
Juna dan Arin juga teringat sesuatu dimana mereka juga pernah melakukan hal yang sama dimana mereka bersama membuat perminyaan dan menerbangkan lentera di saat senja hampir tenggelam.
"Rin lho inget gak " tanya Juna.
"Ya ingetlah jaman dimana lho ngeselin banget " jawab Arin.
"Bening baget airnya " seru Zira.
"Gak salah gue pilih nih tempat" timbal Reza.
Mereka bersenang-senang disana sampai cukup lama dan sampai pada saatnya kaki Zira yang mungkin terkena batu tajam yang akhirnya kaki Zira berdarah yang daranhnya lumayan banyak,Arin membawanya ketepian dan mengobatinya dan untungnya Arin membawa alat P3K, Arin lukanya mengobatinya sampai darahnya benar-benar tidak mengalir lagi lalu memasangkan handsaplast.
"Makanya ati-ati" ujar Arin seraya mengobati.
"Aww" sakit Zira.
Dengan kejadian itu mereka semua menyudahkan bermain disungai dan kembali menelusuri hutan sembari mencari kayu bakar ditengah perjalanan mereka beristirahat sebentar karena telah berjalan cukup lama,dan Zira masih berjalan dengan bantuan Arin karena kakinya terluka.
"Masih sakit gak " tanya Arin.
"Rin sorry ya ,gue jadi nyusahin lho ".
"Gue nanya masih sakit gak bukannya gue bilang lho nyusahin gue,lho gimana sih ".
"Masih, sakit sedikit" jawab Zira.
Amar dan Juna memandangi Arin yang sangat tulus dalam persahabatan .
"Baik baget nih cewek,tapi dia gak bisa ngungkapin kalo dia bener-bener sayang sama temen-temennya" batin Juna.
"Mau lanjut gak ? " tanya Juna.
"Yuk nanti keburu siang kan panas" jawab Arin.
"Ini jam berapa sih ?" tanya Reza.
"Ini udah jam 09.45" jawab Amar.
Mereka melanjutkan perjalananya karena mereka tak kunjung menemukan kayu bakar .
"Bisa nggak " ucap Arin membantu Zira berdiri.
"Bisa-bisa" balas Zira.
"Mar-mar dibelakang lho ada ular " ucap Arin yang melihat pohon dibelakang Amar ada ular.
Amarpun mencari ranting dan melemparnya jauh dari tempat mereka berada.
Kembali berjalan dan akhirnya menemukan kayu bakar Juna,Amar dan Boby memikul kayu bakar sedangkan Reza membantu Arin untuk membantu Zira berjalan .
Juna memberi kode pada Reza untunk menggantikan Arin dan Reza akhirnya dapat mengerti.
"Eh ,Rin biar gue aja,lho istirahat dulu aja mungkin lho capek " Seru Reza.
"Udah gak papa".
__ADS_1
"Iya Rin biar Reza aja ? " lanjut Zira.
"Yaudah deh" seru Arin melepaskan rangkulan Zira.
"Sini biar gue bantu angkatin" minta Arin pada Juna.
"Apaan sih orang nyuruh lho buat istirahat ,malah mau angkat kayu ,gimana sih" jawab Juna.
"Iya Rin lho istirahat aja dulu,biarin mereka aja yang angkat" seru Zira.
"Tuh dengerin kata sahabat lho, lho bantu dia tapi lho nyusahin badan lho sendiri " lontar Juna.
"Iya-iya".
Hari menjadi semakin panas dan untungnya mereka ditutupi dengan rindangnya pohon yang membuat mereka tetap terasa sejuk dan mereka memutuskan untuk pulang ketenda .
Dan mereka memasak karena dari pagi mereka belum makan apapun karena tak ada makanan lain mereka kembali memasak mie instan dan membuat susu hangat.
Arin mendudukan Zira ditenda dan membiarkannya beristirahat ketika makanan siap Arin lebih dulu memberikannya kepada Zira lalu mereka makan seperti tadi malam yaitu duduk melingkar.
Mereka memilih untuk tidur siang karena mereka kekurangan tidur tadi malam,saat semuanya memasuki tenda Arin dan Juna masih duduk diluar.
"Jun " panggil Arin yang melihat Juna tengah mengatur senar gitar.
"Apa" sahut Juna.
"Lho gak tidur ?".
"Gue gak biasa tidur siang".
"Umm,Rin lho itu kebuat dari apa sih "tanya Juna.
"Ya.. gue manusia ,pasti terbuat dari tanahlah".
"Tapi hati lho ,mungkin kebuat dari mutiara atau permata ,gue baru nemuin cewek kek lho,yang gak pandang harta kalo temenan,ngomong asal jeplak aja kagak difilter dulu ,apalagi sikap lho gak bisa diprediksi kadang cuek kadang asik kadang marahan tapi dibalik itu semua ada sosok wanita yang hanya ingin membuat orang terdekatnya ngerasa aman dan bahagia" ucap Juna.
"Gue juga baru kali ini ketemu cowok yang baik kesemua orang meski baru dikenal dan pertama gue sangka lho itu cuman cowok murahan yang bisanya cuman gombalin seluruh cewek dan pada akhirnya gue baru tau dibalik sikap ngeselin lho ada sosok pria yang baik".
"Pasti orang tua lho bangga punya anak kek lho" mendengar ucapan Juna Arin terdiam.
"Gue gak yakin mereka bangga,lho tau nggak bayaklah waktu yang gue habisin sama temen-temen gue ketimbang sama bokap nyokap gue dan untungnya gue ada temen yang bisa ngebuat gue ngelupain masalah hidup gue".
"Owhhh ,sorry ya Rin ,gue gak bermaksud".
"It's ok".
"Bener kata orang , orang yang paling banyak tertawa adalah orang yang sama yang mempunyai masalah" batin Juna.
"Gue beresin dulu " ujar Arin yang hendak membereskan panci bekas mereka memasak tadi sementara Juna melanjutkan membenahi senar gitar.
"Awww " rintih Arin lalu menutup mulutnya karena takut temannya terbangunkan ,panci yang ia kira telah dingin ternyata masih sangat panas dan membuat kulitnya melepuh Juna yang melihat itu langsung menghampiri Arin dan langsung merebut tangannya dan meniupinya.
Arin yang melihat kepedulian itu menatapi Juna yang terlihat sangat khawatir.
"Huuuhhuuu" tiup Juna.
__ADS_1
"Lho tunggu disini " ucap Juna pergi mengambil pasta gigi dan menaruhnya pada kulit Arin yang melepuh.
"Udah biar gue aja yang beresin ,lho duduk aja".
Arinpun duduk dan Juna yang membereskannya setelah selesai Juna kembali menghampiri Arin.
"Lho khawatir yaaa" goda Arin.
"Gue cuman ngelakuin kewajiban gue sebagai temen lho ,kek apa yang lho lakuin ke temen lho yang lainnya" jawab Juna.
"Owhh,gue pikir lho khawatir".
"Ya kali ge-eran amat sih lho".
"Lho bisa main gitar gak ?" tanya Juna.
"Nggakk hehhe " jawab Arin.
"Mau gue ajarin gak " tawar Juna.
"Boleh ".
"Nih " beri Juna.
"Terus kek mana ?".
"Tangan lho pindain kesitu " Arah Juna.
"Kesini" balas Arin.
"Bukan satu dibawah satunya diatasnya ".
"Gini " Kira Arin.
"Bukan".
"Lho kalo ngajarin yang bener dong" rutuh Arin.
"Sini " Juna pindah kebelakang Arin dan mengarahi tangan Arin dari belakang bersama dengan tangannya.
"Tangan lho gini ,terus pindahin tapi agak cepetan" ajar Juna yang masih memegang tangan Arin walau itu memang pada dasarnya hanya berniat mengajari Arin bukan berniat untuk hal yang lain.
"Ohhhh ,gituuu" balas Arin mengangguk.
"Kek gini aja massak susah" seru Juna yang masih mengajari Arin dari belakang.
"Ehemm keknya lengket banget tuh tangan" ledek Arin lalu Juna melepaskan tangannya.
"Katanya minta diajarin".
"Ya gue cuman becanda doang kaliii".
Perlahan Arin sudah sedikit mengerti apa yang diajarkan Juna.
"Coba ulangin " pinta Juna.
__ADS_1
"Oke" jawab Arin menurut dan sama persis seperti yang di ajarkan Juna padanya.