Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 27


__ADS_3

"Yeyy ... akhirnya lo pulang juga bukan hidup!" celetuk Bagas, menyambut kepulangan kakak perempuannya dengan keusilannya.


Arumi yang mendengar kata sambutan tersebut, hanya memutar bola matanya malas dan berjalan lurus ke arah kamarnya. Masuk ke dalam sana dan menutup pintu rapat-rapat.


Hamdan dan Ika, menatap anak bungsu mereka dengan pandangan kesal.


"Bagas, kamu gak tahu kalau kakak kamu masih sakit? Bisa-bisanya sudah usil!" ucap Ika, memarahi anak bungsunya ini.


Bagas hanya mencebikkan bibir dan bergumam kesal sambil berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.


Hamdan dan istrinya pergi ke kamar mereka terlebih dahulu, untuk mengganti pakaian sebelum membantu Arumi untuk menata beberapa barang.


"Nak, kamu sudah lapar atau belum?" tanya Ika, begitu dia masuk ke dalam kamar Arumi dan menemukan putrinya sedang memindahkan pakaian yang ada di dalam tas ke dalam lemari.


Arumi menoleh ke arah sang ibu dan menggeleng pelan. "Belum kok, Ma. Nanti aja. Arumi mau bereskan baju-baju sama kerjakan pr yang di kasih tahu bayu tadi sore."


Ika mengangguk paham dan keluar dari kamar itu tanpa menutup pintu. Tak lama setelah sang ibu keluar, Hamdan masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa camilan yang dia letakkan di atas nampan.


"Anak sakit mana bisa kerja kayak gitu, Arumi. Sudah, itu di taruh dulu. Kamu sini duduk sama ayah!" pinta lelaki itu, menepuk tapi ranjang Arumi.


"Bentar aja, Yah. Sebentar lagi selesai. Barang yang Arumi bawa di rumah sakit cuma sedikit kok. Sebentar lagi juga kelar," jelas Arumi, tanpa menatap lawan bicaranya.


Hamdan menghela napas lembut dan menatap punggung anak keduanya dengan tatapan sendu.


"Ada yang mau ayah kasih tahu sama kamu. Ini tentang kakak. Kamu bisa duduk sebentar dan dengarkan ayah sekarang, Rum?" tanya Hamdan, dengan suara lembut dan membuat Arumi langsung menoleh ke arahnya.


Melihat ekspresi wajah ayahnya yang serius, Arumi tidak mungkin menolak atau membantah permintaannya.


Arumi bergegas melipat sisa bajunya dan memasukkan semuanya ke dalam lemari dengan cepat, sebelum dia berpindah tempat di samping sang ayah.

__ADS_1


Di dalam hati Arumi terbesit banyak pikiran buruk. Belum lagi tentang masalah Bang Nando yang diberitahukan Rey kepadanya, kemarin.


"Duh ... semoga bukan berita itu. Gue kok udah negting duluan ya?" batin Arumi, merasa sedikit resah.


Hamdan menggenggam kedua tangan Arumi dengan cukup kuat. Seakan ada sesuatu hal yang buruk tengah terjadi kepada keluarga mereka.


"Yah, ayah mau ngomong apa?" tanya Arumi, dengan suara lembut dan ekspresi yang selaras.


Hamdan menyunggingkan senyuman ya. "Rum, bisa tidak kalau kamu ikut sama ayah aja setelah lulus sekolah?" tanyanya, membuat Arumi sedikit terkejut.


"E-eh? Maksudnya gimana, Yah? Arumi harus pindah sama ayah aja? Terus Mama sama si Bagas gimana?? Kakak juga? Mereka enggak ikut pindah??" tanya Arumi, terlihat bingung dan tidak bisa memahami situasi.


Lagi-lagi Hamdan mengulas senyuman lembut. Tapi hal itu malah membuat lawan bicaranya merasa resah dan gelisah.


"Kenapa, Ya? Kenapa harus Arumi yang ikut? Kenapa enggak Bang Nando atau Bagas aja?! Terus, Ayah mau pisah rumah sama Mama gitu? Tumben? Kalian berdua kan bucin banget. Nanti kalau kangen gimana?? Masak iya bolak-balik keluar kota," celetuk Arumi, terdengar sedikit menyebalkan tapi Hamdan masih bisa menahan amarah tangannya untuk tidak menjitak pening putrinya ini.


"Hahh ... gimana ya? Sebenarnya ayah mau kabur dari kakak kamu," ucap Hamdan, dengan suara lirih.


"Kakak kamu harus segera menikah. Dia menghamili anak orang. Ayah sangat kecewa padanya." Hamdan sedikit menundukkan kepalanya, menunjukkan ekspresi sedih yang terlihat sangat jelas. "Ayah sebenarnya tidak masalah kalau dia ingin menikah duluan walau masih kuliah. Nando anak yang bertanggung jawab. Tapi ini ... sangat berbeda dari harapan ayah."


Arumi terdiam. Kini perkataan Rey benar-benar terwujud. Seperti menjadi bumerang bagi Arumi yang sekedar menjadi pendengar di kala itu.


"Ja-jadi yang kemarin kata Rey itu benar? Bang Nando bawa ceweknya ke rumah sakit untuk cek kandungan?" Arumi yang tidak pernah menangis di depan keluarganya, kini sudah berkaca-kaca saking dia terkejut dan kecewanya dengan sang kakak.


Tapi bagi Hamdan, ini sudah kedua kalinya dia melihat Arumi menangis karena lelaki. Satu karena kematian kekasihnya. Dan satu lagi karena kelakuan kakak lelakinya.


Hamdan tidak akan mengerti bagaimana mental Arumi untuk ke depannya. Perkara di masa lalu saja belum tentu sudah Arumi selesaikan dengan baik.


Kini melihat kelakuan kakaknya yang tidak patut di contoh, sepertinya Arumi tidak akan bisa tahan untuk berdekatan dengan lelaki lain karena banyaknya peristiwa buruk yang terjadi di sekitarnya.

__ADS_1


Arumi meringkuk. Dia memeluk kedua lututnya dengan kuat dan menenggelamkan wajahnya di di antara kedua lututnya.


Hamdan yang melihat kelakuan tersebut merasa sedikit cemas dan bingung harus berbuat apa.


Arumi terlihat gemetar ketakutan, dan Bagas yang sempat melihat kejadian itu dari ambang pintu kamar kakaknya, hanya bisa mematung dan itu terkejut.


Dia yang belum diberitahu kalau kakak lelakinya mengalami kejadian buruk sehingga menjatuhkan nama keluarga di lingkungan sekitar, merasa benar-benar marah pada Nando.


Padahal selama ini Bagas tidak menghilang kalau Nando akan bertindak seperti ini. Nando bukan lelaki yang tidak bertanggung jawab atau anak yang suka melakukan hal yang aneh.


Tapi kenapa masalah seperti ini bisa terjadi? Sebenarnya siapa yang salah?


Perempuan yang akan segera menjadi kakak ipar mereka? Atau kakak lelaki mereka, Nando, yang memulai semua malapetaka ini?!


"Ma ...."


Bagas menoleh ke arah pintu utama, melihat Nando yang masuk ke dalam rumah dengan tampang tidak bersalah, dengan ekspresi marah dan geram.


"Ngapain lo masih bisa masuk kau rumah?! Enggak punya malu ya Bang?! Bisa-bisanya lo lakuan halo bejat kayak gitu dan buat nama keluarga kita jatuh. Lu kuliah tinggi-tinggi buat apa kalau otak lo enggak bisa dipakai dengan baik?!" Bagas berteriak lantang. Membuat suaranya bergema di seluruh ruangan yang ada di dalam rumah.


Ika dan Hamdan segera keluar untuk menenangkan Bagas yang terlihat marah dan jengkel melihat Nando.


Sementara Nando yang tahu salah, hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya dalam. Benar-benar menunjukkan sikap orang yang bersalah dan tidak berdaya.


"Pergi! Daripada ayah yang pergi, mending lo aja yang pergi! Sana tinggal sama istri lo. Gue enggak mau lihat lo di rumah ini lagi!!" Bagas menatap tajam pada Nando.


"Kenapa cuman diam di sini?! Lo gak pikirkan adik perempuan lo yang habis di tinggal pacarnya sampai jadi kayak orang gila?! Dan sekarang kelakuan lo kayak gini?! Lo buat Kak Arumi tambah trauma. Lu paham enggak sih Bang?!!" teriaknya, masih dengan suara yang sangat keras.


"Maaf ... tapi ini bukan urusan lo. Lo masih terlalu kecil buat mengerti semua-"

__ADS_1


"Bacot lo, Bang! Lo kira gue anak TK. Udah lah sekarang keluar aja lo ada di rumah ini. Gue enggak mau lihat muka lo di sini. Kalau sampai gue lihat muka lo di rumah ini, mending gue aja yang keluar. Sekalian sama Kak Arumi!" bentak Bagas, terlihat benar-benar marah.


__ADS_2