratnya sampai-sampai tidak menyadari bahan dasar dari amplopnya.”


Akan tetapi, perlu sentuhan kulit secara langsung untuk membedakan mana yang asli dan yang bukan. Sebelumnya tak ada yang mencoba saling menyentuh surat satu sama lain. Jangan bilang kalau Liza tahu hanya dari melihatnya saja? Rasanya mustahil.


“Kau mengakuinya semudah ini?!” Rise meninggikan nada suara. Alisnya mengkerut.


“Yah, begitulah,” ucapku santai bertingkah seperti ini masalah sepele. “Ada yang salah dengan itu? Maksudku, aku sudah tertangkap basah. Aku tidak ingin melawannya, terutama dalam masalah seperti ini” timpalku pada mereka.


Saat pertama kali aku bertemu Liza yang terkapar di tanah, aku cukup percaya diri seberapa hebatnya gadis yang memiliki tubuh lemah itu.


Grisella mencubit bajuku, “apa itu benar?”

__ADS_1


Kenapa sangat sulit bagi Grisella untuk mempercayainya? Itu bukan urusanku.


Rasanya sangat melegakkan saat lepas dari tuduhan seperti ini.


“Tertangkap basah?” Steven terheran, sorot matanya itu tajam menusukku. “Kau, dilihat dari bagaimana kau menunjukkan buktinya, kenapa kau tidak melakukannya dari awal?”


Aku tidak tahu sejak kapan Liza menyadarinya, tapi tidak mustahil dia sadar semenjak menit-menit pertama Oliv menjelaskan tentang situasi ini. Sehebat itu Liza yang ada di dalam bayanganku.


“Apa kau sudah puas?” Mata Liza terarah padaku terlihat mengantuk.


Jadi itu maksudnya. Liza menahan diri demi memuaskanku. Perhatian sekali gadis ini. Namun, perbuatannya itu juga mengundang amarah orang lain.


Luna mengangkat tangan. “A-apa ini artinya sudah berakhir?”


“Kalian tidak marah padaku?”


Beberapa dari mereka terlihat tenang, bahkan ada yang bernapas lega. Padahal, aku mengharapkan beberapa ungkapan emosi yang tertuju padaku.


“Aku terlalu lelah untuk berteriak,” ucap Rise. “Melihat kondisi dan situasi, akan kusimpulkan kalau semua ucapanmu itu tidak ada yang benar. Pada akhirnya, orang yang kita cari memang satu.”


“Bermain-main dan menghabiskan waktu seperti ini, apa menurutmu ini menyenangkan?” Steven terlihat kesal.


“Yah, tentu saja ini menyenangkan.” Aku tersenyum. “Maksudku, aku berkeliling, berdiskusi bersama kalian semua, dan menghabiskan waktu. Semuanya terasa sangat menyenangkan.”


Itu benar jika dibandingkan dengan kehidupanku yang membosankan.


“Apa apa asiknya melakukan ini semua!”


“Jangan lupa, kau berhutang sebuah pukulan padaku.” Daniel mengingatkan.


Kenapa satu pukulan bisa membuatnya sepuas itu? Yah, itu tidak penting.


“Yah, tentu saja, tapi … setelah kalian berhasil menyelesaikan permainan ini.”


“M-masih belum selesai?” Luna membuat ekspresi aneh, begitu pun yang lain.


“Kau memegang surat yang palsu, apa lagi yang kau inginkan? Oliv hanya perlu mencoret namamu.” Saat Rise melihat Oliv, Oliv menoleh ke arah lain tak bertanggung jawab.


“Coba pikir sekali lagi, bagaimana bisa aku membuat surat ini? Kita sudah membicarakannya tadi. Satu-satunya cara adalah aku harus melihat suratnya sendiri. Teori yang kalian bicarakan selama ini tidak salah karena aku yang sudah memberi kalian semua petunjuk itu. Mulai dari bagaimana semua orang di sini berkata jujur atau masuk akal jika si penipu dan orang luarnya merupakan dua orang yang berbeda.”


Di dalam cerita ini, aku jadi terlihat seperti villain. Tidak seharusnya aku menjelaskan bagaimana misterinya terbentuk. Satu-satunya yang cocok adalah …


“Kau memberikkan surat milikmu pada orang lain,” gumam Grisella. Pandangannya terarah ke lantai.


“Hebat Grisella,” puji dariku. “Aku menerima suratnya di hari yang sama seperti kalian. Setelah itu aku segera mengirimkan surat milikku kepada salah satu dari kalian dengan cara mengantarnya sendiri. Dengan cara itu, kesebelas orang yang ada di sini bisa mendapatkan suratnya di hari yang sama.”


Seharusnya ini terdengar mudah. Aku yakin Liza sudah menyadarinya.


“Ada waktu selama dua minggu sebelum upacara penerimaan murid. Dengan waktu selama itu, aku bisa melakukan semuanya dengan santai.” Aku menambahkan.


“Kau … memberikan suratmu pada siapa?” tanya Grisella gemetar.


“Mereka yang diundang ke sini adalah orang-orang yang berbakat. Tak sesulit itu untuk mencari siapa yang memegang surat milikku.” Aku yang masih menunjukkan senyum lebar, mengangguk beberapa kali. “Tidak, justru sebaliknya. Orang itu juga harusnya sudah sadar semenjak hari pertama dia mendapatkan surat itu.”


“Apa maksudnya itu?” tanya Kivan.


“Kau terlalu banyak bicara?!” gertak Daniel, dan kedua cengkram tangan itu tidak sabar menanti untuk memukulku. “Sekarang yang kami ingin tahu adalah siapa orang luarnya!”


Tempramen buruknya selalu mengganggu. Terserahlah.


 “Saat kau berbicara berputar-putar seperti itu, kau membuat emosi semua orang di sini naik tak terkendali,” tambah Rise mengikuti yang lain.


Jika aku adalah orang yang tidak berbakat dan tiba-tiba diundang ke sini. Aku pasti akan bertanya kepada diriku sendiri, ‘apa mungkin aku diundang ke sini? Rasanya mustahil. Seharusnya orang luar itu selalu meragukan dirinya karena bisa masuk ke sini.


Bahkan tanpa perlu menunjuk orang itu, dia seharusnya akan mengaku.


Aku membuka mulut,


“Maaf, Grisella.”


Hah … tidak, yang barusan itu suara Liza.


Pendengaranku mungkin tidak sekuat itu, tapi dalam keadaan tenang seperti ini, bahkan suara tetesan air bisa terdengar dengan jelas. Mungkin bukan hanya aku saja.


“Kenapa?” Isak tangisnya yang sedang ditahan terdengar begitu jelas. Air matanya mengalir di pipi dan jatuh ke lantai. “Kenapa? Kenapa kau melakukan ini semua?”


Pertanyaannya sungguh aneh. Aku ingat kata-katanya dengan sangat jelas saat itu.


Aku selalu mencoba mengejarmu, tapi tidak pernah berhasil.


Kalimat seperti itu hanya di keluarkan oleh mereka yang iri dengan bakat orang lain. Bukankah dunia ini tidak adil? Meski berusaha sekeras apa pun, mereka yang tidak berbakat tidak bisa mengalahkan orang yang berbakat dengan sedikit usaha.


Aku tersenyum sambil menatap matanya dengan ekspresi sedikit bersalah.


“Kenapa? Jika kau bertanya tentang alasanku, seharusnya kau sendirilah yang paling tahu alasannya, bukan?”


Grisella masih berdiri, terdiam tidak mengerti. Sambil menyeka air mata menggunakan tangan, dia berusaha sekuat mungkin untuk berdiri tepat di depanku. Meski begitu, aku tetap tidak bisa melihat wajahnya karena sedang menunduk.


Grisella berulang kali menyebutkan alasannya. Berulang-ulang dia menyebutkannya setiap kali ada kesempatan. Walaupun begitu, aku tidak lelah mendengarnya.


‘Kau ini benar-benar membosankan, ya?’


‘Kau adalah orang yang membosankan.’


‘Karena itulah kau jadi membosankan.’


Sungguh alasan yang lemah, bukan? Jika mereka semua membenciku karena aku melakukan ini semua dengan alasan sepele, aku siap menerimanya dengan senang hati.


Sambil menangis, Grisella pun menjatuhkan buku catatan kecilnya dan berlari keluar dari tempat ini. Semua pandangan tertuju pada dirinya. Jika seperti ini, aku ragu ada yang bisa menghentikan.


Aku memandang langit-langit masih dengan senyum di wajahku. Lalu, menghela napas pendek. Aku penasaran, apa aku berlebihan? Mungkin. Mana ku tahu dia punya harapan setinggi ini untuk masuk ke kelas elit.


Akan tetapi, aku tidak bisa memundurkan waktu.


Karena itu …


“Baiklah, siapa pun yang ingin memukulku, harap berbaris!”

__ADS_1


… aku akan menghadapi Grisella sekali lagi nanti.


***


__ADS_2