
Satu minggu telah berlalu, Luna masih tinggal di Desa ia tidak memperdulikan perusahaan, Mentari dan juga sang Mama. Ia ingin memberikan pelajaran terhadap orang tuanya, tapi sepertinya malas enak bagi mentari saat berjauhan dengan Luna, sebab tidak ada yang membatasi dirinya saat mau pergi bersama teman-teman nya. Sang Nenek selalu memberi kebebasan untuk Mentari.
Luna merasa damai saat tinggal bersama Desa, keluarga Surya memang sangat damai beda lagi dengan keluarga nya di kota. Perdebatan yang terjadi setiap harinya, semua orang menuntut untuk di hargai tetapi dirinya sendiri lupa menghargai orang lain. Selalu berambisi untuk menjadi yang terbaik dan menuntut kesempurnaan, itulah yang selalu di minta sang Mama terhadap Luna. Beda lagi dengan Pertiwi yang mengajarkan arti kehidupan terhadap Senja, yaitu kerjaan sesuatu yang kamu cintai makan hasilnya akan lebih baik.
Selama di sini banyak yang Luna pelajari dari keluarga Surya, hidupnya selama ini tidak pernah di jalani seperti yang ia mau. Dan harus menuruti semua kehendak sang Mama, Luna merasa bahagia ketika Pertiwi mendidik Senja dengan cara seperti ini. Ia berfikir apa mungkin Senja akan menjadi pribadi yang baik jika hidup bersama nya, Mentari saja jadinya seperti itu. Jauh banget dari kata perempuan baik, entah pergaulan seperti apa yang di jalani Mentari. Beda lagi dengan Senja yang setiap hari berteman dengan anak-anak yang berada di panti, bagi Senja itu jauh lebih menyenangkan. Bermain bersama anak kecil yang wajahnya sangat polos, belum faham apapun.
"Ngapain bengong di situ? " kata Pertiwi sambil duduk di kursi yang lain dengan berhadapan.
"Nggak apa-apa, hanya berfikir saja ternyata hidup di Desa jauh lebih menyenangkan ya" kata Luna sambil tersenyum tipis ke arah Pertiwi.
__ADS_1
"Di manapun kita tinggal tergantung diri kita menerima nya, jika ikhlas dan menjalani hari karena Allah maka semua yang terjadi dalam hidup kita akan merasa lebih indah. Makannya jangan pernah berharap kepada manusia, itu lebih menyakitkan. Seperti kamu yang selalu berharap bahwa Mamamu akan mengerti kamu..."
"Ternyata banyak sekali yang aku nggak tahu, terimakasih telah menjadikan Senja anak yang baik. Jika dia hidup bersama ku nggak mungkin dia mempunyai sifat seperti itu" kata Luna dengan nada lembutnya.
"Dasarnya saja dia anak yang baik"
"Nggak usah ngomong seperti itu, kamu juga sudah melakukan yang terbaik untuk Senja dan juga mereka. Alhamdulillah mereka tiap hari bisa makan enak dan mempunyai tempat tinggal yang layak itu semua karena kamu" ucap Pertiwi sambil menatap lekat wajah Luna, justru Luna telah banyak membantu dirinya. Dari fasilitas yang di miliki anak-anak di panti asuhan itu semua Luna yang menyediakan.
Dua perempuan sedang bercerita mengungkapkan isi hati masing-masing, Luna merasakan nyaman saat cerita semua yang terjadi dalam hidupnya. Termasuk tekanan dari sang Mama, bahkan harus menikah dengan laki-laki pilihan nya yang sama sekali tidak Luna cintai.
__ADS_1
Pertiwi selalu berkata pada Luna ikhlas kan semua yang terjadi di dalam hidup nya, mungkin itu jauh lebih baik daripada selalu menyalahkan keadaan. Sebab semua yang terjadi terhadap semua manusia yang ada di bumi ini tidak lepas dari campur tangan-Nya.
Luna juga sudah merasa lebih tentang dan menerima kenyataan yang ada.
Di saat kedua nya masih asik ngobrol tiba-tiba ponsel Luna berdering, lalu ia menjawab panggilan tersebut.
"Apa....? "
"Baiklah, saya pulang sekarang" jawab Luna langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
__ADS_1