Fajar Menanti Senja

Fajar Menanti Senja
Part 28


__ADS_3

Dengan gagah nya pria itu berdiri di ambang pintu, sudah tidak terlihat seperti pria miskin yang selalu di hina oleh sang mertua di waktu dulu. Dia adalah Bumi mantan suami dari Luna ayah nya Senja.


"Untuk apa kau datang ke rumah ini lagi? masih punya muka... "


"Santai ibu mertua ku yang baik hati, ini banyak bingkisan untuk mu. Ini kan yang ibu mertua mau tas branded dan ada juga kalung berlian, mungkin cukup untuk membungkam mulut mu yang seperti bon cabai" kata Bumi sambil memberi isyarat kepada pengawalnya untuk memberikan paper bag yang sudah di siapkan untuk menutup mulut mantan mertua nya itu.


Pengawal langsung memberikan semua yang di bawanya ke hadapan mertua sang bos.


"Dari mana kamu punya uang dan mampu membeli semua barang-barang ini? jangan bilang hasil mencuri dari toko perhiasan"


"Ibu mertua tahu kan perusahaan yang sekarang menjadi no dua di negara, ini yang pemilik nya masih belum di ketahui.Sekarang aku beri tahu bahwa pemilik perusahaan itu adalah seorang menantu miskin yang di paksa menandatangani surat cerai oleh ibu mertua nya. Dan sekarang sudah menjadi orang yang kaya raya, bahkan di bandingkan dengan perusahaan yang ibu mertua punya tidak ada apa-apa nya. Saat nya sekarang aku menjemput anak ku, katakan di mana dia sekarang? " kata Bumi sambil duduk di sofa yang berada di hadapan mertua dengan sangat angkuh, mungkin ini cara dia balas dendam dengan mertua nya. Sebab hal yang sama pernah di lakukan ibu mertua nya dulu, bahwa menawarkan berapa harga diri yang harus di bayar untuk Bumi.


"Dia tidak ada di sini, sudah ku buang ke kutub utara! "


"Apa maksudnya? jangan bilang kalian menyiksa anakku, seperti yang kau lakukan dulu. Jika itu terjadi maka, aku tidak akan mengampuni mu. Sekarang aku datang untuk membalas dendam padamu, bagaimana rasanya di hina saat tak punya apa-apa"


"Setelah Luna melahirkan nggak pernah membawa bayinya ke rumah ini, karena saya tidak sudi melihat anak dari pria miskin seperti kamu"


Bumi memberi isyarat kepada pengawalnya, untuk membawa koper yang berisi uang lalu di buka di hadapan mantan mertua nya.


"Apakah ini cukup untuk untuk satu informasi, katakan di mana anakku! " ucap Bumi dengan penuh penekanan.


Di saat Bumi sedang memaksa mantan mertua nya untuk mengatakan di mana keberadaan anaknya, Luna keluar dari kamarnya dengan membawa tas besar seperti mau pergi jauh dan lama. Luna melangkah kan kaki dengan perlahan untuk segera keluar dari rumah ini, rasanya ingin pergi jauh dan hidup bebas tanpa di atur oleh siapa pun.


Betapa terkejutnya saat berada di ruang tengah, seseorang yang pernah ada di hidupnya. Dan hampir separuh jiwa Luna pergi ikut bersama nya.


"Mas Bumi..."

__ADS_1


Seketika Bumi menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing lagi bagi-Nya, dan perempuan itu memang benar orang yang sangat di rindukan . Meskipun sudah puluhan tahun mereka berpisah tetapi tidak mengurangi rasa cinta Bumi untuk Luna, mereka berpisah atas dasar paksaan dari orang tua Luna. Dan setelah hari itu Bumi pergi dengan tekat yang kuat bahwa ia akan menjadi orang yang sukses, dan saat itu tiba ia akan Menjemput anak nya. Meskipun pada saat itu Bumi belum bisa melihat anak nya, sebab mereka berpisah saat Luna masih dalam keadaan hamil.


"Luna... " Bumi pun merasa kaget, ini pertama kali mereka bertemu setelah 20 tahun berpisah.


"Mau ke mana kamu?"


"Aku mau pergi dari rumah ini dan ingin hidup tentang, capek jadi bonek Mama terus"


"Sekarang sudah berani ya kamu membantah, pergi... masuk ke kamar " teriak sang Mama.


"Nggak akan, sudah cukup aku nurutin semua keinginan Mama"


"Jangan bilang kamu mau pergi dengan bajingan ini" tunjuk sang Mama terhadap Bumi.


"Eh pelan kan suaramu dan jangan pernah menunjukku dengan cara seperti itu, apakah semua uang dan perhiasan yang ku bawa belum cukup membungkam mulut mu itu! " kata Bumi dengan penuh penekanan.


"Saya tidak perduli, dan semua yang kau bawa itu sudah pasti perhiasan dan uang palsu semua"


"Mas.... untuk apa semua ini? " tanya Luna.


"Itu semua hanya untuk satu informasi yaitu di mana anakku sekarang, sudah saat nya aku menjemput dia"


"Sekarang aku mau pergi ke tempat Senja, lebih baik tinggal di sana daripada di sini tidak ada satu orang pun mengerti perasaan ku"


"Jadi namanya Senja, pasti dia cantik seperti Ibunya" ucap Bumi sambil tersenyum menatap Luna.


"Jika mau bertemu Senja ayok ikut bersama ku sekarang? " ajak Luna.

__ADS_1


"Jangan berani kamu pergi dari rumah ini, sekali kamu langkah kan kaki. Maka jangan harap bisa di terima lagi di sini" kata sang Mama dengan nada bicara yang sangat tinggi dan penuh emosi.


"Sekarang saat nya aku pergi ninggalin Mama, semoga setelah ini bisa faham bagaimana hidup tanpa anak di samping nya"


"Anak kamu itu Mentari... bukan manusia sialan seperti Senja"


"Stop, Ma... capek aku. Maaf jika kali ini aku nggak mendengar kan ucapan Mana, aku pergi jaga diri baik-baik, dan satu hal lagi jangan memaksakan kehendak orang lain demi keputusan sendiri . Jangan korbankan Mentari demi balas dendam Mama untuk Mas Bumi" kata Luna sambil melangkahkan kaki dengan perlahan keluar dari rumah, dengan seperti ini ia berharap bahwa sang Mama akan berubah pikiran.


"Luna...." panggil sang Mama sambil berteriak,tetapi tidak di hiraukan.


Bumi juga memerintahkan pengawalan nya untuk segera pergi dari rumah ini, dan pergi bersama Luna untuk segera menemui buah hatinya yang selama ini di rindukan .


Tinggal lah Mentari dan sang nenek di rumah yang mewah, tetapi jauh dari kata nyaman itu yang di rasakan Luna selama ini. Seharusnya rumah tempat ternyaman untuk pulang tapi nyatanya tidak semua rumah membuat orang nyaman.


"Sudah lah, Nek... pasti Mama juga pulang lagi ke rumah ini! jangan di pikirin. Oh iya hari ini ada acara bersama teman-teman, aku ganti baju dulu ya. Mau pergi bersama mereka pasti sebentar lagi jemput" kata Mentari sambil bangkit dari duduknya, meninggalkan sang Nenek yang merasa sedih.


...****************...


Di tempat lain.


Waktu bergulir begitu cepat, hari sudah gelap pertanda mentari akan segera tergantikan oleh sinar bulan.Pak Surya sudah tiba Desa tadi pagi, lelah sudah pasti itu yang di rasakan oleh mereka.


Bagi Senja tidak ada hal yang melelahkan, setelah tiba di rumah ia langsung bertemu dengan anak-anak yang ada di panti. Baginya kebahagiaan yang sesungguhnya hanya bersama mereka sebab tidak ada cinta yang tulus dari orang dewasa itu menurut Senja beda lagi dengan anak kecil, wajah polos penuh cinta serta tidak ada kepura-puraan itu yang membuat Senja sudah tidak sabar ingin segera bertemu mereka.


Pak Surya dan Pertiwi sudah berada di kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya tinggal Senja yang masih berada di ruang keluarga, entah apa yang di kerjakan Senja.


Setelah semuanya selesai yang di kerjakan nya, ia akan mengistirahatkan tubuhnya. Tetapi perhatian nya teralihkan dengan suara ketukan pintu yang membuat nya kaget, heran siapa yang datang bertamu malam-malam seperti ini.

__ADS_1


Senja melangkah dengan perlahan untuk segera menuju pintu depan dan melihat siapa yang datang.


Senja membuka pintu, lalu apa yang terjadi..?


__ADS_2