
Waktu bergulir begitu cepat,hari telah berganti dengan minggu.Begitu juga dengan minggu telah berganti dengan bulan. Sejak saat itu tidak ada lagi komunikasi dengan Fajar, perempuan itu memilih tidak mau tahu lagi soal Fajar. Ia percaya sama takdir Tuhan, jika memang jodoh pasti semesta punya cara untuk mempersatukan mereka kembali. Saat ini Senja hanya ingin Fokus dengan tujuan nya, dan meraih kesuksesan dengan berbagai prestasi yang di miliki. Meskipun ia anak dari orang terpandang di negara ini, tidak menjadikan Senja numpang popularitas terhadap kekayaan orang tua. Beda lagi dengan Mentari setelah kepergian sang Ayah hidupnya malah semakin tidak karuan, hobi belanja yang tidak penting. Selalu menghamburkan uang, Luna merasakan kewalahan mendidik Mentari sebab sang Nenek selalu memanjakan nya. Hari ini Senja akan berangkat melanjutkan pendidikan nya ke luar Negeri, semua anggota keluarga merasakan sedih dengan kepergian Senja. Kali ini Bumi akan mengantarkan sang anak untuk pergi, ia belum tenang sebelum melihat dengan mata kepala nya sendiri bahwa Senja akan baik di sana.
Surya, Pertiwi dan juga Luna akan mengantarkan Senja ke bandara. Andaikan mereka bisa mencegah keinginan sang anak, tetapi kali ini mereka hanya mendukung apa yang menjadi keputusan Senja. Sebagai orang tua hanya mendoakan demi kebaikan sang anak.
"Kenapa sih, Bu sedih seperti itu terus... kan aku juga bakal pulang lagi ke sini. Lagian bisa pulang jika sedang libur kampus, toh di antar Papa juga ke sana jangan khawatir" ucap Senja sambil mengelus punggung sang Ibu.
"Tapikan, bakal butuh waktu lama untuk bisa pulang ke sini lagi" kata Pertiwi dengan raut wajahnya yang sedih, ia belum rela jika harus jauh dari sang anak.
"Doa kan saja, semoga cepat selesai dan segera pulang lagi"
"Doa ibu nggak pernah putus untuk mu" ucap Pertiwi sambil memeluk Senja.
"Sudah jangan sedih... kita sama-sama berdoa untuk kebaikan nya di sana" kata Luna sambil mengusap bahu Pertiwi, Luna lebih kuat di banding Pertiwi ia sudah terbiasa di hadapkan dengan hal seperti ini.
"Ayok kita berangkat, sudah siap kan? " tanya Bumi terhadap sang putri tercinta.
"Sudah, Pah... "
"Ayok kita berangkat! "
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam kendaraan, untuk mengantarkan Senja ke bandara. Rasa tidak ikhlas di Pertiwi masih menguasai. Senja yang melihat sang Ibu seperti itu merasakan tidak enak hati.
"Bu... jangan seperti ini lah, kan aku pergi juga untuk kembali" ucap Senja sambil menggenggam tangan sang Ibu, Luna terlihat sangat tenang padahal dalam hatinya sama saja dengan Pertiwi.
"Iya, biarkan Senja pergi dengan tenang. Toh kita bisa mengunjungi nya ke sana jika ada waktu sekalian liburan keluarga" kata Bumi, ia berusaha menenangkan hati Pertiwi.
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang membawa mereka sudah memasuki area bandara.
...****************...
Di tempat lain, seorang perempuan dengan nafas yang tidak beraturan. Sebab ia lari sangat jauh melewati kemacetan untuk segera sampai di tempat tujuan, agar sang kakak tidak terlambat untuk segera mengetahui kebenaran yang ada.
"Kak, Fajar di mana?" teriak Mega mencari keberadaan sang Kakak.
Bukan di sambut oleh Fajar malah Langit dan Mendung yang datang menemui kehadiran Mega.
"Ada apa teriak-teriak? ini bukan hutan, tidak pantas seperti itu" kata Langit yang berdiri di hadapan Mega.
__ADS_1
"Di mana kak Fajar? ada hal penting yang harus di bicarakan"
"Dia di lapangan basket, sebentar lagi akan tanding jangan di ganggu biarkan dia konsentrasi" kata Mendung.
"Ini jauh lebih penting daripada basket" ucap Mega sambil berlari menuju lapangan tersebut.
Setelah berada di area lapangan basket, Mega memanggil sang Kakak lalu Fajar mendekat ke arah Mega.
"Ada apa teriak-teriak? sudah mirip tarzan saja kamu"
"Ayok cepat kejar kak Senja hari ini dia pergi ke luar Negri, siapa tahu bisa merubah pikiran nya kalau kakak yang minta"
"Yakin kamu! Senja berangkat hari ini? " jawab Fajar kaget dengan berita yang baru saja di terimanya.
"Yakin, orang kak Senja yang ngasih tahu aku bahwa dia berangkat. Ayok cepetan"
Tanpa basa basi lagi, Fajar langsung lari dan keluar dari area lapangan basket. Nggak perduli dengan kaos yang di kenakan tujuan nya hanya satu yaitu, segera sampai di Bandara untuk menemui Senja sebelum terlambat.
"Lang,mana kunci motor lu? gua pinjam dulu sebentar" kata Fajar.
Setelah menerima kunci dari sahabatnya itu, Fajar langsung lari menuju tempat parkir dan segera mengendarai motor tersebut dengan kecepatan tinggi. Tujuan nya hanya satu yaitu ingin mencegah kepergian Senja, apapun resiko nya ia ingin memperjuangkan cintanya untuk Senja meskipun di tentang oleh keluarga nya. Kali ini Fajar masa bodoh, yang penting bisa hidup berama Senja sang pujaan hati.
Tidak butuh waktu lama bagi Fajar untuk segera sampai di bandara, akhirnya ia langsung menyimpan motor nya lalu berlari masuk ke area ruang tunggu.
Terlihat dari kejauhan Senja masih berdiri sedang berbincang dengan Pertiwi dan pak Surya.
"Senja... " panggil Fajar.
Seketika semua orang melihat ke arah Fajar yang di penuhi keringat, laki-laki itu terlihat sangat kusut dengan pakaian kaos team basket.
"Fajar... " jawab Senja dengan raut wajah yang kaget ia tidak menyangka bahwa Fajar akan datang menemui nya pada saat ini.
Fajar mendekat ke arah Senja dengan langkah perlahan, raut wajah yang sedih.
"Apa kamu yakin akan pergi ninggalin aku, padahal aku sudah memutuskan bahwa akan melamar mu dalam waktu dekat ini. Soal pertunangan dengan Mentari aku sudah memutuskan nya, begitu juga dengan Mentari ia tidak mau melanjutkan nya. Sebab menurut dia yang lebih pantas bersama ku adalah kamu bukan Mentari. Jika aku bisa memohon maka jangan pergi....selama ini aku sudah menderita tanpa kehadiran mu, bagaimana bisa harus jauh. Mau kah kau menjadi calon istri ku dan Ibu dari anak-anak ku di masa yang akan datang, maaf aku tidak membawa cincin atau bunga. Hanya cinta tulus yang ku punya" kata Fajar sambil berlutut di hadapan Senja, semua orang yang melihat itu merasa terharu dengan kisah cinta mereka.
Sungguh Senja tidak percaya bahwa hal ini akan terjadi, ternyata Tuhan telah merencanakan ini untuknya. Fajar hadir di saat ia akan pergi jauh.
__ADS_1
Di saat Fajar masih berlutut datang lah Karlina.
"Hai bodoh, bagaimana bisa kamu melamar anak orang seperti itu tanpa cincin dan bunga. Ini Pakaikan di tangan nya" ucap Karlina sambil menyerah kan satu buah cincin berlian.
Fajar mengambil cincin tersebut lalu berkata "Apa kamu mau menerima ku, menjadi calon suami. Aku tidak akan menghalangi kepergian mu, setelah tahu jawaban nya" kata Fajar.
Senja melirik ke arah keluarga nya, dan mereka semua tersenyum.
"Sepertinya Aku tidak bisa..."
"Maksudnya...." jawab Fajar dengan raut wajah yang sedih, ia sudah yakin bahwa Senja akan menolak nya.
"Tidak bisa menolak nya" kata Senja dengan malu-malu.
"Terimakasih... " kata Fajar hendak memeluk Senja saking bahagia nya, tetapi niat nya di halangi oleh Papa Bumi sambil berkata "Belum sah jadi suami istri jangan peluk-peluk"
"Maaf" hanya itu yang terucap dari bibir Fajar, ia sangat malu dengan keluarga Senja yang ada di sini.
Seketika semua orang merasa bahagia, akhirnya Senja dan Fajar bersama.
"Selamat ya, Kak... semoga bahagia" Mentari mengucapkan selamat terhadap Senja, ia datang bersama seorang lelaki yang di kenalkan sebagai pacar nya.
"Sudah selesai kan bicara nya? " tanya Bumi terhadap Fajar.
"Sudah, Om"
"Baik lah, ayok kita berangkat. Nanti ketinggalan pesawat lagi! " ajak Bumi terhadap Senja.
"Emang nggak bisa di tunda ya, Om berangkat nya" kata Fajar dengan raut wajah yang sedih.
"Nanti kita bertemu dua tahun lagi, sekalian pesta pernikahan kalian" ucap Bumi sambil menggandeng Senja untuk segera pergi.
Mereka semua menatap kepergian dengan senyuman.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
SAMPAI JUMPA DI CERITA SELANJUTNYA 😁🤗
__ADS_1