
"Ada apa? " tanya Pertiwi.
"Ayah nya Mentari kecelakaan dan meninggal di tempat" jawab Luna dengan raut wajah yang sendu, walau bagaimana pun tetap lah suaminya. Ayah dari anak nya meskipun Luna tidak mendapatkan perlakuan baik.
Pertiwi kaget dengan berita yang baru saja di dengarnya.
"Inalilahi, ko bisa... temenin Senja ya, pulang nya takut terjadi sesuatu sama kamu di perjalanan nanti. Oh iya nanti minta Ayah nya Senja mencari sopir untuk mengantarkan kalian, biar nggak usah naik angkutan umum itu terlalu melelahkan"
"Terimakasih banyak yah, kamu selalu mau di repot kan oleh ku"
"Nggak masalah, selama aku bisa bantu maka semua itu akan aku lakukan. Ayo Nak cepat siap-siap, temani Mama! " perintah Pertiwi terhadap Senja, ia nggak tega membiarkan Luna pergi dengan keadaan seperti ini.
"Baiklah, Bu... " Senja nurut dengan apa yang di ucapkan oleh sang ibu, meskipun dalam hatinya belum mau ikut bersama Luna tetapi ini permintaan dari Pertiwi.
Luna bersiap, begitu juga dengan Senja. Sedangkan Peristiwa mempersiapkan untuk keberangkatan mereka. Mencari sopir untuk mengantarkan mereka, sebab nggak mungkin jika Surya yang mengantarkan mereka.
Persiapan sudah selesai, begitu juga dengan Senja. Mungkin ini untuk pertama kali bagi Senja jauh dari sang Ibu, meskipun saat ini ikut bersama Mama kandung tetap saja bagi perempuan ini merasa sedih harus jauh dari Pertiwi yang selama ini bersama nya.
"Sudah siap belum? itu yang akan mengantarkan kalian sudah datang" tanya Surya terhadap Luna dan juga Senja, perempuan itu tidak membawa barang yang banyak. Hanya beberapa baju ganti untuk di sana, ia pikir nggak akan lama juga di kota.
__ADS_1
"Sudah... "
Luna dan Senja berpamitan untuk segera pergi.
"Bu... Senja berangkat sekarang ya? " kata Senja sambil memeluk sang ibu, rasa sedih menyelimuti nya.
"Hati-hati di jalan, jangan lupa kabarin ibu jika sudah sampai" kata Pertiwi.
"Iya, Bu" jawab Senja setelah berpamitan, langsung melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
Kendaraan yang mereka tumpangi perlahan pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Malam hari telah tiba, kendaraan yang mengantarkan mereka sudah masuk ke area perumahan mewah yang di tempati Luna. Hingga pada akhirnya berhenti di sebuah bangunan yang megah.
"Kita sudah sampai" kata Pak Sopir.
"Ayok sekarang kita turun? " ajak Luna terhadap Senja, begitu juga dengan sopir.
Meskipun saat masih hidup Ayah mentari hanya pulang ke rumah ini 2 hari dalam seminggu. Tetap saja jika sudah seperti ini akan di bawa pulang ke rumah istri pertama. Sebab yang berhak atas segalanya yaitu istri pertama, menurut informasi yang di dapat. Pemakaman akan di langsung kan esok hari, sebab menunggu kedatangan Luna.
__ADS_1
Luna bergegas untuk segera masuk ke dalam Rumah, sudah ada kerabat yang berdatangan.
Terlihat dari kejauhan Mentari sedang duduk di sofa bersama sang Nenek, dan ada beberapa orang kerabat juga terlihat di sana.
Luna yang di ikuti Senja dari belakang langsung mendekat ke arah sang Mama, dan ada juga istri ke 2 dari suaminya berada di sana.
"Akhirnya kamu pulang juga, ku pikir kamu tidak akan pernah datang lagi ke rumah ini" nada bicara sang Mama sinis.
"Kan aku di minta pulang, karena suamiku yang meninggal" jawab Luna santai, untuk hari ini saja ia nggak mau berdebat dengan sang Mama, lalu ia melirik ke arah Mentari yang tidak ada sedih-sedihnya.
Setelah berbicara seperti itu, Luna langsung pergi berlalu meninggalkan sang Mama sambil mengajak Senja untuk pergi ke kamar.
...****************...
Keesokan harinya.
Semua anggota keluarga sedang menyaksikan proses pemakaman suami dari Luna, hanya Luna yang merasakan kesedihan. Semua orang terlihat biasa saja, entah apa yang terjadi dengan keluarga ini.
Fajar pun ikut hadir, Mentari tidak mau jauh darinya. Tetapi Fajar merasa sakit saat Senja tak menghiraukan keberadaan nya, bahkan untuk melirik pun enggan.
__ADS_1
Apakah terlalu sakit bagi kamu, semua ini. Jika saja kamu tahu, aku juga sakit menerima semu ini. Ingin sekali saat ini berada di samping mu, berbagai cerita seperti waktu itu.