Fajar Menanti Senja

Fajar Menanti Senja
Part 8


__ADS_3

Senyum merekah di bibir Fajar saat melihat kedatangan Senja ke panti, begitu juga dengan senja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Pertama kali yang dilakukan senja saat datang ke pantai yaitu mencium punggung tangan Ayah dan Ibunya, setelah itu dia tersenyum ke semua orang yang ada di sini.


Mata Fajar dan juga senja saling bertemu, di antara keduanya merasakan getaran yang berbeda.Seperti ada energi yang menarik keduanya untuk saling mendekat.


karena mereka sudah berpamitan, akhirnya melanjutkan niatnya untuk segera pulang ke posko.Meskipun dalam hati Fajar masih berat untuk meninggalkan tempat ini, sebab baru saja dia bertemu dengan Senja masa ia harus ditinggalkan kembali.Rasa tidak ikhlas untuk melangkahkan kakinya pergi dari tempat ini, tetapi apalah daya ini harus dilakukannya.


Tanpa disadari oleh Fajar, senja terus menatap kepergian dirinya sampai tidak terlihat lagi di pandangan nya.


Setelah sepi tinggal lah Senja dan keluarga nya, mereka duduk bersama.


"Nak Fajar itu ganteng yah, sopan pula orang nya! " kata Ibu Pertiwi tiba-tiba.


Seketika Pak Surya melihat ke arah sang istri dan juga Senja secara bergantian, rona merah di wajah sudah terlihat jelas di wajah sang putri.


"Ah biasa saja, di sini juga banyak yang ganteng" ucap Senja.


"Masa sih, termasuk Guntur juga yah"


"Dia juga ganteng, kan laki-laki" kata Senja sambil tersenyum tipis.


"Owh ya, kalau nanti ada lelaki yang melamar mu bagaimana? " tanya Pak Surya.


"Maksud Bapak apa? tahu sendiri aku belum kepikiran ke sanah masih ingin melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi dan fokus sama karir. Lagian siapa juga yang mau sama gadis kampung seperti aku"


"Kenapa bicara seperti itu, beryukur dengan apa yang kita miliki untuk sekarang. Banyak di luar sana yang memiliki banyak kekurangan, dan ternyata itu sebuah kelebihan. Apalagi kita yang di beri anggota tubuh lengkap tempat tinggal yang layak, lantas apa yang kurang"


"Iya, Pak"


"Bagaimana hari ini, lancar kah di sekolah nya?" tanya sang Ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah semuanya lancar, hanya saja aku nggak suka sana Pak Guntur dia terus mendekati ku. Nggak bisa di bilangin orang, tadi juga masuk ke kelas pas anak-anak sudah keluar. Pan jadinya risih saat dekat dengan nya" kata Senja.


"Hati-hati saja, jangan sampai kamu mengeluarkan kata yang menyinggung perasaan nya. Orang seperti Guntur bisa nekat, mungkin itu sifat warisan dari Bapaknya" kata Pak Surya.


"Ya sudah, bersih-bersih dulu sana. Capek juga kan! nanti setelah selesai semuanya kita makan bersama" ucap Ibu Pertiwi.


"Iya" jawab Senja dengan singkat.


Senja pergi berlalu meninggalkan Ayah dan Ibunya, yang masih berada di panti.


Setelah kepergian Senja tiba-tiba Ibu Pertiwi berkata sambil menatap lurus ke depan.


"Bagaimana nanti jika Senja menikah dan punya keluarga sendiri, pasti dia lupa sama kita dan sudah pasti lebih memilih keluarga kecilnya"


"Astaga, Ibu.... kenapa bisa berfikir seperti itu, Senja anak kita sudah pasti dia akan terus menyayangi Ibu dan Bapak nya. Jangan pernah meragukan ketulusan cinta seorang anak, bisa jadi ragu di hatimu itu bentuk do'a juga"


"Bukan meragukan nya tetapi Ibu takut"


"Jangan pernah takut dengan apa yang belum terjadi, pasrah kepada sang Pencipta bahwa apa yang terjadi di hidup ini tidak lepas dari peraturan yang telah di tetapkan olehnya"


"Iya"


Pak Surya pun pergi meninggalkan Ibu Pertiwi yang masih duduk, sambil memandang kepergian nya.


Waktu bergulir begitu cepat, seperti biasa jamah di mesjid terdiri dari orang-orang yang tinggal di kampung ini, di tambah lagi dengan mahasiswa yang ada. Mereka sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan dan berbaur, mengikuti kegiatan warga sekitar termasuk juga dengan Solat berjemaah.


Setelah solat jamaah selesai ada beberapa pesan dari Pak ustadz untuk semua orang yang hadir, ini sudah menjadi kebiasaan di sini.Semua dengan serius menyimak kata demi kata yang di ucapan oleh Pak Ustadz, hal itu membuat Fajar mengelus dada. Ternyata begitu bodohnya orang yang tidak faham akan agama dan lalai akan perintah Allah.


Fajar merasa sangat beryukur kegiatan nya di Desa ini sungguh menjadikan dirinya banyak tahu tentang agama, yang selama ini keluarga nya mengabaikan.


Setelah cukup lama dan sudah tiba waktu isa, mereka semua solat jamaah kembali sebelum pulang.

__ADS_1


Semua orang keluar dari mesjid setelah selesai solat, beda lagi dengan Fajar dia masih menunggu Pak Ustadz yang belum juga keluar.Setelah cukup lama menunggu Pak Ustadz pun kan keluar tetapi langkah nya terhenti saat Fajar mendekati nya, dan berkata bahwa dia ingin belajar ilmu agama lebih jauh lagi. Niat baik Fajar di sambut ramah oleh Pak Ustadz.


"Ini sudah malam, besok saya tunggu di rumah jika memang betul kamu ingin belajar agam! " kata Pak Ustadz sambil tersenyum menatap lekat wajah Fajar.


"Terimakasih banyak, Pak Ustadz. Besok saya akan ke sana"


"Di tunggu kehadiran nya"


Pak Ustadz dan Fajar pun keluar dari mesjid dan pulang ke tempat masing-masing.


Semua teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu.


Fajar melangkahkan kakinya dengan perlahan melawati jalan yang penerangan nya sedikit kurang, tetapi bagi Fajar itu tidak menghalangi niat baiknya. Dengan langkah perlahan dia nikmati udara malam ini di sepanjang jalan, hingga tidak terasa Fajar sudah sampai di depan rumah.


"Dari mana saja kamu? " tanya Langit.


"Habis ngobrol sebentar tadi sam Pak Ustadz, mulai besok mau belajar tentang agama"


"Kita di sini sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah, kenapa jadi belajar agama?"


"Belajar nya juga jika tugas kuliah sudah selesai, nggak mengganggu juga ko. Lagipula masa niat baik orang di halangi" jawab Fajar sambil duduk di bangku yang berhadapan dengan Langit.


"Kenapa sih, tiba-tiba kamu itu ingin belajar agama kemana aja selama ini"


"Lingkungan di sini sudah berhasil membuka mata hati ku yang selama ini gelap akan agama,ternyata aku orang yang paling bodoh"


"Tapi ini datang dari hati kamu yang paling dalam atau ada maksud lain? " tanya Langit lebih detail.


"Ini semua atas dasar kemauan sendiri tanpa ada paksaan dari siapa pun"


"Sukur lah jika seperti itu, berarti kamu sudah mendapatkan hidayah"kata Langit

__ADS_1


"Eh Hidayah itu siapa? pan dari tadi kita cuma berdua nggak ada orang lain lagi" jawab Fajar dengan raut wajah yang polos dan merasa tidak berdosa.


"Serah kamu deh, aku ngantuk mau tidur. Awas ada tante kunti lagi " ucap Langit sambil masuk ke dalam Rumah.


__ADS_2