Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 31


__ADS_3

Dari pagi sampai sore, Arumi terlihat sangat murung. Bahkan ketiga temannya merasa sedikit khawatir dengan mood Arumi hari ini.


Belum lagi banyak guru yang memintanya maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal.


Arumi tidak menolak permintaan itu. Tapi sepertinya mood Arumi bertambah buruk dan buruk.


"Duh ... kenapa sih hari ini guru-guru kayak lagi peka banget kalau Arumi punya masalah. Muka lu jangan jutek-jutek dong, Rum! Mancing petaka banget loh," celetuk Bayu, ingin sekedar bergurau.


Tapi tampaknya Arumi benar-benar tidak berniat tersenyum hari ini. Walau sering mendengarkan temannya melawak, dia tidak tersenyum sedikit pun.


Bahkan sekedar menghargai usaha teman-temannya agar dia tersenyum, dengan senyuman tipis.


Menyerah dengan semua usaha mereka, Bayu, Selen dan Indah akhirnya berunding untuk menanyakan secara langsung tentang masalah apa yang membuat teman perempuan mereka ini benar-benar tidak mood dari pagi sampai hampir pulang.


Kini kelas terakhir sudah usai. Selen mendekat ke arah bangku Arumi untuk menyampaikan jika mereka ingin mengajaknya pergi setelah pulang sekolah.


"Rum," panggil Selen, pada Arumi yang sedang membereskan barang-barangnya.


Arumi mendongak dan menunda pekerjaannya. Dia menatap Selen dengan tatapan bertanya, tanpa pertanyaan secara langsung.


"Ada waktu enggak?" tanya Selen, sambil menunjukkan ekspresi ragu.


Arumi tidak menjawab secara langsung. Dia berpikir beberapa saat sebelum mengangguk pelan.


"Ada. Kenapa?" tanya Arumi, singkat, padat, dan jelas.


"Itu ... anak-anak ngajakin main nih. Lo ikut ya? Siapa tahu bisa meningkatkan mood lo hari ini. Gue lihat dari pagi, lo udah murung terus. Kita jadi agak ke pikiran nih." Selen mengulas senyuman masam. "Lo ikut kita main ya?" ajaknya, setengah memohon.


Tanpa banyak bicara, Arumi kembali mengangguk dan menyetujui permintaan Selen.


Dan mendengar jawaban itu, membuat dua orang teman Arumi yang lain, yang sedang menunggu di bangku mereka masing-masing, tersenyum dan bahagia.


Alhasil mereka pergi ke salah satu mall yang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.


Rencananya, hal pertama yang akan mereka lakukan adalah nonton film, namun di lanjut dengan main game, dan makan malam di area food court.

__ADS_1


Seperti tadi pagi, tampaknya mood Arumi tidak kunjung membaik. Karena gadis itu dari tadi hanya diam, walau sesekali tersenyum melihat ke konyolan teman-temannya.


Tiba waktunya makan malam, Arumi, Bayu, Indag dan Selen pergi ke area food court untuk mencari makanan yang bisa mengisi perut mereka.


Karena mereka memesan menu yang cukup banyak, pelayan membawakan makanan mereka cukup terlambat sampai membuat Indan dan Bayu mengomel sangking lamanya pesanan mereka datang.


Didukung dengan mood kesal, Bayu akhirnya buka suara dan menanyakan secara langsung permasalahan Arumi, tanpa memedulikan pendapat dua teman perempuannya yang memintanya untuk diam saja.


"Rum, coba cerita deh. Daripada lu diam terus, terus buat kita makin pusing! Coba cerita aja. Kayak biasanya. Ngomong apa masalah lo biar kita bisa bantu," ucap Bayu, sudah berpikir negatif kalau Arumi tidak akan menjelaskan permasalahannya.


Melihat dari tadi Arumi yang terus diam, seakan memang tidak ingin bercerita atau mendengar saran dari teman-temannya, Bayu yakin kalau dia tidak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


Tapi siapa yang menyangka? Kalau perkataan yang keluar dari mulut Arumi malah mengundang air mata mereka bertiga dan membuat mereka sama-sama kehilangan moodnya.


"Sebenarnya, gue sama keluarga gue mau pindah dari kota ini." Arumi menatap setiap perubahan ekspresi ketiga temannya, dengan senyuman masam. "Maaf, mangkanya itu dari tadi gue kagak enggak fokus pasti sekolah."


Bayu, Selen dan Indah langsung meletakkan sendok dan garpu yang mereka genggam, lalu menyandarkan punggung mereka ke kepala kursi sambil memandang Arumi dengan tatapan lemas.


"Jadi gara-gara ini dari tadi lo enggak semangat?" tanya Indah, menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa.


Bayu, Selen dan Indah langsung menunjukkan kepalanya. Merasa sedih dan hancur ketika mendengar berita tersebut.


Entah kenapa, ada sedikit perasaan menyesal karena mereka bertanya kepada Arumi tentang permasalahan ini.


Mungkin jika mereka tidak bertanya dan tiba-tiba Arumi pindah tanpa memberitahu mereka, mungkin mereka bisa langsung marah.


Tapi bagaimana keadaannya sekarang? Arumi sudah bilang kepada mereka kalau dirinya akan meninggalkan kota.


Mau marah juga bagaimana? Arumi tidak melakukan kesalahan apa pun untuk memancing emosi mereka.


Alhasil, hari itu dihabiskan dengan mereka yang saling berdiam diri dan tidak terlalu banyak berbicara.


Arumi juga pulang ke rumahnya dengan kondisi mood yang semakin memburuk setelah melihat ekspresi ketiga temannya yang cukup menyakiti hatinya.


Arumi juga tidak ingin meninggalkan kota ini. Kenangan bersama Bima, ketiga temannya, lalu dengan si tengil Rey cukup membuat hati Arumi terasa sangat berat kalau dirinya harus mengangkat kaki dari kota ini.

__ADS_1


Sesampainya Arumi di rumah, dia langsung menangis dan tidak memedulikan perkataan kedua orang tua ataupun adik lelakinya, yang berusaha menenangkannya.


Entahlah, semenjak kepergian Bima, Arumi jadi sering menangis seakan dia menjadi pribadi yang berbeda. Cengeng dan penakut. Sudah mirip seperti karakter anak manja.


Apa mungkin kehilangan seseorang yang sangat dibutuhkan atau harapkan, bisa membawa dampak sebesar ini di kehidupannya?


Seandainya jika Bima masih ada di sisinya. Apakah Arumi akan tetap menangis seperti ini, sekarang?


Dari hari itu sampai hari yang dijadwalkan oleh Hamdan, untuk keluarga Arumi pindah. Arumi lebih sering memindahkan tentang Bima.


Di mana dia sering bertemu dengan lelaki itu di mana pun dia terbangun di mimpinya.


Seakan menjadi sebuah pertanda kalau Arumi, mungkin sebentar lagi akan bertemu dengan Bima.


Hari terakhir ketika Arumi datang ke sekolah untuk membereskan buku-bukunya dari loker ...


Rey berlari mengejar langkah Arumi yang sampai di depan gerbang, dengan membawa sebuah kotak besar berwarna putih dengan pita merah di tengahnya.


"Rum ...." Rey memanggil dengan napas terengah-engah.


Arumi menyangka air matanya dengan cepat dan menoleh ke arah belakang. Melihat siapa yang sedang berdiri di sana sambil menunjukkan ekspresi sedih dan kehilangan.


"Buat lo!" ucap Rey, memberikan kotak tersebut kepada Arumi yang menerimanya dengan tangan gemetar.


"Semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Rey, sambil mengulas senyuman lembut yang terlihat sangat cerah.


Walau sebenarnya, hatinya cukup rasa hampa saat mendengar Arumi akan segera meninggalkan kota ini, beberapa hari yang lalu.


Arumi tersenyum simpul dan membiarkan kotak tersebut, ada di dalam kotak berisi kan barang-barangnya.


"Memang lo mau ketemu gue lagi?" tanya Arumi, bermaksud bergurau dan tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyakiti perasaan Rey.


Tapi tampaknya, pertanyaan itu cukup menyinggung hati kecil Rey yang harus kehilangan sang pujaan hati yang berulang kali dia tolak oleh akal sehatnya.


"Gue tahu, gue ngeselin. Tapi lo percaya gak, kalau gue bilang, gue suka sama lo?"

__ADS_1


__ADS_2