
Senja berjalan perlahan mendekat ke arah Mega di mana perempuan itu sedang berdiri sambil menatap dirinya, setelah berada di dekat Mega.
"Kenapa belum tidur? Apa tempatnya tidak nyaman,jika tempat nya nggak seperti di kota harap maklum" kata Senja sambil tersenyum tipis menatap Mega.
"Nggak ko, kak. Entah lah aku nggak bisa tidur"
"Kalau begitu kita ke dapur yuk? Seperti nya cacing di perutku sedang menari, mungkin mereka sedang berbahagia menantikan makan yang akan datang" Senja berkata sambil mengajak Mega untuk ke dapur, kebetulan tadi sore. Pas semua orang makan Senja tidak ikut bersama mereka.
Mega tanpa menjawab, tetapi dia mengikuti langkah Senja.
Setelah sampai di dapur, Senja mempersiapkan semua bahan untuk membuat nasi goreng. Untuk menghilangkan rasa laparnya sebab hanya ini yang bisa di masak dengan cepat.
Mega memperhatikan Senja yang sedang masak dengan telaten, sebab dirinya belum pernah menyentuh peralatan masak. Kenapa dengan Senja begitu ahli saat menggunakan semua peralatan itu.
Rasa kagum untuk Senja mulai tumbuh di hati Mega, dia berfikir wanita jaman sekarang ko masih ada yang seperti Senja. Udah cantik pandai memasak, mungkin perempuan seperti ini yang di harapkan semua laki-laki untuk menjadi istrinya.
"Kak, apa sering memasak ya? " tanya Mega dengan hati-hati, sebab dia takut mengganggu aktivitas yang sedang di lakukan Senja.
"Nggak juga, paling hanya bantu ibu saja" jawab Senja sambil terus mengaduk nasi goreng yang hampir selesai tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mega.
"Kalau nggak terbiasa mana mungkin bisa se pandai itu menggunakan perataan masak, aku jadi malu yang segede ini belum pernah menyentuh yang seperti itu. Bagaimana nanti yah kalau sudah menikah jika nggak bisa memasak" kata Mega sambil terus memperhatikan Senja.
"Nanti kan punya asisten rumah tangga, jadi kamu nggak perlu repot harus masak ini dan itu" jawab Senja sambil mengisi piring dengan nasi goreng yang sudah siap untuk di hidangkan.
__ADS_1
Setelah kedua piring terisi lalu, Senja membawa nya ke meja di mana Mega sedang duduk di sana. Lalu menyodorkan satu piring untuk Mega dan satu untuk dirinya.
"Justru karena terbiasa di layani art jadinya aku nggak bisa apa-apa"
"Yuk kita makan, udah teriak ni cacing-cacing di perut! " ajak Senja terhadap Mega, dia langsung menikmati nasi goreng buatan nya.
"Terimakasih banyak Kak... "
Akhirnya kedua perempuan itu menikmati makan malam berdua, di temani nasi goreng buatan Senja yang rasanya tidak kalah enaknya dengan yang ada di hotel bintang lima.
Hening seketika, hanya suara sendok dan piring yang berbunyi. Mega menyantapnya dengan lahap, mungkin dia belum bisa tidur akibatnya perut nya belum terisi.
Setelah beberapa saat semua selesai, Senja membawa piring kotor nya untuk segera di cuci.
Mega bangun dari duduk nya lalu berjalan mendekat ke arah Senja yang sedang mencuci piring"Kak, sini aku saja yang mencuci nya, bisa aku juga jika hanya melakukan ini"kata Mega.
"Kakak memang orang yang baik, andai saja Kak Fajar punya istri seperti Kak Senja. Jadi aku bisa belajar banyak hal" kata Mega sambil menatap wajahnya Senja dengan lekat.
"Ahh, nggak seperti itu juga. Hanya belajar semuanya juga"
"Owh iya,Kak... Seperti nya kak Fajar itu suka deh sama kakak" kata Mega. Seketika raut wajah Senja berubah.
"Kamu itu ngomong apa sih, nggak akan ada yang mau sama gadis desa seperti aku" jawab Senja sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Nggak boleh ngomong seperti itu, Kak Fajar biasa saja setiap kali melihat perempuan di kota tetapi dia beda saat melihat Kakak loh"
"Sudah lah nggak usah bahas itu, kita tidur yuk! Sudah malam juga. Di kamar ku aja?"
"Tapi, Kak... "
"Ayok... Nggak apa-apa, lagian aku setiap hari tidur sendiri"
"Iya, Nanti lain kali di temenin kak Fajar ya! " kata Mega sambil tertawa kecil.
Kedua perempuan itu terlihat semakin akrab, padahal baru beberapa jam saja mereka bersama.
Mega dan juga Senja sudah berada di dalam kamar, mereka sudah berada di atas tempat tidur dan akan siap mengarungi mimpi indah bersama
\*\*\*\*\*\*\*\*
Di tempat lain.
"Dasar kalian bodoh, masa menghajar satu orang saja tidak becus. Untuk apa saya bayar kalian mahal jika hal seperti itu saja kalian kalah" kata seorang lelaki yang sedang memaki beberapa orang.
"Bukan seperti itu bos, dia sangat kuat"
"Ah... Jangan banyak alasan, lakukan lagi sampai dia kapok dan segera pergi dari Desa ini, jangan berani meminta uang lagi jika pekerjaan kalian belum selesai"
__ADS_1
"Baiklah, Bos... Tapi jangan pecat kami"
"Sudah cepat kalian pergi dari sini, sebelum kesabaran saya habis"