
Mata Arin mulai melihat sekeliling dan baru menyadari perbuatannya ini sangatlah memalukan,berjalan dengan menundukan kepala keluar dari kelas adalah pilihan terbaik untuk saat ini,menahan rasa malu dan siapa yang tau jika detak jantung Arin kini meningkat lebih cepat.Berjalan menelusuri lorong sekolah kini yang sedang dilakukan Arin ,entah apa yang ada dikepalanya saat ini sehingga ia bisa-bisanya salah memasuki kelas, Jarak kelas 12 yang satu dan yang lainnya memang lumayan jauh entah mengapa begitu,seseorang mengikuti Arin dari belakang dan menyentuh pundak kanan Arin ,yang itu adalah Juna.
" Kenapa lagi, belum puas lho maluin gue ".
"Siapa yang malu-malu, orang gue Mau balikin tas lho, Lontar Juna mengulurkan tas milik Arin.
Tanpa mengatakan sesuatu Arin mengambil tasnya.
"Oh iya, malu itu kalau lho berbuat dosa dan suatu kehinaan, bukan kesalahan yang nggak Lho sengaja, cuman kurang istirahat " lontar Juna.
" Enggak usah sok nyeramahin gue deh ,gue tahu apa yang baik buat gue sendiri ".
"Terserah lho" ucap Juna lalu berjalan kembali kedalam kelasnya ,meninggalkan Arin.
Masih dengan rasa malu yang sama tanpa berkurang, Aring berjalan menuju ke kelasnya lalu duduk di bangkunya.
"Lho kemana aja sih Rin,dicariin orang juga" seru Reza.
"Lho ,yang ninggalin gue sendirian tadi ".
"Orang lho yang turun dari motor,langsung main cabut aja ".
"Ya,kenapa lho gak berentiin".
"Iya-iya,lo yang bener ,gue yang salah".
Merasa bosan hanya duduk di dalam kelas putuskan Arin untuk keluar kelas dan menuju kantin.
"Bi,es teh satu ".
"Kenapa hari ini ngeselin baget sih " rutuh Arin.
"Bukan selasa yang nyebelin,tapi lho sendiri yang gak bisa nenangin pikiran lho" sahut Juna.
"Lho lagi,lho lagi,lho siapa sih,apa sesempit itu dunia sampe gue harus ketemu lho terus".
"Terus ?, baru tiga kali , kalo lho tadi nanya gue siapa,kenalin gue Juna murid kelas 12A" ucap juna mengulurkan tangannya seraya tersenyum miring.
Cukup lama tangan Juna terulur tanpa ditoleh Arin,Juna memilih untuk menurunkan tangannya dan mencari tempat duduk,hanya satu bangku kosong dikantin yaitu bangku yang disebelah bangku Arin.
"Kenapa harus duduk disana segala sih " gumam Arin.
"Inikan tempat umum" jawab Juna yang mendengar ucapan Arin.
"Pakek denger lagi"gumam Arin lebih kecil.
Arin yang awalnya ingin memesan makanan mengurungkan diri karena ingin cepat pergi dari sana,kini matahari semakin naikdan semakin menyengat dan pikiran Arinpun mulai tenang dan pertanyaan terhadap Juna pun semakin bertumpuk.
"Bi ,ini uangnya" bayar Arin setelah meminum habis lalu fokus pada ponselnya seraya berjalan,karena kecerobohan Arin ,tak sengaja kotak sampah yang penuh dengan sampah tersenggol oleh Arin dan sampah pun berjatuhan kelantai.
"Upsss".
__ADS_1
Juna yang melihat itu serontak berdiri dan mendekati Arin.
"Udah mbak ,biar bibi aja yang beresin".
"Maaf ya bi, gak papa biar Arin bantuin" Ucap Arin lalu menunduk dan mulai memungut sampah.
Arin dan bibi penjaga kantin tengah mengambil sampah-sampah yang berkeleceran,begitu pula dengan Juna yang ikut serta membantu.
"Selesai" ucap Arin berdiri.
Ketika Arin hendak menutup kotak sampah , bersamaan dengan itu pula tangan Juna mendarat diatas tangan Arin,dengan sigapnya Arin menarik kembali tangannyadan membiarkan juna yang menutupnya.
"Lho sengaja kan" ceplos Arin.
"Kalo iya kenapa ?" jawab Juna yang tak memiliki maksud,mendengar jawaban Juna Arin seketika terdiam lalu berlalu dari hadapan Juna.
Kini Arin telah berada diluar kantin dan merasakan seperti ada keganjalan.
"Nih tas lho,ketinggalan lagi" panggil Juna.
"Kenapa harus lho terus sih".
"Kalo lho tadi bilang dunia ini sempit,lho bener ,tapi lho sendiri yang ngebuatnya jadi sempit, dan kalo lho barusan bilang kenapa harus gue terus,umm...mungkin tuhan lagi ngerencanain sesuatu "lontar Juna dan langsung pergi.
Kembali memasuki kelas dengan rasa yang bercampur aduk tak jelasmenjadikan tangan Arindingin untuk sekejap. Jam menunjukan pukul 11.30,Arin memutuskan untuk minggat dari sekolah karena guru ya g mengajar tak masuk hari ini, dan menemui Amar yang tak jauh dari sekolahannya ,sendiri tanpa ada yang menemani sudah menjadi hal yang sangat biasa dalam hidup Arin .
"Arin,hidup yang lho jalanin adalah nyawa lho,kalo lho sendiri nggak bisa ngejalanin hidup lho dengan baik,lho akan mati didalamnya karena keputusan yang lho ambil sendiri,semua keputusan ada di genggaman lho ,semua rasa tertampung di hati lho, semua pikiran ada di kepala lho, semuanya ada sama lho,kalo lho sendiri bisa kenapa harus ada bantuan dari orang lain".
"Lagi musuhan sama kotak sampah".
Amar mengerutkan dahi heran "Kotak sampah?".
"Iya kotak sampah yang ada di film Mahabarata".
"Jauh amat tuh kotak sampah sampe ke Jakarta".
"Dibawaiin pandawa lagi".
"Sakit nih anak".
"Udah ,gak usah dibahas ".
Temen yang baik, kata-kata itu tak cukup untuk mencerminkan sosok Amar, entah terbuat dari apa hatinya seumur hidup, Arin belum pernah melihat Amar marah dan menangis. Bahkan jika semua kata disatukan pun menjadi sebuah kalimat belum pantas untuk mendefinisikan ciptaan Tuhan yang satu ini. Melihat matanya menggambarkan sebuah ketulusan yang besar, bahkan Arin sendiri tak mampu untuk melihat ke dalam matanya, tak ingin tenggelam dalam ketulusan itu, takut akan menyakitinya. Amar selalu tahu apa yang dihadapan Arin tanpa diberitahu.
"Umm.Lho barusan ketemu cowok ya ?".
"Kok lho tau".
"Keliatan dari ekspresi lho".
"Emangnya kenapa ?"
__ADS_1
"Murung,cemberut apa lagi kalo bukan karena cowok".
"Iya,lho bener".
"BTW ,siapa namanya ?".
"Pandawa yang ketiga".
"Arjuna".
"Ar-nya diilangin".
" Ribet amat tinggal ngomong Juna aja gitu".
"Kek orangnya ribet".
"Lho yang ribet bukan dia".
"Lho gak pernah ketemu dia, jadi diem aja ".
Setajam apapun perkataan Arin pada Amar, Amar selalu tak pernah tergores dengan itu , status pertemanan yang sedang mereka jalani terjaga dengan baik akibat sifat dewasa Amar dan sifat pengertiannya terhadap Arin.
"Lho suka sama tuh cowok".
"Suka?,kenal aja baru".
"Owh,berarti kalo udah lama kenal baru suka".
" Ya nggak gitu juga kali".
" kata orang sih Cinta Itu Indah".
" kalo kata lho".
" mungkin iya"jawab Amar.
" Emangnya lho pernah ngerasain ".
"Ya belom sih".
" Terus kenapa lho bilang kayak gitu".
" Karena gue ngeliat lho".
"Gue,kenapa".
" Karena cewek kayak lo yang bisa buat kata-kata cinta itu jadi indah".
" Aneh lho".
" Bukan gue yang aneh tapi cinta".
__ADS_1
" Udahlah pusing gue denger lho ngomong".