Fajar Menanti Senja

Fajar Menanti Senja
Part 27


__ADS_3

Percakapan antara Luna dan Pertiwi sudah menghabiskan waktu yang cukup lama, setelah di rasa tidak ada lagi yang perlu di bahas. Akhirnya dua perempuan itu keluar dan melangkahkan kaki dengan perlahan, sebelum pulang ke Desa. Luna mengajak Senja dan keluarga nya untuk pergi belanja, meskipun Pertiwi menolak tetapi Luna tidak menerima penolakan.


Dengan terpaksa ia juga tidak mau egois dengan langsung membawa pulang Senja ke Desa.


Setelah berada di ruang keluarga di sana terlihat Senja dan sang Ayah sedang duduk dan berbincang bersama Nenek dan juga Mentari. Mereka terlihat sangat serius, entah apa yang di rencanakan sang Nenek dan Mentari. Pasti di balik ini semua ada banyak rencana lain yang tersusun tanpa diketahui oleh Luna.


"Ngomongin apaan sih? serius amat" tanya Luna terhadap sang Mama yang sedang berbicara kepada Senja, lalu Luna duduk di samping Senja dan gadis itu menggeser tubuhnya.


"Ini loh, Ma... Tari lagi bertanya sama kak Senja, tema seperti apa yang bagus untuk acara pernikahan nanti. Meskipun tinggal di Desa selera dia cukup bagus" Tari langsung menjawab pertanyaan sang Mama meskipun itu pertanyaan bukan di tunjukkan untuknya.


"Astaga, apa ini sebuah rencana untuk menyakiti Senja. Semoga kamu kuat menerima ini semua" Pertiwi membatin.


"Yakin kamu minta saran dari Senja? " tanya Luna.


"Yakin dong... pilihan nya pasti tidak akan mengecewakan, iya kan! Kak " kata Mentari terhadap Senja.


Senja tidak menjawab pertanyaan Mentari hanya tersenyum tipis, entah apa yang di rasakan perempuan itu. Harus kah ikut bahagia atau sedih dengan pertunangan kekasih nya, bahkan saat ini ia mendengar sendiri dari mempelai perempuan bahwa pernikahan akan di laksanakan dalam waktu dekat.


"Nggak perlu membahas ini sekarang toh rencana ke pernikahan juga masih jauh, siapa tahu Fajar berubah pikiran atau dia mempunyai kekasih yang lain" ucap Luna sambil menatap tajam Mentari. Luna sangat tahu pasti ini sengaja di lakukan Mentari agar Senja sakit hati, sebab Mentari sudah mengetahui jika Senja itu kakak nya.


"Nggak apa, Bu... jika memang Tari senang meminta saran dari aku sangat senang" ucap Senja sambil tersenyum tipis.


"Astaga sayang, kamu nggak tahu Tari sengaja menyakiti mu dengan cara seperti ini" Luna membatin.

__ADS_1


"Ya sudah katanya mau pergi ke luar" Pertiwi menyela pembicaraan di antara mereka.


"Mama mau ajak kita ke luar? " tanya Mentari dengan antusias.


"Baiklah, yuk kita bersiap terlebih dahulu! "


Mereka semua menyiapkan diri untuk pergi ke pusat perbelanjaan, hari ini Luna ingin menghabiskan waktu bersama putri yang sangat di rindukan nya. Meskipun ia belum bisa memeluk Senja sambil berkata bahwa ia sangat menyayangi nya. Akan tetapi belum mampu ia lakukan dengan satu alasan.


Waktu bergulir begitu cepat seharian mereka habiskan untuk berbelanja, Senja dan Pertiwi tidak menginginkan apapun. Sebab dua perempuan itu nggak terlalu menyukai belanja. Akan tetapi Luna membeli apa yang dia mau semua itu untuk Senja dan Peristiwa, bahkan Senja sangat aneh kenapa Luna begitu baik terhadap mereka.Mentri merasa cemburu dengan perlakuan Luna terhadap Senja, padahal dirinya lebih beruntung dari Senja.


Hari ini Luna merasa sangat bahagia bisa jalan bareng bersama orang yang selama ini di rindukan nya, setelah puas berkeliling. Luna mengajak mereka semua untuk mampir di salah satu restoran terkenal di kota ini.


Hari sudah semakin sore mereka semua sudah berada di rumah dan Pak Surya akan segera pulang ke Desa, meskipun Luna mencegah nya untuk pulang malam ini. Akan tetapi mereka maksa ingin segera pulang, sebab Surya dan Pertiwi sangat tahu keadaan Senja sedang tidak baik-baik saja setelah menyaksikan pertunangan Fajar dan Mentari.


Waktu malam telah tiba, Mereka sudah pulang dengan menggunakan kendaraan yang di bawa sendiri oleh Pak Surya.


Setelah kendaraan itu tak terlihat lagi, Luna langsung menuju ruang tengah di mana sang Mama dan Mentari sedang bersantai.


"Ma.. aku mau tanya, jawab dengan jujur. Apa Mama tahu kalau Fajar itu sudah berpacaran dengan Senja? "


"Kenapa kamu nanya seperti itu" jawab sang Mama pura-pura nggak tahu apapun.


"Jangan bohong, aku tahu ini sengaja untuk menyakiti Senja kan! "

__ADS_1


"Apa untung nya bagiku"


"Dari dulu Mama tidak pernah menyukai Senja, padahal dia juga cucu Mama seperti Mentari, seharusnya jangan pilih kasih. Selama ini aku nurut apa yang Mama bilang, bahkan rela terpisah dari anak nya itu semua karena Mama dan harus menikah dengan laki-laki pilihan Mama. Akan tetapi untuk sekarang aku lelah dan akan membawa Senja pulang ke rumah ini"


"Aku tidak menyukai nya karena dia anak dari pria miskin tak berguna, sampai kapanpun tidak akan mengakui dia itu cucu ku"


"Walaupun ayahnya Senja itu orang miskin tetapi dia orang sangat baik dan setia. Tidak seperti lelaki yang banyak harta tetapi punya banyak istri di mana-mana, yaitu ayah dari Mentari lelaki pilihan Mama dan selalu di banggakan karena banyak uang"


"Itu demi kebahagiaan kamu"


"Bahagia dari mana? jadi istri pertama yang di kunjungi hanya satu hari dalam seminggu bahkan saat ini aku masih bekerja" jawab Luna dengan nada bicara penuh penekanan.


"Itu kan perusahaan mu, jadi wajar jika kamu yang mengurus nya. Masalah dia pulang atau tidak ke rumah ini yang penting jatah untuk kalian tetap utuh"


"Nggak peduli dengan uang, harta melimpah tidak menjadikan ku bahagia, bahkan rasa bersalah dan penyesalan selalu menghantui ku. Dengan menelantarkan Senja, itu semua ulah Mama"ucap Luna dengan nada bicara tinggi, sungguh untuk pertama kalinya Luna berbicara dengan nada tinggi terhadap sang Mama.


" Sekarang kamu sudah berani meninggikan suaramu saat berbicara kepada orang tua, ini semua gara-gara anak pembawa sial itu dan laki-laki miskin tidak berguna "


"Cukup, Ma... aku capek dengan keadaan ini dan selalu menjadi boneka yang selalu di perankan oleh Mama" Luna berkata sambil berderai air mata sungguh luar biasa sang Mama mempermainkan perasaan anak ya, yang seharusnya di lindungi dan di sayang.


Mentari yang me menyaksikan ini semua hanya diam, dia belum terlalu paham apa yang terjadi dengan Mama dan juga sang Nenek. Yang mentari tahu sang Nenek sangat menyayangi nya di banding kan dengan Mamanya. Sebab apa yang mentari minta pasti Nenek akan mengabulkan permintaan nya, beda lagi dengan Namanya.


Luna pergi berlalu meninggalkan sang Mama yang masih berada di ruang tengah, sungguh ini pertama kalinya Luna berkata sambil berteriak terhadap nya.

__ADS_1


Di saat Mentari sedang menenangkan sang Nenek yang terlihat sangat frustasi, ada tamu yang tidak di undang datang. Kedatangan orang tersebut membuat Mentari kaget.


__ADS_2