Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 16


__ADS_3

Di tengah-tengah ruangan gelap dan berantakan itu, Indira memandang seorang perempuan yang duduk bersimpuh sambil memandang cahaya mentari yang menyusup melalui celah kelambu yang tertutup dengan tatapan kosongnya.


Indira berjalan semakin dalam. Masuk ke ruangan itu dengan membawa paper bag coklat berisikan roti buatannya.


Wanita itu menoleh ke arahnya dengan sedikit mendongak. "Mbak," panggil wanita itu, membuat Indira tersenyum simpul dan membelai puncak rambutnya sayang.


"Aku datang, Helena." Indira berjongkok, memberikan bingkisan yang sengaja dia bawa dari toko, untuk Helena.


"Ini apa?" tanya Helena, walau dia tahu semerbak aroma yang muncul dari dalam sana adalah roti kesuakaannya yang biasa Bima belikan saat dia segan untuk menghabiskan makanannya.


"Makanlah. Tidak perlu bertanya itu apa. Kamu juga tahu jawabannya," jawab Indira, bangkit kembali dan mendekati tirai yang selalu tertutup selama dia tidak ke sana.


Srek!


Helena memejamkan matanya saat sinar matahari masuk dengan gaduh dan membuatnya silau.


"Kamu harus terkena sinar matahari."


"Mama harus tetap terkena sinar matahari."


"Karena tidak mau keluar dari rumah, satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya ini!"


Helena kembali menangis saat mendengar suara Indira, tampak mirip dengan perkataan Bima, putranya, yang telah berpulang selama setahun terakhir dengan mengenaskan.


Indira terdiam. Dia melihat Helena memeluk pigura foto Bima semakin erat dan kian menangis sesak.


"Penyesalan itu tidak akan berarti, Helena. Putramu pergi karena kalian tidak menghargainya." Indira mengulas senyuman sendu. "Saat orang tua hanya memikirkan dirinya, secara sadar kita melukai mereka. Mereka yang–"

__ADS_1


"Aku tahu, jangan di teruskan. Aku mengusirnya puluhan kali dalam sehari. Aku tak berhenti membanting barang di depannya. Membuat mentaknya jatuh terlalu dalam. Aku tahu aku salah. Aku sudah tahu. Jangan di teruskan!" seru Helena, dengan suara parau nan pedih.


Indira marah. Ocehan yang selalu dia lontarkan untuk adiknya setiap dia berkunjung. Kata-kata yang menyalahkan Helena atas kematian Bima, ini adalah balas dendan Indira karena Helena yang tak bisa menjaga keluarganya sendiri.


"Maafkan aku," cicit Helena, semakin menangis dengan kedua matanya yang mengandung penyesalan.


"Aku kehilangan suamiku karena suamimu! Kini kamu kehilangan putramu karena kelalaian kalian. Bukankah Tuhan seakan membalas perlakuan ini dengan adil?"


Helena terdiam. Suara tangisnya tak lagi keluar saat menyaksikan Indira berbicara dengan gemetar walau dia selalu menahan air matanya.


"Bima dan Indra sudah tidak ada. Dua lelaki yang masing-masing pernah kita benci karena kelalaian kita sendiri." Indira menyeka air matanya dengan kasar, berjalan ke arah Helena dengan langkah lebar dan menarik tangan wanita itu sampai Helena berdiri dengan paksa.


Helena memandang wajah Indira yang terpampang di depan wajahnya, dengan kedua bahu Helena yang di cengkeram begitu kuat olehnya.


"Bertahanlah untuk dirimu. Mereka yang kita benci sudah pergi. Kita menginginkannya. Kita pernah menginginkan ini, kan?! Aku atau kamu. Pernah mencoba mengusir mereka dalam hidup ini. Sekarang mereka tidak ada."


"Jadi hiduplah sesuai yang kamu inginkan. Lindungi dirimu dan orang yang kamu rasa penting! Jangan melunak walaupun kebahagiaanmu telah pergi bersama mereka! Dunia masih terus berjalan. Roda waktu masih terus berputar. Umur kita semakin bertambah! Tak ada waktu untuk menunggu luka kita sembuh, Helena. Sadarlah! Jangan hancurkan hidupmu sama seperti Bima. Aku tak sanggup melihat kematian lagi!!" jerit Indira, murka dan pedih.


Helena menangis lirih. Begitu pula dengan Indira yang telah memeluknya erat.


Kedua orang itu menangis sampai lelah. Sampai mereka tertidur pulas dan tak sadar waktu telah gelap.


Rey berdiri di depan rumah Bima setelah beberapa jam menunggu kepulangan Om Edi, suami Tante Helena yang merupakan adik Ibunya.


"Ibumu ada di dalam?" tanya Om Edi, berjalan mendekati Rey setelah dia keluar mobil.


Rey mengangguk pelan dan mengikuti langkah Om Edi masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Om aku mau tanya aja nih. Tapi enggak usah dijawab kalau memang gak mau jawab. Kagak maksa," ucap Rey, saat mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang yang ada di taman, yang akan membawa mereka ke gedung utama.


Om Edi menoleh pada Rey dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa?" tanyanya, merasa cukup canggung dengan keponakannya sendiri.


"Rey cuman dengar dari orang-orang nih. Tapi apa benar, Om sama Tante mau cerai sebentar lagi?" tanya Rey, membuat kedua bola mata Om Edi membulat dengan sempurna.


"Kamu kata siapa, Rey? Om sama Tantemu enggak ada rencana buat bercerai sama sekali. Kamu dengar berita seperti itu dari mana?!" tanya Om Edi, terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaan keponakannya itu.


Rey juga langsung merasa tidak enak hati karena sudah menuduh Om dan Tantenya seperti itu. Rey menjadi seperti keponakannya jahat.


"Syukurlah kalau enggak begitu. Di mana kamar Tante Helena?" tanya Rey, saat mereka berdua sudah ada di dalam rumah.


Om Edi menunjuk salah satu ruangan yang ada di lantai dua, yang pintunya terbuka tapi terlihat sangat terang hari ini.


"Kayaknya Mama kamu memang di sini, Rey. Tidak biasanya kamar Helena seterang itu. Sepertinya ibu kamu membuka semua jendela yang ada di kamar itu dan membuat sinar matahari bisa masuk. Syukurlah, Helena selalu menurut pada perkataan kakaknya. Tapi kenapa tidak seperti itu pada suaminya?!" gumam Om Edi, pada akhir kalimatnya.


Rey hanya mengulas senyuman masam dan pergi ke arah kamar tersebut, sementara Om Edi pergi masuk ke kamarnya sendiri untuk berganti baju.


Rey masuk ke dalam kamar itu dan melihat dua orang wanita yang sudah tertidur di atas lantai, dengan beberapa perabotan yang berserakan di mana-mana. Bahkan banyak pecahan piring yang tersebar di banyak tempat.


Saat memasuki kamar tersebut, dia langsung teringat pada Bima yang harus menyaksikan pemandangan menyakitkan seperti ini setiap hari.


"Perlahan-lahan gue mulai tahu kenapa memutuskan untuk mengakhiri hidup." Rey menatap sekeliling tempat itu dengan tatapan saksama. "Walaupun gue gak mau mengerti alasan lo melakukan hal bodoh seperti itu, tapi mau enggak mau gue dipaksa menerima kenyataan oleh waktu!"


Rey menggelengkan kepalanya, segera menghalau semua pikiran buruk itu dan membangunkan ibunya, juga memindahkan Tante Helena ke tempat tidur.


"Mama enggak sadar kalau udah tertidur di sini. Kamu pasti nyariin, Mama, kan?" tanya Indira, menatap putra sulungnya dengan tatapan bersalah.

__ADS_1


Rey tersenyum lembut sambil memandangnya. "Enggak papa, Ma. Rey malah lebih bersyukur kalau Mama sering-sering menengok Tante. Daripada enggak ngelihat Mama di rumah, Rey masih enggak mau melihat Tante Helena berakhir seperti Bima."


__ADS_2