Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 8


__ADS_3

"Gue sampe sekarang gak percaya kalo cinta itu ada" jawab Arin lemas.


"Sebertar lagi pasti lho percaya,yang lho butuhin cuman ruang dan waktu, lagian gue cuman iseng aja nanya jangan lho anggep serius omongan gue ".


Tak terlalau mengartikan perkataan Juna ,Arin merasa otaknya sudah mulai membeku beriring dengan makin derasnya tetesan hujan yang menyentuh tanah.Melihat Arin yang pucat ,Juna menaiki motornya dan pergi tanpa mengatakan pada Arin akan pergi kemana begitu pula dengan Arin yang tak menanyakan Juna akan pergi kemana dia. Tak selang waktu lama Juna datang membawakan sebuah mantel berwarna coklat dan berbulu,meminta Arin untuk memakainya dan juga Juna membelikan susu jahe untuk mengangatkan badan Arin ,karena akan butuh waktu yang cukup lama jika Juna membuatkannya lagi.


"Nih minum" tawar Juna yang tak ditolak Arin dan langsung meminumnya seperti tak mengenal arti kembung tak sampai satu menit atau bahkan tak sampai tiga puluh detik Arin telah mengosongkan cangkir yang tadinya berisikan minuman favorit Arin.


"Mendingan gak".


"Ummm" ucapnya menganggukan kepala.


"Lho gak kedinginan ?" tanya Arin yang baru menyadari bahwa Juna hanya memakai seragam sekolah.


"Udah biasa".


"Thanks ya ".


"Untuk pertama kalinya nih lho bilang makasih ke gue".


"Kek apa aja".


Hujan pun perlahan mereda tetapi tak dengan Hawa dingin yang masih membuat sekujur tubuh gemetar ,mungkin mata air di dunia saja ikut dingin karenanya.


"Mau pulang sekarang" tanya Juna.


"Boleh "jawab Arin yang melihat Juna yang menyembunyikan bahwa ia sebenarnya telah menggigil.


"Yuk".


"Tapi lho minum kopi anget dulu baru gue mau dianter pulang sama lho".


"Tapi gue nggak suka kopi".


"Ya udah teh anget aja".

__ADS_1


"Mas ,teh anget nya satu "pesan Juna.


Setelah teh hangat datang Juna langsung meminumnya, Mereka pun pulang lebih tepatnya menghantar Juna menghantar Arin pulang lebih dulu ,dengan jalan yang ditunjukkan Arin. Di tengah perjalanan "Jangan tidur" ucap Juna mengingat kejadian sebelumnya di mana Arin tidur di atas motor.


"Bisa-bisanya lho tidur di atas motor" ejek Juna terkekeh.


"Gue nggak bisa nahan ngantuk Juna Nabhanriel".


"Tahu dari mana lo nama asli gue".


"Instagram lho lah".


"Kirain lo nyari tahu sendiri ".


"Dih,udah fokus aja nyetirnya nanti nabrak baru tau rasa".


"Eh Rin lho gak baperkan sama omongan gue ,entar lho baper lagi ".


"Ya enggak lah ,ngapin baper sama lho ".


Menatap hanya kedepan dan hanya fokus pada jalanan yang kini dilakukan Juna..


" Di sini" ucap Juna setelah Arin memintannya berhenti didepan sebuah rumah yang itu adalah rumah Arin.


"Yes ".


"Ya udah".


"Thanks ya".


"Dua kali nih ,makasihnya".


"Itung aja terus" seru Arin yang langsung mengembalikan helm milik Juna dan membalikan badannya ,berjaan memasuki rumahnya ,menutup pintu tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.Menghentakkan kakinya disetiap anak tangga dan tepat pada anak tangga yang ke sebelas,"Duh ,sial" Arin kembali menuruni tangga kembali membuka pintu dan telah melihat bahwa Juna tak ada lagi disana "Jaketnya" gumam Arin. Memakai jaket dan mantel yang dibelikan Jina membuat badan Arin menjadi dua kali lebih besar.


Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna biru dan melepaskan mantel dan jaket yang tadi ia pakai ,dan berlanjut memainkan ponselnya ,tak tau apayang dia lihat dan ternyata.

__ADS_1


-"Hujan ,thank you ,karenamu hariku terasa cerah ,karenamu dua jam dalam hidupku sangat berharga,bersama wanita yang mungkin Tuhan sendiri membutuhkan waktu yang lama untuk menciptakanya,kau tau kupu-kupu ,bahkan ia lebih indah dari pada itu, tetapi sayangnya dia adalah wanita yang bersikap selayaknya es ,dingin dan keras, tapi tak masalah aku disini sebagai matahari yang akan mencairkan dan menghangatkannya"-


...# masih benci sama matahari ? Juna Nabhanriel #....


Postingan yang dilihat Arin dan menampakan bahwa postingan itu baru saja dibuat oleh juna ."Tau dari mana dia kalo gue benci matahari " batin Arin "Kok gue jadi


ge-er sih ,siapa tau dia cuman iseng aja" ujar Arin.


Meminum secangkir susu jahe hangat kini yang dilakukan Juna, berdiri didepan jendela melihati embun yang ada dikaca karena hujan yang masih membekas,berbeda dengan Arin ,Juna telah mengganti pakaiannya yang sebelumnya telah basah ditimpa rintihan hujan yang sangat bersahabat.Tak terasa kini telah berganti hari ,entah mengapa hari ini Arin tak ingin masuk sekolah ,Arin merencanakan akan pergi kedanau pada sore hari nanti,sendiri bersama suara air yang mengalir membuat pikiran tenang .Kota bukanlah tempat yang cocok untuk gadis seperti Arin,mungkin suasana pedesaan lebih serasi untuknya,suara kicauan burung dipagi hari,tak butuh alarm karena ayam telah setia dipagi hari,dan tak perlu kipas karena hawa disana sangatlah sejuk,hijaunya pemandangan disana tak akan membuat mata bosan memandanginya setiap saat .


"...Kamis ,cepatlah berlalu, aku ingin segera datang pada Jum'at,entah ada apa disana ,aku tak sabar menantinya,aku merasa disana ada ruang yang bisa mengubah hidupku,tetapi apalah daya waktu yang seperti tak mengizinkan semua itu terjadi...".


...#Help me bringarin star .Arin Orcherivya Artaska#....


Postingan yang dibuat Arin karena menyesal tak masuk sekolah.Kini Arin menunggu didalam kamarnya ,mununggu jarum jam menunjukkan pukul 15.00 dan sekarang masih pukul 14.25,masih 35 menit terasa .menunggu 5 jam."Sangatlah membosankan"mungkin kata-kata itu yang berada dalam batin Arin, bersiap-siap sembari waktu yang perlahan terus berjalan,kini dengan perlahan pula matahari pergi dari atas sana,menuruni anak tangga dan tak menghiraukan mamanya yang sedari tadi terus memanggilnya,sebagaimana halnya orang tuanya yang tak menghiraukan Arin selama 6 tahun terakhir ini.Kini mata Arin disambut dengan indahnya danau yang nan indah ,duduk diatas bebatuan dan memainkan air selayaknya anak kecil .


"Lho suka kesini juga " sahut Juna.


"Iya" Jawab Arin polos yang belum menyadari bahwa itu adalah Juna.


"Kalo gitu gue boleh ikut".


"Kok lho ada disini" seru Arin menghadap ke Juna.


"Bosen aja".


"Dasar cowok gak jelas,kadang baik kadang aneh kadang ngeselin kadang ngegombal ,yaa walaupun gue gak baper tapi tetep aja aneh".


Arin masih fokus bermain dengan jernihnya air danau meski Juna berada disana ,kini Arin tak terganggu dengan kehadiran Juna yang tengah duduk disebelahnya.


"Kasian airnya ,kalah bersih sama hati lho".


"Kasian juga sama batunya kalah keras ama kepala lho" ledek Arin.


"Gak mau kalah nih ceritannya".

__ADS_1


"Lagian lho pakek acara kesini segala" ucap Arin yang tak tau padahal danau juga tempat kesukaan Juna.


Senja dengan jingganya kini perlahan memudar , dan sebentar lagi bulan akan menggantikan tempatnya,mungkin tinggal beberapa hitungan jam,dan sampai sekarang Juna masih bersama Arin yang duduk diatas batu dan sesekali memainkan air,mungkin tangan Arin telah dingin dan menjadi keriput.


__ADS_2