Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 29


__ADS_3

"Lo gak papa?" tanya Bagas, melihat ekspresi wajah Arumi yang tidak baik-baik saja.


Setelah selesai bernama Rey itu pulang, kakak perempuannya sama sekali tidak mengucapkan satu patah kata pun dan hanya diam memandang ke arah langit yang sedang mendung di luar sana.


Arumi menatap kehadiran Bagas yang berdiri di ambang pintu dengan senyuman masam. "Di bila enggak papa gue juga kenapa-napa. Dibilang kenapa-napa, keadaan gue juga enggak sekhawatir itu. Jadi gimana tuh? Perasaan gue cuman campur aduk aja. Bukan sedih atau gimana." Arumi mengulas senyuman lebar. "Gak perlu ikut pikir. Gue enggak papa kok. Tidur sana, katanya tadi capek."


Bagas mengangguk dan berjalan meninggalkan Arumi di depan teras rumah pohon tersebut. "Huuff ... memang sampai kapan dia enggak bisa move on dari anak laki-laki itu?"


Bagas melihat foto yang kembali dipajang di atas meja itu dengan tatapan lurus. "Padahal ganteng juga enggak. Masih gantengan gue! Terus apa yang buat dia suka banget sama yang namanya Bima?!"


Bagas menoleh ke arah Arumi yang terus menghela napas panjang beberapa kali, saraya dia mengeluh pada angin akan kesedihan dan getirnya hati. "Aneh-aneh aja kalau jadii orang," pekiknya, menggelengkan kepalanya ampun.


***


Tari menguap lebar. Dia masuk ke dalam area sekolah dan melihat salah satu temannya, sedang berjalan memasuki gedung pelajar dengan langkah gontai.


"Rum ... Rumi ... lemes banget lo kayak badan cumi-cumi! Kenapa lo?" tanya Tari, memeluk bahu Arumi dari belakang dan menyamakan selangkah mereka.


Arumi menoleh padanya dan menggeleng pelan. "Enggak. Memangnya gue kayak kenapa? Gue kan enggak kenapa-napa," celetuknya, masih berusaha berbohong.


Tari menggaruk kepala bagian belakangnya sambil menunjukkan ekspresi bingung. "Kalau mau ngeles yang bagusan dikit kenapa?! Jelek banget akting lo," pekiknya, mencemooh dengan begitu jelaskan ekspresi wajah yang menusuk.


Arumi langsung memasang wajah datar dan melihat Bayu serta Selen yang tampak bertengkar di depan kelas. Tapi entah apa yang mereka bahas, sampai suara Selen melengking seperti suara kuda.


Arumi ingin bergegas mendekatinya dan melerai kedua temannya. Tapi Tari langsung menahan pergelangan tangannya dan tidak membiarkan Arumi mendekati kedua temannya di sana.


"Duh, apaan sih?! Gue mau pisahkan mereka. Enggak lihat kalau mereka berdua bertengkar? Tarik perhatian aja," celetuk Arumi, setengah jengkel dengan kelakuan Tari.

__ADS_1


Tapi begitu melihat ekspresi Tari yang masam, Arumi yakin kalau temannya yang satu ini pasti tahu sesuatu tentang kenapa kedua temannya bertengkar.


"Lo tahu apa?!" tanya Arumi, menatap tajam seakan sedang menginterogasi seseorang.


"Mungkin lo belum dengar karena lo enggak sekolah beberapa hari. Tapi kayaknya mereka berdua pacaran deh."


Arumi membulatkan matanya sempurna. Terkejut mendengar berita yang keluar dari mulut Tari. "Yang benar kalau ngomong. Jangan sebar gosip, ah ... kagak suka gue!" celetuknya, bodo amat dan segera mendekati Bayu serta Selen yang bertengkar di depan pintu ruang kelas mereka.


"Heh ... pagi-pagi udah berisik aja. Kalian berdua kenapa sih?!" tanya Arumi, menyela pembicaraan mereka berdua.


Bayu dan Selen yang melihat kehadiran Arumi, langsung menghentikan pertengkaran mereka berdua dan menyambutnya dengan senyuman lebar. Seakan-akan sengaja melupakan masalah mereka dan fokus pada Arumi.


"Eh ... udah balik aja lo. Gimana keadaan lo? Udah enggak papa, kan? Sorry gue enggak bisa langsung jenguk lo ke rumah sakit, soalnya gue juga baru sembuh. Beberapa hari yang lalu gue demam terus. Maaf ya, Rum." Selen memeluk tubuh Arumi setelah mengucapkan permintaan maaf yang tulus.


Arumi hanya mengangguk paham dan menepuk punggung Selen beberapa kali untuk menenangkannya. "Tapi kenapa kalian berdua bertengkar? Ada masalah apa nih??" tanyanya, menatap keduanya dengan tatapan bingung.


Arumi yang mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang yang selalu bertengkar setiap hari jika bertemu dengan lawannya, hanya bisa memandangnya dengan datar dan mendengus kasar.


"Serah lo deh. Gue mau duduk aja!" celetuk Arumi, berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk di tempatnya dengan tenang.


Bayu dan Selen mengikutinya dan duduk di tempat mereka masing-masing.


"Hari ini Indah enggak masuk lagi, Bay?" tanya Selen, menoleh pada teman lelakinya dengan tatapan lurus dan sesekali mengamati dengan tatapan tajam nan menusuk.


Arumi yang mendapati tatapan tersebut, tentu merasa sedikit janggal tapi dia tidak langsung mengatakan atau bertanya pada keduanya.


Arumi memilih untuk menyimpan rahasia itu lebih dulu karena rasa curiga yang timbul karena sikap Bayu dan Selen yang mencurigakan, belum terlalu dalam dan masih bisa dia nalar.

__ADS_1


"Indah? Iya sih, gue juga belum sempat jenguk dia ke rumah. Gimana kalau nanti pulang sekolah kita jenguk dia?" tanya Bayu, melihat kedua teman perempuannya secara bergantian.


"Rumah Indah?" Arumi memiringkan kepalanya bingung. "Memang kalian berdua ada yang tahu di mana dia tinggal? Seumur-umur gue belum pernah ke rumahnya. Bahkan dengar Indah cerita tentang rumahnya aja enggak pernah. Apa perlu kita tetap datang ke sana? Indah benar-benar buat rumah dia itu kayak privasi. Masalah keluarganya pun sama!" celetuknya, hanya memberikan saran agar mereka lebih banyak menimbang.


"Gitu ya?" Bayu memandang ke arah Selen yang seakan setuju dengan perkataan Arumi, yang melarang mereka pergi ke rumah Indah.


"Kita tunggu kabar dari dia aja. Gue chat dari kemarin juga kagak di balas. Takutnya ada apa-apa aja, gitu. Tapi gue berdoa dia cepat sembuh sih," ucap Selen, kembali memandang ponselnya dan melihat chatnya ke Indah yang masih centang satu.


"Lah, itu anaknya masuk!" Bayu menunjuk ke arah pintu dengan memandangnya lekat nan senang saat melihat Indah berjalan masuk ke kelas.


Tapi pandangan mereka berubah menjadi tegang saat melihat wajah Indah yang babak belur seperti orang yang baru di pukuli.


"I-ndah, lo kenapa?!" tanya Arumi, melihat sosok teman perempuannya yang benar-benar buruk dengan luka lebam di tubuh dan memar di beberapa bagian wajahnya.


Indah berdecap kasar dan segera mendudukkan dirinya di bangkunya. "Lo kira gue kenapa?"


Indah mendengus kasar beberapa kali. Siap bercerita, tapi malah di ledek mereka bertiga.


Tapi melihat wajah khawatir teman-temannya, Indah pun tak tega kalau tidak mengatakan hal yang sejujurnya.


"Ehem, gue jatuh dari sepeda pas belajar sepeda. Ehem ... jangan ketawa!" ancam Indah, memandang ketiganya dengan tatapan menusuk.


Arumi, Selen dan Bayu langsung menahan tawa, sebelum suara nyaring mereka bisa keluar dari mulut dan membuat keributan di sekitar.


"Jatuh dari sepeda, di mana? Jangan bilang kalau lo gelinding ke parit! Mangkanya lukanya–"


"Bacot lo, Rum. Dah diam!" teriak Indah, mencubit bibir Arumi dan spontan mengundang tawa yang lain.

__ADS_1


"Wkwkwkwk ... malu-maluin aja. Umur berapa lo gak bisa naik sepeda?! Haha ... gue kira lo kena korban KDRT. Ternyata korban  realita ke-bego-an diri lo toh, hahaha ... Indah konyol!" pekik Bayu, minta di gampar.


__ADS_2