
Bima kembali menjalani kemoterapi. Kini kegiatannya bertambah satu, yaitu rutin pergi ke rumah sakit untuk melakukan kegiatan itu.
Kali ini kemoterapi yang di jalaninya semakin menyakitkan. Rambutnya mulai rontok, dan obat yang di masukkan ke dalam tubuhnya, membuat tubuh Bima menggelinjang sesekali.
Padahal ini baru kemoterapi keduanya dan masih ada enam sesi kemoterapi lagi. Tapi rasanya sangat menyakitkan dan menyiksa. Apakah untuk sembuh, dia harus membayar perpanjangan umur dengan rasa sakit segila ini?
Bima kembali menguatkan diri, dia ingin kembali sehat dan melihat senyum ceria Arumi. Ya, dia harus kuat untuk melakukan hal sederhana itu. Harus!
"Bagaimana kondisi saya sekarang, Dok?" tanya Bima, menatap dokter yang ada di depannya.
"Sejauh ini belum ada kemajuan yang berarti. Karena masih ada enam sesi kemoterapi." Dokter juga tampak sedih melihat reaksi Bima yang seperti terluka mendengar jawabannya.
Ya, siapa yang tak kecewa mendengar jawaban itu? Di saat dia sudah menguatkan diri untuk menahan rasa sakit gila itu, dia masih mendapatkan jawaban seperti tadi? Konyol sekali, kan?
Dokter tersenyum masam dan menatap pasien mudanya ini dengan penuh tekad "Tapi Anda tidak perlu khawatir, Pak. Saya sebagai dokter Anda, akan melakukan yang terbaik. Ingat berdoa pada Tuhan dan tetap jaga pola makan dan jangan sampai kelelahan. Selamat bertemu di sesi kemoterapi selanjutnya," ucap Dokter, berusaha mempertahankan tekad Bima untuk tetap bertahan dan kuat.
"Iya, Dok. Saya akan selalu optimis. Terima kasih atas kerja keras Anda, Dok!" Bima menjawab dengan optimis.
Karena dia memiliki alasan untuk hidup sekarang. Walaupun begitu, Bima agak cemas mendengar penjelasan sang dokter.
Bagaimana jika kankernya bertambah parah? Tapi di sisi lain, dia ingin percaya kalau keajaiban Tuhan akan datang. Atau Tuhan akan berbaik hati untuk memberinya kesembuhan kalau Bima terus berdoa tanpa henti.
Bima selalu meminta, Dokter juga sudah berusaha sebaik mungkin. Dan semoga Tuhan melihat kerja kerasnya dalam bertahan, lalu membiarkannya terlepas sari penyakit ini.
"Tuhan, gue benar-benar ingin hidup. Baru sekarang memiliki alasan bertahan, tolong berikan kesempatan untuk gue bertahan lebih lama." Bima bergumam dalam hati.
Doanya sangat tulus. Karena kini rasa sesak mulai menghampiri dan air mata mulai hadir menyertai.
"Berikan gue kesembuhan, Tuhan. Sekali ini gue meminta dengan tulusĀ tolong kabulkanlah."
__ADS_1
***
Sepulang dari rumah sakit, dia mendapati Ibunya berteriak-teriak sambil melempar piring ke lantai.
Semakin hari, Ibunya semakin menggila. Dan setiap ibunya melihat dirinya, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu akan berteriak semakin kencang.
Memakinya seperti lengkingan kuda yang panjang dan tak berarti. Di sela-sela itu, Ibunya juga melempar piring ke arah Bima secara terus-menerus. Seakan benar-benar tak menginginkan kehadirannya.
Prangg ....
"Heh anak bangsat! Ngapain kamu masuk ke rumah ini?! Pergi kamu dari sini! Aku tidak sudi melihat wajah yang mirip dengan lelaki busuk itu!" teriak Helena, menunjuk ke arah pintu keluar dengan wajah mengerikan.
"Cepat keluar dari sini! Dasar anak sinting! Cepat pergi!!" Helena menarik tangan Bima, membawanya ke depan pintu dan hendak membawanya keluar rumah.
Bima muak dengan kelakuan Ibunya. Dan ketika rasa lelah karena kenyataan pahit tentang penyakit dan keluarganya, amarah Bima pun memuncak.
"Aku juga gak pernah sudi lahir di rahimnya mama! Aku gak bisa pilih minta lahir di rahimnya siapa! Dan asal Mama tahu! Yang berusaha mengeluarkan aku dari dalam perut Mama itu, ya Mama sendiri!" Bima membentak dengan suara lantang.
"Jadi Bima mohon. Kasih waktu tenang buat Bima. Bima juga gak punya banyak waktu. Waktu Bima di sini sudah gak banyak lagi, Ma!" Sudah usai menahan air matanya agar tidak menetes saat mendengar penjelasan dokternya, kini Bima akhirnya menumpahkan air mata itu di depan sang Ibu.
Bima menangis tanpa isak tangis. Dia hanya memandang Helena yang terdiam dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
Kedua orang itu sama-sama menangis dengan perasaan berkecamuk dengan dua alasan berbeda.
Bima menatap Helena dengan tatapan pedih. "Sebentar lagi Bima akan pergi. Mama gak perlu marah dan buang-buang piring karena gak mau lihat Bima."
Bima mengusap air matanya kasar. "Karena sebentar lagi Bima akan pergi dari kehidupan Mama dan Ayah. Jadi tolong, selama Bima masih ada di sini, selama Bima menghabiskan sisa hidup Bima di tempat ini. Hanya sebentar lagi, bisa gak Mama tenang sedikit?"
Bima menahan pedih di dadanya mati-matian. "Kalau Mama gak mau terima sebagai anak sendiri, ya sudah. Perlakukan Bima seperti orang asing. Gak perlu hiraukan Bima. Anggap Bima orang lain! Karena sebentar lagi kita juga akan menjadi asing, jadi Bima gak keberatan Mama anggap Bima gak ada mulai sekarang!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Bima pergi masuk ke kamarnya. Sementara Helena masih diam, berusaha mencerna semua ucapan Bima dengan dada yang terasa pedih.
Helena menoleh pada kamar Bima dengan tatapan bingung dan setengah sedih. "Kamu mau ke mana?" tanyanya, selirih embusan angin sore itu.
***
Pagi itu Arumi menunggu Bima di depan rumahnya. Tapi sudah setengah jam Bima tak kunjung datang.
Lagi-lagi Bima tak menepati janjinya dan membuat Arumi hampir terlambat karena terlalu lama menunggunya.
Alhasil, Arumi memutuskan naik ojek Online karena sebentar lagi dia akan benar-benar terlambat kalau masih bodoh dan menunggu Bima di sana.
"Ngapain pagi-pagi udah manyun tuh bibir?!" tanya Indah, menyenggol bahu Bayu.
Bayu menoleh ke arah Indah dan melihat ke arah yang di tunduk Indah dengan dagunya.
Bayu melihat Arumi singkat, dengan tatapan tak acuh. "Gak tahu, pas masuk kelas dah manyun aja tuh bibir. Tanya orangnya langsung sono," pinta Bayu, berusaha mengusir Indah agar tak mengganggunya.
Indah mendengus dan berjalan mendekati meja Arumi.
"Kenapa lagi lu? Kayaknya baru kemarin gua lihat lu bahagia banget sampai berasa dunia milik berdua ama Ayang. Terus, kenapa lo sekarang badmood? Ayang lo juga, pergi ke mana?!" cetus Indah, penasaran sekaligus meledek Arumi yang tak terlihat bersama dengan Bima, padahal kemarin lengketnya sampai kayak ketempelan permen karet.
Arumi mendengus kesal. "Ihh ... gua sebel banget sama Bima! Lumutan gua nungguin dia di depan rumah. Katanya mau jemput, eh ... kena prank gue!"
Arumi melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Indah dengan tatapan ganas.
"Lihat aja, sekali lagi dia ingkar janji sama gue, awas aja! Gue benyek-benyek tuh wajah ke-Korea'an si Bima. Ihh ... sebel!!" kesal Arumi, geram dan kecewa pada Bima yang terus-terusan tidak menepati janji padanya.
Indah yang melihat kelakuan Arumi, hanya menatapnya aneh dengan menunjukkan ekspresi mengejek. "Ciah ilah, baru aja kemarin jadian. Sekarang udah kena PHP aja lo. Ngenes amat!" ejeknya.
__ADS_1
Arumi memelototkan mata pada Indah. "Diam mulut lo!"
"Hehehe ... maap-maap, canda aja Neng."