Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 2


__ADS_3

"Ma, Pa, Arin pergi dulu ya ".


"Halo ya, kita harus _" papa Arin yang sibuk dengan telphonnya . Arin lantas langsung pergi mengamnil satu roti selai coklat diatas meja makan ,dan seperti biasa Arin brrgi ketempat semua anak seusianya menimbah ilmu.


"Pagi Rin "sapa Zira.


"Hai".


"Lho tau nggak kalo akan ada murid baru ".


"Kelas ?".


"Dua belaslah".


"Langsung masuk semester dua?".


"Iya, katanya sih dia pinter ".


"Ya bodoh amat"


Mungkin bagi orang lain kehidupan Arin sangatlah asik,tapi nyatanya kehidupannya bagaikan tanah tandus yang disirami secangkir air.Tak tau akan kapan ataupun tak akan pernah ,ada seseorang yang bisa mengukir lengkungan sabit diwajah Arin dengan sempurna.


"Arin" teriak Reza yang merupakan teman sekelas Arin.


"Kekantin yuk" ajak Reza.


"Gue lagi bosen".


"Sama Zira sekalian ".


"Gue bilang enggak-ya enggak".


"Iya-iya".


Pagi yang cerah,awan yang terang , tumbuhan yang segar dan jalanan masih sepi, seandainya setiap hari cuman ada pagi dan malam tanpa harus dipisahkan oleh siang,yang membuat suasana perkotaan semakin gersang.


Kenapa harus ada siang jika telah ada pagi dan malam?


Kenapa harus ada matahari jika telah ada bulan?


Kenapa harus ada cinta jika telah ada teman?


"Besok kita ketaman kota aja yuk,sekalian ajak Amar sama Zira " ajak Arin.


"Boleh tuh,eh,tapi, Amar siapa ?".


"Oh, dia temen gue dideket rumah selama kurang lebih 6 tahun terakhir ini".


"Kenapa lho gak cerita".


"Emangnya lho siapa , yang harus gue ceritain semuanya".


"Temen deket lho".


"Dih, lho cuman sebates temen ,gak ada kata deket diantara gue sama lho,tapi boong, canda Za ".


"Rin ,itu murid barunya " ujar Zira menunjuk kearah luar jendela.

__ADS_1


"Ya terus".


"Gilak cakep banget Rin, buruan sini".


"Lebay".


"Coba lho liat dulu".


"Ogah".


Lelaki, ha..apa bedanya yang satu dengan yang lain ,cuman beda tampang doang .Arin belum pernah merasakan perasaan yang banyak orang menamakannya Cinta, bagi Arin Cinta itu hanyalah kebodohan belaka.Semua orang pasti memiliki cinta ,tapi Arin ,bahkan tak mengerti bentuk,ciri-ciri,ataupun arti dari sebuah kata yang hanya terdiri dari satu kata,lima huruf yang bisa diucapkan dengan hanya satu detik dan satu kali tarikan nafas.


Bel sekolah berbunyi .


"Kerumah gue yuk Ra " ajak Arin .


"Mau ngapain".


"Ya temenin gue aja".


"oke ,deh".


Mengendarai motor dan memutuskan untuk berhenti sejenak didepan sebuah toko yang menjual barang elektrik ,untuk membeli barang kesukaannya apa lagi kalu bukan haedphon. Arin memilih warna hitam dan Arin melihat tepat didepan toko dimana ia sekarang berdiri, matanya menatap pada sebuah toko yang menjual boneka langsung terlihat boneka beruang besar berwarna putih memegang sebuah love berwarna merah yang bertuliskan love yang dijahit menggunakan benang putih.Arin tersenyum miring dan berkata dalam hati "Apa yang ada dipikiran orang yang akan membeli boneka itu".


"Lima ratus delapan puluh ribu kak" lontar gadis penjaga tokoh.


"Oh iya ,nih, makasih ya".


"Nih kak kembaliannya".


"Simpen aja".


Memang tak seberapa,tapi melihat raut wajah gadis itu menunjukan pada Arin bahwa kesenagan tak harus selalu mewah.Sesampainya dirumah Arin ,mereka tak melihat seorangpun kecuali sang bibi yang tengah bembersihkan rumah.


"Orang tua lho mana Rin",


"Ada kerjaan ".


"Ya, kerjaan yang mungkin gak akan selesai sampe dunia berakhir " keluh batin Arin.


Berjalan menaiki tangga, menuju tempat yang paling lama bersama Arin ketika berada di neraka dunia dimana dia selalu tersiksa di dalamnya layaknya seorang manusia yang penuh akan dosa besar . Tetapi menurutnya hanyalah manusia biasa yang dipaksa berbuat dosa karena kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya mereka tak pantas disebut orang tua bagi Arin walaupun menambahkan kata tiri dibelakangnya mungkin mereka lebih pantas untuk disebut orang gila yang terobsesi dengan kayanya dunia ini.


"Gak ada yang berubah" ucap Zira ketika Arin membuka pintu kamarnya.


"Buat apa yang baru kalo yang lama udah cukup".


Sebenarnya alasan Arin tak merubah kamarnya karena terakhir kali hanyalah yang menata kamar itu sebelum semuanya menjadi seperti ini mungkin jika dihitung-hitung kurang lebih 6 tahun untuk merubah bentuk isi kamarnya itu ,meski begitu kemarin masih tampak arti baru semua barang tersusun dengan rapi dan lantai maupun langit-langit kamarnya sangatlah bersih .Tak ada satupun ataupun satu helai jaring laba-laba yang tergantung di sana, Arin benar-benar menjaganya dengan semua kesibukan yang harus lewatinya.


"Eh Ra,lho kalo jatuh cinta kek gimana sih".


"Tumbenan amat lho nanya kek gitu ".


"Ya ,heran aja ,semua orang jadi aneh kalo lagi kasmaran".


"Ya wajar kalo mereka gitu, lho bilang gitu karena lo gak pernah ngerasainnya".


"Eman iya,gue gak suka itu".

__ADS_1


Rumah yang cukup besar bahkan bisa menampung puluhan atau mungkin ratusan orang, di rumah Arin hanya ada 4 nyawa yang masih hidup dan menetap di dalamnya .Mengapa harus dekat Jika dari kejauhan saja telah mengerti ...?


Ini itu menjadi pengingat Arin jika seseorang ingin dekat dengannya dengan alasan" kalau deketkankan bisa mengerti satu sama lain"


"BASI"


Bagi Arin lelaki itu hanya ingin memanfaatkanya,Hmm.. "membosankan "kata-kata itu sangat pantas untuk menggambarkan pikiran Arin saat berada di rumah dengan kegiatan sendiri pun tak tahu apa yang bisa ia lakukan di penjara itu selain mengurung diri di dalam kamarnya.


Selamat pagi, untuk pagi yang namanya selalu digunakan untuk Menyapa individu lainnya, tanpa menyapa siapa yang memiliki nama yang melambangkan pengertian kesempurnaan, Kedamaian, ketenangan, keindahan, kesegaran dan waktu di mana semua orang memulai harinya dengan sisa-sisa yang dipikirkan ketika malam yang hadir sebelumnya.


"Rin, lho jangan pulang duluan ya" pinta Zira.


"Kenapa".


"Temenin gue bersiin aula yuk".


"Emangnya buat apaan ".


"Nggak tau".


"Yaudah".


Arin tidak suka mendengar orang memohon padanya dan Arin juga tidak suka berkata" tidak "tetapi Arin lebih suka memohon daripada ditawarkan dulu, Aneh bukan, kata-kata aneh sudah tak terdengar asing lagi pada Arin, Arin sendiripun bingung,kenapa sering kali orang menganggap suatu kata yang mempunyai banyak cara jalur untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dituju kata tersebut.


" Kenapa coba, lho banget yang disuruh bersin nih tempat ".


" Gak sengaja lewat depan guru piket".


" Cepetan , udah mau jam 10 nih".


" Makanya jangan ngajak gue ngobrol ".


" Orang lho duluan yang mulai".


Sementara membereskan alat-alat, dan telah menyelesaikan tugasnya ,kini Arin dan Zira tengah berada di gudang penyimpanan.


"Udah,yuk pulang" ajak Zira.


"Bentar-bentar" jawab Arin membelakangi Zira an mengikat tali sepatunya yang sedari tadi terlepas dari simpulnya.


"Permisi".


"Ya" jawab Zira fokus.


"Toilet dimana ya?".


"Ah,dari sini lurus,ada pertigaan belok kanan" jelas Zira seraya menunjukan dengan tangannya.


"Oh,makasih".


"Siapa?" tanya Arin yang baru selesai dengan sepatunya.


"Malaikat".


"Ngaco,lho, udah buruan pulang" ajak Arin menarik tangan Zira.


Ditengah-tengah jalan Arin merasakan sesuatu yang tak bisa ia tahan dan sembunyikannya.

__ADS_1


"Duh,gue ketoilet bentar ya,kebelet nih" izin Arin.


"Ya udah,sana".


__ADS_2