Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 7


__ADS_3

"Pakek nyangkut segala lagi".


"Biarin , nggak usah dilepas".


"Sumpah ngomong sama lho, kek ngomong sama orang gila yang ditinggal pacar".


"Iya, lho pacarnya" ucap Juna yang melihat Arin yang masih berusaha melepaskan kancingnya.


"Amit-amit" ucap Arin setelah berhasil melepaskan kancingnya dan pergi tanpa suara lagi.


"-lihat dia, iya wanita itu, entah darimana datangnya, entah siapa keluarganya, siapa dia?, tidak usah bilang, tidak usah ditatap,mungkin aku menyukainya-".


"Za,Zira mana?" Tanya Arin pada Reza.


"Entah".


"Hallo guys" heboh Zira yang baru masuk.


"Nyariin gue ya"ucap Zira.


"Nih Arin nyariin lho".


"Kenapa Rin".


"Gue mau cerita".


"Cerita apaan ,sambil duduk aja yuk".


"Gue mau nanya,kalo ada cowok yang ngikutin cewek terus itu tandanya apa ya ?"tanyaArin.


" Iya berhenti cowok itu lagi jatuh cinta sama tuh cewek"balas Zira.


"Cinta cinta cinta nggak ada alasan lain apa".


"Ya emang gitu hakikatnya ,kenapa ada cowok yang suka sama lho" Goda Zira.


"Apaan sih lho".


Terus memandangi dan mendengarkan apa yang sedang diocehkan guru yang sedang menjelaskan suatu pelajaran, entah apa yang keluar dari mulutnya ,kini pikiran Arin sedang tak berada di kelas melainkan di kantin, perut Arin telah terdengar gaduh seperti para cacing sedang tawuran di dalamnya, 0,01 detik bel berbunyi Arin langsung bersigap keluar dari kelas dan langsung menuju kantin.


"Bakso dagingnya bik satu"pesan Arin.


"Siap mbak".


Mempersiapkan meja dan langsung mengambil sendok dan garpu dan tak sengaja Arin menyenggol botol saus yang lalu tergelinding tepat di bawah mejanya, ketika Arin hendak turun dan menunduk mengambilnya, mata Arin bertemu dengan wajah tampan Juna yang juga hendak mengambil botol saus itu.


"Lho mau ngapain "tanya Arin.


"Ya bantuin lho lah".


"Ish" ucap Arin lalu "braak" kepala Atin terbentur meja ketika ia hendak berdiri "Aww" rintihnya.


"Nih" Lontar Juna menaruh kembali botol saus itu.


"Jangan makan saus banyak-banyak ,nggak sehat" Lontar Juna yang lalu kembali pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


Awan gelap,seperti akan segera meneteskan air,awanpun dapat menangis seperti halnya manusia,kini Arin berada didepan sekolahnya tepatnya diparkiran motor,sekali lagi Arin meninggalkan kelas sebelum jam sekolah selesai .


"Mau ujan lagi" rutuh Arin.


"Tinn.tin.tin. " suara motor Juna mendekati Arin.


"Nih pakek jaket gue" seru Juna melepaskan jaket yang ia pakai.


"Pakek atau guegangguin lho seharian" ancam Juna dan Arin menurutinya.


"Naik" lontar Juna.


"Ha" Arin yang terkejut membulatkan matanya.


"Buruan naik,kalo nggak gue aduin kepala sekolah kalo lho minggat" ancam Juna yang padahal ia juga minggat.


"Iya-iya".


Entah mengapa Arin kini takut dengan apapun yang dikatakan Juna,ada apa dengan Arin ?,bahkan Arin sendiripun tak tau alasannya .Sampai saat ini tak ada pembicaraan diantara mereka ditengah rintihan gerimis hujan.


"Umm, Arin Orcherivya nama asli lho" ujar Juna yang tak dijawab.


"Rin,gue nanya" seru Juna yang kedua kalinya tetapi tak juga mendapat balasan.


"Lagi puasa ngomong ya" goda Juna.


"Apa lho lagi marah" tanya Juna.


Tidak mendapati jawaban dari Arin ,akhirnya Juna menyerah dan memutuskan untuk meneruskan perjalanannya tanpa menanyakan hal apapun.


"Eh tunggu, Rumah Arin dimana ya?" batin Juna yang baru menyadari bahwa ia tak tau keberadaan rumah Arin


"Umm Rin, rumah lho lewat mana ya".


"Rin,Rin,Arin "panggil Juna yang lalu kepala Arin mendarat pada punggung kanan Juna.


"Rin,lho gak kenapa-napa kan" ucap Juna membuka kaca helm yang Arin kenakan dan mendapatkan Arin yang tengah tidur dengan manisnya.


"Gilak nih cewek,bisa-bisanya tidur ."


"Tapi gak tega, kalo mau dibangunin" pikir Juna seraya memandangi wajah lugu Arin.


"Tapi nanti dia masuk angin lagi" pikir Juna dua kali.


"Rin ,Arin bangun" ujar Juna lembut sembari mengetuk pada atas helm Arin dengan jari telunjuknya .


" Ha, udah sampe" seru Arin terkejut.


"Udah sampe dari Hongkong, gue aja gak tau rumah lho dimana".


"Makanya jangan sok mau nganterin segala ,dasar pahlawan kesiangan" ketus Arin.


"Oh gue pahlawan bagi lho" goda Juna.


"Aduh capek gue ngomong ama lho ,makanya lain kali apa-apa tuh nanya dulu".

__ADS_1


"Salah siapa gak ngasih tau".


"Lah,salah siapa gak nanya"bela Arin.


"Jadi sekarang mau gimana".


"Gue mau minum aja" ujar Arin turun dari motor Juna dan menuju kekedai kopi.


"Mas, ada susu jahe anget gak".


"Owh ,nggak ada mbak".


"Yahh" kecewa Arin


"Tapi kalo mbak mau ,saya bisa buatin" sahut Juna.


"Buati aja kalo bisa "tantang Arin.


"Oke".


Junapun menyebrangi jalan menuju warung yang menjual sayur-sayurran dan membeli jahe ,susu dan gula merah.


"Mas ,saya mau numpang buat susu jahe ,buat pacar saya boleh nggak" izin Juna.


"Oh,iya,gak papa".


"Gak usah percaya mas,saya bukan pacarnya nih orang lagi sakit" rutuh Arin.


Memulai membuatkan apa yang diinginkan Arin,seperti sudah tak asing dengan dapur,Juna dengan teliti menggunakan alat-alat dapur mengiris ,memotong seperti telah biasa baginya.


"Kenapa tuh cowok,aneh,ngeselin,tapi baik,kenapa harus bertemu dengannya ,kenapa harus kenal ,mungkin yang dia bilang bener,Tuhan lagi ngerencanain sesuatu,tapi rencana macam apa". batin Arin melihat ketulusanya.


"Nih siap,susu jahe ala Juna Nabhanriel" seru Juna mengulurkan susu jahe buatannya pada Arin.


"Awas lho kalo nggak enak,gue buang nih minuman" seru Arin yang tak mengetahui bahwa susu jahe aalah minuman favorit Juna juga,an Juna telah biasa membuatnya sendiri dirumah.


"Pasti enak" yakin Juna.


"Pe-de amat".


"Coba aja kalo gak percaya".


Arinpun perlahan menyeruput susu jahe buatan Juna dengan kepala yang sedikit mengangguk.


"Enakkan".


"Umm ,gak buruk,lumayan".


"Nama asli lho Arin Orcherivya kan" tanya Juna.


"Arin Orcherivya Artaska lebih tepatnya".


"Pantesan lho ribet ,nama aja ribet".


Arin terus menyeruput susu jahe itu sampai tegukan terakhir dan Juna hanya memananginya dengan tatapan yang melihat suatu harapan.

__ADS_1


"Lho bener Rin, hidup cuman sekali,mati cuman sekali,tapi kalo cinta ?".


Arin tersedak mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Juna dan tak menyangka kata-kata semacam itu yang akan Juna ucapkan padanya . Menutup kepalanya dengan penutup jaket dan memasukan kedua tangannya kedalam saku menandakan Arin merasa kedinginan begitu juga dengan bibir Arin yang perlahan telah berubah mencadi pucat dari yang awalnya berwarna pink sekarang serasa menjadi putih kebiruan.


__ADS_2