
Rey masih bermain catur di dalam toko rotinya, seperti biasa saat dia pulang sekolah.
Namun yang beda, kini tidak ada seseorang yang bisa dia tunggu atau akan menghampirinya sebentar setelah pulang dari rumah kekasihnya.
Kling ....
Baru saja memikirkan sosok sepupu sekaligus sahabat karibnya, Bima. Kini Rey malah melihat Arumi masuk ke dalam tokonya dan berhenti tepat di depan pintu dengan menatapnya lurus.
Rey mendesah kasar. Ibunya tak ada. Dia adalah satu-satunya orang yang menjaga toko. Dengar arti, hanya dia yang bisa melayani pembelinya ini.
Rey mendekati Arumi dengan nampan besi dan capit. Rey memberikan dua benda itu pada Arumi dan membiarkan gadis itu memilih makanannya.
"Lo gak pergi les?" tanya Rey, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menunggu Arumi selesai di balik mesin kasir.
"Enggak. Gue libur. Ada acara," jawab Arumi, terlihat sangat tidak bersemangat.
"Taekwondo?" tanya Rey, tepat sasaran.
Arumi menghentikan langkahnya, menoleh pada Rey yang dari tapi memperhatikannya dengan tampang belagu.
"Bisa gak, gak usah sok tahu?" tanya Arumi, terlihat kesal mendengar Rey menyinggung Taekwondo di depannya.
Rey mengangkat bahunya acuh dan melihat seorang pelanggan yang membawa beberapa temannya masuk ke dalam tokonya.
Seketika, toko Rey mendadak menjadi ramai sampai Rey kewalahan melayani para pembeli itu.
"Gue mau bayar!" seru Arumi, membuat Rey menoleh ke arahnya dan segera pergi ke kasir.
Namun bukan untuk melayani pembelian Arumi, melainkan menyeret gadis itu mendekati etalase dan memaksanya memakai celemek yang senada dengan Rey.
"Apa-apaan lo?!" pekik Arumi, tapi tak bergerak saat Rey mengikatkan tali celemeknya.
"Bantu gue! Nanti gue bayar," ucap Rey, singkat, padat dan jelas sekali kalau itu bukan permintaan tolong, tapi perintah untuk Arumi.
__ADS_1
Arumi mendengus kasar dan tak kabur dari tempat itu. Lebih tepatnya dia tidak bisa kabur karena beberapa ibu mendatanginya dan bertanya ini dan itu mengenai bakery Rey.
Untungnya Arumi tahu sedikit karena pernah SKSD dengan Mama Rey di kunjungan pertamanya.
Walau tak sengaja masuk ke toko roti Rey. Tapi hari itu Rey memperkenalkan dirinya sebagai temannya. Karena itulah Mamanya, Tante Indira bercerita panjang lebar sampai menyita waktu setengah hati Arumi yang harusnya di habiskan untuk belajar.
Sampai pukul 04.00 sore, toko baru terasa lenggang dan kedua pegawai itu sudah tepar di satu meja dengan kedua kepala yang mereka sandarkan di atas meja.
"Gue baru kerja rodi, kan?" Arumi menceletuk dengan tatapan bengong. "Bisa-bisanya toko roti kecil di pojok kompleks ramenya kalahi Indomart!" pekiknya, meneruskan.
"Sorry, toko gue lagi otw cari karyawan tapi belum ada yang mendaftar. Hahh ... padahal tambah hari konsumen Mama tambah banyak, bisa-bisanya ke pikiran tambah karyawan baru minggu kemarin!" celetuk Rey, menarik punggungnya dan menyandarkannya di kepala kursi. "Gue kasih lo upah. Sorry udah ngerepotin!" ucapnya, memang merasa berlasah karena menyita banyak waktu Arumi.
"Tau lo kalau ngerepotin gue?!" Arumi bangkit dan melepaskan celemek di dirinya dan meletakkannya di atas meja.
Rey membereskan celemek itu, kembali melipat dan menyimpannya di bawah meja etalase tengah.
"Gue mau bayar!" ucap Arumi, sudah berdiri di belakang mesin kasir.
Rey bergegas mendekat dan menghitung semua belanjaan Arumi. Sekalian dia memberikan upah untuk Arumi.
Arumi menggeleng pelan, menolaknya dengan tegas. "Gak usah, gue ambil roti aja!" ucapnya, berjalan mendekati etalase pinggir yang dekat dengan dinding kaca dan mengambil satu bakpao.
Rey mendekat dengan bungkus bakpao. Membantu Arumi mengemas barang itu dengan rapi.
"Gak usah di tambahi! Yang makan cuma gue doang!!" pekik Arumi, memandang Rey yang memberikan dua bakpao rasa coklat, kesukaan Arumi.
"Bawa aja. Lo udah bantu gue 5 jam di toko! Di kasih uang kagak mau sih!" pekik Rey, memberikan tas berisikan belanjaan Arumi, kembali pada pemiliknya.
Arumi menghela napas kasar dan mengucap terima kasih. Baru setelah itu dia pergi.
Tapi saat di depan toko, dia berpapasan dengan Indira yang langsung bahagia saat menatap kehadiran Arumi.
"Eh ... Arumi. Udah lama Tante enggak ketemu kamu. Habis beli roti ya?" tanya Indira, dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Namun kedua remaja yang melihat ekspresi Indira, sama sekali tidak merasa hal yang sama.
Arumi melirik ke arah Rey yang berdiri tepat di sampingnya. Keduanya sama-sama menunjukkan ekspresi wajah masam, saat kedua mata mereka terus memandang senyuman Indira yang mengembang sangat lebar.
"Iya, Tan. Saya habis beli roti. Sekarang udah mau pulang, soalnya masih banyak tugas sekolah yang belum Arumi kerjakan," ucap Arumi, hanya beralasan.
"Oh ... udah mau pulang? Ya udah kalau kayak gitu, biar Rey ya anterin kamu pulang."
Arumi dan Rey langsung membuatkan matanya dan menatap satu sama lain dengan tatapan terkejut.
"Enggak usah, Tante. Rumah Arumi dekat kok! Arumi bisa jalan sendiri. Enggak perlu di antar. Nanti kalau Rey antar Arumi, yang jaga toko siapa?" celetuk Arumi, masih berusaha beralasan agar Rey tidak usah mengantarkan nya.
"Oh ... kamu enggak perlu khawatir, Arumi. Kan ada Tante!" Indira memberikan kunci motornya pada Rey dan mendorong kedua anak remaja itu untuk segera turun dari toko roti.
"Rey, antarkan Arumi sampai ke depan rumahnya loh! Awas aja kalau kamu sampai bohong. Pulang-pulang masuk ke dalam parit kamu!" pekik Indira, mewanti-wanti.
Rey yang mendengar kalimat seperti itu, alhasil mendenguskan napas kasar dan mengajak Arumi untuk pergi ke arah motor matic yang ter parkir di depan toko rotinya.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut! Kamu bawa anak orang bukan tepung beras!" celetuk Indira, masih terus mengomel walaupun Rey sudah menurut bahkan tanpa menentangnya.
"Iyaaa ... Mamaaa ...."
Setelah itu, Rey membawa Arumi pergi dari toko roti dan mengantarkan Arumi sampai ke depan rumah, seperti yang di pesankan oleh ibunya.
Arumi segera turun dari boncengan Rey dan menatap lelaki itu beberapa saat setelah mengucap kata terima kasih.
"Gue langsung cabut ya?!" ucap Rey, memutar balik motornya dan melambaikan tangannya sejenak ke arah Arumi yang masih berdiri di depan gerbang pintu rumahnya, untuk memastikan dia benar-benar pergi.
Arumi mengangguk dan melambaikan tangannya sejenak, sebelum dia memutuskan masuk ke dalam rumah setelah melihat Rey sudah berbelok di tikungan depan sana.
"Ciee ... ada yang di anterin pulang lagi nih ye! Katanya belum move on, tadi pulang-pulang di boncengin cowok. Cih ... 'muna' pakek 'fik' lo Kak," ejek Bagas, begitu Arumi masuk ke dalam rumah.
Tapi sayangnya, lawan bicara Bagas tidak menanggapinya dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar, setelah meletakkan roti yang dia beli di atas meja makan.
__ADS_1
"Cih ... padahal cowoknya yang sekarang lebih ganteng dari pada yang dulu! Kenapa juga dia malah bad mood?! Cewek mah memang syulit!" pekik Bagas, bergumam.