
Selepas mereka makan Arin dan Zirapun kembali kekelas yang langsung dimasuki oleh guru,guru itu memberi tahu bahwa guru akan mengadakan rapat jadi para murid dipersilahkan untuk pulang kerumahnya masing-masing,mendengar pengumuman itu serontak semua anak yang berada dikelas teriak riang sembari memasukan buku kedalam tas mereka .Arin langsung menuju parkiran dan langsung menghidupkan motornya,dan tak seperti biasa Juna hari ini tak membawa motornya ,Arin yang melihat dari kejahuan bahwa Juna tengah menunggu angkutan umum,Arin yang mengingat kebaikan yang telah dilakukan Juna padanya langsung menghampirinya dan berkata"Ehemm,mau pulang bareng nggak"tawar Arin.
"Masa iya ,cewek yang ngeboncengin cowok".
"Kalo lho gak mau yaudah" ancam Arin.
"Iya-iya ,tapi gue yang bawa motornya".
"Terserah lho nih".
"Gitu dong".
Arinpun kini mengubah posisi duduk dan sekarang Juna berada didepan Arin , merekapun memulai perjalanannya ,Arin dibuat binggung oleh Juna karena Juna membawanya pada arah dimana rumah Arin berada.
"Inikan jalan kerumah gue"ucap Arin.
"Emang iya".
"Lah kenapa".
"Gak papa".
Akhirnya sampai kerumah Arin ,Arin bertambah bingungkarena motor Juna telah berada disana .
"Nih motor lho" seru Arin.
"Iya ,gue sengaja supaya bisa pulang bareng lho,jadi gue suruh orang buat anter motor gue kerumah lho sebelum kita pulang sekolah".
"Dasar buaya darat".
"Lho kenapa sih gue cuman mau temenan doang susah amat".
"Gue gak yakin".
"Apa jangan-jangan lho selama ini baper ya".
"Idih,amit-amit".
"Tapi perkiraan gue benerkan,lho pasti ngampirin gue".
"Itu cuman gue kesian ngeliat lho tadi".
"Massak".
__ADS_1
"Iyalah".
"Gak usah bohong,lho senengkan pulang bareng gue".
"lho keras kepala ya"Setelah mengucapkan itu Arin langsung masuk kedalam rumahnya ,sedangkan Juna hanya tersenyum simpul melihatnya.
Arin mendapatkan pesan dari Juna yang berisikan sebuah kalimat" Pegang dada lho ,entar jantung lho copot lagi" Arin yang membaca itu langsung memegang dadanya dan benar jantungnya terasa ingin lepas.
Juna juga langsung pergi dari rumah Arin setelah mengirim pesan pada Arin dan pulang kerumahnya.
Dijalan tiba-tiba kepala Juna merasakan pusing yang sangat tak tertahan ,motor Juna terbalik dan Juna pingsan ,warga yang melihat kejadian itulangsung menghampiri Juna dan langsung membawa kerumah sakit,salah satu warga yang mengambil dompet Juna dan melihat kartu pelajarnya an lalu ia mengambil ponsel Juna dan melihat nama Arin yang baru saja dikirimi sebuah pesan ,orang itu menyangkan Arin adalah salah satu keluarganya,dan orang itupun menelphon Arin .
"Halo ini dengan keluarganya Juna Nabhanriel saya ingin memberitahukan bahwa Juna masuk rumah sakit ,karena warga menemukan ia tergeletak ditengah jalan" ucap warga itu tanpa mendengarkan balasan Arin lalu mematikan ponselnya.
Arin yang percaya dan sedikit panik langsung pergi kealamat yang diberitahukan tanpa mengganti pakaiannya,sesampainya disana Arin langsung menuju ruangan 175,dan menemukan tak ada orang selain Juna yang terbaring lemas.Arin duduk disebelah Juna dan menatapi wajan tampan nan rupawan sosok Juna Nabhanriel yang selalu membuatnya merasa aneh dan Arinpun berkata "Coba aja nih cowok gak ngeselin,pasti..." .Arin tak tau bahwa Juna telah bangun dari pingsannya dan hanya betistirahat saja .
"Pasti apa kalo gue gak ngeselin ,apa lho mau jadi cewek gue" potong Juna yang masih terpejam.
"A-a-apaan sih lho,lagi sakit masih aja kepe-dean".
"Sekhawatir itu ya lho sama gue,sampe-sampe lho belum sempet ganti baju,langsung ngejenguk gue".
"Gue bukannya khawatir sama lho".
" G-g-gue sabagai manusia sekaligus temen harus peduli sama kondisi lho".
"Oh jadi sekarang ,gue udah jadi temen lho nih ceritanya".
"Ya enggak" jawab Arin salah tingkah.
Kini suasana rumah sakit menjadi hening dengan ditemani rasa hangat karena matahari diluar sana yang sangat menyengat, tak ada pembicaraan ataupun kontak mata antara mereka ,tak ada yang berani memulai topik pembicaraan .
"Oh iya ,gue_.." ucap Arin dan Juna bersamaan.
"Lho dulu aja" ucap mereka bersamaan lagi.
"Keknya kita ada ikatan batin deh "seru Juna.
"Kalo gue mah ,ada tekanan batin karena lho" balas Arin.
"Lho mau ngomong apa " Ujar Juna.
"Gue cuman mau nanya kenapa orang pada nelphon gue ,ngasih tau kalo lho kecelakaan ,kenapa gak hubungin keluarga lho aja" tanya Arin.
__ADS_1
"Ya mana gue tau".
"Jangan-jangan lho yang suruh lagi" tuduh Arin.
"Dih,enak aja" balas Juna.
Merekapun saling terdiam kembali seperti semula,tak ada topik yang ingin dibicarakan ,sekali mereka bicara bukannya berbicara seperti orang pada umumnya malah menjadi pertengkaran,Jika mereka bertemu tentu pasti ada keributan antara mereka ,dan sekarang mereka memilih untuk diam ,sampai pada akhirnya seorang suster masuk membawakan makanan untuk Juna karena ini sudah waktunya makan siang.
"Ini waktunya pasien makan ,mari pak "ucap suster yang mengajak Juna untuk makan.
"Hahhahha lho dipanggil bapak " tawa Arin yang dilihati Juna.
"Biarin pacar saya aja sus ,yang nyuapinnya" timbal Juna tersenyum miring yang membuat mata Arin melotot.
"Oh,baik pak, nih mbak" ujar suster memberikan makanannya kepada Arin yang disambut Arin ,lalu suster itu keluar ruangan.
"Mampus lho".
"Lho apa-apaan sih,ngomong kek gitu sama suster tadi" seru Arin emosi.
"Ya kan gue mintak tolong ,salah siapa ngejek gue".
"Kenapa gak sama suster yang tadi aja,pakek bilang gue pacar lho lagi"kesal Arin pada Juna.
"Kalo gue maunya samo lho gimana,gue kan cuman iseng aja bilang kalo lho pacar gue mau liat ekspresi lho ,dan kata orang sih omongan itu adalah do'a ".
"Ya guenya gak mau".
"Kalo lho gak mau ,gue juga gak mau makan".
"Kok lho jadi kek anak kecil gini sih,intinya gue gak mau".
"Yaudah ".
Junapun memegang perkataannya ,ia tidak makan sampai Arin mau menyuapinya, 30 menit telah berlalu Arin tak kunjung memberikan tawaran yang diinginkan Juna, sesekali Arin dan Juna mempertemukan mata mereka.1 jam tak terasa terlewatkan kini jam telah menunjukan pukul 14.00,jam makan siangpun telah terlewatkan,Arin masih gigih dengan keegoisannya ketika hampir 2 jam menunggu ,Arin menatap kearah Juna dan juga sebaliknya ,lalu tiba-tiba Ari. keluar dari ruangan Juna dengan raut wajah kesal,Juna yang melihatnya hanya menatapnya dengan wajah datar tetapi tatapan yang segudang makna.
Seketika Arin masuk kembali membawa sebuah kantung putih dan berkata "Nih makan , makanan yang tadi mungkin udah dingin " ternyata Arin pergi untuk membelikan makanan yang baru untuk Juna.
"Tapi lho kan yang_....".
"Iya-iya gue yang suapin ,gue gak akan biarin anak orang mati cuman gara-gara kelaperan"potong Arin yang sedikit memaksakan dirinya untuk mengatakan hal itu.
Juna yang mendengarnya langsung tersenyum simpul dan mumbuat posisi duduk,Arinpun duduk disamping ranjang Juna dan mulai menyuapinya,Juna yang terus menatap Arin membuat Arin menjadi tak nyaman.
__ADS_1