Fajar Menanti Senja

Fajar Menanti Senja
Part 6


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba marah seperti itu, kita di sini tidak pacaran hanya saling menyapa" jawab Fajar dengan nada bicara yang santun.


"Jika tidak pacaran, terus ngapain kamu masih di sini sedangkan kita menunggu kamu di sanah dan sejak kapan betah berada di mesjid" kata Langit


setelah kedatangan orang tersebut Senja langsung pergi, tanpa berpamitan terlebih dahulu terhadap Fajar.


Setelah kepergian Senja, Fajar pun langsung bangkit dan pergi meninggalkan orang tersebut.


Tentu saja Langit sangat marah ketika dirinya di abaikan, dia langsung mengejar Fajar dengan langkah cepat nya.


Mereka semua kembali ke posko tempat mereka menginap, begitu juga dengan teman perempuan nya. Tidak langsung pulang ke rumah Pak Suray, ada beberapa hal yang harus di bicarakan bersama.


Langit sudah kehilangan mood untuk membahas rencana kerja mereka di sini, setelah melihat Fajar dan Senja berduaan. Entah kenapa dia merasakan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya, saat melihat sahabat dan gadis yang beberapa hari lalu di temui tetapi sudah berhasil mengalihkan jiwa dan pikiran Langit.Di saat semuanya sudah siap, kenapa Langit masih berada di teras belum bergabung bersama mereka.


"Kamu kenapa sih, dari tadi keliatan nya bete gitu? " tanya Mendung terhadap Langit, yang di perhatikan seperti orang yang kehilangan semangat.


"Nggak apa-apa, lanjut saja aku masih mau di sini dulu" jawab Langit.


"Mana bisa seperti itu, kita di sini kelompok ya harus bareng-bareng lah. Masa kamu seperti itu nggak jelas banget" ucap Mendung sambil menghentakkan kakinya, lalu masuk kembali ke dalam rumah.


Dengan terpaksa Langit ikut gabung bersama teman-teman nya, dan mereka memulai diskusi untuk rencana beberapa hari ke depan. Hingga menghabiskan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat, siang telah berganti dengan sore. Begitu juga dengan semua orang yang melakukan aktivasi di luar rumah sudah saat nya untuk pulang.


Senja sudah bergegas untuk segera pulang ke rumah, sebab dia juga mempunyai tugas lain. Selain mengajar, menyiapkan makanan malam untuk anak-anak yang tinggal di panti. Dan malam harinya mengajar ngaji.


Senja dengan perlahan keluar dari area gedung sekolah segera pulang,setelah cukup lama dia berjalan kaki.


Tiba-tiba ada seorang menghentikan kendaraan nya tepat di depan senja.


"Yuk, naik biar ku antar pulang nya! " ajak Guntur terhadap Senja.


"Maaf, Pak tidak bermaksud untuk menolak nya. Tetapi rumah saya sudah dekat jadi nggak perlu naik motor juga" jawab Senja.


"Kebetulan saya ada perlu sama Pak Surya, jadi tidak ada salahnya ikut bersama saya" dusta Guntur.


Akhirnya Guntur menyerah dan meninggal kan Senja, dia melajukan kembali kendaraan nya.


Senja melanjutkan kembali langkah nya dengan perlahan. Sesekali dia berpapasan dengan warga sekitar.


Waktu bergulir begitu cepat tidak terasa senja sudah sampai di rumahnya, dia mengucap salam terhadap ayah dan ibunya yang sedang duduk di teras.


Setelah sampai di rumah dan mencium kedua tangan ayah dan ibunya, lalu dia masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan tubuhnya dan beristirahat sebentar.Sebelum melanjutkan aktivitas selanjutnya.

__ADS_1


Seperti biasa ketika sudah sampai di rumah Senja langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, posisi tubuh Senja terlentang dia menatap langit-langit kamar.


Seketika wajah Fajar terbayang di ingatan senja, ini untuk pertama kalinya Senja mengingat wajah laki-laki di dalam pikirannya.


"Astaga kenapa dia yang muncul di dalam pikiranku, aneh.... ya Allah jauhkanlah diriku dari perbuatan dosa "Senja berkata sendiri, kenapa pacar bisa ada di dalam pikirannya aneh sekali.


Senja tidak ingin wajah Fajar melintas kembali di kepalanya, akhirnya dia bangkit lalu pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya dan dia berharap pikiran kotor yang ada di otaknya itu ikut bersih bersama air yang membasuh seluruh tubuhnya.


Setelah cukup lama senja berada di dalam kamar mandi dengan ritual-ritualnya di sana, akhirnya dia keluar dengan wajah segarnya setelah berendam cukup lama di dalam.


Seperti biasa semua ritual sudah selesai Senja kerjakan, sudah saatnya dia keluar kamar dan menemui Ayah dan Ibunya dan ngobrol bersama.Ini sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini setelah selesai semuanya mereka berkumpul bercanda tawa bersama anggota keluarga yang lain. Kebetulan Senja tidak memiliki adik ataupun kakak dia hanya anak tunggal di keluarga ini. Jadi dia hanya punya teman ayah dan ibunya ketika sedang berada di rumah,di luar rumah pun senja tidak memiliki teman seperti yang lainnya.Dia seperti membatasi dirinya sendiri untuk bergaul dengan banyak orang,tidak sedikit juga orang yang mengatakan bahwa senja itu adalah sombong, tetapi itu bukan Senja yang sebenarnya.Pada kenyataannya senja adalah orang yang sangat ramah dan santun, dia selalu menghormati orang yang lebih tua.


Senja sudah berada di teras, dia duduk di samping sang Ibu.


Di saat Senja sedang asyik ngobrol bersama keluarga tercintanya, tiba-tiba ada suara seseorang yang mengucap salam di depan rumah.Senja sangat kaget ketika tahu bahwa orang tersebut yang datang dia tidak menyangka.


Pak Surya pun mempersilahkan orang tersebut untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut, sedangkan Senja dan juga Bu Pertiwi pergi ke dapur meninggalkan tamu tersebut.


Perasaan tidak karuan yang dirasakan oleh senja, itu sudah berhasil membuat Ibu Pertiwi bertanya-tanya.Kenapa anak gadisnya ini bertingkah seperti ini padahal biasanya juga selalu bertingkah biasa saja ketika berhadapan dengan orang lain apalagi orang tersebut sudah tidak asing lagi baginya.Tetapi kenapa saat melihat orang tersebut senja seperti orang yang salah tingkah dan kehilangan akal sehatnya.


"Apa yang terjadi dengan kamu, apakah orang tersebut sudah menyakiti kamu?" tanya sang Ibu terhadap putri tercintanya.

__ADS_1


"Enggak bukan itu kok, hanya saja ketika melihat dia perasaanku tidak karuan "jawab Senja dengan jujur terhadap sang Ibu.


__ADS_2