Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 26


__ADS_3

Hufff ....


Helaan napas Arumi terdengar beberapa kali di dalam ruangan yang hanya dihuni dirinya seorang.


Hari ini Arumi tidak ditemani siapa pun karena kedua orang tuanya dan kakak lelakinya sedang bekerja dan kuliah. Lalu teman-temannya sedang sekolah. Alhasil Arumi benar-benar sendirian hari ini.


Walau kemarin hari minggu semua orang datang untuk menjenguknya, mulai hari ini, hari Senin! Sebagian waktu Arumi akan dihabiskan dia sendiri di dalam rumah sakit yang sepi dan mengerikan ini.


Rasa bosan sudah melanda sejak pagi hari. Setelah suster memberinya sarapan, Arumi tidak diizinkan keluar dari kamar untuk berjalan-jalan atau sekedar turun dari ranjang.


Bukan karena apa, karena kelakuan Arumi dan Indah kemarin, dokter dibuat geleng-geleng kepala karena Arumi hampir mematahkan kakinya untuk kedua kalinya.


Sudah tahu patah tulang. Tapi dia masih berlari mengejar Indah, hanya karena gadis itu menyebalkan.


"Haihh ...."


"Hela terus aja itu napas. Kayak orang yang punya masalah banyak aja lo!" pekik seorang lelaki, yang masuk tanpa permisi ataupun diundang.


Arumi mengerutkan keningnya dalam. Dia menatap kehadiran Rey yang tiba-tiba datang dengan membawa keranjang buah dan bunga, dengan tatapan tak akrab.


"Ngapain lo di sini?" tanya Arumi, terlihat sangat tidak bersahabat.


Tapi lawan bicaranya terlihat acuh dan tidak memedulikannya.


Rey berjalan mendekati ranjang dan meletakkan barang-barang yang dia bahwa di samping meja yang ada di sebelah ranjang Arumi.


"Gue gak bawa banyak. Lagi tiris tinggi dompet! Tapi tadi mama titip ini buat lo," ucap Rey, memberikan kantong yang terbuat dari kertas yang wujudnya sudah diketahui Arumi dengan baik, apa isinya.


"Kayaknya ini bukan rasa coklat deh? Ini rasa baru, kan? Gue belum pernah coba yang ini. Tapi lumayan. Gue suka!" ucap Arumi, setelah memakan beberapa gigitan bakpao yang dibawa oleh Rey.


"Enak? Itu resep dari gue. Syukur deh kalau lo suka," celetuk Rey, membuat Arumi memandang bakpaonya dengan tatapan naas.

__ADS_1


"Kenapa? Lo gak percaya kalau itu resep dari gue?" tanya Rey, langsung membuat kepala Arumi mengangguk mantap.


Rey memutar bola matanya malas. "Ya, memang tampang gue gak kelihatan kayak orang yang bisa masak sih."


"Nahh ... Bener tuh. Lagian, setiap hari gue lihat lo berduaan sama papan catur! Mana bisa pikir kalau lo juga bisa masak-masak di dapur, Kan epik banget!" celetuk Arumi, setengah mencemooh tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah bakpao tersebut.


Rey hanya menggelengkan kepalanya dan duduk di sofa, membuka buku pelajarannya dan mengerjakan soal-soal dengan tenang di tempat itu.


"Lah? Lo enggak pulang??" tanya Arumi, turun dari ranjang dengan cukup kesulitan. Tapi hal itu tidak membuat Rey mau berdiri dan membantunya.


"Ya, memangnya gak boleh gue temenin lo di sini? Lagian gak ada siapa-siapa, kan? Teman-teman lo masih sekolah jadi kayaknya aman aja kalau kita berteman selagi enggak ada orang. Lagian, memang kayak gitu janji kita, kan?" celetuk Rey, enteng.


Arumi duduk di sofa single tempat di sebelah Rey yang duduk di sofa panjang sambil mengerjakan soal-soal dari buku lesnya.


Arumi hanya duduk sambil menemani Rey mengerjakan. Dari tadi mulutnya juga tidak berhenti mengunyah karena bakpao yang dibawakan oleh Rey benar-benar sesuai seleranya.


"Tadi gue lihat kakak lelaki lo, Bang Nando di bangsal sambil gandeng cewek. Abang lo punya pacar?" tanya Rey, tiba-tiba.


Uhuk ... uhuk ....


"Pelan-pelan dong, nyusahin aja sih lo!" pekik Rey, saat memberikan segelas air putih kepada Arumi.


Arumi hanya mengerutkan kening dan segera menegak habis air yang baru saja di berikan oleh Rey padanya.


"Jangan salahkan gue dong! Yang salah itu lo. Kenapa tiba-tiba bahas Bang Nando yang punya pacar? Memang tampang kayak gitu masih laku?!" celetuk Arumi, mengejek abangnya sendiri.


Rey mengetuk kening Arumi dengan pulpennya. Tuk ... "Sembarangan aja kalau ngomong. Itu kan abang lo?! Kenapa malah di hina sih," omelnya, sambil menggelengkan kepalanya ampun.


Arumi mengangkat bahunya acuh dan kembali menyandarkan punggung sambil terus berusaha menghabiskan bakpao yang tinggal satu buah itu.


"Tapi, masa lo benaran lihat Bang Nando ke rumah sakit sama cewek sih? Lo yakin??" tanya Arumi, menunjukkan ekspresi serius dan tidak percaya secara bersamaan.

__ADS_1


"Terserah lo dah! Mata gue ini jeli. Enggak kayak seseorang yang baca buku aja harus pakai kacamata," ledek Rey, sambil mengulas senyuman simpul.


Arumi mendengus kasar dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Ledek aja terus!" omelnya, mengundang tawa dari lawan bicaranya.


"Tapi kendaraan enggak, Bang Nando udah punya cewek?!" tanya Rey, masih mencari jawaban dari pertanyaannya.


Arumi mendengar kasar. "Memang tampang gue kayak tahu dia udah punya pacar atau belum?!" serunya, sewot.


Rey menghela napas dan bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati meja di dekat jendela, mengambil gelas bersih untuk dia minum.


"Hemm ... tapi kayanya, cewek yang sama Bang Nando agak bunting. Apa jangan-jangan ...."


Rey memandang wajah Arumi yang sudah menegang seperti batu. Kaku dan kokoh di tempatnya.


"Jangan takut-takutin gue lah Rey. Kurang ajar banget lo jadi orang! Lo gak kasihan gue lagi sakit?" Arumi menunjukkan ekspresi sedihnya sambil menghela napas panjang beberapa kali.


"Yah ... gue kan cuman ngomong, Rum. Tapi memang kenyataannya kayak gitu. Tadi gue lihatnya, cewek yang sama Bang Nando perutnya gak besar. Mangkanya gue apa speechless tadi," jelas Rey, terlihat tidak sedang membohongi Arumi.


Arumi yang mendengar perkataan seperti itu, tentu panik. Terlebih lagi ini menyangkut kakaknya sendiri.


Bagaimana kata orang tua mereka kalau tahu kakak lelakinya menghamili anak orang?


Arumi berusaha menghalau semua pikiran buruk itu dari kepalanya dan menenangkan jantungnya yang mulai berdebar cukup kuat karena takut dan grogi.


Melihat ekspresi wajah Arumi yang tampak masam. Rey tidak melanjutkan pembahasan tentang Bang Nando dan perempuan yang tidak mereka kenal.


"Sorry kalau gue buat lo khawatir. Udah enggak usah dipikirkan. Abang lo pasti tahu yang mana benar dan mana yang salah. Secara, dia lebih tua dan lebih dewasa dari kita. Pasti dia tahu lah masalah kayak gitu," ucap Rey, sekedar ingin menenangkan.


Tapi tampaknya Arumi tidak bisa tenang semudah itu. Karena ini menyangkut masa depan kakak lelakinya dan masa depan keluarga mereka di masyarakat sekitar.


Apa kata orang kalau Nando benar-benar membuat kesalahan seperti itu? Pasti kedua orang tuanya sepakat untuk mengusirnya keluar dari rumah tidak peduli dia sudah lulus kuliah atau belum!

__ADS_1


"Berdoa aja deh! Semoga dia enggak kayak gitu," ucap Arumi, masih terlihat kalau dia sedang cemas.


Rey menganggukkan paham dan kembali mengerjakan soal-soal di dalam buku dengan fokus. Begitu juga dengan Arumi yang fokus menghabiskan bakpaonya.


__ADS_2