Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 6


__ADS_3

Kelas kami IPS-2 adalah kelas dengan kekeluargaan tinggi, di kelas ini kami tidak memperebutkan peringkat dan siapa yang paling tinggi nilainya.


Kami membantu teman yang kurang paham ataupun tidak paham dengan pelajaran, seperti sekarang ini, di depan papan tulis Farah dan Selen menjelaskan soal yang tidak kami paham dan mencari jawabannya bersama-sama.


Di kelas ini, kami memiliki keunggulan masing-masing dan kami saling membantu, seperti Janeta yang lebih pintar pelajaran ekonomi dan si kembar Juli dan Juni yang lebih pintar pelajaran sejarah. Mereka akan dengan sabar menjelaskan kepada kami soal yang mana yang kami tidak paham. Setelah pelajaran selesai, kami ingin maju dan unggul bersama-sama.


Kami menyelesaikan tugas bahasa Indonesia bersama-sama, aku menemani Selen mengumpulkan tugas di meja Bu Retno, wali kelas kami. Sementara Indah dan Bayu menunggu kami di kantin.


“Bay, lu katanya mau bawa nasi goreng spesial buat gua, mana?" kata Arumi, menagih nasi goreng yang di janjikan Bayu kemarin malam.


“Sorry, Rumi. Gua kesiangan. Jadi kagak sempat buat nasi goreng spesial buat lu, buat gantinya gua traktir mi ayam jumbo spesial buat lu, mau kagak?" tanya Bayu, berusaha membujuk karena merasa tak enak hati.


“Okey deal yaaa!" seru Arumi, kembali bersemangat dengan begitu mudah.


“Bu Inem kayak biasa mi ayam jumbo spesial satu, mi ayam spesial tiga, sama minumnya es teh lima, Bu," ucap Arumi, sekalian memesankan teman-temannya seperti biasa.


“Siap neng, di tunggu yaa ...."


Setelah itu Arumi dan Bayu kembali ke tempat duduk mereka, yang di jaga oleh Selen dan Indah, yang sudah seru mengobrol berdua saja.


“Btw kapan mading baru di pajang, Ndah?" Tanya Selen, penasaran.


Arumi dan Bayu segera bergabung, menyimak pembahasan mereka dengan cermat agar bisa mengikuti alur pembicaraan teman-temannya.


“Minggu depan. Hari Senin, mungkin. Gua masih bingung nih. Milih surat buat pojok kisah. Banyak banget soalnya," keluh Indah, menghela napas lelah di akhir kalimatnya.

__ADS_1


“Memang sebanyak itu yang kirim surat?" tanya Arumi, mulai ikut masuk ke pembahasan teman-temannya.


“Banyak dan bagus-bagus banget ya kan Bay? Dilema gua mah. Mau bantuin gue kagak?" tanya Indah, mencari kesempatan dalam kesengsaraan nasibnya.


Tapi tak ada satu pun yang menghiraukannya dan malah fokus menatap Bayu yang menjelaskan kelanjutan cerita Indah


“Iya banyak banget suratnya. Sampe puyeng gua baca. Tapi sayang, kagak ada surat cinta yang di kirim buat gua. Padahal gua udah berharap ada yang nyempil satu, gitu ...," ucap Bayu, setengah berharap.


"Yee ... muka lo udah mirip tokek pakai rok mini, ngarep aja ketinggian. Mau punya pacar, permak tuh muka!" celetuk Selen, sadis.


Baru hanya mencibir dan melengos kesal, tanpa mengatakan apa pun untuk memprotes mulut Selen yang kaya rollercoster. Ada pembatasnya, tapi tetapi kayak gak guna. Isinya tetap menyeramkan dan menguji mental.


“Tapi ada dua surat yang menurut gua bagus, Bay. Lu tahu kan surat yang penerimanya Dear, K? Gua kayak kenal sama deskripsinya si penerima yang di tulis sama si pengirim, tapi gua enggak tahu itu siapa.” Indah hanya dapat mengingat-ingat siapa si penerima pojok surat tersebut.


“Gimana, latihan taekwondo lu Rum?" tanya Selen, tiba-tiba.


“Engga!" jawab Selen, tegas. "Kita cuma takut kalau lu belum bisa ngelupain dia, karena taekwondo awal pertemuan kalian. Belakangan ini lu jarang cerita, kan? Biasanya lu cerita sama kita. Lu lebih banyak diam, dan gua kagak tertarik sama taekwondo lu gak inget memang gua sampai muntah-muntah ikut lu taekwondo?!" protesnya, muak.


“Hahaha, iya gua inget banget muka lu sampek merah gara-gara muntah, padahal itu belum kelar latihan." Arumi tertawa lepas walaupun terlihat sangat tak ikhlas. "Coba kalian berdua ikut, pasti bakal ketawa lu lihat muka merah Selen, hahaha. Dan tenang aja, gua dah lupa kok. Bagaimana pun juga, dia kan hanya masa lalu gue," jelasnya, tersenyum sendu di akhir kalimatnya.


Tapi ketiga sahabatnya sangat amat tahu di balik sifat ceria Arumi, dia masih terikat dengan masa lalu yang menyakitkan. Yang membuat dia enggan membuka hati untuk orang baru.


***


Kantin sangat ramai pada jam istirahat, semua murid SMA Duta Bangsa menyerbu ganas kantin sekolah.

__ADS_1


Maka dari itu, sebuah kebahagiaan tersendiri bisa memasuki kantin tanpa harus berdesak-desakan dengan murid lain.


Seperti sekarang ini, kami lupa keluar kantin karena ke asikan ngobrol, jadilah kami berdesak-desakan dengan murid lain.


Pyaarrr ....


Terdengar suara pecahan piring. Kantin yang semula ramai langsung hening seketika.


Siapa lagi cewek yang bisa buat ulah di kantin kalau bukan si Sesil entah siapa lagi korban dia kali ini.


“Heh ... Monyet! Lo gak usah ganjen sama gebetan gua lagi. Udah gua ingetin baik-baik. Tapi lo gak ngerti juga, apa harus gua siram kepala lo pake kuah bakso biar lo sadar?!" teriak seorang wanita, dengan suara menggema di seluruh kantin.


Semua perhatian orang yang ada di kantin sekolah langsung tertuju pada kedua sosok perempuan yang tengah cekcok itu.


“Sorry, Kak. Gua gak bermaksud kayak gitu. Tapi dia juga suka sama gua, Kak. Gua bakal jauhin dia mulai sekarang, Kak. Maafin gua Kak, plisss ...." Gadis yang tengah di labrak kakak kelasnya itu langsung memohon-mohon sampai berlutut di depan wanita itu.


Wajah geram wanita itu tak berubah. Sudah berapa kali dia melihat gadis ini meminta maaf tapi tak pernah dia lihat perubahannya. Mereka tetap bersama di belakangnya. Sudah seperti sengaja melakukannya dengan lebih diam-diam agar tidak lagi ketahuan.


Dan wajah sedih wanita itu menyita perhatian Arumi yang duduk dengan teman-temannya di kantin tersebut, dengan memakan pesanan andalan mereka, Mie Ayam.


"Sampai kapan gua maafkan kalian, hah? Kalau lo segitunya gatel sama dia. Minta dia putusin gue. Tahu diri sedikit lah kalau mau jadi perusak hubungan orang. Mending putus dari pada terus di minta bertahan sama tuh cowo, gegara lo sok gak mau jadi pelakor! Munafik banget lo jadi orang," marah wanita itu, sudah hampir menangis. Tapi berusaha dia tahan sekuat tenaga agar tidak terlihat lemah di depan orang-orang.


Arumi dan ketiga teman baiknya, memilih meninggalkan kantin setelah melihat situasi semakin runyam. Kami tidak ingin buang-buang waktu untuk hal yang unfaedah. Lebih baik balik ke kelas dan mengerjakan PR untuk pelajaran berikutnya dari pada melihat tontonan itu.


"Mie ayam gue belum habis lagi," pekik Bayu, setengah jengkel karena makan siangnya belum kandas dan dia malah di seret pergi dengan ketiga teman ceweknya.

__ADS_1


"Udahlah, nanti gue belikan roti di toserba samping. Malas banget gue lihat begituan. Kayak sama-sama gak punya malu!" sambar Selen, memimpin jalan mereka dengan mood yang sudah hancur.


__ADS_2