Fajar Menanti Senja

Fajar Menanti Senja
Part 34


__ADS_3

Prosesi pemakaman sudah selesai, mereka semua sudah kembali ke rumah. Senja bersama Luna pulang terakhir, Mentari anak yang tidak merasa sedih atas kepergian sang Ayah pulang terlebih dahulu.


Fajar tidak memiliki cela untuk mendekati ke arah Senja, sebab Mentari terus nempel. Ingin rasanya Fajar menjelaskan semua yang terjadi tetapi ia juga bingung harus memulai nya dari mana, apa mungkin Senja mau menjawab panggilan telepon nya.


Di kediaman Luna, para kerabat masih berada di sini. Begitu juga dengan istri kedua.


"Kak... maafin, mas Jimmy ya... jika selama ini dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama ku" ucap Mayang sambil menatap lelet wajahnya Luna.


"Aku sudah memaafkan nya sejak dulu, jangan khawatir"


"Terimakasih, Kak... " kata Mayang ia tidak menyangka ternyata Luna sangat baik, bahkan tidak membencinya sama sekali.


Bagi Luna tidak ada gunanya membenci orang lain atas apa yang terjadi dengan hidupnya, toh semua itu tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan. Lebih baik berdamai dengan keadaan, mungkin itu lebih baik.


Senja masih setia duduk di samping sang Mama beda lagi dengan Mentari entah ke mana anak itu perginya, setelah pulang dari pemakaman sudah pergi lagi. Di saat semuanya sedang ngobrol hanya Senja yang terus daim, sebab ia bingung harus ngomong apa.


Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Senja mengucapkan salam, semua orang melihat ke arahnya. Dan ternyata orang itu adalah Fajar.


Mereka yang ada di dalam rumah menjawab dengan serempak.


"Mentari nya sudah pergi lagi, ada perlu apa? " tanya Luna dengan suara lembutnya.

__ADS_1


Keluarga Fajar belum mengetahui jika Senja itu anak dari Luna, mungkin jika Karlina tahu bahwa Senja itu mempunyai ibu yang sama dengan mentari apakah restu itu akan ada untuk Senja.


"Maaf tante, saya mau bertemu dengan Senja. Apakah itu boleh? " kata Fajar.


"Hahh... Senja untuk apa kamu bertemu dengan nya, tunangan kamu itu Mentari kenapa dengannya" kata Nenek dengan raut wajah yang kesal terhadap Fajar.


"Duduk dulu... baru bicara? " perintah Luna terhadap Fajar.


Akhirnya Fajar duduk di salah satu sofa yang berada di ruangan tersebut, sekilas melirik ke arah Senja. Tetapi perempuan itu mengabaikan nya, bahkan tidak melirik nya sedikit pun. Bahkan saat orang lain menoleh ke arah sumber suara Senja tidak, sebab ia sudah tahu pemilik suara itu.


"Terimakasih, Tante"


Akhirnya Luna dan yang lain pergi dari ruangan itu, sebab ia ingin memberikan ruang untuk Fajar berbicara dengan Senja. Mungkin itu lebih baik, meskipun sang Nenek tidak suka. Untuk kali ini ia mengikuti Luna untuk meninggalkan mereka berdua.


"Setan apaan sih, Ma... di rumah ini banyak orang, Senja itu anak yang baik pasti bisa menjaga kehormatan nya sebagai perempuan"


"Kehormatan apaan, awas aja dia jadi pelakor. Udah tahu calon suami adik nya, masih saja... "


"Mama...nggak pantas lah bicara seperti itu, dia juga cucu Mama sama seperti Mentari"


"Itu anak mu, bukan cucu ku... "

__ADS_1


"Udah tua juga tetap tidak berubah... " kata Luna sambil pergi berlalu, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya dari lelahnya kehidupan.


Fajar belum juga memulai pembicaraan, ia bingung harus mulai dari mana. Begitu juga dengan Senja dia nggak mau memulai pembicaraan, hanya diam menunggu Fajar untuk bicara.


Setelah cukup lama mereka saling diam akhirnya Fajar mulai bicara.


"Maafkan aku, seharusnya hal ini tidak terjadi tapi apalah daya. Tidak bisa menolak keinginan Mama dan ini juga menyangkut perubahan yang lagi krisis, Nenek menawarkan bantuan dengan satu syarat yaitu mau menikah dengan Mentari. Aku bingung harus bagaimana, di satu sisi aku sayang sama kamu dan di sisi lain aku juga sayang sama keluarga. Sebab perusahaan itu yang menopang kehidupan kami" kata Fajar dengan raut wajah yang sedih, jujur ia tidak sanggup jika harus melupakan cinta nya untuk Senja.


"Nggak harus minta maaf, aku sadar diri ko... perempuan kampung seperti ku tidak pantas untuk jatuh cita terhadap kalian yang strata sosial nya lebih tinggi, nggak mungkin menerima perempuan miskin dan tidak menguntungkan untuk perusahaan. Aku ikhlas menerima semua ini, jika memang kita berjodoh pasti semesta punya cara untuk mempersatukan kita" ucap Senja sambil menatap lurus ke depan.


"Nggak begitu juga...justru dengan seperti ini hati ku merasa sakit. Kenapa hal ini bisa terjadi dengan hubungan kita"


"Sudah lah, nggak perlu di bahas lagi. Oh iya mungkin beberapa bulan aku akan melanjutkan pendidikan di luar Negri, jika selama ini ada banyak salah mohon maaf dan semoga bisa bertemu lagi di lain waktu" ucap Senja sambil tersenyum tipis.


Tetapi bagi Fajar senyuman Senja itu adalah sebuah luka yang berusaha di sembunyikan nya.


"Harus ya pergi ke sana, apa nggak ada pilihan di sini untuk melanjutkan nya... di sini juga banyak universitas ternama"


"Ini rencana dari dulu, sudah tidak ada lagi yang di bicarakan? sebaiknya cepat pulang sebelum ada fitnah, bukan mengusir tetapi sudah tidak ada lagi yang perlu di bicara kan"


"Baiklah aku pulang, jaga diri baik-baik ketika sudah di sana... pamit pulang"

__ADS_1


Akhirnya Fajar pulang dan tinggal lah Senja yang masih duduk sambil menyandarkan punggung nya, rasa hati ini belum siap menerimanya tetapi berusaha untuk ikhlas melepaskan. Mungkin ini yang di sebut jangan berharap kepada manusia, maka berharap lah kepada sang pencipta. Karena pencipta lah yang membolak-balikan hati manusia.


__ADS_2