
Senja sudah berada di rumah sakit , Bumi masih terus mondar-mandir karena Senja belum sadar kan diri.
"Bias diam nggak sih, jangan seperti itu! " kata Luna sambil menatap lekat wajah Bumi.
"Ngerti nggak sih.. aku ini khawatir sama Senja apa kamu nggak perduli sama anak sendiri"
"Bukan seperti itu, tadi kan dokter sudah bilang tunggu beberapa saat lagi Senja masih di bawah pengaruh obat bius" kata Luna.
"Sudah kita tunggu saja, nggak ada gunanya juga kita berdebat atau negeributin hal yang nggak penting. Kita berdoa saja semoga Senja baik-baik saja" kata Surya sambil menatap Luna dan Bumi secara bergantian.
Sesaat semuanya diam, tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Mereka larut dengan pikiran masing-masing, Luna memikirkan bagaimana reaksi Senja nanti jika mengetahui kenyataan yang sesungguhnya, apakah akan menerima nya atau bahkan menjauhi nya. Beda lagi dengan Bumi ia sangat percaya bahwa Senja akan menerima nya dengan tangan terbuka.
Surya dan Pertiwi sudah ikhlas untuk melepaskan Senja, sebab mereka sudah tahu akan seperti ini jadinya. Pada saat Luna menyerahkan Senja juga me nitip untuk sementara jadi mereka sudah tahu bahwa hari ini akan tiba di mana Luna mengambil kembali anak yang di titipkan nya dulu.
Sudah cukup lama mereka diam, akhirnya Senja membuka mata dan memanggil sang Ibu.
"Bu... aku di mana? ko seperti rumah sakit" kata Senja sambil menelisik di setiap sudut ruangan.
Bumi dan Luna dengan reflek langsung mendekat ke arah Senja.
__ADS_1
"Syukur lah sudah sadar sayang, Papa sama Mama ada di sini" kata Luna bersamaan dengan Bumi sambil mengelus wajah Senja.
Senja kaget dengan orang asing yang menyentuh wajahnya, ia menepis tangan Bumi.
"Papa, Mama! " jawab Senja dengan raut wajah kagetnya.
"Iya, kami ini orang tua mu. Yang selama ini merindukan mu" jawab Bumi dengan raut wajah yang sedih.
"Ayah, Ibu, kalian bicaralah kalau mereka ini bohong kan! nggak mungkin mereka orang tua ku" Senja berkata sambil menatap Pertiwi dan Surya yang terus menunduk dari tadi.
Seketika Pertiwi menarik nafas lalu berkata "Mungkin saat nya kamu tahu yang sesungguhnya, mereka memang kedua orang tua kandung mu. Kami hanya orang tua sambung, yang pada saat itu Luna meminta ku merawat mu dengan baik dan jika waktunya sudah tiba maka. Mereka akan me jemput mu, mungkin ini sudah saatnya kamu bersama mereka. Keluarga mu yang sesungguhnya" ucap Pertiwi dengan raut wajah yang sangat sedih, jujur dalam hatinya yang paling dalam ia tidak mau di pisah dari Senja yang selama ini di rawat dengan penuh cinta. Akan tetapi ia juga tidak mau egois untuk selalu memiliki Senja seutuhnya, secara ada yang lebih berhak.
" Ini kenyataan sayang, yang harus kamu terima dengan ikhlas. Sudah cukup waktu ibu menguras mu, saat nya kembali ke keluarga mu yang sesungguhnya. Akan tetapi satu hal yang perlu di ingat, Kamu tetap anak ibu sampai kapan pun"kata Pertiwi sambil memeluk tubuh Senja, yang sudah gemetaran akibat menangis.
Luna juga mengelus kepala Senja dengan lembut, mungkin ada rasa yang aneh saat tangan Luna menyentuhnya. Rasa nyaman dan serasa di lindungi timbul dari sentuhan itu.
Bumi dan Surya hanya menatap tiga perempuan yang berada di hadapan nya, yang tadinya sangat yakin bahwa Senja akan menerima kehadiran nya. Sekarang goyang, ia takut mendapatkan penolakan dari sang anak.
Waktu bergulir begitu cepat, setelah mendapatkan pengertian dari Pertiwi bahwa Luna dengan terpaksa menitipkan Senja terhadap dirinya itu juga demi keselamatan Senja dari niat jahat sang Nenek yang ingin melenyapkan nya pada saat itu, begitu juga dengan Bumi tidak punya kekuatan untuk melawan mertuanya karena belum memiliki uang yang bisa membeli mulut ibu mertua nya.
__ADS_1
Luna tidak salah menitipkan Senja kepada Pertiwi, ia sudah menjadikan Senja pribadi yang baik dan ikhlas menerima semua kenyataan ini. Bahwa semua yang terjadi kepada-Nya adalah tidak lepas dari kehendak sang kuasa.
Senja sudah di perbolehkan untuk pulang, semuanya sudah siap untuk segera menuju rumah. Sementara Guntur sudah di proses oleh pihak yang berwajib dengan tuduhan kasus penculikan dan pelecehan seksual terhadap Senja, laki-laki itu terancam hukuman pidana yang akan berakhir di balik jeruji besi.
Perjalanan yang mereka lalui cukup lama untuk segera sampai di rumah hingga Senja sampai tertidur pulas.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu rumah Surya, mereka semua sudah turun dari kendaraan yang di tumpangi.
Rencana Bumi akan kembali ke kota malam hari setelah semuanya selesai dan memastikan keselamatan untuk Senja, bagi pelaku sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang di lakukan untuk Senja.
Mereka sudah berada di ruang keluarga dan akan makan siang bersama, dengan menu masakan yang sudah tersedia di rumah ini. Kebetulan hari ini yang memasak untuk anak-anak di panti yaitu Bi Mar.
Luna dan Bumi merasa sangat lega ketika Senja menerima kehadiran nya, meskipun belum bisa ikut bersama Bumi tinggal di kota setidaknya Senja sudah menganggap bahwa dia itu ayah kandung nya.
Surya juga sudah menceritakan semua yang terjadi dengan Senja, termasuk ingin melanjutkan pendidikan nya di Negeri sebrang. Bagi Bumi itu buka suatu yang sulit bahkan jika Senja mau minggu depan sudah bisa berangkat ke sana, apalagi mendengar jika Senja sedang patah hati akibat pria yang di sukainya bertunangan dengan orang lain.
"Ayok kita makan dulu! dari semalam kalian belum makan apapun,bagaimana kalau sakit" ajak Pertiwi terhadap mereka semua.
"Baiklah... " jawab Surya sambil memberi isyarat terhadap Bumi dan Luna untuk ikut ke ruang makan.
__ADS_1
Sudah berkumpul di ruang makan, menu sederhana tapi nikmat rasanya. Mungkin kadar kenikmatan itu di rasa dari syukur yang kita miliki, makanan yang mewah pun tidak menjamin nikmat jika kita tidak bersyukur. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang pandai syukur dengan apa yang kita miliki pada saat ini.