
Bima terbaring lemas di rumah sakit, dia tidak bergerak sedikit pun. Bahkan, kini selang pernapasan sudah membantunya bernapas.
Sudah seminggu sejak Bima di temukan tak sadarkan diri di taman.
Saat itu tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit tapi Bima tidak menghiraukan rasa sakit di kepalanya, dia ingin menemui Arumi dan mendengar langsung jawaban Arumi.
Tapi tidak dengan tubuhnya yang tidak kuat menahan rasa sakit di dalam kepalanya. Bima jatuh tersungkur mendekap bunga yang sengaja dia beli untuk di berikan pada Arumi.
Sia-sia perjuangan dan harapannya. Tubuhnya seakan menjadi batas semua itu. Semua rencana dan rasa bahagia yang sempat dia rasakan saat mendengar Arumi ingin berbicara padanya, seketika pupus saat pandangannya menghitam total.
Lalu Bima di temukan satu jam kemudian, setelah hujan deras berlalu dan pihak rumah sakit sempat kebingungan memberitahu keluarga pasien. Karena handphone Bima saat itu telah mati total, rusak karena terkena hujan.
Sedangkan Arumi yang tadinya kesal, kini mulai khawatir pada Bima. Sudah seminggu Bima tidak masuk sekolah dan Arumi sudah berusaha mencarinya dengan menanyai semua teman sekelas Bima, tentang kondisi lelaki itu saat ini. Tapi jawabannya nihil! Tidak ada seorang pun yang tahu di mana lelaki itu berada.
Rey tahu Arumi sangat mencemaskan Bima. Tapi dia juga tidak tahu di mana keberadaan Bima saat ini.
Rey beberapa kali ke rumah Bima, kembali ke tempat-tempat biasa dia kunjungi bersama Bima saat membolos sekolah. Dan laut, tempat yang sudah menjadi pemakaman bagi Ayahnya.
Tapi hasilnya tetap sama. Nihil! Bima tidak dapat di temukan. Dia tidak ada di mana pun. Bima, bagai hilang di telan bumi.
***
Di rumah sakit Bima sedang menjalani kemoterapi. Berbagai obat-obatan kimia di suntikkan melalui infus yang terletak di bawah kulitnya.
Para dokter berusaha keras untuk membunuh sel kanker Bima. Tapi sesekali tubuh Bima menunjukkan reaksi buruk. Dia kejang karena efek samping obat-obatan kimia tersebut.
Saat Bima bangun, dia menyadari jika dirinya sudah ada di bangsal Rumah Sakit, setelah delapan hari tak sadarkan diri.
Badannya sudah kurus kering seperti orang yang tidak makan sebulan. Kulitnya semakin pucat dan beberapa helai rambutnya mulai rontok akibat efek samping kemoterapi.
Bima semakin putus asa dengan keadaannya. Tubuh yang lemah, bahkan sulit di gunakan untuk berjalan. Dia benci keadaan ini.
Sudah merasa seperti manusia yang tak di inginkan kelahirannya dari kedua orang tuanya. Kini Bima harus mengalami masa sulit ini sendirian, tanpa seorang pun di sampingnya.
__ADS_1
Orang tua yang sudah menganggapnya sebagai sebuah kegagalan, mana mau pergi ke tempat ini untuk menengoknya?! Bima harus berjuang sendiri, kan?
Bima menundukkan kepalanya dalam, mulai lelah dengan kehidupan menyakitkan ini. Dia masih bertanya-tanya kenapa Tuhan memberinya keluarga jika pada akhirnya dia harus menanggung semua penderitaan ini seorang diri.
Dia hanya ingin hidup seperti teman-temannya dengan kedua orang tua yang menyayanginya. Orang tua yang bangga dengan prestasi yang di raihnya, dan orang tua yang menyambutnya saat pulang ke rumah dengan senyuman hangat.
Bima menangis, meneteskan air matanya yang terasa panas membasahi permukaan kulitnya yang terasa dingin karena pendingin ruangan yang selalu menyala.
Selama ini Bima bisa memendam sendiri penderitaannya. Sabar dan tabah menghadapi semuanya secara mandiri. Tapi terkadang, dia juga sangat putus asa dan iri pada kehidupan lain.
Bima menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menatap ke arah jendela dengan tatapan sendu.
Terbesit sebuah pikiran gila di kepalanya. Dia ingin mengakhiri hidupnya, tapi bagaimana dengan Arumi? Bagaimana dengan jawabannya?
Di tengah-tengah situasi ini sana, dia tak pernah mengharapkan kehadiran orang tuanya, lebih besar dari kehadiran Arumi. Dia ingin melihat senyum dan tingkahnya yang lincah.
Bima merindukan Arumi. Tapi di mana ponselnya? Dia tak menemukan benda itu di mana pun. Apa mungkin rusak karena kehujanan?
"Manusia selalu sendiri. Lahir dan matinya. Mereka berjuang sendiri atas hidupnya. Jangan terlalu berharap pada manusia lain, Bim. Lu tahu sendiri rasanya di khianati, di tikam dan di racuni oleh mereka."
Bima menelungkupkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya. Menangis lirih dengan suara tertahan. "Gak seharusnya lu berharap banyak sama mereka. Gak seharusnya!"
***
Bima kembali ke sekolah, Rey sahabatnya terkejut sekaligus senang. Beberapa hari ini dia selalu kebingungan mencari keberadaan Bima.
Tapi saat tiba-tiba melihat Bima muncul, Rey lebih merasa jengkel dan kesal karena sahabatnya ini menghilang tanpa mau memberitahunya.
"Sialan lu Bim, ke mana aja lu selama ini?! Buat gua khawatir aja. Gebetan lu juga khawatir banget, gara-gara lu hilang dadakan!" pekik Rey, mengikuti Bima berjalan ke arah bangkunya.
"Memang gua tahu bulat?! Di goreng dadakan. Gua pergi healing tenangin diri gua aja. Gak usah sok khawatir lu. Lu juga tahu sendiri masalah hidup gua. Sorry lah kalau gua tetap buat lu khawatir, hehehe ...." Bima tersenyum tengil, membuar Rey sedikit dongkol melihat wajah itu.
"Sumpah, pengen gua tonjok tuh muka!" geram Rey, menahan tangan kanan yang sudah mengepal sampai sejajar dengan bahu itu, agar tidak melunjur ke wajah tirus Bima.
__ADS_1
Tirus?
Rey mengerjapkan matanya. Dia menatap Bima dari ujung kaki sampai kepala. Ada yang berbeda dan aneh darinya.
"Hahaha ... ini cuman perasaan gua aja, kan? lu kurusan. lu diet ya?!" pekik Rey, membuat Bima mencibir kesal.
"Gua gampar juga tuh mulut. Gua rada gak doyan makan aja. Mangkanya gepeng gini. Gak usah lebay, badan lu masih lebih kurus dari gua!" sahut Bima, setenang mungkin.
Rey mengangguk mengerti dan tidak mempermasalahkannya lagi. "Tapi, lu pergi healing ke mana, memangnya?" tanya Rey, penasaran.
"Ada tempat persembunyian baru gua. Tempatnya sejuk. Tidak ramai dan sangat tenteram buat gua betah di sana." Bima terpaksa berbohong pada Rey, takut membuat sahabatnya khawatir.
Tapi setengahnya tidak berbohong, kan? Tempatnya memang sejuk karena ada AC dan juga tenang, karena di rumah sakit tidak ada seorang pun yang boleh berisik.
Tidak sepenuhnya berbohong. Yang di berbohong adalah, tentang Bima yang betah dan merasa tenteram saja.
Karena di tempat itu, Bima tak pernah bisa tenang karena memikirkan, "Apa dia masih bisa bangun besok hari? Apa dia masih bisa bertemu Arumi dan Rey?!" Dan banyak pikiran negatif yang menemaninya juga.
Hanya sebatas itu, tidak lebih dan tidak kurang!
"Bim, lu dengar gua kagak sih, kampret! Malah bengong mulu. Otak lu masih healing ya?!" celetuk Rey, menggampar punggung Bima yang sangat terasa tulang punggungnya itu.
Rey bahkan sampai terkejut saat merasakan kehadiran tonjolan tulang-tulang itu. Tapi dia tidak bertanya pada Bima, karena tak mau membuat Bima stres dengan kejanggalan yang dia rasakan.
Rey lebih takut kalau Bima pergi lagi, dari pada dirinya harus memendam perasaan penasaran, tentang ke mana dan kenapa Bima sampai hilang begitu lama tanpa ada satu pun kabar yang dia tinggalkan.
"Hah? Lu ngomong apa, Rey? Sorry ... sorry, gua ngelamun," ucap Bima, terlihat fokus kembali.
Rey menghela napas panjang nan kasar dan kembali mengulang perkataannya, pasal Arumi.
"Mending lu samperi si Arumi, geh. Soalnya dia khawatir banget sama lu tuh. Ayang beb, gua mau ketemu. Begitu ... tuh anak udah kayak orang linglung nanyain lu mulu! Sampe bosan gua dengar 'Bima di mana? Udah balik belum? Ada kabar kagak' duh ... seharu ada tuh 10 kali dua bacot begitu," keluh Rey, memberitahu Bima kalau Arumi sangat khawatir padanya.
Bima terkekeh geli dan mengangguk paham. "Oke, nanti gua samperi dia."
__ADS_1