Es Untuk Matahari.

Es Untuk Matahari.
Chapter 25


__ADS_3

Keesokan harinya ,sekolah mengadakan turnamen basket dimana didalamnya Juna ,Reza dan Boby juga ikut serta ,Zira dan Arin menonton turnamen tersebut,lawan selalu terkecoh dengan cara main Juna,jelas saja Juna telah pandai bermain basket sejak ia berumur 10 tahun , Zira dan Arin memberi semangat kepada mereka ,skor mereka kini terpaur jauh ,tim Juna memimpin pertandingan ,tim lawan berdiskusi bagaimana caranya akar bisa menyusul skor,tapi itu semua percuma Juna dengan mudahnya menghancurkan rencana mereka ,40 menit telah terlewatkan tim Juna memenangkan pertandingan,Arin yang reflek langsung berlari dan memeluk Juna ,Juna yang terkejut hanya terdiam .


"Duh..jantung gue ,dia denger gak ya " batin Juna.


"Hebat juga lho " ucap Arin melepaskan pelukannya.


"Emm, gimana kalo lho traktir kita makan " ajak Arin.


"Boleh ,tapi jangan disekolah ,bosen makan itu mulu ,gimana kalo kita ketemuan direstoran Starshine pulang sekolah " usul Juna.


"Boleh tuh " seru Zira.


Juna dan Boby mengganti baju karena mereka telah dipenuhi keringat.


Sepulang sekolah mereka langsung menuju restoran dan duduk dikursi nomor 11 ,Juna memanggil pelayan dan memesan makanan dan tak lama pesananpun datang dan mereka makan bersama .


Tak sengaja dan kebetulan Shani dan teman-temannya juga datang kesana , Shani dan temannya berencana balas dendam kepada Arin karena sempat membuat malu Shani disekolah.


Shani memesan jus alpukat dan berjalan menuju tempat Arin dan yang lainnya berada dan sengaja menumpahkannya pada baju Arin dan seketika mereka menjadi sorotan para pengunjung lainnya.


"Uuppss " ujar Shani yang membuat Arin dan yang lainnya serentak berdiri.


"Eh Shan,lho apa-apaan sih " kesal Juna.


"Lho sengajakan" ujar Reza.


"Kalo iya kenapa " jawab Shani.


"Lho bener-bener ya " timbal Zira rasa ingin menjambak rambut Shani.


Shani membalikan badannya dan ingin pergi dan dengan cepat Arin yang kebetulan memesan sushi ,menghentikan pundak Shani dan menumpahkan saus wasabi dikepalanya,iiuhhh betapa pedasnya saus itu,Shani berteriak dan hendak menampar Arin tapi tangannya ditahan oleh Arin sebelum sempat menamparnya.


"Mau apa lho ,impas kann,sama-sama ijo tih warnanya" ujar Arin


"Udah Shan, mendingan lho bersiin dulu rambut lho " ujar Bela salah satu teman Shani.


Shani pergi dan membersihkan kepalanya dan Arin juga membersihkan bajunya ,tak lama untuk Arin membersihkannya ,lain halnya dengan Shani ,Arin kembali kemejanya dan meneruskan makanannya,Arin memesan saus wasabi lagi karena ,yang sebelumnya sudah menjadi shampo dikepala Shani.


"Gilak lho Rin " seru Zira.


"Biarin aja ,gak jera-jera tuh cewek".


"Pedes pasti tuh kepalanya " ujar Boby


"Hahah..." tawa mereka .


Selepas makan mereka bingung harus pulang atau ingin jalan-jalan.


"Lho mau gimana Rin ?" tanya Zira.

__ADS_1


"Gue mah ngikut aja ".


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari nampak telah mendung,karena mereka membawa motor masing-masing ,mereka bebas jika ingin mampir kesuatu tempat,mereka pergi terlebih dulu ,meninggalkan Juna dan Arin .


"Baju lho masih keliatan basah tuh,mau pakek jaket gue gak " tawar Juna.


"Jaket lho selalu ada ya " ucap Arin lalu Juna melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Arin.


KEh,lho mau temenin gue potong rambut gak ?" tanya Arin.


"Yaelah ,kenapa harus dipotong sih ,kan gak panjang-panjang amat ".


"Gue risih aja, lagian cuman mau potong dikit kok ".


"Yaudah yuk " setuju Juna.


Mereka pergi kesalon yang tak jauh dari restoran,Juna menunggu sampai Arin selesai memotong rambutnya.


"Pacarnya , sabar banget mau nungguin " ujar tukang salon.


"Itu temen saya mbak,bukan pacar ".


"Temen aja seperhatian itu apalagi pacar mbak".


Arin tak terlalu menanggapi karena takut akan menjadi lebih panjang,dan akhirnya Arinpun selesai dengan rambutnya.


"Yuk pulang "ajak Arin.


"Lho gak mau potong rambut Jun ?".


"Gak ah ,kan keren".


"Gini lebih kerenn" seru Arin mengacak-ngacak rambut Juna.


Juna terdiam dengan wajah dinginnya seperti akan marah .


"Ups,sorry ,massak gitu aja marah" seru Arin yang sedikit takut .


"Udah yuk pulang " ajak Arin dan Juna masih memasang wajah dinginnya.


"Iya-iya ,gue benerin " lontar Arin yang takut dan membenarkan rambut Juna sedangkan Juna masih memasang ekspresi yang sama.


"Udah bener tuh " seru Arin.


Juna perlahan mengembangkan senyumnya lalu tertawa dan membalasnya dengan cara mengacak balik rambut Arin.


"Kirain lho marah ".


"Kenapa lho takut yaa".

__ADS_1


"Enggak kok ,cuman merinding aja " .


"Sama aja itu namanya ".


"Iya-iya ayok pulang " ajak Arin


"BTW, gue cocok gak rambut gue ?" tanya Arin.


"Umm, cocok "


"Tadi kata lho rambut panjang cocok sekarang pendek juga cocok ,gimana sih ".


"Ya kalo sama lho,semuanya juga cocok ".


"Berarti lho cocok dong sama gue ".


"Iihh,amit-amit " jawab Juna.


"Ya gue juga cuman becanda doang ".


"Yaudah pulang ". ucap Juna merangkul Arin layaknya teman baik.


Merekapun pulang bersama dengan motor yang berbeda karena rumah Arin dan Juna satu arah ,dibawah matahari dan disamping matahari,bagi Arin dunia terlalu panas,Juna hendak mampir kerumah Arin tapi tak jadi karena Juna malu karena tak membawa apa-apa,seperti biasa Arin terus memaksa ,petapi Juna masih tak mau dan mengatakan kepada Arin untuk menyampaikan salamnya kepada orang tuanya dan akan mampir dilain hari ,entah itu kapan ,Juna sendiri tak tau.


Dan pada ujungnya Arin dan Juna harus mengambil jalan yang berbeda ,ketika Arin sampai Arin langsung mengatakan pada orang tuanya apa yang diucapkan Juna tadi ,lalu Arin naik kedalam kamarnya dan membersihkan badannya karena masih ada rambut yang menempel dibadan dan bajunya karena ia habis potong rambut dan ia harus mengganti baju karena baju yang ia pakai kotor karena ulah Shani direstoran, Arin langsung mengenakan pakaian tidur karena hari telah menunjukan pukul 17,30 dan tak menunggu lama Arin melanjutkan makan malam bersama keluarganya.


Seketika Arin mendengar ada orang yang mengetuk pintu rumahnya dan ketika Arin membukanya ternyata ada seorang ibu yang sedang menggenggam erat anak kecil dengan pakaian compang-camping dan sepertinya itu seorang pengemis,ibu itu meminta makanan karena ia belum makan dari pagi ,Arin yang merasa kasihan memintanya untuk masuk dan makan bersama ,orang tua Arin yang melihatnya merasa salut pada Arin .


Melihat ibu itu makan dengan lahap begitu juga dengan anaknya membuat Arin bersyukur karena ia masih mempunyai keluarga dan tempat tinggal,selepas makan Arin ingin mengajaknya kekamar .


"Boleh ya Ma,Pa " izin Arin.


"Boleh dong" jawab mama Arin.


Arin yang senang langsung membawa mereka kekamar dan memberikan baju yang muat untuk ibu itu kenakan dan kebetulan Arin masih menyimpan beberapa baju masa kecilnya ,Arin juga mempersilakan mereka untuk mandi dan mengganti pakaian.


Arin juga memberikan beberapa pakaian lagi dan cukup banyak uang untuk simpanan ibu tersebut dan anaknya,ketika ibu itu dan anaknya selesai mengganti pakaian Arin memberikan tas yang telah berisikan makanan ringan ,pakaian dan uang untuk ibu itu gunakan dan mungkin cukup untukmembuat usaha dan membayar sewa .


"Makasih ya non,makasih banyak ,ibu gak tau lagi harus bilang apa".


"Gak papa buk ,selagi Arin bisa bantu" seru Arin tersenyum.


"Makasih ya kak " ucap anak kecil itu lalu Arin mencubit gemas pipinya dan mengelus kepalanya.


"Sama-sama ,jaga ibunya ya " ucap Arin.


"Iya kakak cantik ".


"Makasih ,kamu juga cantik " balas Arin gemas dan anak kecil itu juga tersenyum.

__ADS_1


Sang ibu hendak berlutut tetapi dicegah Arin,Ibu itupun pergi dengan pakaian yang pantas dan perut yang kenyang ,papa Arin juga meminta sang mama untuk membungkus kan makanan yang masih layak dimakan untuk bekal sang ibu dengan anaknya,sang ibu benar-benar berterima kasih pada keluarga Arin sampai matanya tak kuasa menahan air mata yang mengalir begitu banyak .


__ADS_2