Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 5


__ADS_3

Entah mengapa laki suka mengucapkan yang memiliki arti yang tersirat, dan entah mengapa wanita sukar untuk mengerti arti kata-kata itu, Kapan yang bermakna sangat indah namun tak dapat diartikan dengan mudah, seperti wanita yang selalu membuat lelaki berpikir 1000 kali untuk berbicara dengannya, bentuk dari seluruh lelaki yang ada di dunia, mungkin hanya 5% yang benar-benar dapat mengerti dan menjaga perasaan seorang wanita.


"Mau gue anter pulang gak?"tawar Amar.


"Gak usah ,kali ini gue mau pulang sendirian aja".


" Tumben".


" Gue mau nikmatin dunia".


"Gimana mau nikmatin dunia coba, buka hati untuk hal yang baru aja nggak mau".


"Kan gak harus gitu"'


"Bagi gue itu harus".


"Pola pikir lo sama gue itu beda Mar".


"Kalo gitu kenapa lo gak coba berpikir kayak gue".


"Susah ya ngomong sama lho".


"Mudah kok, kalo belajar untuk mengerti itu".


"Sttt, jangan buat gue pusing untuk kesekian kalinya karena omongan lho".


Ucapan Amar seringkali membuat otak Arin berputar dan mengeluarkan asap seperti mencari sesuatu yang tak hingga berujung, meratapi perkataan Amar membuat Arin ingin pergi sejauh jauhnya dari temannya yang satu ini, perkataan Amar yang tak kunjung habis membuat telinga Arin mati rasa.


Kini Arin pulang bersama bayangan yang selalu menemaninya tanpa lelah tanpa keluh dan tanpa henti berjalan mengiringi Arin dan bergerak persis seperti yang Arin lakukan, namun satu yang disayangkan , bayangan itu hitam menggambarkan Arin yang putih nan suci, bayangan membuat orang sadar di dalam diri setiap manusia pasti ada sifat buruk, dampak terlalu baik, dan jika orang bilang orang jahat itu adalah orang yang tersakiti Bagi Arin itu tak selalu benar orang jahat adalah orang yang diakui kehadirannya. Arin berkata " Aku belajar banyak dari para orang jahat , mereka mengajarkanku untuk tidak melakukan hal yang dampaknya telah terlihat jelas, mengajarkanku jika kejahatan akan menyebabkan kehilangan."


Arin pulang ke rumah yang terasa seperti hutan.


" Mama Papa belum pulang ya Bi"tanya Arin.


"Belum non".

__ADS_1


" Makasih Bi , Oh ya Bi Arin mau minta tolong buatin susu jahe boleh nggak".


"Siap non".


Tak hanya hangat di luar namun juga di dalam, minuman favorit Arin sejak kecil sampai sekarang pun tidak berubah, Arin tak memiliki minuman favorit selain selain susu jahe yang mungkin tak Kebanyakan orang menyukainya. Masuk ke dalam kamar lalu keluar kembali karena ia merasakan perutnya berkata" beri aku mie ayam " menuruni tangga yang baru saja dinaikin yang membuatnya tak lagi menghiraukan panasnya susu jahe yang ada di atas meja dan langsung meminumnya.


"Bang ,mi ayam pedesnya satu" pesan Arin.


"Lho ngikutin gue ya"tuduh Juna yang sedari tadi berada disanadan telah menyantap searuh mi ayamnya yang tersedia dipinggir jalan.


"Dih ge-er amat lho".


"Bukan ge-er ,hanya memastikan" ucap Amar.


"Atau jangan-jangan ,lho agi yang ngikutin gue"tuduh Arin kembali.


"Kok jadi lho yang ke ge-erran".


"Udah ah gue kesini mau makan,bukan ngeladenin orang gila kek lho".


"Sembarangan aja".


"Oh lho darah tinggi".


"Iya "ketus Arin.


"Mau gue bantu turunin gak".


"Idup lho gak pernah serius ya".


"Belom waktunya".


"Dasar gak jelas"gumam Arin yang lalu mengambil sendok dan garpu dari tempatnya.


Arin dan Junapun sama-sama menyantap mi ayam yang telah mereka pesan,sesekali Juna melirik kepada Arin ,tanpa Arin sadari.

__ADS_1


"Cantik,tapi sayang galak " gumam Juna.


"Arin yang mendengar gumaman Juna tersedak ketika ingin minum air mineral.


"Apa lho bilang ?".


"Gak ada" jawab Juna mengerutkan dahinya seraya mengangkat kedua bahunya.


"Ganteng sih ,tapi sayang ngeselin" batin Arin.


"Nih bang uangnya" bayar Juna lalu mendekati motornya.


"Nih bang punya saya" bayar Arin.


"Sudah dibayarin temennya mbak".


"Oh,iya bang" ucap Arin menarik kembali uang yang ia ulurkan tadi.


"Ehemm" batuk Arin lalu menepuk pundak Juna dan ditoleh Juna miring pada pundak yang ditepuk Arin.


"Nih uang lho,jangan sok kenal deh" ucap Arin mengulurkan uang.


"Kalo kata lho jangan sok kenal ,itung aja itu sebagai slam kenal".


"Gue gak mau punya utang sama orang ,apalagi yang baru kenal kek lho".


"Mungkin dikehidupan sebelumnya gue sama lho udah deket".


"Ha,semua orang cuman hidup satu kali didunia ini ,gak ada yang namanya kehidupan sebelum ataupun setelah sekarang "lontar Arin.


"Terserah lho mau bilang apa,gue mau cabut"Ujar Juna memasangkan helm dikepalanya tanpa menghiraukan apapun yang perkataan Arin ,dan memulai perjalannanya.


"Sumpah tuh anak bener-bener ngeselin banget dah".


Mengendarai motor di tengah jalan raya, sudah menjadi mainan Juna sejak menginjak sekolah dasar kelas 6, mencium kasarnya aspal menjadi makanan Juna sejak itu.

__ADS_1


" ada yang bergetar tapi bukan ponsel ,ada yang dingin tapi bukan es , ada yang jatuh tapi bukan hujan , ada rasa tapi tidak seperti biasanya" kalimat yang terlintas dibenak dan pikiran Juna.


Sore harinya bersama dengan matahari yang akan tenggelam digantikan bulan, terangnya awan yang akan menjadi gelapnya malam, sinar yang terpancar dari matahari yang akan menjadi kemerlipnya kunang-kunang dan lampu jalanan, menjadikan bumi adalah tempat yang paling indah setelah surga. Juna pergi ke taman kota untuk menghirup udara segar, seperti yang juna bilang sebelumnya "Mungkin Tuhan merencanakan sesuatu "sepertinya kata" mungkin" telah menjadi kata "benar "kebetulan atau takdir kini mata Juna tertuju pada seorang wanita yang tengah sepatu roda dengan headset yang terpasang di kedua telinganya, rambut yang terkuncir satu ,dengan mengenakan jaket dan celana mini yang ia kenakan,ia terasa seperti gadis kecil yang telah menjadi dewasa, seperti sedang mengikuti alunan lagu yang iya dengarkan bergerak kesana kesini dengan lincahnya tanpa beban, mungkin Arin telah lelah Iya pun duduk di bangku putih taman melepas kuncirnya membiarkan rambut panjangnya terurai bebas dihembus dengan angin sore yang membuat Juna tak berkedip, Arin mengambil sebotol air mineral lalu hendak meminumnya, belum sampai air itu menyentuh bibir Arin, Arin langsung melihat Juna yang tengah berdiri menatap fokus padanya,menurunkan kembali botol minumnya dan melepaskan haedset dari telinganya dan membatin "Dari tadi dia disana" batin Arin bertanya seraya menapat lekat pada Juna lalu menutup rapat botol minumnya lalu berjalan menghampiri Juna dengan menghentakkan kakinya tergesah-gesah menghampiri Juna yang menurut Arin adalah pria yang paling menyebalkan dimuka bumi ini yang pernah ia temui semasa hidupnya yang telah berbelasan tahun.


__ADS_2