Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 6


__ADS_3

"Lho" ucap Arin menunjuk wajah Juna.


"Biasa aja dong" lontar Juna menepis lembut tangan Arin.


"Udah sekarang lho jujur aja deh ,lho ngikutin gue kan ".


"Kalo iya kenapa ?".


"Kalo iya,mendingan sekarang lho cari cewek lain yang bisa buat lho sibuk seharian".


"Gue ngikutin lho ,karena Tuhan ngehendakin itu".


"Sttt,gue gak mau denger intinya lho cabut sekarang".


"Kalo gue gak mau gimana ?".


"Kalo lho gak mau,gue yang pergi".


"Tinggal ikutin aja ,susah amat".


"Pasti gue kemaren mimpi kiamat, sampe harus ketemu cowok kek lho".


"Berarti kita sekarang disurga dong".


"Kalo sama lho berarti dineraka".


Arin melepas sepatu rodanya dan menggantinya dengan sepatu yang biasa ia kenakan,berjalan mengelilingi taman bersama Juna yang mengikutinya seperti uang dia bilang.Berjalan dibawah rindangnya pepohonan dan dikelilingi bunga-bunga yang bermekaran yang dikelilingi kupu-kupu nan indah,seperti bayangan yang mengikuti kini Junah tepat berdiri dibelakang kanan Arin,ditengah perjalanan Arin menguncir rambutnya yang tadinya terurai.


"Eh,tadi ada pelangi ya"lontar Juna tiba-tiba dan Arin terhenti memutar badannya dan kini menghadap Juna.


"Ada bidadari yang ketinggalan"lontar Juna seraya menatap langit dan tersenyum tipis.


Mendengar ucapan Juna Arin kembli membalikan badannya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya yang jika diartikan "Stres nih cowok" ,terus berjalan melangkah hanya kedean tanpa menoleh kebelakang,hendak memasang kembali haedsetnya ,tiba-tiba terhenti dengan ucapan Juna"Jangan dengerin musik kalo lagi jalan ,bahaya !" Arinpun langsung mengantungkan haedsetnya pada saku.


Matahari hampir tenggelam seluruhnya,tetapi Arin dan Juna masih setia menikmati mentari senja dengan jingganya yang cerah.


"Gue mau pulang" ujar Arin.


"Ya terus".


"Ya terus, lho gak mau pulang".


"Kalo pulang ikut lho boleh".


"Mintak kena bacok nih anak "batin Arin.

__ADS_1


"Emangnya lho dirumah gak ada kerjaan apa ?"tanya Arin.


"Ya ada sih ,kenapa?,mau bantuin ,ayok".


"Lho keknya udah ngeselin dari lahir deh".


"Oke,oke ,gue pulang" ucap Juna yang melihat Arin telah kesal.


"Dari tadi kek" gumam Arin.


Meninggalkan Arin seperti matahari meninggalkan langit, Juna kini telah berada dikamarnya,tepat duduk dimeja belajarnya seraya menatap kearah luar jendela,Juna mengambil ponselnya dan "Arin Orcherivya" Juna mencari instagram Arin dan mengetahui nama Arin karena tak sengaja terlihat nama yang ada dibukunya saat Arin pertama kali bertemu Juna dan Juna pun menemukan salah satu foto dimana Arin mengenakan jaket yang berasar jins tengah duduk dicafe ,memakai kacamaga hitam bulat dan menggigit sebuah pensil yang dipeganganydengan tangan kanan,dan angan kirinya sebangai penompang dagu.


"Bisa imut juga nih cewek" batin Juna dan langsung mengikuti instagram Arin .


"-Ada yang datang tiba-tiba tanpa dicari dan diundang tanpa diketahui dan tanpa waktu yang lama ,melihatnya seakan aku tau apa yang ia rasakan,melihatnya seakan hatiku berkata" Dia orangnya",berada didekatnyamembuatku merasakan sesuatu tapi bukan cinta melainkan ruang dan waktu yang ia butuhkan ,melihat senyumnya seakan itu hanya topeng belaka, melihat kekesalannya tergambarlah sudah apa yang ia pernah rasakan ,yaitu kehilangan dan membutuhkan. -" Kalimat yang diposting Juna diinstagram "Juna Nabhanriel" .


Melihat pemberitahuan bahwa Juna mengikutinya, Arin tak ingin melihat posingannya apalagi balik mengikutinya.


Kini malampun tiba tanpa hadirnya sang bulan ,kenapa dia tak datang mungkin Dia lelah menerangi bumi yang tiada ujung ini ,mendengarkan musik dari handphone-nya dilakukan, dan terlelap dengan headphone yang masih terpasang di telinganya, bangun dari tidurnya Arin langsung melihat pemberitahuan "lumayan" , komentar yang dilihat Arin di salah satu postingannya, Mengapa setelah melihat itu Arin tidak merasa marah ,bersiap menuju sekolah tanpa mampir untuk sarapan, menaiki ojek online yang telah Ia pesan sebelumnya.


"Jalan bang".


Sesampainya di gerbang utama sekolah lagi-lagi bertemu dengan Juna.


"Nih Bang uangnya" langsung berjalan menjauh dari tempat Juna berada.


Segera menghampiri perempuan yang entah mengapa membuatnya sedikit berbeda.


"Kenapa lagi" tanya Arin.


"Jutek amat, Gue kan cuman mau bareng ".


"Lho nggak ada temen ya ".


"Ada sih ,banyak lagi".


"Gak mungkin ada orang yang mau temenan sama orang kayak lho ".


"Gue banyak teman, tapi gak ada temen cewek kayak lho".


Berlalu tanpa mendengarkan lebih lanjut ucapan Juna yang menurutnya tak penting dan tak seharusnya didengar..


"Eh gue lagi ngomong".


"Lho bisa nggak sih ,nggak ngikutin gue".

__ADS_1


"Siapa yang ngikutin lho".


"Udah,sekarang mau lo apa".


"Gue mau lho izinin gue buat pinjem HP lo sebentar aja".


"Buat apa".


"Enggak macem-macem kok".


"Nih" kasih Arin berat hati.


Tak tahu apa yang dilakukan Juna dengan ponselnya, Arin tak terlalu takut akan hal itu.


"Nih"balik Juna.


"Simpen WhatsApp gue jangan diblok, sama lho nggak boleh unfollow gue".


"Wah parah lho".


"Kalo lho nggak nurutin itu, gue bakal ngikutin lho terus-terusan ,bahkan kalau bisa gue setiap malem main ke rumah lho,setuju " ucap Juna tersenyum miring dan berjalan melewati hadapan Arin.


"Oh iya" ucap Juna berjalan mundur kembali ke tempat asalnya "Lho cantik pakek kacamata" bisik Juna lalu berjalan pergi.


Entah apa yang dirasakan Arin setelah kata-kata itu terlontar dari mulut Juna, Yang pastinya biasa saja kebal dengan ucapan para buaya. Ya itulah Arin gadis tomboy yang rendah hati, mungkin tak banyak yang bisa dekat dengan Arin karena kepribadiannya yang membuat banyak orang tak tahan dengan tingkahnya, pakai kacamata padahal Iya cuman Min 0,75 dan 1,00. Berjalan mengelilingi lapangan basket Seraya mendengarkan musik dari earphone yang berwarna abu-abu.


"AWAS" teriak seorang lelaki tak didengar Arin, berdiri tepat di hadapan Arin dan memberhentikan langkah kaki Arin,, sebuah bola basket mendarat cukup keras pada punggung Juna yang berusaha melindungi Arin ,suara dentuman bola membuat Arin dan Juna sama-sama memejamkan matanya, Arin perlahan membuka sebelah matanya dan melihat Juna yang masih terpejam, Juna pun membuka kedua matanya perlahan begitu pula dengan Arin.


"Sorry man " ucap seorang lelaki yang mungkin dia yang tak sengaja melempar kan bola tersebut. Juna hanya mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol yang menandakan ia baik-baik saja.


"Eh ,lho gak papa kan" lontar Arin.


" Makanya, udah gue bilangin Jangan dengar musik kalau lagi jalan , bahaya!".


Arin pun melepas earphone dengan pelannya.


"Gue lupa " tuturnya.


"Makanya kalau orang ngomong itu didengerin jangan dikacangin".


Arin tersenyum miring menunjukkan lesung pipinya Seraya tertunduk "Ya sorry".


"Udah minggir gue mau masuk kelas" lontar Arin.


"Ya silahkan".

__ADS_1


Berjalan dari samping Juna berdiri dan tanpa disengaja , kancing lengan baju Arin


tersangkut pada benang yang teruntai dari jaket Juna.


__ADS_2