
***
“A-apa yang kalian harapkan dariku? Jika mereka tahu aku yang melakukan ini, aku akan benar-benar dipecat. Aku tak akan dapat apa-apa dari melakukan ini semua.” Oliv panik.
“Bukan berarti kami ingin menuduhmu, tapi kau menjadi kandidat yang paling cocok di sini sebagai penipu. Seperti yang diucapkan olehnya,” ucap Grisella sambil menunjuk ke arahku. “Jika kau bisa menunjukkan buktinya, kami tidak akan menuduhmu.”
Tunggu, kenapa Grisella menunjuk ke arahku?
“M-memangnya apa yang bisa kubuktikan? A-aku hanya seorang pengawas biasa saja. Lagipula …” suaranya pelan, “… aku bahkan tidak bisa melakukan cracking atau semacamnya. Sudah kukatakan bukan, kalau daftar siswanya berubah karena ada yang melakukan cracking.”
Grisella menghela napasnya.
“Justru karena itu. Jika itu kau, maka tak perlu sampai repot-repot meretas untuk mengubah daftar namanya.”
Oliv terdiam, tidak bisa membantah perkataan Grisella.
“Di saat surat itu dicetak pun, kau bisa mencetaknya sebanyak yang kau mau,” tambah Kivan melanjutkan penjelasan Grisella.
Kali ini Oliv benar-benar terpojok dan terdiam.
“Hmm …” Oliv berpikir sebentar, “tuduhan kalian terlalu kuat untuk bisa kusanggah,” Oliv memalingkan wajah pasrahnya.
“Apa itu artinya kau mengakuinya?” tanya Steven yang dari tadi tidak berhenti mencurigainya.
“T-tentu saja tidak! Hmm, hanya saja …” wajahnya terlihat bingung, “… b-beri aku waktu untuk berpikir. Kalian semua memojokkanku bersama-sama. Tak adakah dari kalian yang merasa kasihan padaku?”
Di saat Oliv mengatakan itu, seseorang mengangkat tangannya.
Pandangan kami semua teralihkan karenanya.
“Aku akan mengatakan ini, tapi aku ragu kalau wanita yang tidak bertanggung jawab itu adalah penipunya.” Daniel mencoba menyanggah yang sedari tadi hanya diam saja.
Ada apa ini? Tiba-tiba bertingkah seperti itu?
“Kenapa begitu?” tanya Kivan dengan nada santai.
“Dari yang aku lihat, dia berkata jujur.” Ada keyakinan yang sangat kuat dalam matanya.
Jangan mengambil peranku!
“Hmm, kami tidak keberatan jika kau ingin membelanya. Hanya saja, dengan mengandalkan instingmu untuk membela seseorang …” Steven melipat kedua tangan di dadanya, “… itu masih belum cukup.”
Beberapa orang mengangguk, setuju.
“Insting, ya? Benar juga!” Daniel membuat ekspresi menyeramkan. “Yah, itu benar. Hanya karena aku merasa dia tidak bersalah, aku jadi membelanya. Aku tidak ingat, sudah berapa banyak orang yang sudah kubuat babak belur oleh tangan ini. Setelah berkali-kali melihat wajah mereka yang ketakutan aku bisa tahu. Aku mungkin tidak bisa mengetahui orang itu berbohong atau tidak, tapi akan kukatakan ini. Aku tahu saat mereka merasakan takut,” lanjutnya dengan sangat tajam.
“Hmm, kalau begitu aku yakin kau tahu kalau tak seorang pun takut denganmu.” Steven membalas perkataan Daniel dengan santai.
Tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik, tidak seorang pun berniat menengahi. Semua hanya mendengarkan saja.
Cara Steven membuat kondisinya tenang dan stabil sangatlah hebat. Sudah berapa jenis orang yang pernah berkomunikasi dengannya? Sudah berapa kali ia terdesak di bawah tekanan? Aku tidak bisa membayangkannya.
“Aku memberi kalian peringatan karena aku merasa kasihan pada kalian semua!” Daniel menegakkan tubuhnya. “Ingat ini!” Nadanya bicaranya menusuk kami semua. “Apa jadinya jika wanita bodoh di sana bukan penipunya?! Aku tidak peduli jika kalian semua menuduhnya, tapi aku akan mencari pelaku yang sebenarnya. Setelah menyeretku ke dalam masalah seperti ini, tidak akan kubiarkan dia kabur begitu saja! Akan kupastikan untuk menghajarnya, siapa pun dia!”
Ooh, yang barusan itu cukup keren dan menyeramkan.
Siapa pun dia ya? Hmm …
Sayangnya hanya ada satu orang saja yang bisa menakutiku di sini.
“Meskipun dia adalah seorang perempuan?” tanyaku dengan senyum santai sambil menatap matanya langsung.
Daniel diam dan membalas hanya dengan kedua mata tajam yang menjawab pertanyaanku secara tidak langsung. Bukan hanya bermasalah, orang yang menatapku saat ini bahkan memberikan aura yang sangat kuat.
Yah, kalau dipikir, sebagian yang dikatakannya memang benar.
Setelah semuanya terseret dalam masalah seperti ini, siapa yang tidak kesal dengan si penipu ini. Terlebih lagi, jika orang yang tertuduh adalah orang yang salah. Hal ini jelas akan membuat seseorang jauh lebih kesal.
Setelah mendengarkan ucapannya, semua orang kembali berpikir jernih sekali lagi.
Meski AC di sini cukup dingin, tmosfir berat membuat ttak kami berasap dengan beberapa kali kami melayangkan pandangan dari satu ke yang lain. Secara tak langsung udara ini membuat dingin kepala kami yang panas karena terlalu banyak berasumsi tanpa menemukan sebuah titik temu.
Aku mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya. Aku cukup percaya diri dalam menjaga pikiranku untuk tetap jernih dan fokus.
Tersangka utamanya mungkin Oliv, tapi di saat yang sama si penipu ini bisa menjadi siapa saja. Kemampuan meretas dan menyalin surat itu, lalu mengirim si orang luar ke dalam sini, dan mengendalikannya dari dalam.
Karena itu, memutuskan dengan cepat bahwa Oliv adalah si penipu berdasarkan asumsi seperti ini tidak terasa benar.
Di saat aku mencoba memikirkannya, seseorang memberikan tatapanku yang aneh.
Aku menolah, “ada apa?” tanyaku menatap Grisella dengan wajah anehnya.
“Bagaimana?” bisiknya di dekatku agar tidak ada yang mendengarnya.
Bagaimana? Bagaimana apa? Aku tidak paham.
“Kau bilang kau bisa tahu kalau orang itu berbohong atau tidak, bukan? Jadi bagaimana hasilnya? Oliv berkata jujur atau tidak?”
Bisikannya sedikit membuat telingaku merasa geli.
Aku memperhatikan wajah Oliv yang sedang kebingungan. Selagi aku memperhatikannya, seseorang melempar sesuatu pada kami berdua. Aku tidak tahu siapa yang melemparnya, tapi di saat kami berdua sadar, semua orang menatap kami dengan tatapan penasaran.
“Apa yang kalian berdua bicarakan?” Rise dengan wajah juteknya seperti biasa bertemu dengan mataku.
Aku tidak akan kaget jika ada seseorang yang curiga, tapi Grisella yang salah tingkah justru membuat situasi semakin memburuk.
“Eeh, ehm itu …” Grisella gugup. “Bukan apa-apa, tidak penting sama sekali.”
Grisella melupakan pertanyaannya. Kalau begini, jadi aku yang harus membuka mulut.
“Grisella hanya bertanya padaku apa ini semua sudah benar atau salah.”
“Maksudmu Oliv berbohong atau tidak?” Rise melanjutkan pertanyaan.
“Ya, begitulah.”
Akan tetapi, justru kalau menggunakan hal ini kesannya akan menjadi seperti Daniel yang mengandalkan insting tak jelasnya itu.
“Kenapa kau tidak mengatakannya?”
“Hah?!” Rise membuatku terhentak. “Kau yakin? Bukankah jatuhnya sama seperti insting yang tidak jelas asalnya entah dari mana?”
“Sepertinya kau salah tangkap.” Rise melotot. “Gadis itu meminta pendapatmu? Apa ada yang salah dengan mengungkapkan pendapat? Masuk akal atau tidak, semua orang di sini yang akan jadi jurinya.”
Apa yang sebenarnya dia inginkan? Situasiku jadi rumit karena Grisella.
“Tunggu sebentar. Boleh aku bertanya sesuatu?” potong Niki menarik perhatian, “Di penjelasannya tadi, dia mengatakan kalau kau bisa tahu saat seseorang sedang berkata jujur atau bohong, bukan?” Eskpresinya terlihat seperti sedang berpikir. “Kalau begitu, kenapa kita tidak bertanya pada semua orang yang ada di sini saja jika dia itu penipunya atau bukan? Bukankah kita bisa menyelesaikannya dengan sangat cepat?”
Senyum di wajahnya sekali lagi memberikan kesan sangat percaya diri.
Seandanya saja dia tidak akan menangis saat dipojokkan, mungkin aku sudah melakukannya.
Itu yang diucapkan Steven saat perkumpulan pertama dan aku yakin Niki juga ada di sana. Kenapa dia baru tanggap saat ini?
Aku mengangkat tanganku rendah.
“Bukan berarti aku ingin menyembunyikannya. Lagiplua, meski aku bisa melakukan itu, apa kalian semua percaya padaku begitu saja? Sama seperti ucapannya …” tatapanku tertuju pada Steven, “… hanya dengan menggunakan insting saja, aku tidak bisa menghapus semua tuduhan yang ada.”
Ada juga kemungkinan lainnya.
“Jika dilihat dari kepribadiannya, penipu ini pasti sudah sangat ahli dalam hal berbohong. Jadi saat dia berbohong, dia tidak akan menunjukkan reaksi yang aneh,” lanjutku menjelaskan.
__ADS_1
“Kita sudah sampai sejauh ini karena gadis itu kemampuanmu itu,” kata Kivan menatap Grisella dan aku. “Apa salahnya agar terus bergantung pada hal itu? Setelah menyimpulkan teori, berikutnya hanya perlu mencari buktinya saja.”
“Jika aku tidak tahu siapa yang bohong dan siapa yang jujur, maka pendapatku tentang siapa pelakunya tidaklah penting.” Aku menghembus napas lelah.
“Bukankah orang yang di sampingku ini sudah menunjukkan buktinya?” Kivan menunjuk ke arah Erlin.
Kivan tidak sepenuhnya salah, tapi tanpa bukti dari Erlin sendiri, ini hanya asumsi lemah yang bisa dipatahkan dengan muda.
Masalah utama terletak pada pada surat itu sendiri. Selain itu melakukan cracking, kenapa Oliv menyebutnya seperti itu? Apa dia mengecek dengan mata kepalanya sendiri?
“Oliv, kenapa kau tahu ada yang melakukan cracking pada halaman utama sekolah?” tanyaku.
“Ya, sudah jelas. Karena daftar muridnya berubah dari yang seharusnya.”
Penjelasan Oliv cukup simpel, tapi tidak menjelaskan perubahan apa saja yang terjadi pada halaman yang telah diutak-atik.
“Pertama,” aku melihat semua orang satu-persatu, “apa maksud dari cracking yang diucapkan oleh Oliv?”
Mereka yang mengerti maksudnya belum tentu paham betul dan bisa saja menyamakan dengan istilah hacking.
“Biar aku yang menjelaskannya,” ucap Kivan secara sukarela, “cracking bisa dibilang sebagai tindakan untuk memodifikasi atau mengubah aplikasi yang ada secara illegal. Perbedaannya dengan hacking adalah, biasanya tujuan utamanya adalah untuk melakukan sesuatu hal yang buruk, mulai dari menghapus, mematikan, mengubah, mengambil alih sistem, dan lainnya.”
Hebat, Kivan benar-banar mengerti dengan yang namanya komputer.
Oliv mengangkat tangan. “Uhm, apa kalian masih menuduhku?” tanya Oliv dengan suara pelan.
Beberapa orang mengangguk, terutama Steven.
“Jika kalian ingin mendengar pendapat,” Sebenarnya aku ingin menunjuk Grisella, tapi dia kelihatan sudah kehabisan akal, jadi aku menunjuk orang lain. “Kenapa kalian tidak menanyakannya saja?” Mataku terarah pada gadis yang menggunakan hoodie biru.
Semua orang memperhatikan Liza yang memasang ekspresi lemas.
“Aku tidak punya pendapat apa pun,” tolak Liza. “Tapi, satu pertanyaan. Oliv, kapan suratnya dibuat?”
“Ah,” sentak Oliv. Wanita itu teringat sesuatu. “Benar juga, suratnya!”
Liza benar-benar hebat. Sudah saatnya wanita tidak bertanggung jawab itu membela diri.
“Boleh aku meminjam ponsel lagi?” pinta Oliv pada Grisella.
Grisella tanpa hambatan, segera memberikannya.
“Aku sudah bilang kalau aku belum lama bekerja di sini. Aku bukanlah orang yang bertugas untuk membuat surat atau mencetaknya, jadi tidak mungkin aku adalah orang yang menyalinnya. Sebagai bukti, aku akan menelepon orang yang bertugas di sana.” Oliv menunjukkan sikap percaya diri.
“Kenapa tidak,” Steven mempersilahkan.
Oliv entah menghubungi siapa, tapi kali ini mode pengeras suara diaktifkan.
“Uuh, ma-maaf aku menganggumu sekali lagi.” Suara Oliv pelan.
“Ada apa lagi?” Suara seorang pria yang merasa terganggu. “Kau juga ada di mana saat ini? Aku menghubungimu tapi malah ibumu yang mengangkatnya. Kenapa kau selalu lupa membawa ponselmu?” Nadanya terdengar kesal.
Bukan hanya tidak bertanggung jawab, tapi juga tipe pelupa.
“K-kesampingkan itu semua dulu.” Pipi Oliv memerah. “Ini masalah suratnya lagi, kau–” Oliv menyebutkan tanggal yang sedikit mengejutkan.
“Ya, begitulah. Bukannya aku sudah memberitahumu? Ng—”
Oliv segera memutus sambungan.
“Aku pasti akan dipecat setelah ini.” Oliv menunduk pada lantai, mata itu berkaca-kaca hendak menangis. “A-apa kalian sudah percaya padaku?”
Suratnya dibuat di hari yang sama dengan hari semua orang mendapatkannya. Memang benar membuatnya mudah, tapi mereka tidak terlihat profesional sama sekali.
“Aku rasa dengan ini Oliv dikeluarkan,” Kivan menyilangkan lengan di depan dada, ia merasa yakin dengan pendapatnya.
Kami semua berhenti berbicara untuk sesaat. Butuh waktu berapa lama hanya untuk mengeluarkan Oliv dari tuduhan berdasarkan asumsi? Intinya, ini akan memakan waktu sampai malam.
Tiba-tiba seseorang mengangkat tangannya.
Tidak ada yang menjawab. Semua merenung, kembali memutar otak masing-masing.
“Ugh, apa mungkin kita bisa mencoba mencari petunjuk dari data yang sudah dirusak olehnya?” Sekali lagi Luna bertanya.
“Hmm, maksudmu, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh si penipu? Apa hal itu diperbolehkan?” Steven bertanya balik.
Mengingat bagaimana Kivan menjelaskan bahwa cracking adalah tindakan illegal, tentu saja itu tidak dianjurkan.
“I-iya!” Luna mengangguk pelan. “Mungkin saja ada jejak yang ditinggalkan oleh si penipu.”
“Aku ragu dia akan meninggalkan namanya atau jejak begitu saja,” balas Kivan menggaruk hidungnya. “Ada juga alasan lain kenapa dia meninggalkan jejak seperti itu. Contohnya untuk membuat kita semua kehilangan arah.”
“Berhenti bertingkah seperti pengecut!” Rise menaikkan nada bicaranya sambil menunjuk ke arah Kivan. “Petunjuk tetaplah petunjuk meski itu menunjukkan ke arah yang salah. Jika salah, kita hanya perlu memperbaikinya lagi saja! Kau juga …” kali ini Rise menunjukku.
Kenapa Rise menunjukku juga?
“Kita bisa sampai sejauh ini karena kau mengucapkan hal yang aneh! Aku tidak akan bisa tenang jika kasus ini tidak terselesaikan.”
Rise menunjuk pada kemampuan mengamatiku yang mengatakan kalau semua orang di sini tidak berbohong.
“Hanya untuk mengingatkan, jangan terlalu percaya pada kalimatku juga. Bukan berarti yang aku ucapkan itu benar. Maksudku, aku hanya manusia, aku juga bisa salah.”
“Jujur saja! Setelah sampai sejauh ini, aku pun jadi penasaran siapa pelakunya. Jika kita tidak punya petunjuk atau berhenti di satu titik begitu saja, mendengar isi kepala semua orang yang ada di sini bukanlah ide yang buruk.”
Tidak ada yang menyanggah.
Setelah Rise kembali tenang, seseorang mulai mengangkat tangannya lagi.
“Ugh, kalian semua membicarakan tentang pentingnya bekerja sama, tapi kenapa kalian selalu mengabaikan apa yang ku ucapkan?” Nada Niki rendah mengeluh.
Ya, mau bagaimana lagi?
“L-lihat! Kalian mengabaikanku lagi!” Niki memasang wajah cemberut. Dia menolah membuat rambut pirangnya bergelombang.
Di saat itu juga Kivan mengangguk. “Yah, kalau begitu akan lebih baik jika kita melakukannya saja. Mengecek data.”
Untuk melakukan itu, dibutuhkan kemampuan yang sama agar bisa menjebol keamanan halaman sekolah. Mengingat ini sekolah, datanya seharusnya tidak hanya disimpan di internet, tapi juga di dalam komputer.
“Siapa yang bisa melakukan hacking di sini?” Grisella yang dari tadi hening, akhirnya membuka mulut. “Salah satu dari kita di sini pasti ada yang bisa.”
Entah kenapa, pertanyaannya terdengar aneh di telingaku.
“Tu-tunggu sebentar!” Kivan sedikit terkejut. “Mengiyakan pertanyaanmu itu, bukannya secara tidak langsung mengakui kalau orang itu adalah si penipu?”
Yah, memang seperti itu.
Menurut pengamatanku, ada dua orang yang mungkin cukup ahli dalam melakukan itu.
Yang pertama adalah gadis pendek dengan tas merah muda. Erlin Talitha. Menggunakan mesin untuk berbicara? Itu terlihat hebat. Namun, umumnya tunawicara menggunakan bahasa tubuh atau papan tulis kecil untuk berkomunikasi.
Aku memang sudah bertanya dan tidak sempat mengeceknya, tapi di dalam tas merah mudah itu isinya mungkin adalah sebuah laptop.
“Hmm, ya. Bukankah justru sebaliknya? Kalau dia si penipu, pasti dia tidak mungkin mengakui. Itu artinya siapa pun yang mengaku pasti bukanlah si penipu!” jelas Grisella.
Kalimatnya terdengar seperti sedang memancing si penipu itu untuk keluar.
Liza mengangkat tangan tidak terlalu tinggi. “Mengaku bisa melakukan hacking, bukan berarti kau adalah … si penipu?” Wajahnya terlihat pucat dengan nada bicaranya yang pelan.
Aku harap dia baik-baik saja.
Seseorang mengangkat tangan. Wajahnya menunjukkan ekspresi datar.
__ADS_1
Erlin tiba-tiba berjalan ke arahku merusak baris lingkaran yang kami buat. Sesampainya di depanku, dia menyodorkan mesin ketik miliknya.
“Tu-tunggu sebentar! K-kenapa aku? Beberapa saat lalu kau meminta tolong pada orang yang ada di sebelahmu.”
Karena Erlin memaksa, aku tetap menerima dan membacanya.
“Selain aku, ada satu orang lagi di sini yang bisa melakukan hacking!”
Hanya sampai situ saja. Yah, memang ada satu orang lagi.
“Hmm, siapa?” tanya Grisella penasaran.
Tidak perlu menggunakan mesin untuk mengetik, Erlin menunjuk secara langsung dengan jari mungilnya.
“Eh? J-jangan menatapku seperti itu!” Reaksi terkejutnya tak tertahan, Kivan membuat gelagat yang aneh. “Lagipula, kenapa kau bisa?” Ia menghela.
Sekarang aku mengerti, kenapa dia menyuruh aku yang harus membacakannya. Orang yang biasa membacakannya adalah orang yang akan ditunjuknya.
Wajah Erlin menunjukkan reaksi sombong. Ia merebut mesin miliknya dari tanganku, kemudian mulai mengetik lagi. Setelah selesai, sekali lagi dia menyodorkannya kepadaku.
Betapa merepotkannya.
“Dalam dunia hacking, bukankah wajar jika sesama hacker tiba-tiba bertemu dan saling mengenal?” Itu yang tertulis.
Membacanya dengan kalimat keren membuatku sedikit malu rasanya.
“Apa kau mengakuinya?” tanya Grisella sambil menatap tajam Kivan.
“Yah, bukan berarti aku tidak ingin mengaku. Hanya saja aku tidak ingin dituduh sebagai tersangka karena alasan seperti ini.” Kivan tersenyum paksa.
Grisella membuat ekpsresi datar, terlihat jelas bahwa gadis itu tidak puas mendengar jawaban Kivan.
“Untuk memperjelas. Mengaku kalau kau bisa melakukannya bukan berarti kau adalah si penipu itu. Jangan lupakan juga kalau semua orang di sini tertuduh sebagai si penipu.”
Erlin berjalan ke posisinya lagi.
“Jadi, apa kalian berdua bisa melakukannya?” Grisella melanjutkan.
“Yah, karena sudah ketahuan, mari kita lakukan!” seru Kivan pada Erlin.
Erlin menunjukkan mesin ketiknya pada Kivan yang seketika membuatnya terkaget.
“Eeh, kau sudah melakukannya? Kapan? Jangan bilang siang ini?” tanya Kivan beruntun.
Reaksi Kivan menular pada kami semua. Semuanya saling menatap bergantian. Di setiap wajah, ada raut bimbang yang ditunjukkan.
Erlin mengangguk sesuai jumlah pertanyaannya.
“Kau … sudah melakukannya?” tanya Rise yang nampak tak percaya. “Lalu, bagaimana hasilnya?”
Semua orang bersiap mendengar jawaban Erlin. Cara berkomunikasinya yang menggunakan mesin ketik dan harus dibacakan oleh seseorang justru membuat suasananya semakin tegang dan sulit untuk menahan diri.
“Tidak ada yang aneh.” Kivan membaca tanpa mengedip. “Maksudmu, tidak ada hal khusus yang si penipu itu lakukan?”
Erlin menggelengkan kepala.
Apa itu artinya iya, atau tidak? Kenapa merepotkan sekali untuk berbicara dengannya?
“Sampai tidak meninggalkan jejak sedikit pun, bukankah si penipu ini sungguh hebat,” gumamku. “Hmm … jika memang tidak ada jejak yang ditinggalkan, mengeceknya hanya akan membuang-buang waktu saja.”
“Jangan bicara seolah-olah usahanya gagal. Set—”
Sebelum Grisella selesai, seorang peserta lain mengangkat tangan.
“Boleh aku menyela?” potong Drian. “Bukankah ada yang janggal barusan?”
“Hmm, ada apa?” Grisella bertanya balik.
“Kalian berdua bukan si penipu itu, ‘kan? Kenapa kita tidak mendengarkan mereka membela diri saja dulu?” Drian melipat tangan di depan dada, mencoba membuat sebuah pendapat. “Semua orang di sini merupakan tersangka, kita bisa mulai dari yang paling mencurigakan.”
“Apa yang sebenarnya ingin kau coba katakan?” Rise mengikuti. “Katakan dengan singkat dan jelas.”
“Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, si penipu cukup ahli menggunakan program jika dia bisa melakukan cracking. Membiarkan mereka berdua bebas begitu saja rasanya tidak dibenarkan.”
“Seandanya aku si penipu itu, aku tidak punya alasan untuk menunjukkan kempampuanku. Itu cukup untuk membebaskan mereka berdua dalam waktu sementara saja sampai ada asumsi yang bisa memojokkan mereka berdua lebih lanjut.” Grisella menjelaskan.
“Aku tidak akan menyanggah itu, tapi semuanya bisa terjadi di sini. Contohnya saja, sama seperti yang dia katakana sebelumnya.” Drian menunjuk Kivan. “Kita kekurangan petunjuk saat ini dan bisa saja satu dari mereka menunjukkan petunjuk palsu agar bisa menunjuk orang lain sebagai si penipu atau membebaskan dirinya sendiri dari jerat tersangka.”
Drian berbicara terlalu panjang dan lebar.
Aku melihat muka Niki yang matanya saat ini sedang berputar-putar karena bingung.
“Kau ingin bilang, jika kita salah sangka si penipu itu akan aman dari awal?”
“Ya, begitulah.” Drian mengangguk. “Jika kau ingin bukti, aku juga bisa menyebutkannya. Dia cukup percaya diri saat mengakui semuanya barusan.”
Semua orang menatap Erlin.
“Dia bilang si penipu itu tidak meninggalkan jejak di dalam data yang telah diubah. Kalimat ini terdengar seolah dia tidak ingin kita semua untuk mengeceknya dengan mata kita sendiri atau justru sebaliknya, membuat kita penasaran dan kehilangan arah setelah kita mengeceknya.”
Ooh, pertimbangan yang cukup dalam.
“Lalu yang kedua,”
Aku berdeham. Tolong jangan melihatku.
“Bagaimana caramu membuktikan jika seseorang sedang berbohong atau tidak ketika orang itu sejak awal memang tidak pernah membuka mulutnya sama sekali.”
Aku sedikit menunduk. Sebab inilah semua ucapanku tidak bisa diandalkan.
“Oooi, apa itu benar?” bisik Grisella di telingaku.
Aku mengangguk pelan, “mungkin.” Yah, mana kutahu.
“Kenapa kau tidak menjelaskannya?” Steven berbicara. Ia memperbaiki posisi kacamata.
“Hmm, biasanya dari gaya bicara, nada ucapan, tingkah laku, ada beberapa aspek lainnya seperti, seberapa lama ia menjawab. Bagaimana cara mulutnya terbuka. Tapi yang paling penting, biasanya dari mata mereka.”
“Ya, aku juga pernah membacanya beberapa kali di internet. Karena si penipu itu ada di antara salah satu dari kita, tidak mungkin jika dia tidak berbohong. Jika kau berkomunikasi menggunakan mesin dan yang membacakannya adalah orang lain, maka kita tidak akan pernah tahu.”
Tidak seorang pun terkejut. Mungkin karena kami semua sudah lelah.
“Dia membawa mesin aneh yang kuduga itu adalah buatannya sendiri. Jika dia ahli dalam bagian mekanik, dia juga bisa menyalin surat beserta stempelnya dengan mudah. Dia juga mengaku bahwa dia bisa melakukan hacking dan sudah melakukannya. Apa ada alasan yang cukup kuat untuk tidak memojokkannya saat ini juga dan membiarkan dia membela diri terlebih dahulu?”
Kami semua menatap pada orang yang sama. Erlin.
Gadis itu menundukkan kepala, terdiam. Karenanya aku tidak bisa melihat wajahnya yang mungil.
“B-bagaimana?” Selagi semua orang meminta penjelasan dari Erlin, Grisella yang ada di sampingku menyiku perutku.
“Uuh, berhenti bertanya!”
Tanpa perlu mengucapkannya pun aku segera menyadarinya.
“Ini hanya dugaanku saja. Dia mengaku sebagai hacker agar dia dituduh di awal. Setelah itu, dia hanya perlu menunjukkan bukti yang sudah disiapkannya bahwa dia bukanlah si penipu dari. Jadi, saat kita sedang menunjuk satu sama lain, dia akan menjadi orang pertama yang aman dari tuduhan,” tambah Drian untuk yang terakhir kalinya.
Kenapa dia selalu mengulang-ngulang kalimatnya? Ini alasan utama aku benar-benar membencinya.
“Jadi, bagaimana?” Senyum kemenangan tidak lepas dari wajah Drian. “Kami semua di sini tidak keberatan mendengarkan pembelaan diri darimu.”
Akan tetapi, Erlin tetap diam saja tidak merubah posisi tubuhnya. Entah apa yang gadis pendek itu pikirkan.
__ADS_1
***
Omg, masukin 12 orang ke dalem satu percakapan susah banget. :')