Elite School

Elite School
21


__ADS_3

Asha langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, sejak tadi Goldwin benar-benar khawatir. ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Asha, sekarang dia sedang menyetir. sedari tadi Asha memejamkan matanya berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit, Goldwin dengan cepat memarkir mobilnya dan mengantar Asha untuk di periksa.


"DOKTER!!! TOLONG PACAR SAYA!!!"-teriak Goldwin saat memasuki rumah sakit


suster yang ada di rumah sakit itu langsung membawakan Asha ranjang dorong dan mendorongnya ke dalam ruang UGD. Goldwin terus mengikuti kemana Asha dibawa, hingga akhirnya Goldwin di berhentikan di depan pintu masuk ruang UGD. Goldwin hanya bisa menatap Asha menghilang di dalam ruangan itu.


sudah 5 menit Adha di dalam, tapi dokter yang mengatasinya belum juga keluar memberi kabar. Goldwin sudah menelpon orang tua Asha dan juga Farel. sudah 5 menit juga Goldwin mondar-mandir di depan ruang UGD itu dengan dipenuhi perasaan khawatir. hingga suatu suara membuat Goldwin menoleh, ternyata Farel sudah datang.


"bagaimana keadaan Asha?"-tanya Farel


Goldwin menggeleng lesu, tandanya belum ada kabar dari dokter yang memeriksa Asha. Farel menepuk pundak sahabatnya, berharap Goldwin tidak terlalu stress memikirkan ini. tidak lama dokterpu keluar, dengan cepat Goldwin menghampirinya.


"bagaimana keadaan pacar saya dokter?"-tanya Goldwin dengan penuh kekhawatirannya


"keadaan pasian sangat tidak baik, tulang rusuknya retak mungkin ada yang menginjaknya. pasien juga kekurangan darah, gara-gara lukanya, darahnya terkuras banyak"-jelas dokter


Goldwin yang mendengar itu ingin sekali menangis saat itu juga. dia salah, dia salah karena tidak menjaga Asha dengan baik padahal dirinya sudah berjanji pada kedua orang tua Asha. Goldwin mengacak rambutnya frustasi, Farel yang juga ikut mendengar penjelasan dokter mengelus punggung Goldwin.


"jadi apa Asha butuh pendonor darah dokter?"-tanya Farel


"soal itu tidak perlu, karena rumah sakit kita masih memiliki stok darah yang mirip dengan tipe darah pasien. ohiya, pasien belum bisa diganggu dia perlu banyak istirahat keadaannya sekarang benar-benar lemah. kalau begitu saya permisi dulu"-setelah menjelaskan panjang lebar dokter pergi meninggalkan Farel dan Goldwin


setelah kepergian dokter, Goldwin terduduk lemah di bangku rumah sakit itu. kepalanya terus tertunduk menyembunyikan kesedihannya. Goldwin benar-benar merasa gagal menjaga Asha, padahal dia berencana menikahi Asha setelah lulus sekolah. Goldwin megusap wajahnya kasar, genangan airmatanya terlihat jelas jika dia tidak menunduk. sedari tadi Farel terus-terus menenangkan sahabatnya dari keterpurukan.


"Win, sudah ini bukan sepenuhnya salahmu"-Farel berusaha menenangkan Goldwin


"ini semua salahku Farel, aku tidak menjaga Asha dengan baik. akibatnya Asha jadi seperti ini, aku memang tidak becus"-Goldwin lirih


"hei! kau jangan bicara seperti itu! orang yang membully Asha yang salah, saat kau dan Asha ingin pergi orang itu pasti langsung menariknya!"-ucap Farel dengan logikanya

__ADS_1


tiba-tiba seseorang meneriaki nama Goldwin, membuat pemilik nama dan Farel menoleh keasal suara. itu adalah orang tua Asha, Goldwin sangat cemas sekarang. ia tidak tau harus mengatakan apa pada orang tua Asha.


"aku harus bilang apa Farel?"-gumam Goldwin


"bagiaman keadaan anakku?!"-ucap tante Metta


"uhm, kata dokter keadaan Asha buruk tante"-jawab Goldwin sambil menunduk


"bagaimana bisa seperti ini Win? bisakah kau menceritakannya pada tante?"-tanya tante Metta dengan penuh ke khawatiran


"maaf tante, Saya tidak bisa menjaga anak tante dengan baik. saat itu seseorang menarik Asha yang berjalan di belakangku, saya tidak tau dia siapa. maaf tidak bisa memegang janjiku pada tante"-jelas Goldwin


"siapa orang itu? tante bakal melapornya ke polisi supaya tidak ada korban lagi. Nak, bisakah kamu membantu tante mancari pelakunya?"-pinta tante Metta


Goldwin mengangkat kepalanya menatap tante Metta, ia mengira nanti tante Metta akan marah besar padanya tapi ternyata tidak. Goldwin melirik Farel, detik berikutnya Goldwin mengangguk menyetujui permintaan tante Metta. Goldwin dan Farel pamit kepada tante Metta untuk pergi ke cafe yang tadi Goldwin dan Asha datangi. mereka berdua akan mencari tau siapa pelakunya.


"aku akan meminta izin dulu kepada manager dulu, tolong tunggu sebentar"-ujar pelayan itu


Goldwin dan Farel tidak perlu menunggu terlalu lama, sekarang mereka berdua sudah berada di ruang CCTV di cafe itu. Goldwin menatap minitor computer dengan seksama supaya tidak kelewatan kejadian itu sedikitpun. akhirnya mata tajamnya menangkap sesuatu yang ganjal.


"bisa tolong Zoom bagian ini?"-tanya Goldwin penuh dengan keseriusan


"iya sebentar"-ujar security kemudian menyetel computer itu


Goldwin dan Farel memajukan wajahnya mendekati monitor computer. menatap jelas seseorang yang dengan jelas menarik paska Asha keluar dari cafe tersebut. detik berikutnya Goldwin dan Farel dibuat terkejut saat mengetahui siapa orang itu.


"terima kasih atas bantuannya pak, kami berdua sangat berterima kasih"-ujar Goldwin tersenyum ramah


"sama-sama anak muda, semoga kalian berdua cepat mendapat pelakunya"-ujar bapak security

__ADS_1


SKIP


KANTOR POLISI


Goldwin dan Farel masuk kedalam kantor polisi untuk melaporkan pelaku yang membuat Asha masuk rumah sakit. Goldwin sudah menelpon tante Metta untuk segera datang ke kantor polisi.


"ada yang bisa saya bantu?"-tanya opsir perempuan


"saya kesini ingin melaporkan kejadian pembullyan"-Goldwin enteng


"kalau begitu tolong ke ruang itu dulu, biar saya antar"-opsir perempuan


mereka berdua duduk di hadapan detektif yang bertugas menanggapi kasusu seperti pembullyan dan kekerasan.


"boleh ceritakan dan kirim buktinya?"-detektif


Goldwin dengan senantiasa menceritakan kejadiannya dari awal hingga Asha dirawat di rumah sakit. Goldwin juga memperlihatkan bukti-bukti yang dimilikinya, mulai dari rekaman CCTV, chat Asha dengan Alice, dan juga keadaan Asha di rumah sakit.


"baiklah, bukti yang kamu punya cukup kuat. apa boleh saya minta nomor telepon Alice?"-detektif


"untuk apa pak? kenapa tidak langsung menjemputnya saja di rumahnya. jika bapak telpon dia bisa kabur"-Goldwin


"kalau begitu kamu punya nomor telpon orang tuanya?"-Detektif


"punya pak, tapi tolong tangkap Alice jangan biarkan dia lolos. jika dia lolos, pasti akan membuat masalah lagi"-Goldwin memohon


"iya tenang adik, kita akan bekerja keras. berikan nomor telponnya"-detektif


singkatnya Goldwin sudah membuat laporan walau ada sedikit permasalahan tante Metta ikut membantu. sekarang Goldwin dan Farel ikut bersama polisi mendatangi rumah Alice. Goldwin tau rumah Alice jadi dia menjadi petunjuk jalan buat para polisi. tidak butuh waktu lama mereka berdua dan polisi sampai di depan rumah Alice. hanya polisi yang mengatasi penangkapan Alice, Goldwin dan Farel hanya melihat prosesnya dari jauh saja.

__ADS_1


__ADS_2