Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 9


__ADS_3

Mungkin telah merasa puas dan tak tau harus berbuat apa lagi kini Arin berdiri dari semula duduknya dan pada saatnya jingga telah hilang seutuhnya dan kegelapan mulai berdatangan,ada sesuatu yang mencuri pandangan Juna dan Arin kini mata mereka seakan masih menatap senja.


"Waahh "seru Arin yang ternyata mereka melihat sebuah lentera yang berukuran lumayan besar sedang menghampiri mereka,tak tau dari mana datangnya yang pasti itu sangatlah indah.Dapat digapai dengan tangan,maka Juna mengambilkannya untuk Arin.


"Lho suka kan, nihh" beri Juna yang disambut tangan Arin tanpa berkata.


"Mau buat permintaan "seru Arin pada Juna.


"Lho percaya sama yag kek gituan".


"Apa salahnya kalo dicoba".


"Yaudah".


Kini lentera yang masih bersinar terang itu menyempurnakan malam mereka,tepat dihadapan mereka ataulebih tepatnya kini wajah mereka hanya terpisah sebuah lentera,bersama memejamkan mata dan membuat suatu permintaan.


"Langit,jangan jadikan aku sepertimu ,tak jelas,bahkan aku sendiri masih meragukan jika kau itu benar ada nyatanya,kasihanilah aku, berilah aku tujuan yang banyak orang bisa mendapatkannya berilah aku kasih sayang selayaknya yang orang lain dapatkan ,dan satu hal lagi ,kau lihat pria yang dihadapanku ini,tolong dengarkan lah apa yang ia minta dak kabulkanlah, walau resek ,tapi aku tau bahwa dia sebenarnya adalah pria yang baik"


...Do'a Arin dalam batinnya....


"Bintang,jadikan aku sepertimu banyak namun satu nama,banyak namun dapat menghiasi bumi,aku ingin semua yang kuperbuat hanya untuk satu tujuan ,kau lihat bidadari yang didepanku ini ,hatiku berkata dia adalah tujuanku, satu hal lagi yang paling penting ,bawalah bidadariku ini menuju hal yang ia inginkan ,dan permintaan yang ia buat tolong jadikanlah kenyataan"


...Do'a Juna dalam batinnya....


Setelah berdo'a mereka secara bersamaan membuka matanya secara perlahan ,mata yang tadinya hanya melihat kegelapan dan sekarang harapanpun mulai kembali terlihat jelas ,dan merekapun bersama menghitung mundur dari angka 3 dan lalu bersama menerbangkan lentera itu, bersama menyaksikan terbangnya lentea itu membawa permintaan yang telah mereka buat .Kini mata indah Juna dan Arinpun bertemu an mempunyai banyak makna yang tak bisa diartikan ,Juna tersenyum simpul begitu pula dengan senyuman manis Arin yang menyusul.


"Apa permintaan lho ? " tanya Juna.


"Adalah ,lho gak boleh tau".


"Kalo gue gak boleh tau,berarti didalem permintaan lho ada nyelipin nama gue dong".


"Ge-er amat lho jadi cowok".


"Ya,kan calon cowok lho".


"Lho mimpi sebelum tidur ya" ejek Arin.


"Iya ,mimpi yang entarnya jadi kenyataan ".


"Gak bakal".


"Yuk ,gue anter pulang "tawar Juna.

__ADS_1


"Gak usah,gue bawa motor" tolak Arin.


"Ya maksudnya berdua naik motor masing-masing,takut aja kalo nanti lho kenapa-kenapa".


"Lebay".


"Biarin yang penting lho suka kan".


"Najis ".


"Udah ,yuk".


Mereka pun pulang di bawah terangnya cahaya lampu jalan dan tak ada suara bising dari banyaknya kendaraan lainnya ,aman ,tenang dan damai kini hanya itu yang ada betapa nyamannya dunia ini jika terus begitu dan mereka sampai tanpa ada percakapan.


"Makasih ya" seru Arin.


"Tiga kali " lontar Juna yang masih menghitung berapa kali Arin mengucapkan terima kasih padanya.


Arin hanya bisa menggelengkan kepalanya ,dan memarkirkan motornya ,lalu berjalan menuju kedalam rumah tanpa menoleh seperti biasanya.


Langsung menuju kekamarnya dan menatap kearah jendela yang melihat Juna masih berada disana dan melambaikan tangan pada Arin dan menghidupkan motornya berharap balasan dari lambaian Juna tetapi tak kunjung datang dan pergi dari hadapan Arin. Jika tadinya Arin menginginkan Jum'at untuk cepat datang ,kini Arin menginginkan terus terjebak pada hari Kamis tepatnya pada saat ia bersama Juna ,entah apa alasannya ,Arin hanya merasa nyaman dan bahagia,ingin terjebak bersamanya dengan waktu yang tiba-tiba terhenti.Mungkin es telah sedikit mencair karena matahari.


Akhirnya Jum'atpun tiba ,hari yang tadinya ditunggu oleh Arin ,seperti biasa Arin pergi kesekolah lengkap dengap seragam putih abu-abunya ,dan seperti biasa Arin selalu mengenakan jaket ,Arin juga membawa jaket yang pernah Juna pinjamkan untuknya pada saat waktu itu Arin sedang kedinginan.Pergi memasuki kelas dan berbincang-bincang bersama Reza dan Zira ,sebelum bu guru memasuki kelas.


"Nggak kemana-mana kok".


"Keliatannya lho sibuk banget" lontar Reza.


"Gue cuman butuh istirahat aja" jawab Arin.


"Lho kalo ada apa-apa ,gak mau cerita sih " ujar Zira.


"Apa yang mau gue ceritain,orang gak ada apa-apa".


"Hubungan lho sama tu cowok,aduh siapa sih namanya,umm nah iya ,Ju- Juna kalo gak salah" goda Zira.


"Cieee,yang udah punya pacar" tambah Reza.


"Kalian apa-apaan sih".


"Udah jujur aja" pasti Zira.


"Kalo gue bilang enggak ,ya berarti gak ada apa-apa".

__ADS_1


Seperti biasa Arin mendengarkan guru yang sedang berbicara didepan kelas ,yah walaupun Arin tak mengerti itu setidaknya dia hadir,bel istirahatpun berbunyi ,berbeda dengan yang dikelas kini Arin sangatlah bersemangat,walau banyak makan tetapi sruktur tubuh Arin tetap saja ideal .Arin memesan bakso,gorengan,dan tak ketinggalan susu jahe.Dan seperti biasa lagi-lagi tuhan merencanakan sesuatu ,kini Juna telah berada tepat didepan meja Arin.


"Mau gue temenin gak"seru Juna pada Arin.


"Gak mau dan gak akan pernah mau".


"Yang bener ,nanti lho nyesel lagi".


"Mendingan gue ditemenin sama monyet dari pada lho".


"Lho nyama-nyamain gue sama monyet,didunia ini gak ada monyet seganteng gue" pede Juna.


"Sekarang lho keparkiran ,disana banyak tuh kaca spion,coba lho ngaca dulu deh supaya sadar".


"Buat apa ngaca sampe kesana segala ,kan bisa ngaca di mata lho".


Juna mendekatkan wajahnya pada mata Arin dengan fokus dan yang berarti dalam dan mengatakan "Lho suka gue kan ".


Arin sejenak terdiam dan memilih untuk melanjutkan menyantap makanannya.


"Kok lho jadi salting" ujar Juna.


"Salting gara-gara lho, kiamat nih dunia".


Juna pun meninggalkan Arin dan pergi keluar kantin dan menuju kekelas nya.Arin yang telah melihat Juna pergi ,ia segera memeriksa jantungnya dan seperti perkiraan Arin bahwa jantungnya telah berdetak lebih kencang.


"Kenapa Rin"sahut Zira yang sedari tadi ada di meja belakang Arin tanpa Arin sadari,Zira pun pergi dan duduk disebelah Arin ,"Benarkan ,lho suka sama dia kan"


"Udah gue bilangin enggak".


"Terus kenapa lho ,megang dada lho".


"O-orang gue lagi bersiin cipratan kuah nih bakso".


"Arin-arin ,lho itu gak pinter boong ".


"Udah mendingan lho pesen makanan gih, gak jadi mulu dari tadi gue mau makan".


"Tapi lho yang bayarin".


"Iya-iya tenang aja".


"Apa bener ya ,yang dibilangin Zira kalo gue beneran ada rasa sama Juna,nggak-nggak itu gak mungkin ,pasti Zira cuman sok tau aja" batin Arin.

__ADS_1


__ADS_2