
Dirumah Juna ,Boby bersiap-siap untuk pulang karena baju ganti yang dia bawa hanya satu.
"Yaelah pakek baju gue dulu aja Bob,kayak baru kenal aja".
"Gak deh Jun,kalo lho butuh seauatu kabarin aja oke,gue pulang dulu ya".
"Yaudah ,mati-mati dijalan ya".
"Lho do'a in ape nyumpain".
"Dua-duanya sih".
"Gaklah becanda,ati-ati ".
"Yok-i".
Bobypun menuruni tangga dan membuka pintu,menaiki motor lalu pulang.
"Ini hari minggu,hari libur ,massak gue dirumah aja ,gak ada kerjaan gitu" rutuh Juna.
"Apa gue kerumah Arin aja ya" batin Juna.
"Goblok-goblok" rutuh Juna.
"Jadi gue harus ngapain" seru Juna membantingkan badanya diatas kasur.
Sahabat atau Cinta..........? Emmmm.....!kebanyakan dari kalian pasti akan menjawab Sahabat dengan alasan yang begitu kuat dan Jelas ,karena Sahabat itu inilah itulah BASI , Jelas saja itu semua basi percaya atau tidak kebanyakan orang yang memilih Sahabat nantinya jika dia kenal yang namanya Jatuh Cinta maka Sahabat hanyalah barang yang tak dikenalinya,mereka akan lebih sibuk memperhatikan kekasihnya ,udah makan belom,kenapa belom tidur,nanti mau dikasih hadiah apa, liburan mau kemana,mau jalan kemana,apalagi jika mendekati anniversary ,waktu serasa berlalu sangat lama dan kebahagiaanpun memuncak sehingga kata Sahabat hanya dibuang begitu saja dan dilupakan karena bagaimanapun kata Sahabat bisa terbentuk dengan kepercayaan dan kepedulian.
Apakah benar .....?.
……………
Ketika Arin sampai dirummah ketika itu juga Arin melihat Zira telah menunggunya diteras rumah.
"Oh sorry Zir,lho udah lama disini" ucap Arin melepaskan helmnya.
"Nggak kok baru aja dateng".
"Oh,kenapa lho kesini".
"Yah ,biasalah hari minggu ,gak ada kerjaan".
"Yaudah masuk aja yuk" ucap Arin merangkul pundak Zira.
Ketika mereka berada didalam kamar mereka mulai berbicara mengenai kelulusan yang sebentar lagi akan tiba.
"Lho rencanya kalo udah lulus mo kemana?" tanya Zira.
"Gue sih maunya kuliah ,mungkin ngambil jurusan sastra budaya deh ,kalo lho sendiri".
"Lah sama dong ,gue juga maunya ngambil jurusan sastra budaya, mau sastra budaya apa ?" tanya Zira lagi.
"Gue pengen ke India,pengen tau cara mereka hidup kek gimana,gue yakin sih gak seburuk yang orang-orang kira " jawab Arin.
__ADS_1
"Wahh keren sih,kalo gue belom tau mau kemana".
"Buruan pikirin ,biar nanti gak kedesak".
"Pasti".
"Reza,mana ?" tanya Arin.
"Pas tadi gue telphon aja dia masih tidur biasalah anak males".
"Hahaha " tawa Arin.
"Gimana Jina masih gangguin lho nggak".
"Sukurnya akhir-akhir ini dia gak ganggu gue lagi sih ,semoga aja selamanya".
"Aneh" pikir Zira.
"Aneh kenapa justru bagus dong".
"Yah heran aja gak ada angin gak ada ujan ,tiba-tiba".
"Iya juga sih ,tapi bodok ah" seru Arin tak peduli.
"Loh udah makan belom Zir ? " tanya Zira.
"Belom hehhehe".
"Sama,gue juga belom , biar gue pesenin aja ,lho mau makan apa ".
"Gue nanya lho mau makan apa ,bukan lho bawak duit atau gaknya gimana sih" seru Arin yang maksudnya dia yang akan bayar makanannya.
"Ahh ...So sweet ".
"Buruan".
"Gue samain sama lho aja deh".
"Seblak ya" tawar Arin.
"Boleh tuh tambah jus alpukatnya Rin ".
"Level berapa ?" tanya Arin.
"Lima dong".
"Oke,Seblak level 5nya 2,jus alpukatnya juga 2, 10 menit juga nyampe".
"Thank you Arin".
"Santai aja,besok lho yang teraktir".
"HA".
__ADS_1
"Becanda,lho kayak sama siapa aja, ini gue Arin sahabat lho bukan temen lho lagi ,Oke" Lontar Arin.
Setelah pesanan sampai Arin dan Zirapun langsung menyantap lahap hidangan tersebut , Arin mengajak Zira untuk menginap tetapi Zira menolaknya dengan alasan tak enak dengan orang tua Arin,Arin yang tak bisa menahannya mengizinkannya pulang setelah bercerita cukup panjang dan hari juga mulai gelap.
Keesokan harinya Arin sekolah seperti biasa , Arin memasangkan haedset ditelinganya lalu mulai berjalan memasuki gerbang sekolah ,Arin mendengar musik seraya memainkan ponselnya saat Arin berjalan tiba-tiba Arin merasakan ada yang aneh dibawah kakinya dan ternyata Arin bukan lagi menginjak jalanan melainkan mengijak tangan Juna yang telah menahan sakit ,Arin yang reflek lalu mundur dan melepaskan haedsetnya.
"Sorry-sorry lagian lho kenapa tarok tangan lho disana " ucap Arin yang belum menyadari bahwa dibawah tangan Juna terdapat kulit pisang.
Setelah Juna mengangkat tangannya Arin baru sadar bahwa Juna menyelamatkannya .
"Ya ampun kan lho bisa panggil atau narik gue ".
"Manggil ,udah dari tadi gue teriak manggil lho dan untuk narik gue gak mau karena jika gue narik lho bisa aja lho bakalan marah sama gue dan adegan yang kayak disinetron bakalan terjadi yang mana lho akan gue tangkep,lho gak mau itu kejadian kan" jelas Juna.
"Yaudah sini biar gue obatin" tawar Arin.
"Gak usah gue bisa sendiri" ucap Juna lalu pergi setelah berapa langkah Juna mundur kembali dan mengatakan"jangan dengerin musik ataupun mainin hp kalo lagi jalan " dan Junapun pergi kembali.
"Eh tumben amat lho cool kek gini kesambet apa lho" canda Arin.
"Gue cuman gak mau aja".
Arin yang mendengar penolakan Juna ,berpikir ada apa dengannya.
Juna perlahan menjahui Arin bukan masalah rencananya dengan Boby ,tetapi Juna sudah mulai sadar bahwa Cinta itu tulus dari hati dan Juna gak mau kalo pertemanan dia sama Arin menjadi rapuh karena Cinta yang aneh doang,Juna tak mau memaksa Arin untuk memberikan ruang untuknya dan jika pada akhirnya itu hanya akan lebih menyakitkan ,sudah cukup Arin menjadikannya sebagai teman karena itu Juna mulai menjahui Arin bukan maksudnya menjahui sebagai teman tetapi menjahui agar rasa aneh tak bertambah besar.
"Eh Jun tangan lho kenapa" tanya Boby yang melihat tangan Juna berwarna merah dan membengkak.
"Gak papa tadi kejepit pintu rumah".
"Ada-ada aja lho".
"Udah diobatin belom".
"Bentar lagi juga sembuh,buruan masuk kelas entar telat males gue denger omelan panjang lebar dari guru".
Akhirnya mereka punmasuk kelas dan belajar seperti biasa ,tiba-tiba Zira masuk kedalam kelas Boby dan Juna seraya membawa absen kelas mereka yang mungkin Zira disuruh guru lain untuk mengantarkannya.
"Ehemm, Boobb lagi liatin apa" olok Juna pada Boby yang menatapi Zira.
"Calon pacar " jawab Boby.
"Calon pacar ,ngungkapin aja gak berani gimana mau jadi pacar".
"Semuanya itu butuh proses bro,lho tenang aja".
"Makasih ya nak " ucap bu guru pada Zira.
"Sama-sama buk,Zira balik kekelas dulu ya buk".
Zirapun membalikan badan dan matanya membelok memberi kode pada Juna untuk keluar mengikutinya.
"Apa" ujar Juna tanpa suara tak mengerti maksud Zira.
__ADS_1
Lalu Zira melototi Juna dan dalam hati menyuruh Juna keluar,setelah Zira keluar Junapun akhirnya peka.