
Arumi, Indah, Selen dan Bayu berjalan beriringan masuk ke dalam gedung sekolah dan pergi ke ruang kelas mereka ke tanpa mampir ke mana-mana.
"Sel, lo yakin udah sembuh? Kayaknya muka lo masih pucat deh," celetuk Arumi, menegur.
Selen menoleh pada melawan bicaranya dan tersenyum masam. "Gue lebih bosan di rumah daripada gak sehat tapi masuk sekolah. Gue enggak suka tempat sepi, gue jadi lebih merasa menyedihkan." Selen tersenyum lembut. "Gue suka sekolah bareng kalian. Gue lagi enggak mau merasa kesepian," jelasnya, dengan menunjukkan ekspresi sendu.
Bayu menepuk puncak kepala Selena beberapa kali dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa sih?! Akhir-akhir ini sikap lo aneh deh, Bay. Gantel banget! Gue jadi agak asing sama lo," celetuk Selen, sambil menyingkirkan tangan kanan Bayu yang singgah di puncak kepalanya.
Mendengar itu, Bayu terdiam dan menatap Selen dengan tatapan lekat. Membuat kedua teman perempuannya yang dari tadi hanya memperhatikan, mulai merasakan sesuatu yang janggal di antara Selena dan Bayu.
"Pasti ada apa-apa sama mereka berdua, kan?" gumam Arumi, mendapat anggukkan kepala dari Indah yang berdiri tepat di sampingnya.
Indah dan Arumi spontan menata satu sama lain dengan mengulas senyuman penuh arti.
"Cieee ... yang lagi PDKT. Jangan-jangan bentar lagi kalian jadi aneh?!" seru Indah, membuat Arumi tertawa terbahak-bahak sementara kedua orang temannya yang lain, melempari mereka berdua dengan tatapan jengkel.
"Ada-ada aja mulut lo pada! Udah diam ah. Gue sembuh aja barusan. Eh ... kok malah di jodoh-jodohin! Kalian gak lihat kalau si Bayu kak bakalan tertarik sama gue? Udah dari orok kita kenal, gak mungkinlah tiba-tiba pacaran! Kemungkinan yang terlalu aneh," omel Selen, segera berjalan pergi setelah itu.
Bayu tidak protes sama sekali. Dia juga tidak pesawat dengan perlakuan tiga orang teman perempuannya.
Yang membuat Indah dan Arumi terdiam, malah sikap Bayu yang seperti orang patah hati setelah mendengar penjelasan dari Selen.
Arumi dan Indah berjalan mendekati Bayu dengan segera, dan menatap lelaki itu dengan tatapan berharap.
__ADS_1
"Lo suka sama dia?" tanya Arumi, mewakilkan kebingungan mereka berdua.
Bayu yang mendengar pertanyaan itu hanya menggeleng pelan dan berjalan pergi meninggalkan keduanya.
Arumi menatap aneh kepergian Bayu. "Gue yakin banget kalau si Bayu suka sama Selen. Iya kan, Ndah?! Lo juga merasa kayak gitu, kan?" tanyanya, setengah memaksa.
Tapi Indah yang juga merasakan hal yang sama seperti Arumi, akhirnya mengangguk dan keduanya berpikir keras.
"Selen sih, mulutnya udah kayak ember comberan! Bocor mulu. Si Bayu kan jadi sakit hati dengarnya. Kata orang-orang sih, dua orang laki sama perempuan kalau temenan dari lama! Pasti satunya ada yang suka. Jadi menurut pengamatan gue dari kacamata anggota resmi lambe turah sekolah, Si Bayu udah pasti suka sama si Selen. Iya, kan Ru-"
Sayangnya, orang yang sedang di ajak bicara dengan Indah saat ini. Sudah di culik oleh tetangga kelasnya. Siapa lagi kalau bukan si Rey?!
"Yah, kok gue ditinggali sendirian sih?! Woii, Rum ... nanti lo langsung ke kelas aja ya. Gue mau balik duluan!" teriak Indah, malah pamit bukannya menolong Arumi yang jelas-jelas berteriak meminta tolong kepadanya.
"Ndah ... bantuin gue! Jangan malah ditinggal bego!!!" jerit Arumi, menatap kepergian Indah dengan terus mengumpat di dalam hati.
"Lo kenapa tiba-tiba kayak gini sih Rey? Bukannya kita udah sepakat kalau di sekolah kita enggak bakalan kenal satu sama lain?! Terus apa yang buat lo kayak gini?!" tanya Arumi, terlihat benar-benar kesal.
Rey tidak menghiraukan amarah itu dan segera mengeluarkan sebuah barang yang ada di dalam tasnya, lalu memberikannya pada Arumi.
"Sorry kalau gue kayak paksa lo buat ikut gue ke belakang. Tapi kalau gue kasih benda ini di sana secara langsung. Lo yakin enggak bakalan ada gosip miring tentang kita?" Rey menatap Arumi dengan tatapan menantang. "Lo gak yakin, kan? Malah adanya lebih berbahaya lagi kalau gue langsung bertindak serampangan di depan banyak orang, kan?!"
Arumi hanya bisa diam karena semua perkataan Rey memang benar. Berdekatan dengan Rey di depan umum, pasti membuat Arumi di benci banyak orang. Terutama anak-anak yang sudah nge-fans pada Rey.
"Huff ... ya udah. Lo mau apa bawa gue ke sini?" tanya Arumi, sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan secara langsung dengan Rey.
__ADS_1
Rey memberikan benda yang sempat dia keluarkan dari dalam tasnya tadi. "Emak gue mau kasih ini ke elo. Gue bilang sama dia kalau beberapa hari yang lalu, yang bantuin gue jaga toko itu elo! Jadi tadi pagi Emak gue kasih gue bakpao kesukaan lo sebagai tanda terima kasih katanya," jelasnya.
Arumi menerima bakpao isi cokelat yang ukurannya 2 kali lebih besar dari pada yang di jual di toko Rey.
"Padahal hari itu gue udah dapat bakpao gratis dari lo. Eh ... sekarang malah dikasih lagi. Makasih deh, gue gak tolak ya." Arumi memasukkan bakpao tersebut ke dalam tasnya dan berjalan pergi meninggalkan Rey.
Namun baru tiga langkah Arumi pergi. Tiba-tiba langkahnya harus berhenti karena Rey yang mengekor pada langkahnya.
Rey spontan berhenti juga dan menatap Arumi yang menatapnya tajam nan menusuk. "Kenapa lagi? Gue kan enggak ngapa-ngapain?! Kenapa lo kayak marah?" celetuknya, terlihat bingung.
"Bukannya gue baru bilang sama lo tentang jaga jarak kalau di sekolah?! Kenapa sekarang lo malah ikut gue pergi?!" marah Arumi, dengan kedua pipi yang sedikit membulat saat dia marah.
Rey yang melihat itu cukup terhibur dan merasa kalau Arumi memang sedikit lucu dan imut.
"Hah? Apanya yang lucu, Rey? Lo gila?! Bisa-bisanya lo mikir kayak gitu sama cewek yang di suka Bima!" Secara tiba-tiba Rey menghantam pipinya dengan tangan kanan sendiri.
Duak!!
"Brengsek lo, Rey!" batin Rey, setelah merasakan pukulannya yang ternyata cukup menyakitkan.
Arumi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menahan teriakan yang bisa mengundang perhatian orang-orang saat Rey melakukan hal gila pada dirinya sendiri.
"Lo gila?! Memangnya enggak sakit di buku kayak gitu?! Bisa-bisanya pukul diri sendiri. Kalau lo minta tadi, gue bisa bantuin lo pukul kok! Malah bahagia gue kalau lo minta tolong kayak gitu," celetuk Arumi, mengundang wajah jutek si Rey.
"Serah lo dah, Rum! Sudahlah gue balik dulu. Jangan ikuti gue!" celetuk Rey, di sertai tatapan licik di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Arumi hanya menatap lelaki itu dengan tatapan datar, di saat kedua mulutnya sudah komat-kamit karena menahan kesal dengan kelakuan si Rey.