
Indah yang mendapatkan perlakukan itu dari Arumi, tentu saja langsung kaget. Karena konteksnya dia tidak tahu apa-apa tentang permasalahan di antara Arumi dan Bima sampai Arumi menjadi se-sensitif itu tentang Bima.
Indah langsung berpindah tempat, mendekati kedua sabatnya yang lain dan bertanya papa mereka.
"Sel, Bay, Arumi kenapa sih? Bertengkar sama Bima??" tanya Indah, setengah berbisik. Takut jika Arumi marah lagi, saat mendengar nama 'Bima' kembali di sebutnya.
"Lu, gak usah tanya Bima ke Arumi kecewa berat sama si Bima," jawab Bayu, singkat.
Indah mengerutkan keningnya dalam. "Hah? Memangnya kenapa sama mereka?" tanyanya, penasaran.
Bayu dan Selen saling bertukar pandang dan menghela napas lelah secara bersamaan. Seakan memang ada masalah yang telah terjadi pada Arumi karena Bima.
Indah semakin penasaran. Dia yang tadinya masih berdiri di tengah-tengah bangku Selen dan Bayu, kini sudah mengambil posisi duduk dan memandang keduanya dengan tatapan berbinar.
"Mamang Arumi kenapa?!" tanya Indah, untuk kedua kalinya.
Selen menghela napas berat dan menjelaskan padanya. "Kemarin, berjam-jam Arumi tunggu si Bima di bawah pohon sampai kehujanan. Tapi si Bima malah gak datang. Syukurnya, Arumi kagak ke sambar petir. Jadi sekarang masih hidup tuh anak!" celetuk Selen, di sertai tawa terbahak-bahak.
Indah hanya diam, tapi Bayu sudah bertengkar dengan Selen karena sudah menepuk bibir Selen dengan tangannya, saat wanita itu tertawa seperti mak lampir.
Sementara Indah masih termenung dan berlalu memandang ke arah pintu masuk kelasnya, melihat Arumi yang kembali dari luar dan langsung duduk di mejanya dengan wajah di tekuk.
"Pantesan dia bad mood. Sumber moodnya berulah sih!" batin Indah, dan dia langsung menelan ludahnya susah, sambil menunjukkan wajah masam saat Arumi sadar kalau Indah sudah mengatainya dalam hati dan di balas dengan tatapan tajam oleh Arumi.
"Pergi ah ...," celetuk Indah, segera melarikan diri dari sergapan tatapan tajam Arumi itu.
***
__ADS_1
Sepulang sekolah Rey ke rumah Bima. Tidak seperti biasanya Bima bolos sekolah berhari-hari tanpa memberitahunya. Kebetulan Om Edi, Ayah Bima yang membukakan pintu.
"Om Bimanya ada?" tanya Rey, langsung to the poin begitu melihat wajah Om Edi terpampang di depannya.
"Dia gak ada di rumah. Kebetulan juga Om baru pulang kerja, dia gak di sekolah tadi?" tanya Om Edi, sepertinya tak tahu menahu pasal Bima yang sudah bolos lama dari sekolah.
"Enggak Om, sudah berhari-hari dia absen sekolah. Gak biasanya Bima absen sekolah kayak gini. Apa lagi sampai berhari-hari. Mangkanya saya datang ke sini buat cari dia. Siapa tahu, memang kebetulan sakit dan gak bisa kasih kabar aja gitu," ucap Rey, menjelaskan maksud kedatangannya pada Om Edi.
Tapi lelaki paruh baya itu terlihat lebih bingung dari si Rey. Karena dia juga tidak tahu ke mana perginya sang putra.
"Om juga tidak mendapat kabar dari Bima, Rey. Coba nanti Om cari dia. Kamu juga, kalau dapat kabar dari Bima, tolong kasih tahu Om, ya?!" ucap Om Edi, sedikit risau.
Karena memang tak bisanya Bima berlaku begini. Kedua orang itu menjadi sedikit gugup karena insiden hilangnya Bima.
"Iya, Om. Nanti saya bakal hubungi kalau Bima chat saya. Kalau begitu, saya pulang duluan. Selamat sore," ucap Rey, segera bergegas pergi.
"Iya, hati-hati di jalan, Rey!" ucap Om Edi, dan menutup pintu rumahnya kembali.
***
Sepulang dari rumah Bima, Rey berinisiatif untuk mencari Bima terlebih dahulu, sebelum dia pulang ke rumah.
Rey pergi ke rumah pohon tempat biasa mereka berdua bolos sekolah atau sekedar bermain game, dan semua tempat yang memiliki opsi jika, mungkin! dia bisa menemukan Bima di sana.
Tapi sayangnya Bima tidak berhasil dia temukan di tempat-tempat itu. Sampai tersisa tempat terakhir yang belum di datangi Rey. Dia berharap bisa menemukan Bima di sana.
Dengan langkah setengah letoy, karena dia mulai lelah berjalan. Rey pun menuju kuburan Ayahnya, yang terletak di laut.
__ADS_1
Dulu, biasanya saat Rey rindu Ayahnya, mereka berdua akan bolos sekolah dan menghabiskan waktu di sana.
Ayahnya adalah seorang pilot seperti Ayah Bima, Ayahnya meninggal saat kecelakaan pesawat.
Saat kecelakaan terjadi, sebenarnya Ayah Rey sedang menggantikan tugas Om Edi yang saat itu harus pergi ke rumah sakit, karena istrinya meracuni makanan Bima.
Namun laut lebih mengerikan dari apa pun di dunia ini. Jasad Ayah Rey tidak berhasil di temukan walaupun semua awak kapal dan jasad para penumpang berhasil di bawa pulang.
Ayahnya seakan telah di takdirkan terkubur jauh di bawah sana. Di peluk erat oleh dinginnya air laut.
Namun di tempat itu, Rey juga dia tidak menemukan Bima di mana pun. Membuatnya merasa sedikit frustrasi tentang keberadaannya.
"Sebenarnya di mana sih lu, Bim! Kalau mau hilang, gak usah tinggalin rasa khawatir ke orang lain juga! Arghh ... ngeselin banget sih lo!" teriak Rey, mengeluh keras dalam deburan ombak laut yang membentang di depan matanya saat ini.
"Lo di mana, Bim?!!" teriaknya, untuk kedua kalinya. Namun kali ini hanya tersisa rasa cemas dan khawatir di hatinya.
Rey benci lautan. Tapi kawan biadabnya itu membuat jantungnya kembali merasakan hal yang sama persis kala itu, kala di mana dia melihat bangkai pesawat yang menjadi tempat Ayahnya singgah, di angkat dari dalam lautan dengan keadaan rusak parah.
Tubuh Rey mulai gemetar. Pikiran buruk mulai mengacaukan akal sehatnya. Dan rasa cemas seakan menjadi penekan kegilaan mental.
Rey kembali berlari, meninggalkan pesisir pantai yang sempat dia singgahi dan menjadi tempat pelampiasan rasa kesal itu dengan langkah cepat.
Tak peduli dengan kedua kakinya yang mulai terasa lemas dan kecemasan yang membeludak di dalam hatinya.
Rey sudah bertekad. Dia tidak ingin kehilangan orang yabg berharga dengan cara yang sama untuk kedua kalinya.
"Gua harus temui lo! Hidup atau mati!" batin Rey, menggenggam kuat tekadnya.
__ADS_1