
Arumi duduk di samping Bagas dengan tenang. Keduanya tidak berbicara. Mereka diam dengan melihat banyaknya orang berlalu-lalang di depan mereka.
"Gue gak suka sama situasi rumah saat ini. Lo enggak punya tempat lain selain di rumah?" tanya Bagas, menatap kakak perempuannya yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan sekeliling.
Arumi menoleh pada Bagas dengan tatapan bingung. "Memang gue harus punya tempat pelarian lain? Kita kan punya rumah, Gas. Menurut gue itu enggak perlu," ucapnya, dengan enteng.
Bagas mendengus kasar dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau di rumah suasananya kayak gitu, kita harus punya tempat pelarian lain, kan? Masa sih lo enggak punya sama sekali?!" tanyanya, sedikit memaksa.
Arumi menghela napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya. "Oke, gue bawa ke tempat persembunyian gue. Tapi lo enggak boleh takut ya?!" celetuknya, melangkah pergi meninggalkan taman depan kompleks.
Bagas mengikuti langkah Arumi. "Iya, gue gak bakalan takut."
Beberapa saat berjalan meninggalkan kawasan rumah mereka, Arumi mengajak Bagas pergi ke kampung sebelah lebih tepatnya mengunjungi lahan kosong yang tembus pada hutan buatan milik warga setempat.
Arumi menyusuri tanah lapang itu dan masuk ke dalam hutan. Mengunjungi sebuah pohon dengan daun yang begitu rimbun sampai-sampai menghalangi sinar matahari menyusup ke sebagian lahan tersebut.
"Tempat apaan nih? Horor banget sumpah!" celetuk Bagas, terus memandang sekelilingnya dengan tatapan waspada.
Karena tempat itu cukup gelap walau waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Seharusnya tempat itu masih terpapar sinar matahari dan membuatnya sedikit cerah, tapi tidak ... karena tempat itu benar-benar suram dan cukup gelap.
Arumi menarik sebuah tangga yang cukup usang. Dia naik ke atas pohon diikuti dengan Bagas yang setia mengekor langkahnya.
"Eh, kita mau ke mana? Lo yakin kita enggak papa di sini? Nanti kalau penunggu pohon ini marah gimana??" tanya Bagas, mulai ragu saat langkahnya sudah sampai di tengah-tengah tangga.
Arumi yang sudah sampai lebih dulu di atas pohon dan masuk ke dalam rumah pohon yang tersembunyi dibalik dedaunan rimbun pohon tersebut, hanya melihat adik lelakinya yang tampak penakut dengan tatapan datar.
"Tadi yang minta adanya tempat lain buat tidur siapa? Sekarang yang takut siapa?! Heran gue sama lo, Gas. Padahal cowok. Tapi kok penakut banget," celetuk Arumi, setengah mengejek.
Bagas yang mendengar kalimat tersebut, merasa sedikit kesal tapi juga tidak bisa marah karena dia memang takut dengan hawa suram yang dipancarkan tempat itu.
__ADS_1
"Udah, buruan naik ke sini!" ucap Arumi, berjalan masuk ke dalam rumah pohon tersebut dan meninggal Bagas yang masih berusaha memanjat di bawah salah.
Tak selamat setelah Arumi membereskan beberapa barang dan membuka kain putih yang menutupi beberapa perabotan, akhirnya Bagas sampai di atas sana dan melihat rumah kecil mini malis tapi dengan perabotan yang cukup lengkap, terpampang di hadapannya.
"E-eh? Ini yakin kita boleh di sini?? Bukan punya orang lain, kan?" tanya Bagas, tampak ragu saat harus melangkah masuk ke dalam rumah pohon yang cukup besar itu.
"Gak papa, gue kenal sama yang punya. Masuk aja. Lagian tempat ini udah lama enggak di huni, mangkanya gak kotor. Udah lah, daripada lo minggir yang aneh-aneh. Mending bantuin gue beres-beres tempat ini biar bisa kita buat menginap." Arumi melemparkan sebuah sapu kepada Bagas dan meminta adik lelakinya untuk membereskan tempat tersebut.
Bagas melihat sapu yang ada di genggamannya. "Cih ... keterlaluan banget lu jadi orang! Di rumah aja gue enggak pernah sapu. Di sini kok malah di suruh sapu?! Lo aja yang sapu, gue beres-beres yang lain."
Bagas mengembalikan sapu tersebut pada sang kakak dan memilih untuk membereskan beberapa perabotan berserakan di lantai karena terkena angin.
Arumi pun mulai menyapu lantai dan menghubungi seseorang untuk meminta izin jika dia malam ini bermalam di tempatnya.
Tapi bukannya mendapat balasan pesan, tiba-tiba orang yang dia minta izin langsung datang ke rumah pohonnya dan naik ke atas sana.
"Gue bawa makanan!" celetuk Rey, mengangkat bingkisan yang dia bawa dari rumah saat kedua matanya bertemu dengan tatapan Arumi.
Bagas yang mendengar suara lelaki di luar, langsung berjalan ke pintu dan melihat kakaknya tengah berbicara dengan lelaki itu.
"Siapa?" tanya Bagas, mengintip dari balik jendela yang ada tempat di samping pintu.
Arumi menoleh pada adiknya. "Si pemilik rumah!" sahutnya, menjawab pertanyaan itu dengan singkat, padat, dan malas.
Rey mengulas senyuman segaris melihat sosok adik lelaki Arumi, yang ternyata cukup mirip dengan Arumi.
"Hai, gue bawa makan malam buat kalian." Rey memberikan bingkisan tersebut kepada Bagas dan menyusup masuk ke dalam rumah pohonnya, melihat sekelilingnya dengan tatapan mengamati.
"Kayaknya perabotannya masih bagus ya?" gumam Rey, membuat Arumi mengangguk dan berjalan ke salah satu meja untuk mengeluarkan sebuah pigura yang terdapat tiga foto anak remaja yang tampak bahagia.
__ADS_1
"Bahkan foto ini masih ada di sini." Arumi menatap fotonya, Rey dan Bima dengan senyuman lembut dan meletakkan pigura itu di atas meja.
Rey memandang beberapa saat foto tersebut dan tersenyum simpul. Melihat reaksi Arumi yang cukup santai, sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan ke tidak hadiran Bima di hidupnya.
Bagas hanya dia melihat interaksi kedua orang tersebut. Walau penasaran dengan hubungan keduanya, Bagas memilih mengurungkan niat bertanyaannya setelah melihat foto lelaki yang sempat membuat hidup Arumi hancur dan terpuruk.
"Gue cuman mau bilang, tapi kayaknya orang tua Bima mau bercerai," ucap Rey, sekedar memberi tahu.
Arumi terdiam dengan menoleh ke arah Rey yang terus menunjukkan wajah dan senyuman masamnya. "Lo serius? Tante Helena? Mau bercerai??"
Rey mengangguk ambigu dan melirik ke arah Bagas yang dengan peka berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Terus? Om Edi setuju? Dia kan sangat sayang sama Tante Helena. Lo tahu dari mana kalau mereka kamu bercerai?" tanya Arumi, mendekati Rey dengan tatapan tak terima dan penasaran.
"Tahu dari mana?" Rey menggaruk belakang kepalanya dan memandang ke arah lain, menghindari tatapan Arumi yang seakan berbinar karena haus informasi.
"Sebenarnya Tante Helena itu, Tante gue. Adiknya Mama. Jadi Bima itu bukan sekedar sahabat gue dari orok. Tapi juga saudara gue."
Rey menundukkan kepalanya sedikit. Merasa sedikit bersalah karena baru memberi tahu Arumi tentang ini sekarang. Saat semuanya sudah kacau dan hancur berantakan.
"Maaf, gue baru bisa bilang sekarang."
Arumi terdiam, menatap Rey dengan tatapan kecewa tapi tak juga marah kepadanya.
Arumi menoleh, membalik tubuhnya dan membelakangi Rey. "Gak papa. Gue memang bukan siapa pun Bima aja buang gue. Gak seharusnya lo cerita masalah kayak gini ke gue."
Rey mengangkat kepalanya, memandang bahu Arumi yang gemetar walau suaranya masih terlihat normal dan terkesan tegas.
"Gue gak punya hak untuk mendengar masalah keluarga kalian!" tungkas Arumi, terdengar menyakitkan di telinga Rey, sekarang.
__ADS_1