
Bisa dibilang ini volume 2 nya.
***
Selamat datang.
Itu yang diucapkan oleh … entahlah. Seperti suara perempuan sebenarnya. Sekarang sudah jam delapan pagi, jadi mungkin sambutan dari Ketua Osis. Bisa jadi juga kepala sekolah. Aku berada di depan pintu aula, jadi aku tidak tahu siapa yang membuka sambutan untuk upacara penerimaan murid baru.
Kami berdua, aku dan Liza Adriel bolos bersama. Bagaimana cara Liza menarik tanganku sebelum aku berhasil masuk ke aula utama, cukup kasar. Mengingat tubuhnya yang lemah, tindakannya sedikit mengejutkanku. Gadis berjaket biru dengan tudung itu kemudian menarikku cukup jauh dari keramaian.
“Hmm … Liza, setidaknya gunakan kata ‘tolong’ lain kali.” Aku menghela. “Aku yakin kita punya banyak waktu setelah upacara penerimaan murid baru.”
Hari pertama memang tidak terlalu penting, tapi sebisa mungkin aku tidak mau dicap pemalas oleh orang lain.
“Sayangnya masalah ini tidak bisa ditunggu. Aku punya dua pertanyaan.”
Liza tidak mengenakan hoodienya. Wajah imutnya yang pucat selalu mengkhawatirkan. Ini mengingatkanku. Wajah Liza selalu ditutup hoodie, jadi satu-satunya caraku memastikan kalau dia adalah gadis dari roknya yang pendek.
“Ray, kenapa Grisella? Kenapa tidak orang lain?”
Masalah murid tambahan, ya? Hmm …
“Kami berdua satu SMP. Grisella itu rajin. Selain itu, entah kenapa dia terobsesi untuk mengalahkanku. Jadi, aku memberinya kesempatan untuk melakukan itu. ”
Walaupun begitu, aku dan Grisella berbeda kelas. Aku baru menganggap kehadirannya ketika kami berdua berdiri saling bersebalahan di atas podium ketika upacara perpisahan.
“Bukankah orang rajin itu hebat?”
Aku menambahkan pendapatku yang kemudian diabaikan oleh Liza.
“Kau sudah meminta maaf?”
“Hmm… belum,” ucapku menoleh ke arah lain.”Uugh, aku ingin meminta maaf semalam, tapi Oliv bilang Grisella sedang menangis.”
Oliv juga bilang kalau para gadis sedang menenangkannya di asrama. Jadi, sulit bagiku untuk meminta maaf. Selain itu, Grisella adalah orang luar, aku sendiri tidak tahu kalau gadis itu masih ada di asrama atau sudah pergi.
“Kau meminta maaf tanpa rasa menyesal. Apa itu patut dilakukan?”
Entah kenapa aku tidak bisa mendengar suara pidato dari Ketua Osis. Mungkin ini terjadi karena aku memberi perhatian lebih pada Liza. Setelah memikirkannya sebentar, pertanyaannya sedikit mengangguku. Ditambah dengan cara menyampaikannya yang terang-terangan, rasa bertanya jadi bertambah dua kali lipat.
__ADS_1
“Kenapa aku harus menyesal sebelum minta maaf?”
Perasaan sesal itu sebenarnya apa? Aku kurang mengerti.
Akan tetapi, bagian yang terpenting setelah membuat kesalahan adalah, aku tahu di mana letak kesalahannya. Bukan berarti aku serius mencoba untuk memojokkan Grisella. Aku sangat paham untuk tidak pernah mengulangi hal ini yang kedua kalinya.
“Aku kagum pada logikamu itu.” Telingaku entah kenapa menganggap itu sebagai sebuah sarkas. Semenjak membicarakan Grisella, aku jadi sedikit sensitif. “Aku akan membenarkan beberapa hal.” Liza tidak mengubah ekspresi, tapi aku merasa dia merasa kasihan padaku. Menyebalkan sebenarnya.
“Cepat atau lambat kau akan melakukan hal yang sama. Ray, matamu itu sangat hebat, tapi tidak semua hal di dunia ini bisa kau lihat dan amati. Jika kau mengerti, itu akan menjadi kesalahanmu yang kedua.”
Aku masih tidak mengerti apa yang Liza inginkan dariku.
“Grisella masih ada di asrama.”
Sekarang Liza memberikan informasi yang benar-benar kubutuhkan. Kamar perempuan ada di lantai tiga, sedangkan kamar laki-laki ada di lantai dua. Sedikit sulit untuk mengunjungi Grisella karenanya.
Akan tetapi, fakta bahwa Grisella bukan murid dari sekolah ini tidak berubah. Sebelum Grisella pergi, aku berniat melakukan negosiasi dengan kepala sekolah agar Grisella bisa tetap tinggal. Anggap saja ini sebagai usaha menebus kesalahan karena aku sudah membuatnya menangis.
Untuk melakukannya, setidaknya aku butuh bantuan Liza dan Steven dalam masalah ini. Aku percaya pada Liza, tapi Steven akan membantu atau tidak hal ini juga jadi masalah. Setelah memikirkannya selama semalaman, waktu adalah masalah utama di sini. Belum lagi, ada kemungkinan kalau Grisella akan menjadi murid biasa dan bukan bagian dari kelas elit.
“Ray, kau sedang berbicara denganku. Berhenti memikirkan orang lain! Aku memberi tahu informasi ini agar kau bisa segera meminta maaf kepada Grisella.”
Kenapa Liza ingin sekali aku meminta maaf kepada Grisella? Mereka terlihat seperti sahabat baik sekarang. Bahkan belum sampai 24 jam.
Aku juga tidak bisa mengabaikan masalah Grisella. Meski ada kemungkinan kalau rencananya akan gagal, setidaknya aku harus mencoba. Sebisa mungkin, aku ingin melakukan segala cara agar Grisella tidak dikerluarkan.
“Aku berterima kasih atas informasinya, tapi—”
“Grisella tidak akan dikeluarkan.”
“... Hah?! Liza tadi … tadi kau bilang apa?”
“Apa kau kecewa karena rencana yang kau pikirkan sudah gagal?”
Liza tidak menunjukkan ekspresi yang jelas. Sulit membayangkan bahwa gadis berjaket biru itu sedang berbohong.
Grisella tidak akan dikeluarkan? Kenapa?
“Kenapa? Bagaimana caranya?”
__ADS_1
Semalam Oliv menjelaskan beberapa hal yang pasti padaku. Salah satunya adalah, Grisella pasti akan dikeluarkan. Aku juga bertanya padanya untuk menukar posisi Grisella denganku, tapi jawabannya tidak mungkin. Dengan alasan itu aku berusaha sekeras ini.
Aku menggaruk kepala. Kenapa aku tidak senang mendengar kabar sebaik itu?
“Informasi barusan tidak sepenuhnya gratis. Aku ingin menanyakan satu hal lagi padamu.” Liza menurunkan pundak. “Berbicara denganmu membuatku sedikit lelah.” Dia mengenakan hoodienya.
Sekarang masih jam delapan. Suhu udaranya tidak sepanas itu. Mungkin karena dia sudah berdiri dan berbicara lumayan lama.
“Kenapa kau melakukan ini semua?”
“Maksudmu menyelamatkan Grisella?” Alasannya tidak beda jauh. “Dia rajin, dia—”
“Kau tidak ingin menjawab?” potong Liza. “Yang kau lakukan dari tadi hanya memujinya saja. Itu tidak menjelaskan kenapa kau melakukan hal ini. Jika kau tidak ingin mengatakannya, mungkin aku akan mulai membenci Grisella.”
“…”
Logika Liza aneh, tidak masuk akal, tidak beralasan, dan tidak berhubungan. Akan tetapi …
Aku menelan ludah berat.
“Liza, kau …”
“Aku tidak menyangka kau akan setakut itu.”
“Apa semudah itu membacaku?”
“Ya, begitulah. Tapi, tenang saja, aku bercanda. Tidak mungkin bagiku untuk membenci Grisella. Kami berdua sudah jadi sahabat. Ray, aku sedikit kecewa karena kau sangat mudah disudutkan.”
Dari pada kondisi fisik, aku justru lebih mengkhawatirkan cara berpikir Liza.
“Kenapa kau berusaha keras menyelamatkan Grisella setelah menyudutkan Grisella seperti itu? Ini semua terjadi karena tindakanmu. Jika kau tidak melakukan itu, ini semua tidak akan terjadi. Aku benar-benar tidak mengerti.”
“...”
“Ray, jika kau tidak ingin menjawabnya, tidak apa. Aku tidak peduli pada jawabanmu. Alasanku menanyakannya hanya untuk meringankan beban kepalaku saja.” Liza menguap. “Aku lelah. Aku akan kembali ke asrama.”
Tanpa menunggu balasan, Liza segera pergi.
Tidak peduli pada jawabanku? Yah, kuharap aku tidak perlu menjawabnya.
__ADS_1
Upacara peresmian murid baru seharusnya masih berjalan. Tidak mungkin aku masuk ke dalam sekarang 'kan? Akan sangat memalukkan jika aku melakukannya. Aku iri, Liza bisa dengan santai pergi ke asrama. Namun, selain ke asrama, memangnya aku bisa pergi ke mana lagi?
***