Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 8


__ADS_3

Sore itu Bima mendapat pesan dari rumah sakit bahwa hasil tes darahnya sudah keluar.


"Begini, kamu mengidap leukemia mielositik akut(LMA) atau sering di sebut kanker darah. Bukan penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, semua penyakit ada obatnya. Hanya saja, penyakitmu membutuhkan pengobatan khusus." Dokter menjelaskan dengan hati-hati, takut membuat sedih pasien muda ini.


"Prosedur pengobatannya apa saja Dok?" tanya Bima, tampak tenang walau sebenarnya hatinya terasa gusar.


"Kemoterapi. Jika tidak ada kemajuan, akan kami lakukan terapi radiasi dan transplantasi sumsum tulang," jawab dokter itu, dengan suara halus.


"Jika saya menjalani semua prosedur pengobatan yang Dokter bilang tadi, saya bisa sembuh?" tanya Bima, sedikit mengharapkan jawaban baik dari lelaki berjas putih itu.


"Kita hanya bisa melakukan yang terbaik. Selebihnya, hanya Tuhan yang tahu," jawab dokter itu, seakan membuat tekad Bima untuk mempertahankan hidupnya, gugur seketika.


"Baik, terima kasih untuk penjelasannya. Saya undur diri dulu, Dok." Bima bangun dari kursinya, mengulas senyuman tipis untuk terakhir kalinya, baru pergi meninggalkan ruangan itu.


Dokter paruh baya itu hanya diam, memandang punggung Bima yang begitu tegar setelah mendapat diagnosis menyakitkan seperti tadi.


"Anak yang kuat," gumamnya, dan menyambut pasien selanjutnya.


Sementara Bima telah meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai, tidak percaya kenapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini.


Sudah keadaan keluarga yang kacau, kini di tambah dengan kenyataan tubuhnya yang rusak?


Lalu bagaimana latihan taekwondo yang dia sukai itu? Apa Bima harus berhenti?


Karena Bima paling sadar, jika kondisi tubuhnya akan bertambah parah. Bukannya membaik, untuk waktu yang singkat.


"Hahhh ... ujianmu begitu berat, Tuhan," gumam Bima, lirih.


***


Lain halnya dengan Arumi, dia dengan bahagia menceritakan pada temannya bahwa Bima  menyatakan perasaan padanya.

__ADS_1


"Gimana Rum, jadi lu di tembak sama si Bima?!" tanya Indah, excited.


"Iyaa, gua di tembak sama Bima, tapi gua belum kasih jawaban ke dia. Duh ... gua grogi!! Gimana nih!!" Arumi menelungkupkan wajahnya sampai tenggelam di antara kedua tangannya. Wajah bahagia yang tak bisa di bendung, dengan debaran jantung yang tak bisa berhenti.


"Lama-lama bisa kena serangan jantung kalau nih organ gak mau tenang sedikit!" pekik Arumi, mengomel sambil tetap cengengesan.


Ketiga sahabatnya hanya bisa melongo mendengar perkataan Arumi.


"Rumi, lu tuh bego apa gimana sih? Lu kan udah lama naksir si Bima. Kenapa lu masih ragu kasih jawaban?! Rada-rada nih orang. Abimana Satya cowok yang jadi incaran para cewek Duta Bangsa, cowok yang tidak hanya tampan tapi juga menjadi salah satu murid terbaik di sekolah! Ini murid yang selalu di bangga-banggakan setiap guru jika sedang menceramahi siswa yang bandel! Lu masih ragu?? Belum kasih dia jawaban, gila lu! lu kata lu sebaik itu buat biarkan dia nunggu lo?!" pekik Indah, dengan jengkel.


Arumi yang mendengar itu langsung speechless. Dia terdiam dengan mulut terkatup rapat, tapi kedua matanya tampak kosong, dan dia pun terlihat menyesali perbuatan bodohnya.


"Gua gugup banget kemarin! Waktu dia nembak gua, jantung gua udah hampir lompat. Kalau gua sampai jawab 'iya' dengan wajah kucel gua, so sweet kagak ... ngenes iya!" Arumi mengusap wajahnya kasar. "Ini tuh pengalaman yang bakal gua ingat seumur hidup, makanya gua jawab kek gitu. Rencananya, gua mau tampil agak cans dikit biar kagak malu-malu amat pas ingat masa-masa ini. Tapi kalau lu bilang kayak gitu, gua harus gimana dong?!" tanya Arumi, mendadak bingung.


"Ya udah sekarang lu tenang, chat si Bima. Bilang ke dia kalau lu mau ke temuan sama dia nanti di tempat kemarin lu di tembak. Duh ... lu yang di tembak, kenapa gua yang ikutan ketar-ketir sih?! Empet banget gua punya teman kayak lu, Rum!" ucap Selen, ikut gemas dan panik.


Arumi mengangguk cepat, mengelurkan ponselnya secepat kilat dan menghubungi Bima.


Kling ....


"Langsung di balas! Bima mau katanya, ihhh ... gua grogi!!" celetuk Arumi, gemas sendiri.


"Udah-udah, tarik napas. Yang tenang. Nanti lu ketemu dia, jangan lupa pakai dempul biar muka lu gak kayak kue mendut, kebanyakan minyak!" pekik Selen, menenangkan.


Arumi mengangguk dan mencoba mengatur napasnya agar lebih tenang. "Iya-iya. Doain gua sukses ya?!"


"Iya, Rum. Kalau perlu, gua kuntit lu entar wkwkwk ...."


"Gila lo. Duh, gua gerogi, Ndah ... Sel ...!!"


***

__ADS_1


Arumi menunggu Bima di bawah pohon, tempat Bima menembak Arumi kemarin. Setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda kemunculan Bima.


Tapi Arumi masih sabar menunggu Bima, hingga akhirnya hujan turun dengan derasnya. Tapi Bima tidak kunjung datang juga.


Dengan kondisi seburuk itu, Arumi masih sempat menunggu Bima beberapa waktu di bawah pohon. Walau bajunya mulai basah dan make upnya mulai luntur, Arumi masih tetap menunggu seperti orang bodoh selama 10 menit lamanya.


"Lo ngapain di situ?!" tanya seorang lelaki, membuat Arumi mendongak dan menatap sosok lelaki sebaya-nya, yang tak dia kenali.


Arumi menghela napas kasar. Dia kira itu Bima, ternyata bukan. "Bukan urusan lo!" jawabnya, dengan ketus dan segera berjalan meninggalkan lelaki yang sempat memberinya tumpangan payung itu.


Rumi pergi dengan perasaan kecewa. Dia kesal, tapi juga ada rasa menyesal karena dia tak langsung menjawab Bima kala itu.


"Seandainya gua jawab pas hari itu juga, pasti gua gak akan segelisah ini, kan?!" batin Arumi, terus berjalan pergi, menerjang hujan seakan itu bukan sebuah sesuatu yang besar.


Rey menyimpan salah satu tangannya di saku celana, memandang sosok Arumi yang menjauh saat dia hendak membantunya.


"Jadi itu calon ceweknya, Bima? Cantik sih, tapi cuek! Gitu kenapa si Bima bilang kalau dia ceria?" Rey menghela napas lelah dan berjalan pergi dari tempat itu.


"Mungkin mata Bima udah jadi buta gegara terlalu bucin!" gumamnya, tak habis pikir dengan selera kawannya itu.


***


Selama berhari-hari Bima tidak masuk sekolah, guru-guru bingung dengan kejadian itu. Karena tidak biasanya Bima bolos sekolah seperti sekarang.


Rumi pun masih kecewa dengan Bima yang tidak menepati janjinya. Padahal waktu itu dia sudah bersemangat, tapi melihat Bima yang sudah menghilang bagai di telan bumi, Arumi perlahan-lahan mulai merasa pasrah dengan perasaan gelisah, tentang hubungannya dengan Bima.


"Rum, kata si Niken, Bima gak masuk sekolah selama berhari-hari. Lu gak tahu ke mana dia pergi? lu kan calon gebetannya. Masa tanya gitu aja gak bisa?" sosor Indah, tiba-tiba menyinggul tentang orang yang paling membuat perasaan Arumi menjadi sensi.


"Kan gua bukan Emaknya, mana gua tahu dia di mana. Udah ih, gak usah sebut nama Bima depan gua! Malas banget gua dengar nama dia. Pergi sana!" bentak Arumi, dengan perasaan jengkel.


Indah langsung diam, memandang Arumi yang bad mood dengan tatapan ragu. "Lu kenapa sih? PMS?!"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Arumi malah bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja dengan langkah setengah mengentak.


"Lah? Kenapa sih? Lagi stres tuh anak?!" jengkel Indah, bingung.


__ADS_2