Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 3


__ADS_3

Berlari dengan lumayan cepat seraya menahan rasa yang semua orang tak mampu menahannya,menabrak seorang laki-laki yang berada didepan pintu toilet "Upss sorry-sorry" ucapnya tanpa melihat siapa yang ia tabrak dan langsuk masuk kedalam toilet.


"Eh sorry ya ,gue gak sengaja"ucap Arin sekeluarnya dari toilet.


"Eh, nih punya lho bukan"lanjut Arin seraya mengulurkan sebuah dompet coklat.


"Oh iya thanks ya , makanya lain kali jangan keburu-buru,karena gak semua berakhir dengan baik kalo terburu-buru,tuh buktinya baju lho jadi basahkan"Ucap Juna murid baru kelas 12 A,setelah berkata itu Juna berlalu dari hadapan Arin dan merangkul tas merahnya pada pundak kirinya dengan senyuman manis.


"Udah blom " lontar Zira yang baru datang.


"Udah, yuk".


Selamat siang,untuk siang yang nama nya paling jarang diucapkan bersandar dengan kata selamat ,walau aku sangat membenci waktu siang yang hadir antara pagi dan malam , tapi kau membuat orang sadar bahwa tidak semuanya didunia ini harus menurut apa yang disukai.


←◎ Reza


online


Rin,jadi nggak ketamannya ?.


^^^Jadi dong ,gue lagi OTW nih .^^^


Iya nanti gue bilangin yang lainnya buat sama-sama OTW .


^^^Sipp.^^^


Mengumpul ditaman kota bersama teman adalah salah satu hal yang jarang orang bisa melakukannya,kini mereka tampak persis seperti dua pasangan yang sedang berkencan ,pertemanan yang terjalin antara Amar dan Arin lebih lama dari pada Zira dan Reza .Apakah Amar menyimpan suatu perasaan kepada Arin yang sedikit melenceng dari kata pertemanan ?.Sepertinya tidak tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menjadi iya.


"Mar,nanti anter gue pulang ya?" ujar Arin.


"Kenapa gak gue aja " sahut Reza.


"Ya ,nggak papa".


"Ehemm, keknya ada sesuatu nih " goda Zira.


"Sesuatu paan " lontar Arin.


"Ya ,suatu percikan api ditengah rintihan hujan ".


"Kembang api maksud lho".


"Ih ,Arin, maksud gue tuh perasaan cin_".


"Cinta maksud lho " potong Arin yang mendapat anggukan dari Zira.


"Denger ya,cinta cuman dirasain oleh orang yang kurang kerjaan ,yang pastinya itu bukan gue".


"Ati-ati ,entar makan omongan sendiri"lontar Amar.


"Gue masih banyak kerjaan buatgak kenal apa itu cinta".


Perkumpulan yang diisi dengan perbincangan pun telah berakhir dimana kali pertamanya Amar dan Reza bertemu,kini mereka semua akan menuju rumah mereka masing-masing ,tapi tidak dengan Amar yang harung mengahantar Arin pulang terlebih dulu dengan motornya.

__ADS_1


"Kenapa gak pulang sendiri aja ?".


"Gak aja".


"Hemat lagi "usil Amar.


"Ya nggaklah ,kalo sama lho kan lebih aman".


"Sama Reza ?".


"Ogah,dia tukang nge-gombal".


Percakapan mereka cukup terhenti sampai disana.Jika dibilang-bilang ,Arin adalah seorang perempuan yang paling malas membuka mulutnya ,mengeluarkan suara sedikitpun jika itu hanya untuk membicarakan suatu hal yang tak penting,terlebihlagi jika itu menyangkut pria,seperti kebanyakan wanita yang tidak dimanapun dan tidak kapanpun selalu berbicara tanpa jeda jika membicarakan pria yang sangat tak ada gunanya.


"Makasih ya, sorry ngerepotin lho terus" ucap Arin seturunnya dari motor.


"Santai aja ,selagi gue masih bisa ,kenapa nggak".


"Lho emang temen ter-the best lah ".


Amar pun pulang,menuju rumahnya mengendarai motor ditengan mentari senja pada waktu yang terlihat begitu indahnya,waktu berjalan begitu cepatya, serasa kehilangan sesuatu dan pada saat waktu ini berakhir ditutupi malam yang tak kalah indahnya.


-"Bintang bringarin akuminta padamu jadikan lah namamu menjadi nyata, membawa Arin kesuatu tempat mana saja yang ia mau tanpa harus menunggu kau datang dimalam hari,yang selalu berada disisinya tak perluh menunngu dan tak perlu panggilan ,tetapi kau harus sedia selalu disisinya setiap menit atau bahkan setiap detik "- sebuah penggalan kalimat sederhana yang dibuat Amar dikepalanya.


Membantingkan tubuhnya diatas kasur ,sejenak menutup mata dan mengingat kembali apa yang telah terjadi, menghilangkan letih yang ada dan mulai menjernihkan kembali pikirannya yang telah hangus dibakar waktu, melihat langit-langit kamar dan memandangi lampu yang tergantung,membuatnya seakan masih berada pada waktu dimana matahari sangat bersahabat, Amar melanjutkan dengan membersihkan tubuhnya dari semua kotoran yang menempel lalu istirahat malam yang sangat ia tunggu ,mematikan lampu kamarnya sehingga tak terlihat cahaya sedikitpun kecuali cahaya bulan dan bintang . Amar tak terlalu sering makan malam karena ia tak suka itu.


Good morning to morning, ketika Arin memandang langit pagi ,otaknya selalu bertanya.


Apa bentuk langit sebenarnya ?


Apa ia benar ada nyatanya ?.


drrttttt...drrttt. ponsel Arin berbunyi menandakan ada yang menelphonnya .


"Kenapa Mar ?".


"Lho blom berangkat sekolah ?".


"Gak mau ,males".


Amar memutuskan tak meanjutkan sekolahnya setelah ia lulus SMP ,walau bisa dibilang Amar adalah anak dari keluarga yang berada dan Amar sendiri adalah anak yang pintar ,entah apa yang ada dipikirannya saat itu.


"Mar ,coba lho liat awan pagi deh ".


"Kenapa ?".


"Langitnya yang mana?".


"Ketutupan suara merdu lho".


"Gak ada bedanya lho sama Reza ,tukang gombal,walau gue tau kalo Reza cuman main-main aja ".


"Bukan gombal namanya kalo lo gak baper , apa jangan-jangan lho baper lagi ".

__ADS_1


"Dih pe-de amat lho".


"Gue kan cuman nanya "ucap Amar.


"Ya gue juga cuman nanya " balas Arin tak mau kalah.


"Ya kan udah gue jawab".


"Jawaban lho gak logis ".


"Logis-logisin aja dong".


"Udah ah gue males ngomong sama lho "ucap Arin menutup telphonnya kesal.


" Dih baperan ".


"Rin ,turun nak, kita sarapan bareng " teriak mama Arin dan tanpa selang waktu lama Arinpun turun dan langsung duduk dimeja makan tanpa bersuara,dan meneguk segelas susu putih yang masih hangat.


"Ma" panggil Arin.


"Drttt.....bentar ya Rin mama ada telphon sebentar, Halo iya hari ini kita _".


Menaruh kembali gelas susu yang telah habis isinya lalu berlarian menuju kamarnya dan langsung mengurungkan niatnya untuk tak masuk sekolah hari ini.


←◎Reza


online


^^^Jemput gue sekarang !.^^^


Setelah mengirim pesan , Arin bergegas bersiap-siap mengenakan seragam abu-abunya dan menguncir satu rambutnya,dan mendukung sebuah tas hitam.


"Rin ,kamu mau ke_".


"Ke kampus " potong Arin cepat pada mamanya dan membantingkan pintu memegan ponsel ditangan kirinya.


Menuju tempat yang seharusnya ia tak menginjakan kai disana,terdorong oleh masalah yang setiap hari datang tanpa bosan.Berjalan dibawah matahari pagi,menghirup udara segar disetiap tarikan nafas, dan matahari seakan mengikuti kemanapun Arin pergi.


Sesampainya mereka di sekolah,Arin langsung saja turun dan berjalan tanpa mengucapkan seatah katapun terhadap Amar , melemparkan tasnya diatas bangku yang telah diduki orang tanpa melirik sedikitpun.


"Selasa,lho ada dendam apa sama gue".


"Gak ada " jawab Juna yang langsung ditoleh Arin.


"Gue lagi gak ngomong sama lho".


"Terus napa lho main banting tas ke bangku gue".


"Suka-seka gue dong ,kelas-kelas gue juga,lagian lho murid baru sewot amat".


"Ehemm, sorry ya nona,kayaknya lho harus periksa mata deh" ucap Juna berdiri pelan dari bangkunya.


"Lho nyebelin ya".

__ADS_1


"Sttt,mendingan sekarang lho keluar,karena ini kelas 12A bukan 12B " bisik Junayang mendekatkan wajahnya pada telinga Arin.


__ADS_2