
Arumi yang merasa hidupnya telah hancur karena cedera di bahunya. Dokter menyuruhnya istirahat total dari taekwondo. Atau kemungkinan terburuknya, Arumi tidak akan bisa kembali melakukan taekwondo.
Tapi kini entah dari mana datangnya pesan chat dari Bima yang isinya sangat memeras emosi.
Lelaki itu meminta putus secara tiba-tiba. Padahal yang harusnya mengatakan kalimat seperti ini terlebih dahulu adalah Arumi. Yang lebih pantas memutuskan hubungan mereka juga Arumi!
Tapi kenapa Bima mengatakan hal ini? Padahal Arumi tak pernah mengganggu atau menyakiti perasaannya.
Bertemu aja tidak pernah, apa lagi membuat masalah sampai menyinggung hatinya. Sebenarnya apa salah Arumi sampai Bima bertindak buruk seperti ini?
"Maaf, selama ini gak bisa jadi cowok yang baik buat lo. Nanti lo bakal paham kenapa gue pilih buat akhiri hubungan ini dan pergi dari kehidupan lo."
Arumi menggenggam ponselnya erat-erat. Semburat warna merah memenuhi wajahnya. Dia marah dan kesal di saat bersamaan.
"Makasih udah mau jadi bagian cerita paling bahagia di kehidupan gue. Gue bakal terus ingat hal baik yang udah kita lalui. Maaf udah egois, lo baik-baik di sana ya, Rum. Jada kesehatan lo baik-baik. Gue pamit, sampai jumpa besok!"
"Arghh!!"
Arumi berteriak lantang, membuat adik lelaki yang kebetulan lewat di depan kamarnya, langsung masuk ke dalam kamar Arumi dan melihat Arumi uang sudah menangis di bawah selimutnya.
"Heh, lo kenapa?" tanya Bagas, melihat wajah Arumi yang sudah banjir air mata.
"Apaan sih lo, Gas?! Siapa yang bolehkan masuk?! Keluar dari kamar gue. KELUAR!!" bentar Arumi, tak kuat membendung air matanya.
Mendengar keributan di kamar sebelah, Nando pun keluar kamar dan melongok masuk ke kamar adik perempuannya.
"Rum, lo kenapa?" tanya Nando, mendekati Arumi yang masih menangis sesegukkan di atas kasurnya.
"Ngapain sih?! KELUAR GUE BILANG!!" teriak Arumi, turun dari ranjang dan mendorong kedua saudara lelakinya keluar kamar, lalu mengunci pintu.
Arumi bersandar di balik pintu kamarnya, menangis sejadi-jadinya. Membuat semua orang yang ada di rumah itu terdiam melihat kelakuannya.
Bahkan tiga sahabatnya terkejut mendengar suara tangisan Arumi yang begitu keras sampai terdengar di depan rumah.
Mereka yang datang untuk kerja kelompok, akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke rumah masing-masing, karena keadaan Arumi saat ini sangat tidak kondusif.
__ADS_1
"Kenapa lo tega putuskan hubungan kita pas gua lagi gak baik- baik aja?! Kenapa sih Bim!! Gue salah apa?!!! Harusnya lo gak usah muncul di hidup gua kalau akhirnya harus pergi ninggalin gue kayak gini!! Gue benci sama lo, BIMA!!" jerit Arumi, menendang-nendang udara.
Malam itu, benar-benar menjadi malam yang heboh di rumah Arumi. Kedua orang tuanya terus membujuk putri mereka agar keluar kamar, kedua saudaranya pun berusaha membujuknya.
Tapi nihil. Usaha mereka semua tak di dengar oleh Arumi dan gadis itu terus menangis semalaman tanpa kenal lelah atau sungkan pada tetangga rumah mereka.
***
Bima tak bisa lagi membuat luka di hati Arumi. Karena itulah dia membuat keputusan terberat di hidupnya, dengan melepaskan Arumi. Satu-satunya orang yang dia harapkan kehadirannya, di hidup hampa Bima.
Sel kanker di dalam darahnya sudah menyebar ke seluruh organ vitalnya. Itulah kabar terbaru dari dokter. Umurnya tak lagi panjang, bahkan bisa di hitung dalam hitungan bulan.
Bima yang amat sangat frustrasi dan putus asa, mengambil risiko terbesar di dalam hidupnya.
Tak ada orang yang berada di sampingnya saat dia terbaring lemah di ranjang rumah sakit karena menjalani kemoterapi.
Yah, walaupun itu salah Bima karena tak mau jujur dengan orang sekitarnya, dia pun menjadi frustrasi sendiri.
Bima yang merasa setiap detiknya amat sangat menyiksa. Mulai tak bisa berpikir dengan jernih.
Ayah yang acuh, menambah penderitaannya. Tak ada keluarga yang lebih buruk dari kedua orang tuanya. Orang dewasa yang mengerikan. Kedua orang tuanya adalah monster!
Lantas rasa bersalah terhadap sahabatnya Rey, membuat Bima berpikir untuk mengakhiri segala rasa sakit yang dia timbulkan pada orang-orang yang sangat dia sayangi.
Kini, Bima berdiri di ujung tebing mentalnya. Tak ada pemikiran untuk bertahan atau menguatkan diri. Pikirannya yang kacau sudah di butakan dengan hal-hal menakutkan.
Pemandangan langit saat hujan sangat indah. Di balik jendela besar kamarnya, Bima teringat saat dulu dirinya dan Arumi terjebak hujan di tempat latihan taekwondo.
Teman-teman taekwondo memilih menunggu hujan reda, tapi tidak bagi Arumi.
Rumahnya memang dekat tempat kami latihan taekwondo. Dengan sikap tak sabaran, Arumi memilih menerobos hujan deras dari pada menunggu sampai hujan reda seperti yang lain.
Arumi menarik lengan orang yang berdiri di sampingnya secara random, dan Bima adalah orangnya.
Arumi yang memiliki sikap ceria, bahkan tak terlihat canggung setelah mengajak anak orang mencari penyakit.
__ADS_1
Arumi mengajak Bima untuk menerobos hujan bersama-sama seperti tak memiliki dosa.
"Serukan main hujan-hujanan?" tannya Rumi, pada Bima yang setia mengikuti pergerakan gadis yang tak kalah tinggi dengannya itu.
"Iya, gak seburuk yang gua kira
Seru, tapi nanti kalau lu di marahi Nyokap lu gimana?" tanya Bima, sedikit khawatir.
"Itu mah gampang, kalau di marahi ya di dengarkan. Paling entar gua cuma pilek aja ... haciuhh!"
"Nah kan, ya udah ayo buruan pulang. Keburu lu masuk angin," ajak Bima, sedikit panik saat melihat Rumi mulai bersin-bersin.
Bima tersenyum tipis saat kembali mengingat potongan puzzle kebahagiaan yang dia simpan dengan baik memori kepalanya.
Hujan yang kini telah membasahi tubuhnya, sama derasnya dengan hujan kala itu.
Langit seakan memintanya mengingat momen indah itu saat dia memilih tindakan gila yang penuh rasa gegabah ini.
Beberapa kali Bima hendak mengirim pesan pada Rumi, tapi dia urungkan. Dia tidak sanggup menambah luka di hati Arumi karena ingin sekedar basa-basi di saat terakhirnya.
Dirinya telah berdiri di atap apartemen rumahnya, menatap ke arah bawah, memandang beberapa orang yang berlalu-lalang dengan bebas tanpa mengetahui keberadaannya.
Nginggg ....
Kepala Bima mulai terasa pusing. Dadanya yang sesak, mulai membuatnya lupa cara mengatur pernapasan dengan baik di saat darurat.
Tak terasa, seakan tahu apa yang di inginkan Bima. Hujan kembali mendekapnya.
Rasa dingin air hujan itu mulai berubah menjadi hangat. Sehangat genggaman Arumi saat mereka menghabiskan waktu sepanjang hari, beberapa hari yang lalu.
Bima menarik napas dalam-dalam. Rasa sesak semakin mengimpit dadanya. Keseimbangan Bima mulai goyah. Dia tersungkur di tepi balkon bagian luar, tempat dia berdiri saat ini.
Perlahan-lahan kesadarannya di rampas darinya. Bima jatuh dengan melepaskan seluruh beban berat yang selama ini dia pikul dengan sekali hempas.
Bahunya terasa ringan. Dia telah menyentuh tanah. Rasa sakit terasa di sekujur tubuhnya beberapa saat, sebelum kesadarannya benar-benar hilang dan kedua matanya tertutup dengan sempurna.
__ADS_1
"Selamat tinggal."