Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 18


__ADS_3

"Arumi!" panggil seorang lelaki berusia paruh baya, membuat Arumi yang hendak berjalan masuk ke sekolah dengan Indah, menoleh ke belakang dan bertemu dengan Om Martin, Ayah Selen.


Keduanya segera bergegas mendekati Om Martin dan menyalaminya.


Di sisi lain, Bayu yang baru datang dan melihat kedua temannya, langsung ikut nimbrung di sana.


"Selen sakit, Om?" tanya Bayu, melihat surat sakit yang di berikan Om Martin telah berpindah tangan pada Indah.


"Iya. Dia di rawat di rumah sakit. Mungkin 1 minggu gak akan bisa sekolah." Om Martin tersenyum masam, tak bisa menyampaikan alasan Selen di rawat. "Tolong sampaikan suratnya pada wali kelas kalian, ya?!"


Ketiga remaja itu mengangguk dan kembali menyalaminya, saat Om Martin hendak meninggalkan sekolah mereka.


Bayu mengeluarkan ponselnya, menghubungi Selen yang kurang ajar karena tidak memberitahunya jika sakit. Padahal dari kemarin mereka chat sampai larut malam.


"Halo, Nyet! Sakit apaan lo?" Bayu berujar dengan suara sengak. Membuat Selen yang ada di seberang sana terkekeh.


"Sakit biasa kok. Nanti pulang sekolah, kalian ke sini ya? Sepi banget nih rumah sakit. Pengap banget gue sama keheningan ini!" celetuk Selen, dari seberang sana.


Seakan tahu kalau Bayu pasti menggunakan mode pengeras suara agar kedua temannya yang lain, dapat mendengar suara Selen juga.


"Lo sakit benaran, Sel? Suara lo kok masih cempreng? Gak kayak orang sakit yang semangat tapi semi-semi lemes gitu. Wah ... jangan-jangan pasien gadungan lo!" pekik Indah, di sambut gelak tawa dari Bayu, Selen dan Arumi.


"Dah ah, sana sekolah. Gue mau rebahan. Capek gue, tapi malam riweh banget!" jelas Selen, dan menutup telepon mereka setelah masing-masingnya menyampaikan salam perpisahan.


Bayu menyimpan kembali ponselnya, memandang kedua temannya yang tampak cemas begitu telepon mereka di tutup.


"Nanti kalau selesai sekolah, pada bisa jenguk dia, kan? Doi bisa sedih kalau gak kita jenguk!" ucap Bayu, memandang Arumi dan Indah yang berjalan dengan tenang di sampingnya.


"Bisa kok," sahut Arumi, sebelum kembali termenung seperti Indah.


Bayu mengerutkan keningnya dalam. Entah apa yang di pikirkan kedua kawannya sampai menunjukkan reaksi seserius ini mendengar Selen di rawat di rumah sakit.


Yah, walaupun Bayu sudah menjadi satu kardus dengan mereka, tapi Bayu juga sadar kalau pasti ada rahasia di antara teman perempuannya, yang tak boleh Bayu tahu. Dan Bayu tak ingin melanggar privasi mereka jika tidak di izinkan.

__ADS_1


"Nanti di belikan apa?" tanya Indah, menyambar sambil menatap kedua temannya serius.


"Jajan ajan. Pentol depan sekolah noh, Selen kan demen banget!" celetuk Bayu, sontak mendapatkan pelototan mata dari kedua teman perempuannya.


"Hehe ... ampun. Canda aja, Neng. Jangan serius banget lah," ucap Bayu, menunjukkan ekspresi masam.


Indah dan Arumi mendengus kasar dan mengeluarkan ponselnya secara serempak. Membuat Bayu melongok ke ponsel Arumi, yang berdiri tepat di sampingnya.


Seketika mata Bayu membulat sempurna. "Di beliin tiket konser BTS dong!!! Lo kira Selen bakalan bisa ke sana dalam keadaan begitu?! Gue kira, gue aja yang stres eh ... kok kalian ikutan sarap!" pekiknya, di sambut tawa renyah Indah dan Arumi.


"Lah, kita kan satu paket! Lo stres. Kita berdua gila ... wkwkwk!" sahut Indah, tertawa lantang sampai giginya mengering.


"Hahaha, bisa lah, Bay. Lo kayak gak tahu kekuatan fans girls ya? Lihat aja, nanti dia pasti datang basipun harus bawa infus ke konsernya!" jawab Arumi, sambil tertawa terbahak-bahak.


"Terus tujuannya apaan?!" sahut Bayu, mulai lelah melihat kelakuan keduanya.


Arumi dan Indah langsung menyahut. "Di viralkan dong!"


"Lumayan buat balik modal. Ya gak, Rum! Di kata tiketjya kagak jutaan, wkwkwk ...," celetuk Indah, mendapatkan anggukan antusias dari Arumi.


"Okey!"


***


Sesuai perkataan Bayu, keduanya ikut mobilnya dan mereka mampir ke beberapa toko untuk membeli buah tangan tambahan untuk Selen.


Namun kini saat melihat keadaan Selen dengan kedua mata mereka, ketiga teman Selen yang hendak datang untuk merusuh, kini teridam dengan tatapan marah. Terlebih lagi Bayu, yang terlihat benar-benar kesal sampai jiwa lakinya bangkit dengan sempurna.


"Di apain lo? Sama siapa? Bilang sama gue. Gue bawain ginjalnya buat lo!" tungkas Bayu, terlihat serius.


Selen yang hanya bisa berbaring di ranjang, tersenyum masam dan menatap wajah ketiga temannya dengan senyuman terpaksa. "Gue gak papa, guys!"


"Gak papa mata lo buta!" teriak ketiganya, benar-bena murka.

__ADS_1


Selen yang mendengar amar itu, hanya mengulas senyuman masam dan menundukkan kepalanya dalam.


Banyak ingatan buruk membekas dalam kepalanya, dan itu sangat sulit untuk Selena singkirkan.


Bayu yang menyadari hal itu, langsung mengambil segelas air dan meminta Selen untuk minum dulu agar dia merasa jauh lebih tenang.


"Jangan di pikirkan. Nanti gue bakal balas semua kelakuan cowok itu buat lo!" Bayu menggenggam kedua tangan Selena dengan erat. "Lo percaya sama gue, kan, Sel?!" tanyanya, terlihat sangat serius.


Selena mulai menangis, membuat kedua teman perempuannya ikut merasa sesak dan sedih.


Arumi dan Indah langsung memeluk Selena yang menangis. Ketiga gadis itu menangis tanpa Bayu.


Ya, Bayu tak menangis seperti permasalahan Arumi terakhir kali. Saat Arumi tidak di hiraukan oleh Bima.


Kini Bayu lebih dominan pada emosi marah dari pada ikut-ikutan sedih. Di antara mereka berempat, Selena adalah gadis yang paling dekat dengannya. Bayu sayang dengan Selena.


Dan saat mendengar berita ini langsung dari Selena, saraf kewarasan Bayu seakan di potong dengan paksa sampai membuatnya merasa gila, karena harus mati-matian menyembunyikan betapa marahnya dia saat ini.


"Jangan nangis kalian bertiga. Gue kupaskan buah aja. Kalian udah jangan nangis, ya?" Bayu memberikan kotak tisu pada mereka dan sesekali menghapus air mata ketiga sahabatnya dengan telapak tangannya dengan kasar.


"Duh, Bay! Tangan lo kok bau sih!" pekik Selena, saat Bayu mengusap air matanya dengan penuh kelembutan. Tapi malah di balas dengan kata-kata sengak oleh Selena.


"Owh, masa sih? Tadi sebelum kesini gue habis boker! Ya, mungkin masih ketinggalan–"


"Bayu!! Jorok banget sih lo!!" teriak Selen, mengambil bantalnya dan menghujani Bayu dengan pukulan itu.


Bayu hanya tertawa, membuat tiga orang perempuan itu ikut tertawa. Hanya karena tingkah konyol dari lelaki semi bencong ini, mood mereka yang hancur langsung terangkat kembali dengan mudahnya.


Ya, dari dulu Bayu memang menjadi mood boster mereka. Tidak ada yang tidak bisa Bayu lakukan untuk teman-temannya.


Apalah sekedar menjadi pelawak untuk menghibur mereka, Bayu bahkan bisa memakai kerudung dan menjadi boneka yang siap di dandani mereka bertiga hanya untuk di tukar dengan tawa.


Karena itu, teman-teman Bayu yang berharga. Tak seharusnya mereka terluka karena lelaki bajingan, kan?!

__ADS_1


"Gue memang harus buat perhitungan sama tuh cowok!" batinya, tampak serius


__ADS_2