Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 14


__ADS_3

Arin berusaha untuk menutup matanya dan mencoba untuk tidur ,merubah segala macam posisi agar bisa tertidur ,percuma saja Arin tak bisa tertidur ,menunggu sekitar 3 jama seraya mengotak-atik ponselnya akhirnya Arin bisa tertidur dan bangun kembali pada jan 07.35 .Seperti yang dibicarakannya bersama Amar semalam ,Arin bersiap-siap dengan menyembunyikan sepatu rodanya didalam tas karena takut orang tuanya melihat lalu memarahinya.Karena Arin telah muak dengan ocehan itu.


"Ma,Pa.....Arin pergi ya" teriak Arin seraya berjalan.


"Kamu nggak makan dulu " seru Papa Arin.


"Enggak nanti dijalan aja "tolak Arin.


"Hati-hati"teriak sang Mama.


"Iya" jawab Arin lalu pergi.


"Tuh anak kenapa sih "heran mama Arin.


"Entahlah,anak kamu tuh".


"Ya anak aku anak kamu juga kann".


Arin pergi dengan menaiki motornya dan menuju ketaman dimana dia dan Amar telah janjian sebelumnya,dan ternyata Amar telah sampai dahulu dari Arin .


"Eh sorry ya ,lho udah lama nyampe ?".


"Nggak kok barusan" bohong Amar yang padahal telah datang sekitar 1 jam lalu.


"Lagian lho cepet amat,baru jam 8".


"Lelaki itu harus menunggu bukannya ditunggu" jawab Amar.


"Serah lho deh, yuk ,nih gue bawa 2 sepatu rodanya,lho biru gue item".


"Bukannya kebalik tuh".


"Nggak mau".


Arinpun memakai sepatu rodanya seraya duduk ditengah jalan,ketika Arin hendak berdiri ,kaki kanannya sedikit bengkok dan Arin hampir terjatuh untungnya Amar menangkap tubuh Arin ,sedikit terjadi kontak mata antara mereka ,Amar melihat terlalu dalam kemata Arin.

__ADS_1


"Hahahahahha,Sorry-sorry" tawa Arin.


"Makanya ati-ati".


"Udah buruan lho pakek " seru Arin yang lalu dikerjakan Amar.


Merekapun bermain ,berlari kesana kesini dengan tawa bahagia seperti tak ada masalah dan tak ada beban hidup.


Sebenarnya latar belakang keluarga Arin dan Amar taklah berbeda jauh,mereka sama-sama kekurangan kasih sayang orang tua tapi bedanya orang tua Amar berada diluar kota sehingga meraka sangat jarang mempunyai waktu untuk bertemu,masih beruntung Arin yang setiap hari setidaknya masih bisa melihat kedua orang tuanya dan bedanya lagi Amar bisa memaklumi kedua orang tuanya walaupun itu sebenarnya tak pantas dimaklumi berbeda dengan Arin.


Author POV:


Seharusnya para orang tua menyadari bahwa anaknya juga butuh perhatian dan kasih sayang yang hilang karena para orang tua lebih menyibukkan diri pada pekerjaanya,dan para orang tua mungkin akan menjawab "kami bekerja hanya untuk menghidupi dan memberikan apa yang anakku inginkan ,dengan megitu mereka akan bahagia apa salah kami dengan itu".


dan aku menjawab;.


"salah kalian semuanya salah besar ,apakah kalian tidak pernah berpikir tentang perasaan mereka dan bagaimana dengan kasih sayang dan perhatian yang mereka inginkan selama ini ,apakah kalian tidak memberikan itu,mereka tak bisa hidup hanya dengan uang dan makanan tetapi mereka bisa hidup dengan kasih sayang dan kehadiran kalian ,mereka memang anak kalian tapi tak dibahagiakan oleh kalian".


Setelah bermain sepatu roda cukup lama dan hari menjadi semakin panas karena matahari telah mulai naik dan memancarkan sinar panasnya lalu mereka berteduh dibawah salah satu pohon yang sangat rindang,dan meminum air dingin yang sebelumnya telah dibeli Amar .


"Pas banget lho nanya itu, katanya,mereka bakal pulang 3 hari lagi".


"Wahhh bagus dong".


"Iya,gue juga udah kangen banget sama mereka".


"Bolehlah ajak gue buat makan malem sama keluarga lho" tawar Arin.


"Pastilah".


"Cinta itu bodoh dan naif tetapi sebenarnya indah" ucap tiba-tiba Amar pada Arin.


"Kenapa lho tiba-tiba ngomong kek gitu " Tanya Arin.


"Memang nyatanyakan".

__ADS_1


"Lho salah ,lebih tepatnya Cinta itu bodoh dan gila".


"Iya bener kata lho Rin ,Cinta itu bodoh dan gila ,gue gila sampe bisa Cinta sama lho" batin Amar.


"Iyakan " pati Arin.


"Ummm" jawab Amar menganggukan kepala ringan.


Hari menjadi sedikit mendung dan tampaknya akan turun hujan ,Arin teringat sesuatu karenanya,teringat momen dimana Arin bersama Juna dibawah kuyupan hujan,yang anehnya membuat Arin dapat merasakan kehangat,momen dimana Arin sangat merasa aneh seperti rasa air hujan terasa datang dari surga.


"Keknya mau ujan nih ,balik yuk " Ajak Arin.


"Mau ditemenin nggak " tawar Amar.


"Nggak usah" jawab Arin melepas sepatu roda yang ia kenakan disusul juga dengan Amar.


"Yakin".


"Kek gue masih kecil aja".


"Lho selalu jadi anak kecil dimata gue, dan yang sekarang gue suka" batin Amar.


"Udah ,gue duluan ya"ucap Arin lalu pergi.


Ternyata selama ini Amar telah menyimpan sebuah rasa pada Arin,mungkin jika Arin mengetahuinya Arin pasti tak akan menduga ituakan terjadi,entah bagaimana datangnya ,intinya Amar berbeda dengan Juna yang berani mengungkapkannya,Amar nerpikir untuk tak akan pernah mengungkapkan rasanya pada Arin,karena ia berpikir ,nantinya akan membuat tali persahabatan mereka yang selama ini telah mereka sambung akan putus hanya karena sebuah rasa yang bodoh.


Benar ternyata Orang tak dikenal menjadi Kenal lalu Pertemuan dan menjadi Teman dari Teman akan menjadi Teman dekat dan akan berangsur waktu akan menjadi Sahabat dari Sahabat terasa seperti sebuah Keluarga dan pada akhirnya Tidak mungkin dari salah satunya tidak menginjak pada Rasa Cinta tapi sayangnya Rasa Cinta itu juga pada waktunya kemungkin akan berubah menjadi Pertengkaran dan berubah menjadi Permusuhan dari sanalah hubungan yang pada awalnya baik dan tentram menjadi selayaknya Musuh.


Amar tak ingin semua itu terjadi hanya karena keegoisan yang tak kuasa untuk ia sendiri kendalikan ,dan jika Amar melakukan itu Amar akan menyesalinya seumur hidup,walaupun Amar tak mendapatkan Arin,Amar ingin ada lelaki yang bisa menjadi pendamping yang setia,pendengar yang baik,lebih dari yang Amar telah lakukan ,dan Amar akan marah besar jika ada seseorang yang berani mengeluarkan air dari mata indah Arin.


Jika saja Kakak perempuan Amar tak dipanggil yang kuasa Amar pasti telah menceritakan ini semua padanya dan akan menanyakan banyak hal dan juga akn meminta saran darinya,berbeda dengan Arin seorang anak wanita tunggal,sangat menyedihkan bagi Arin.


Arin pulang sendiri dengan membawa tas dipundaknya,gaya Arin tak seperti gadis pada umumnya ia layak dikatakan seperti anak lelaki, mulai dari pakaiannya,tingkahnya,gayanya,dan kepribadian ia pin tak beda jauh dari lelaki pada umumnya .


"Amar sadar melamun mulu "ucap Amar pada dirinya sendiri seraya menepuk kepalanya yang sedari tadi ia hanya melamunkan hal yang tak jelas nyatanya , Amar lalu bangkit dan akan pulang.

__ADS_1


__ADS_2