
BESOK
kemarin malam, Asha menangis karena masih teringat perbincangan kekasihnya dengan wanita lain. sekarang Asha sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus, kali ini ia tidak terlambat bangun lagi. ia berharap hari ini Goldwin tidak menjemputnya karena Asha tidak ingin menemuinya kali ini. tapi harapan Asha tidak terkabulkan, saat ingin keluar dari kamarnya tante Metta berteriak.
"SHA!! KAMU UDAH SIAP BELUM? GOLDWIN UDAH DATANG!!"-teriak tante Metta
tanpa menjawab Asha langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri Goldwin. sebelumnya ia mengambil roti terlebih dahulu dan berjalan keluar tanpa menyapa Goldwin. di perjalanan, Asha lebih banyak memainkan handphonenya membuat Goldwin heran.
"Sha, kamu kenapa diam aja?"-tanya Goldwin
"gak papa"-jawab singkat Asha
"ada masalah ya?"-tanya Goldwin lagi
"gak"-jawab Asha
"aku ada salah sama kamu?"-Goldwin
"ck, gak! udah deh, nyetir aja nanti aku telat!"-Asha jutek
Goldwin diam, ia langaung fokus menyetir sedangkan Asha kembali memainkan handphonenya. tidak lama mereka sudah sampai di depan gedung jurusan Asha. tanpa pamit Asha labgsung saja keluar dari mobil Goldwin. pria itu sudah mengangkat tangannya untuk melambai tapi Asha sudah terlanjur masuk kedalam gedung jurusannya.
SKIP
Asha dan kedua temannya sedang mengobrol tentang masalah Asha dan Goldwin. saat pertama mendengarnya mulai memaki Goldwin. seperti sekarang, mereka berdua sedang heboh menceritakan Goldwin dan memberikan Asha semangat.
"Sha! apa kita harus melabrak Goldwin?!"-tanya Ayumi
"tidak usah"-jawab Asha lesuh
"Sha! kau jangan begini! kau harus tegar, kau masih punya kita!"-ucap Ayumi
Asha yang mendengarnya cuma bisa menghela napas, tiba-tiba saja ia mengingat perkataan wanita itu dan akhirnya Asha menangis lagi.
"Sha! kau jangan begini, aku dan Ayumi juga ikut sdih!"-ucap Hayoon sambil mengelus punggung Asha
"aku harus bangaimana? aku tidak tau harus bangaimana lagi!!"-ujar Asha di sela-sela menangisnya
saat Hayoon menenangkan Asha, Felix pacar Hayoon datang menjemputnya. akhirnya hanya Ayumi dan Asha saja di kantin kampus. Asha sudah tidak menangis lagi, tapi matanya sembab akibat menangis. Ayumi tapi sudah pamit pulang karena sudah dijemput oleh kakaknya. Asha berjalan keluar gedung, ia tidak lagi ke gedung jurusan Goldwin. Asha ingin pulang sendiri saja, Asha menunduk lemas dan menendang kerikil yang ada di pinggir jalan. tiba-tiba ada yang memanggil Asha dengan suara lantangnya.
"ALEASHA!!!!"-teriak orang itu
Asha langsung menoleh ke belakangnya, ternyata dia adalah teman sejurusan Asha.
"Galen? kenapa?"-tanya Asha
"Emm, kau pulang sendiri? Goldwin?"-tanya Galen dan berjalan di samping Asha
"pengen sendiri"-jawab Asha kembali lesuh
"kau ada masalah ya dengannya?"-tanya Galen
Asha hanya mengangguk sebagai jawaban, dan Galen juga melakukan hal yang sama. tiba-tiba Galen berhenti dan membuat Asha ikut berhenti.
"kenapa?"-tanya Asha
__ADS_1
"Asha, kalo kau punya masalah aku bisa menjadi sandaranmu walaupun aku menyukaimu"-jaab Galen
Asha hanya bisa diam dan berusaha mencerna apa yang Galen katakan.
"sejak kapan?"-tanya Asha ragu
"udah lama. Uhm, boleh aku memelukmu? siapa tau dengan pelukan hangat kau bisa merasa tenang"-ujar Galen ragu-ragu sambil menggaruk tekuknya yang tidak gatal
Asha tersenyum lalu sedetik berukutnya ia mengangguk. Asha perlahan berjalan mendekati Galen dan memeluknya. benar saja dipelukan ini, ia merasa nyaman dan tenang hingga tidak sadar jika dia sudah menangis. Asha menenggelamkan kepalanya di dada bidang Galen sambil menangis. Galen mengusap punggung Asha berusaha mennenangkan wanita rapuh itu.
"kau boleh mengeluarkan semuanya Sha. menangislah sampai kau merasa sudah lega, aku tau rasanya"-ujar Galen lirih
tapi belum juga Asha selesai menangis tiba-tiba ada yang menaiknya kasar hingga pelukan mereka terlepas. Asha buru-buru menghapus airmatanya, dan menatap siapa yang menariknya.
"kenapa kau memeluk pacarku hah?!"-tanya Goldwin nyalang
"aku hanya ingin menenangkannya"-jawab Galen
tanpa menanggapi Galen, Goldwin menarik kasar Asha menjauh dari tempat itu.
"Goldwin lepas! tanganku sakit!!"-teriak Asha
Goldwin menghempias tangan Asha dan membalikkan tubuhnya menghadap Asha.
"siapa dia?"-tanya Goldwin dingin
"temanku"-jawab Asha singkat
"kau ada masalah?"-tanya Goldwin dingin
"tidak"-jawab Asha
"tidak perlu"-Asha
"ASHA!! KAU INI KENAPA?!"-teriak Goldwin karena sudah kehilangan kesabaran
"tidak apa"-Asha
"kau selingkuh dengannya?"-tanya Goldwin
Asha langsung menatap Goldwin tidak percaya, sedangkan lawan bicara menatap Asha tajam.
"kau bicara apa?! tentu saja tidak!!"-elak Asha
"jika kau sudah bosan denganku bilang! jangan main belakang seperti ini!"-bentak Goldwin
"SEHARUSNYA AKU YANG TANYA SEPERTI ITU!!! KAU SELINGKUH DENGAN WANITA LAIN HAH?!"-teriak Asha yang sudah tidak tahan dengan sikap Goldwin yang menuduhnya sembarangan
Goldwin diam saja, ia tidak tau harus menjawab apa. Asha yang menyadari diamnya Goldwin hanya bisa tertawa remeh sambil menggelengkan kepalanya.
"lihat? kau hanya diam! apa aku benar?"-Asha
"JANGAN MENUDUHKU!!"-elak Goldwin
"ASAL KAU TAU WIN! AKU SUDAH TAU SEMUANYA! SAAT KEMARIN AKU KE GEDUNG JURUSANMU AKU MENDENGAR SEMUANYA!"-Asha menangis
__ADS_1
"KAU MENGHAMILINYA! SELAMA INI KAU BERMAIN DENGAN WANITA LAIN DIBELAKANGKU?!"-Asha
"SAAT KAU TIDAK ADA WAKTU DENGANKU KAU BERSAMANYA?!"-Asha
"APA DIA ****** YANG KAU TEM–"-Asha
PLAK!
Goldwin menampar Asha dengan santainya entah kenapa. Asha hanya bisa memegang pipinya yang sudah panas karena tamparan yang Goldwin berikan. Asha menatap Goldwin dengan mata yang sudah digenangi oleh air matanya.
"Goldwin?"-panggil Asha lirih
"JAGA UCAPANMU ASHA!!"-bentak Goldwin
"kenapa?"-Asha
"JANGAN MEMANGGILNYA ******!!! KARENA DIA BUKAN ORANG SEPERTIMU!!"-Goldwin
"kau membelanya? kau membela orang yang membuatmu seperti ini? KENAPA?!"-Asha menangis keras
"karna aku suka sama dia!"-Goldwin
"begitukah? kalau begitu kita putus saja"-putus Asha cepat
Asha berjalan meninggalkan Goldwin yang menatap kepergiannya. setiap Asha melangkah dia mengeluarkan isakan penuh kesedihannya. karena airmatanya yang menghalangi pandangannya ia terjatuh. tapi ia bangkit lagi dan berjalan pergi, Goldwin hanya diam di tempatnya. ada rasa tidak rela dihatinya, entah darimana kata-kata menyakitkan buat Asha itu keluar dari mulutnya.
SKIP
Asha memasuki rumahnya dengan tatapan kosong dengan mata yang sembab. lututnya berdarah karena terjatuh, dan dengan perasaan yang buruk. tante Metta yang melihat keadaan anaknya terkejut dan menghampiri anaknya.
"Sha, kau kenapa?"-tanya tante Metta khawatir
"mah"-Asha memeluk tante Metta dan menangis kembali
"Kenapa? cerita sama mama"-tante Metta
"mah, Asha tidak mau jatuh cinta lagi hiks"-Asha
"loh? kenapa sayang? kamu sama Goldwin bertengkar ya?"-tante Metta
"Goldwin milih cewek lain daripada Asha mah"-Asha
"kenapa gitu?"-tante Metta
"kata ceweknya dia hamil mah Asha harus gimana?"-Asha
"ikhlasin ya nak, anak dari cewek itu butuh ayahnya. pasti kamu dapat cowok yang lebih sayang sama kamu, lebih baik dari Goldwin, dan juga lebih setia daripada Goldwin. atau pengen mama kenalin anak sahabat mama aja? atau mama jodohin aja kamu sama dia?"-tante Metta
"gak mau mah, Asha gak mau"-tolak Asha
"tapi Goldwin gak bisa ninggalin kewajibannya jaga cewek itu. dia harus ngejaga anaknya dan hidup bahagia juga sama kayak kamu nanti"-tante Metta
"tapi nanti orangnya gak suka sama Asha kalo terus-terusan nangisin cowok lain gimana mah?"-Asha
"tidak bakal, mama yakin cowok itu bisa jadi sandaran kamu. dia juga pasti bisa buat kamu lupain Goldwin dengan cepat. mama yakin"-tante Metta
__ADS_1
Asha menyetujui apa kata mamanya, apa yang mamanya katakan benar. Asha tidak boleh terlalu bersedih karena masalah ini, Asha harus bangkit dan membuat esok menjadi lebih baik dari sekarang. Asha dan cowok itu akan dipertemukan saat makan malam besok dengan keluarga cowok.
'aku tidak boleh lemah, masih ada hari esok yang harus kuhadapi, perjalanan hidupku masih panjang. aku tidak boleh putus asa karena masalah seperti ini, aku harus lebih baik daripada aku yang kemarin" -batin Asha semangat