Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 13


__ADS_3

Kemoterapi yang Bima jalani tak berhasil. Sel kankernya sudah terlajur menyebar, Dokter tak bisa berbuat banyak, Bima hanya bisa pasrah dan semakin putus asa.


"Kami telah melakukan yang terbaik, tetapi kemoterapi tidak bisa membunuh sel kanker. Produksi trombosit semakin menurun. Selain itu, sel kanker sudah menyerang organ vital seperti paru-paru. Kamu akhir-akhir ini sering pusing dan pingsan, kan?" tanya Dokter, pada Bima.


"Iya Dok, durasi pingsan saya semakin sering, kepala saya sering pusing dan dada saya sering sesak," jawab Bima, menjelaskan pada Dokter gejalanya yang semakin parah kian hari.


"Kami hanya bisa memberikan obat pereda nyeri dan obat anemia serta sesak napas. Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Kami tidak bisa memberantas penyakit yang pasien Bima derita," ucap Dokter, sedih.


"Terima kasih Dok, sudah mau membantu saya, menghilangkan rasa sakit walau hanya sebentar," ucap Bima, tulus.


Dokter itu hanya mengangguk dan sekali lagi mengucapkan permintaan maaf pada Bima.


***


Arumi mengalami masa-masa sulit sebagai atlet taekwondo. Dia harus istrahat sejenak dan harus melakukan operasi pada bahunya. Dia mengalami cedera clavicula.


Arumi cedera saat sedang latihan taekwondo bahunya menghantam lantai dengan keras dengan posisi terentang.


Arumi merasa hidupnya hancur. Dia sangat mencintai taekwondo. Baginya, taekwondo adalah bagian dari hidupnya.


Di masa-masa berat ini, dia memiliki sahabat yang menghiburnya. Tapi seseorang yang spesial untuknya, malah jarang berada di sampingnya.


Arumi merasa kecewa pada Bima. Sudah seminggu sejak Bima berjanji akan menjemputnya berangkat sekolah bersama, sejak hari itu Bima tidak bisa di hubungi dan dia tidak sekolah selama berhari-hari.


Menurut Arumi, hanya dia yang serius dalam hubungan ini. Dia muak dengan janji yang selalu di batalkan sepihak oleh Bima.


Baginya, Bima sudah mempermainkan perasaannya. Dan di saat-saat sulit ini pun, tak ada Bima yang hadir, sosok spesial yang harusnya terus menemaninya di kala sulit.


"Udah kalau lu dah capek jalin hubungan kek gini. Mending putus aja dari pada hati lu tambah sakit" kata Selen, sedih melihat sahabatnya murung setiap hari.


"Gua gak bisa berhenti suka dan sayang sama dia. Kalian tahu kan? Gua sayang banget sama Bima. Walau kenangan kita berdua enggak sebanyak itu, tati tetap aja! Bagi gue, dia tetap segalanya," jelas Arumi, lirih, sambil menahan air matanya turun.


"Tapi kita gak bisa lihat lu, sahabat kita, sedih-sedihan terus kayak gini. Sakit juga gue lihat lu tahan air mata kayak gini terus," timpal Indah, turut sedih melihat sahabatnya yang biasa ceria sedih dan murung.

__ADS_1


Bayu bahkan sudah menangis karena tidak sanggup melihat sahabat terbaiknya itu sedih.


Ini mah, Arumi yang sedih tapi Bayu yang nangis! Aneh sih, tapi realitasnya gitu.


Bahkan Arumi, Selen dan Indah yang melihat Bayu menangis, sampai geleng-geleng kepala karena tak habis pikir dengan sikapnya itu.


Tapi Bayu manis meneruskan acara menangisnya itu, sampai sesenggukan juga.


Bayu benar-benar merasa kasihan melihat Rumi harus mencoba melepaskan taekwondo yang notabenenya adalah bagian dari Rumi. Di tambah kelakuan busuk Bima yang semakin menjadi beban di hatinya.


Batu marah, tapi tak bisa berbuat apa pun karena Arumi tetaplah orang yang sabar walau pun mulutnya lemes kalau marah.


"Udah, Bay. It's oke. Gue gak papa kok," celetuk Selen, mengusap air mata yang bahkan tak menetes di pipinya itu.


Bayu menatap Selen dengan tatapan benci, lalu mengalihkan pandangannya pada Arumi.


"Huhu ... udah, lo putus aja sama dia, Rum. Gue sakit hati kalau harus lihat lo kayak gini terus. Bisa-bisa, gue hajar juga tuh laki!" Bayu menghapus air matanya yang terus menetes dengan kasar.


"Basipun letoy gini, gue ini atlet petinju yang di berkedok tukang bawain bekal kalian. Jangan remehkan gue! Gue kalau udah marah, hampir mirip sama saiton!" pekik Bayu, berusaha menenangkan dirinya.


"Diam lo, Sel! Lama-lama gue lempar juga lo ke laut. Sana ketemu sapa Pesaidon! Lo kan nge-fans banget tuh ama Dewa Laut," pekik Bayu, membuat Selen balik kesal padanya.


"Lo ajak gelut, Bay?!" sengit Selen, mengamuk.


"Hayuk, kagak takut gue lawan manusia gepeng semi ikan pari kayak lo!" pekik Bayu, tak kalas sengit.


Arumi dan Indah yang sedang bersedih, alhasil tak bisa bersedih dengan leluasa karena harus melerai kedua teman kampretnya ini.


"Udahhh ... jangan berisik!" marah Indah, menatap Bayu dan Selen, tajam nan menusuk.


Bayu dan Selen langsung kicep, dan hanya perang tatapan saja. Tanpa memprotes atau membuat keributan lagi.


***

__ADS_1


Bima memegangi kepalanya yang kian hari makin terasa sakit dan dadanya yang sesak.


Bima tahu Rumi cedera dan di bawa ke rumah sakit, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


Dia ingin sekali pergi ke rumah sakit dan memeluk Rumi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Memberinya semangat dan perhatian.


Tapi sudah setengah jam dirinya terbaring lemas di lantai kamarnya tanpa ada seorang pun yang bisa membantunya keluar.


Berapa kali dia tidak bisa menepati janji pada Rumi? Bahkan untuk membalas pesan atau sekedar mengabari Arumi saja Bima tak mampu.


Keadaannya yang kian parah, membuat Bima benar-benar tak bisa melakukan aktivitasnya dengan benar. Semuanya kacau. Hidup dan kisahnya dengan Arumi juga kacau.


Kepala Bima seperti akan meledak dan dadanya semakin sesak. Bernapas pun sulit, sudah begini ekspetasinya masih terlalu tinggi sampai membayangkan kehidupan masa depannya dengan Arumi.


"Bodoh," batin Bima, pada dirinya.


Air mata Bima kembali hadir menyertai dirinya. Sosoknya yang terlihat menyedihkan, terlihat jelas dari pantulan kaca yang ada di depan sana.


Membuat Bima semakin merasa terpuruk dengan keadaannya saat ini.


Perlahan-lahan pikiran negatif mulai menghantui. Bima mulai merasa kalau dirinya tidak pantas menjadi pacar Arumi.


Arumi yang periang, baik dan sangat pengertian. Tak seharusnya mendapatkan perlakuan buruk dari kekasihnya seperti ini.


Bima merasa, kalau lebih baik dia putus dari Arumi saja. Dengan alasan demi kebaikan Arumi, Bima mulai membulatkan tekad untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.


Walaupun hari Bima terasa benar-benar berat, tapi pilihan itu lebih baik dari pada memenjara Arumi di dalam hubungan yang memiliki masa depan ini.


Memikirkan hubungannya yang harus kandas karena keterbatasan Bima, kepalanya semakin terasa pening sampai-sampai tubuhnya mulai kejang karena kesakitan.


Lambat laun dia mendengar suara hujan di luar sana. Hujan yang membuat hawa dingin menyusup masuk ke dalam kamarnya.


Bima mengulas senyuman getir. Merasa berterima kasih pada Tuhan karena sudah menurunkan hujan.

__ADS_1


Dengan begini, Bima bisa menangis dengan leluasa. Meraung kesakitan di dalam isak tangis yang di samarkan oleh hujan.


"Bima bodoh!"


__ADS_2